LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Bertemu wanita tua



Azmi kini telah duduk manis di dalam pesawat. Sudah setengah jam yang lalu dia berangkat. Dengan masih memendam rasa gelisah, azmi mencoba untuk tetap tenang.


Setelah tadi pagi dia mendapatkan sedikit petunjuk melalui panggilan telepon dengan seorang ibu-ibu yang bernama risa. Azmi pun segera kembali pulang untuk meminta izin pada kedua orangtuanya.


Kembali ke Jakarta karena ingin mencari keberadaan wanitanya. Sedikit alot untuk membujuk ibunya, namun pada akhirnya beliau pun memberikan restu padanya.


Bersyukur. Azmi sangat bersyukur karena sang ayah telah mendukungnya hingga membuat ibunya pun menjadi tenang. Setelah mengantongi restu dari kedua orangtuanya, azmi segera membeli tiket pesawat yang akan segera berangkat ke Jakarta dalam beberapa jam kedepan.


Yah, disinilah azmi berada. Di dalam pesawat menuju ke Jakarta. Tepat pukul 16.30 dia berangkat. Terlihat azmi sedang duduk bersandar dengan mata yang terpejam.


Walaupun mata terpejam, namun dia sama sekali tidak tidur. Hatinya merasa tidak tenang. Saat ini yang dia pikirkan adalah sosok gadisnya.


Semoga tidak terjadi sesuatu padanya. Aku sungguh mengkhawatirkan dirimu, fare.


****


Syukurlah, pesawat yang kutumpangi sudah mendarat di bandara Soekarno-Hatta, tak ingin berlama-lama aku pun mengajak kedua kakiku untuk segera keluar dari sini.


Langit sore kini telah berubah menjadi gelap. Selalu kusematkan rasa syukur dan terima kasih pada sang khalik sang maha segalanya, agar dia pun selalu meridhoi jalanku. Semoga diberi kemudahan dalam pencarianku.


Setelah aku sudah melewati berbagai prosedur dari bandara, kini kutarik koperku dengan tas ransel dipunggungku. Aku melangkah keluar setelahnya. Mencari taksi untuk menuju ke alamat rumah yang diberikan oleh bu risa pagi tadi.


Hatiku sudah tak karuan rasanya. Membayangkan sesuatu hal pada fare. Namun, aku terus menyangkal akan hal buruk. Fareku pasti baik-baik saja disana.


Beberapa menit berlalu. Kurasakan kendaraan yang sedang kunaiki saat ini telah berhenti di depan rumah mewah. Aku tertegun sejenak.


Apa mungkin fare menjadi seorang Asisten Rumah Tangga ? Tapi, bu risa bilang jika dia adalah tantenya. Sungguh membingungkan.


Batinku terus saja mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri. Merasa cemas dan juga gelisah. Rasanya aku ingin sekali segera bertemu dengan fare agar aku bisa merasa lega.


" Mas, sudah sampe ditempat tujuan. " ucap sopir taksi tersebut.


Segera ku alihkan pandanganku dari rumah mewah itu kini menatap ke arah pak sopir. Aku sejenak berfikir.


" Apa bener ini rumah sesuai dengan alamat rumah yang tadi saya kasih sama bapak ? " tanyaku meyakinkan.


Kulihat sopir itu mengangguk.


" Iyah, mas. "


Baiklah, dengan menahan rasa penasaran dan keingintahuanku. Aku pun memilih segera membuka pintu mobil. Menarik koper dan membawa tas ransel dipunggungku.


Beberapa lembar uang kuberikan pada pak sopir.


" Terimakasih, pak. " ucapku.


" Eh, ini kebanyakan mas. " ucapnya sambil menyodorkan kembali selembar uang kertas.


Aku menggeleng.


" Itu buat bapak, bonus. "


Tersenyum. Pak sopir taksi itu tersenyum ke arahku. Aku pun segera membalas senyumannya.


" Ya Allah.. Makasih, yah mas. Semoga rejekinya tambah lancar. " ucapnya.


" Iyah, pak. Sama-sama. Terimakasih doanya. "


Setelah melihat mobil taksi itu melaju pergi. Aku pun tak ingin membuang waktu dengan banyak berfikir. Segera berbalik dan melangkah sedikit terburu-buru untuk mendekati gerbang rumah mewah tersebut.


" Permisi. " teriakku


Kulihat ada tulisan bel disamping gerbang tersebut. Baru saja aku ingin memencetnya, namun seseorang dari dalam telah lebih dulu membukakan gerbangnya.


Ggggghhhhhhrrrrrreettttttyyyyyzzz


" Mau nyari siapa yah mas ? " tanya seorang petugas keamanan.


