LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Selamat



Aku mencengkram kuat tangan yang hampir saja mendarat di pipiku. Dengan emosi yang kian bertambah, aku menghempaskan tangan lelaki itu.


"Aku tidak ingin ada kekerasan. Jadi jangan memulainya!" ucapku memperingatkan.


Bukannya menurut, lelaki berparas bule itu kembali mencoba memukulku. Namun, siapa yang di pukul dan siapa yang terkena pukul.


"Az...." pekik fare.


Siapa dia bagiku? Hanya pengganggu ketenangan jiwaku.


"Breng**k" teriak lelaki itu.


Dia kembali mencoba peruntungannya untuk melawanku. Membuatku juga merasakan pukulan yang sama yang baru saja dia dapatkan dariku.


Kami pun pada akhirnya saling beradu kekuatan. Jangan di tanya. Selama aku tinggal di sini, sejak kuliah hingga saat ini aku selalu berlatih ilmu bela diri yang pernah aku ikuti sejak kuliah dulu.


Lelaki itu jatuh tersungkur. Wajahnya babak belur. Siapa suruh melawanku. Dia tidak tahu saja siapa Azmi Maulana.


"Az... Stop! Apa yang kamu lakukan?"


Teriakan fare membuatku tersadar. Kini aku menoleh ke belakang. Sosok wanitaku tampak begitu marah. Bahkan seseuatu hal yang tidak pernah terlintas dipikiranku...


Plakkkk....


Dia menamparku. Aku mematung. Merasa terkejut dan juga tidak percaya. Aku berniat ingin menolongnya. Membantunya dan membawanya pergi. Namun yang kudapat hanya sebuat tamparan.


Selamat.


Hatiku merasakan sesuatu yang memanas. Kesal dan juga marah. Tanpa berfikir panjang aku segera menarik tangannya. Pikiranku buntu. Yang ku inginkan saat ini hanyalah wanitaku.


"Az, lepaskan! Lepaskan tanganku!"


Aku hanya menggeleng.


Hanya diam dan membawanya menuju motorku. Kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya. Bahkan aku pun tidak akan membiarkan dia pergi.


Tekatku bulat. Wanita yang berbalut dengan dress minim ini benar-benar telah mengalihkan duniaku. Seakan tidak bisa ku kendalikan lagi gerakan tubuhku.


Mengangkatnya untuk duduk di jok motor maticku. Aku pun segera naik dan menstarter motor tersebut. Menarik tangan fare dan ku genggam erat. Kini aku pun segera melajukan motor menuju rumah dinasku.


Masih memberontak terhadap cekalan tanganku. Namun aku pun semakin mengeratkan genggaman tanganku padanya.


****


Brrraakkk...


Kututup pintu kamar dengan keras. Seakan menunjukkan jika saat ini aku sedang marah. Dia menatapku tajam. Namun aku tidak berduli. Setan kembali memprovokasi ku. Perlahan aku maju dan fare mundur.


"Jangan macam-macam, az!" ingatnya.


Aku hanya diam. Telingaku merespon namun tubuhku tidak. Bahkan sekarang kedua tanganku sudah membuka kemeja yang ku pakai.


"Aku akan teriak jika kamu ingin berbuat macam-macam." ancamnya.


"Lihatlah dirimu! Kamu bahkan telah mengumbar auratmu pada setiap mata yang memandangmu termasuk aku." jawabku santai.


Gaun selutut itu tampak sangat pas dipakai olehnya. Dengan model kemben dibagian atasnya dan mengekspos punggungnya dibagian belakang. Fare sudah sangat sukses membuat jika kelakianku meronta. Bagian atasnya yang terlihat menonjol, uuuuuhhgg... aku mengingatnya. Aku pernah menyentuh dan merasakannya. Lumayan besar dan aku suka.


Sial. Aku semakin menggila jika terus membayangkannya.


Ku lihat dia mengambil selimut untuk menutupi bagian tubuhnya. Namun, aku lebih dulu menariknya. Membuang selimut itu sembarangan. Selimut sia**n.


"Jangan, az!" pintanya sambil menggeleng.


"Jika kamu tidak ingin melakukannya denganku, lalu kamu mau melakukannya dengan lelaki itu." ucapku kesal.


Kini aku berhenti di depannya. Dia pun juga tidak bisa melangkah mundur lagi, karena kini punggungnya sudah menempel pada dinding kamarku.


Plaaakk....


Dia menamparku sekali lagi. Sebenarnya apa yang wanita ini inginkan. Benar-benar membuatku menjadi muak. Emosi dan nafsuku kembali mendominasi. Melihatnya dengan cukup dekat bahkan dengan keadaan gaun yang begitu terbuka seakan membuatku semakin bergairah.


