LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Rayu Pemilikmu dengan doa dan sujud yang tanpa henti



Pov Fare


Tubuhku gemetaran. Melihat darah yang merembes dari perut azmi. Tubuh itu berlumuran darah. Sosok sahabat dan juga lelaki yang sejak dulu selalu ada untukku. Seseorang yang selalu siap untuk mendampingiku disaat senang maupun susah ku.


Aku bersyukur karena polisi segera datang disaat yang tepat. Tante risa tertembak di saat dia sedang menarik tanganku dengan paksa. Kaki wanita tua itu menjadi sasaran. Sama halnya dengan kedua lelaki bertubuh kekar itu.


Sungguh, aku sangat bersyukur saat ini. Dengan keadaan ku yang masih ketakutan, aku membawa motor Azmi mengikuti ambulance yang saat ini membawa tubuhnya. Aku berharap jika azmi akan bertahan.


Menangis. Deras. Berulangkali aku mengusap wajahku yang sudah basah. Tidak perduli lagi dengan keadaanku. Hatiku terus saja menjerit. Aku sungguh tidak rela jika harus kehilangan sosok lelakiku, superhero ku.


Sejak kemarin, aku sudah memutuskan untuk jujur pada diriku sendiri. Tidak ingin menutup lagi perasaanku padanya. Menerima dia sosok lelaki yang menerimaku apa adanya.


Namun, seakan takdir ingin menunjukkan kuasanya atas keinginan kami. Tiada yang lebih dahsyat dari kuasa sang ilahi. Aku mengerti. Tapi aku hanya manusia biasa yang memiliki harapan yang di impikan.


Mobil ambulance itu mulai mengurangi kecepatannya. Berbelok arah memasuki rumah sakit terdekat. Aku pun memilih masuk melalui jalan yang seharusnya. Memarkirkan kendaraan yang ku bawa. Dengan terburu-buru aku berlari menghampiri ruang UGD.


Bisa ku lihat saat ini beberapa perawat tengah mendorong tubuh Azmi menggunakan brankar dorong. Yang ku lihat saat ini, mereka baru saja keluar dari ruangan UGD. Dengan masih menahan rasa penasaran, aku pun mengikuti kemana mereka melangkah.


Ruangan operasi.


Jantungku berdegup kencang. Masih mengikuti mereka semua. Dengan tubuh yang gemetaran. Tenaga seakan terkuras oleh keadaan, aku terus melangkah.


"Mohon untuk menunggu diluar!"


Azmi di bawa masuk ke dalam ruangan operasi. Aku pun mengangguk patuh pada perawat itu. Hampir saja pintu tertutup, seorang perawat lain dari dalam keluar menghampiriku.


"Ibu, Keluarga korban?"


"I-iya, sus." jawabku kaku.


"Mari ikut saya! Ibu harus menandatangani surat pernyataan sebagai wali dari pasien sebelum kami melakukan tindakan selanjutnya."


Aku mengangguk. Melangkah di belakang suster tersebut. Masih berlompatan seperti bola bekel. Jantungku seakan tak terkendali. Aku merasakan takut, tegang, dan gelisah.


Suster tadi berhenti di sebuah ruangan. Membuka ruang tersebut. Tanpa pikir panjang, aku pun segera masuk kedalam. Seorang dokter sudah menungguku. Tidak ingin berbasa-basi lagi, dokter tersebut segera menjelaskan keadaan yang sedang di alami oleh azmi.


Air mataku kembali menetes. Walaupun aku tidak faham dengan penjelasan dari dokter tersebut, namun kini aku tahu jika keadaan azmi sedang kritis.


****


Dengan langkah gontai aku melangkah. Lumayan jauh dari tempat azmi melakukan operasi. Tusukan benda tajam diperutnya mengenai organ dalam, sehingga para dokter harus melakukan operasi. Sungguh sesak dadaku.


Aku menghentikan langkahku. Melepaskan sendal yang ku pakai. Air mataku semakin deras. Berlomba ingin mencapai dasar. Trenyuh. Aku mendengar seseorang sedang membaca kitab suci Alquran dengan begitu merdu. Gemetaran. Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat sang Penguasa alam semesta semenjak setahun yang lalu.


Astagfirullah haladzim..


Dadaku sesak dan tangisku semakin pilu. Langkah kakiku kaku menuju tempat wudhu wanita. Belum sempat aku mengambil air wudhu tubuhku merosot kebawah. Aku menangis. Tak kuasa menahan haru.


Bahkan selama satu tahun aku telah melupakan kuasanya. Kini, dengan kejadian hari ini. Aku sadar. Tiada kemampuan seseorang yang melebihi dahsyatnya kuasa Allah. Hatiku begitu rapuh saat aku mengingat akan imanku.


Beberapa menit ku biarkan diriku yang tak berdaya dilantai. Hingga tidak sadar jika seseorang menegurku.


"Nduk, kamu kenapa?"