Aku tersenyum.


" Maaf pak apa bener ini alamat rumahnya bu risa ? Ini alamat yang beliau kirimkan. " ucapku sambil kusodorkan ponsel Android milikku ke arahnya.


Petugas keamanan itu mengangguk kecil. Dia menatap ke arahku. Seperti sedang berfikir. Namun, kemudian dia mengajakku untuk masuk kedalam.


" Ayo, silahkan masuk mas ! " titahnya.


Aku merasakan ada sedikit keanehan dari wajahnya. Namun, sekali lagi aku menyangkal keganjalan yang sedang kurasakan.


" Mas, kalau mau cari cewek cantik. Saya saranin mas pilih yang namanya nina saja. Dia disini yang paling cantik. " bisiknya.


Aku merasakan ada sesuatu di dalam hati yang kini sedang bergejolak. Menyangkal untuk yang kesekian kalinya, jika kepanjangan nama nina bukanlah farenina.


Hati dan pikiranku seakan buntu. Masih terdiam dalam rasa penasaran dan juga kegelisahan. Aku membiarkan petugas keamanan itu yang terus berceloteh mengenai cewek yang bernama nina.


" Dia cewek yang paling dicari disini, mas. Banyak lelaki yang cocok membawanya. Nanti coba deh, mas lihat sendiri. Tapi kalau gak salah sih, mbak nina tadi sedang keluar sama pelanggannya. "


DEG.


DEG.


DEG.


Mataku membola saat kudengar lelaki itu kembali bercerita mengenai wanita yang bernama nina. Bukan, bukan wanita itu yang membuatku menjadi semakin penasaran. Namun, kata pelangganlah yang membuatku semakin bertanya-tanya.


Aku menghentikan langkahku saat berada didepan pintu. Menatap lekat ke arah petugas itu.


" Pak, sebenarnya ini rumah atau tempat apa sih ? Saya tidak mengerti. Sungguh saya bingung saat bapak terus bercerita mengenai wanita itu. " ucapku sarkas.


Kulihat petugas keamanan itu terperangah.


" Mas, ini kan rumahnya bu risa. Ger**. Pemasok wanita hiburan. Gimana sih, masa mas kesini gak tahu mau ngapain. " bisiknya lirih.


Aku membuka sedikit mulutku dengan mataku yang terbelalak. Benarkah bu risa ini adalah tantenya fare. Jika dia adalah seorang Ger**, lalu bagaimana keadaan fare jika dia ikut tinggal disini.


Ohh... Shiitt.....


Segera ku angkat tanganku untuk mengetuk pintu. Rasanya hatiku memanas dengan jantungku yang ingin copot saat memikirkan sesuatu hal yang buruk pada wanitaku.


tok tok tok


" Permisi. "


" Langsung masuk aja mas. Bu risa ada didalam kok. " tutur petugas keamanan itu.


" Hah, gitu gak bilang dari tadi pak. " omelku sambil mendorong pintunya.


" Pak nitip koper, yah. "


Kubiarkan koperku di depan pintu. Aku tidak ingin mengulur waktu lagi untuk segera menemui fare. Masih berkecamuk tidak karuan.


Kulihat kini seorang wanita paruh baya yang berdandan.. Ooooohhh... Apa dia seorang badut ? Ah.. Tidak.. Tidak.. Dia lebih cocok seperti ondel-ondel.


Menahan tawa. Rasanya ingin sekali aku tertawa saat melihatnya. Dandanan menor dengan menggunakan pakaian seksi. Astagaaaa.. Ingat umur woy.. Wanita tua yang tidak tahu diri..


Masih menahan tawaku. Kini wanita tua itu tampak beranjak dari duduknya. Melangkah mendekati aku. Melihat ke arahku dengan intens. Sedikit risih, namun aku tetap berusaha untuk tenang.


" Jadi, kamu pemuda yang menelvonku tadi pagi ? " tanyanya.


Aku mengangguk kecil. Dia berjalan mengitariku. Semakin dibuat bingung dengan sikap wanita tua ini.


" Dimana fare ? Bukankah tadi Anda sudah bilang jika fare sekarang tinggal disini. " ucapku.


Rasanya aku susah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan wanita pujaan hatiku.


" Tenanglah anak muda ! Jangan terburu-buru. ! Kita bicarakan semuanya hingga deal baru kau bisa menemuinya. " tuturnya.


Aku terperangah saat mendengarnya. Apa-apaan wanita tua ini. Apa maksudnya hingga deal. Sungguh aku masih belum bisa mengerti.


Tbc..


.


.


.


.


.


.


.


Like.. like.. like..


Komentar jangan lupa..


Terimakasih..


😘😘