Aku pun segera menarik tengkuknya. Memberikan sedikit permainan pada bibirnya. Membiarkan dia yang terus memukul dadaku. Dan hal itu semakin membuatku ingin segera melampiaskan hasratku.


Eemmmmhh..eeummmmmhhh..


Kulitnya begitu mulus saat kini salah satu tanganku yang mulai nakal menjelajahi bagian punggungnya yang terekspos.


Tidak berhenti sampai disitu. Bahkan aku pun sudah menghimpit tubuhnya. Menempelkan tubuhku untuk semakin mendekat padanya. Masih rakus menikmati rasa dari bibirnya.


Buntu. Pikiran dan otak seakan mati. Hanya ada nafsu dan hasrat yang kini semakin menggebu. Perasaan Ingin memiliki wanita itu sudah menggelora didada.


Dengan secepat kilat aku melepaskan pagutan liarku. Menarik tangannya dan menghempaskan tubuhnya diatas kasur.


Kupejamkan mataku saat melihat paha mulusnya yang kini terekspos akibat roknya yang tersingkap. Sejenak aku mencoba untuk menyadarkan diri. Namun, setan seperti sudah mengunci otakku.


Bukannya pergi menjauh seperti waktu itu, kali ini berbeda. Aku tidak ingin menghentikan aktivitasku. Dengan paksa aku menarik gaun yang dipakainya. Menunjukkan dua benda yang sempat membuatku menggila kala itu. Kini aku pun juga ingin kembali menikmatinya.


Sempurna..


Aku tidak ingin menunggu lagi. Segera ku nikmati hidangan yang ada di depan mata. Benda kenyal ini begitu besar dan aku sungguh menyukainya.


"Az... Jangan az!"


"Jangan lakukan!"


"Kumohon, jangan!"


Kudengar fare terus saja memohon untuk tidak melakukannya. Namun, aku bisa apa sekarang. Tubuhku bahkan dengan lancangnya tidak merespon pesan yang kukirim pada otakku.


Dengan kurang ajarnya tangan ini terus memainkannya. Tak jarang fareku mendesah. Dan hal itu sempat membuatku semakin bergairah. Masih diselimuti oleh perasaan kacau. Aku dengan cepat menyudahi aksiku pada dua benda itu.


Baranjak dari posiaiku. Kini dengan pikiran kalut aku menanggalkan celanaku. Menarik gaun yang dipakai oleh wanitaku. Melihat tubuh polos wanita itu membuatku semakin menggila. Berdenyut-denyut jagoan kecilku. Hingga aku pun segera melancarkan aksiku.


Breng**k. Biarkan aku menjadi lelaki breng**k setelah ini.


"Jangan az!"


Suaranya terdengar parau. Bahkan dia pun sempat mendesah nikmat. Namun, air itu menetes. Dia menangis. Ingin aku menghentikan kelakuanku yang gila ini. Namun tidak. Kegilaanku malah semakin menjadi.


Hingga aku pun membawa jagoanku untuk melaksanakan tugas. Perlahan-lahan. Masih menatapnya dengan lekat. Wanitaku mengerut seakan menahan sakit.


Sekali lagi aku mengirimkan pesan pada inti jaringan yang ku sebut dengan otak. Aku ingin menghentikan kegilaan ini. Namun, yang terjadi bukannya berhenti. Pinggulku dengan penuh semangat mendorongnya. Membuat wanitaku memekik kesakitan.


"Arrrrrrgghhh... Sakit, az."


Masih menatapnya dengan tatapan bodoh. Sialan. Saat ini aku sudah menjadi lelaki breng**k yang membuat wanitaku menangis. Entah dia menangis karena manahan sakit karena pengalaman pertamanya atau menangis karena manahan kekecewaannya terhadapku.


Berhasil. Aku berhasil menjadi lelaki ba**ngan. Bukannya menyudahi aksi brutalku. Gerakan yang entah dari mana ku pelajari ini seakan semakin menjadi.


Dia mendesah. Aku mendengarnya. Namun air itu juga masih mengalir dari matanya. Gerakanku tidak berhenti. Seakan ingin mencari kepuasan tersendiri. Bahkan aku pun heran. Bagaimana bisa aku melakukannya. Melihat saja tidak pernah apalagi melakukan. Ini adalah pengalaman pertama bagi kami. Dan pengalaman pertama bagiku menjadi lelaki breng**k dan juga lelaki bia**p.


Selamat.


Tbc.