Suaranya begitu lembut dan penuh kasih. Aku mendongakkan kepala. Menatap ke arah ibu-ibu setengah baya. Aku menatapnya lekat. Wajah lembutnya seakan mengingatkan aku pada sosok ibu yang bahkan aku belum pernah melihatnya secara langsung. Tangis ku semakin menjadi.


Terlalu banyak dosa yang ku perbuat, walaupun semuanya bukanlah keinginanku. Tapi tetap saja karena aku tidak menolak. Ku lihat ibu itu kini ikut berjongkok. Perlahan beliau merangkul ku, begitu hangat pelukannya. Mengusap punggungku.


Aku mengangguk samar. Hatiku begitu pilu saat mendengar nasehatnya. Tanpa merasa malu, aku pun ikut melingkarkan kedua tanganku.


Ibu... Ibu... Ibu...


Aku terus memanggil nama seseorang yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan ku. Aku merindukan pelukannya yang hingga saat ini aku pun belum pernah merasakannya.


"Sudah... Jangan menangis lagi! Segeralah meminta pada Pemilik mu. Rayu Dia dengan doa dan sujud mu. Jangan pernah berhenti agar Dia mengabulkan permintaan mu."


Aku kembali mengangguk. Kami meleraikan diri. Dia tersenyum. Wajahnya begitu lembut dan menenangkan. Tak segan ibu itu membantuku untuk bangkit.


"Jangan lupa, rayu pemilikmu dengan doa dan sujud yang tanpa henti!"


Aku pun kembali mengangguk. Dia mengusap lengan tanganku sebelum dia melangkah pergi. Aku masih terpaku dengan sosoknya yang membuatku semakin sadar. Yang membuatku merasa merindukan seseorang.


Hanya beberapa detik aku melamun. Namun sosok ibu berparas lembut itu sudah tidak bisa ku lihat lagi. Tertegun. Aku mengusap wajahku. Menelisik setiap sudut masjid. Nampaknya, ibu tadi sudah benar-benar pergi.


"Terimakasih, bu. Walaupun hanya sebentar, kini aku bisa merasakan pelukan hangat dari seorang ibu."


Aku menguatkan hati. Kembali pada keadaanku. Kenyataan yang sedang ku alami. Cepat-cepat aku mengambil air wudhu. Setelahnya aku pun bergegas untuk mengambil mukena. Segera ku tunaikan shalat hajat dan diimbangi dengan shalat sunnah yang lain.


Beberapa menit berlalu. Masih ku lipat kakiku. Masih meminta ampunan dan juga permohonan. Aku sudah mengikhlaskan semuanya yang sudah terjadi. Namun, aku hanya meminta pada-Nya agar sahabatku azmi diberikan umur panjang.


Tak terasa adzan subuh pun tiba. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut shalat berjamaah dengan para pengunjung maupun para pekerja di rumah sakit tersebut.


****


Langit petang perlahan berubah menjadi terang. Aku melangkah cepat menuju ruang operasi. Aku berhenti. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Kenapa disini ada beberapa orang yang sedang duduk.


Pikiranku mulai berkelana mencari jawaban atas pertanyaanku. Hah... Bersyukur pintu terbuka. Seorang perawat keluar dengan raut wajah tegang. Tak menunggu lagi, aku pun segera menghampirinya.


"Permisi, sus. Saya mau tanya, apa pasien yang bernama azmi Maulana sudah selesai melakukan operasi?"


Dia mengangguk mantap.


"Operasinya berjalan lancar. Dia sudah dipindahkan ke kamar anggrek kuning no. 8. Dimohon untuk segera melakukan pembayaran penagihan di bagian administrasi." jelasnya.


Aku mengangguk. Bersyukur dalam hati. Setelah suster itu pergi. Aku pun segera melangkah menuju tempat administrasi. Dompet azmi dan ponselnya ada padaku, sehingga aku tidak perlu pusing-pusing.


Setelah melakukan pelunasan biaya operasi azmi. Aku segera menuju ke ruangan azmi di rawat. Hatiku merasa lega. Sangat lega. Tenang dan tentram.


Alhamdulillah... Alhamdulillah...


Aku segera membuka kamar anggrek kuning no. 8. Tubuh azmi sudah terbaring di atas ranjang. Kedua matanya masih terpejam. Segera ku ajak kedua kakiku agar semakin mendekat. Duduk di tepi ranjang dan segera meraih tangannya.


Ku tatap wajah tampannya. Garis keturunan yang cukup sempurna. Merasa puas memandangi wajahnya. Ingatanku kembali. Menimang sesuatu yang saat ini ingin ku lakukan.


"Haruskah aku menghubungi orangtua azmi?"


Masih menimang kemungkinan yang akan terjadi. Aku mengangguk. Aku harus menghubungi keluarganya. Yah, Kurasa ini adalah keputusan yang terbaik.


Segera mengambil ponsel azmi. Mengusap layar ponsel itu keatas untuk membuka kuncinya. Mencari nama seseorang di dalam kontak. Aku pun segera memencet icon berwarna hijau setelah menemukan nama mbak mayra di sana. Kakak perempuan azmi.


Tbc.