LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Pesta pernikahan



Sore ini aku sedang mencuci motorku. Motor yang ku beli satu bulan yang lalu setelah aku berhasil membelikan orangtuaku sebuah mobil. Avansa putih menjadi pilihanku dan kini motor pengeluaran terbaru menjadi semangatku. Yamaha Nmax yang ku beli dengan kredit. Motor yang terlihat gendut dan lebar, namun sangat nyaman saat dikendarai.


Hanya benda ini yang saat ini ku miliki, karena barang-barang yang lain adalah fasilitas yang diberikan oleh tempatku bekerja.


Masih mengelap motor berwarna hitam ini dengan penuh semangat. Seseorang menyapaku dari belakang. Membuatku harus berbalik badan untuk melihatnya.


"Sore, Az."


"Sore juga, dre."


"Ntar dateng kan ke pesta pernikahan tara?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Iyahlah. Ngapain juga kalau gak datang.Sambil cari makan gratis." balasku santai.


Kulihat andre, temanku bekerja yang rumah dinasnya ada diaampingku ini sedang melangkah mendekatiku. Duduk di kursi teras yang ada ditumah dinasku. Hingga mau tak mau, aku pun segera mengikutinya untuk duduk disebelahnya.


"Aku gak nyangka loh, az. Kalau ternyata tara ini sedang hamil." ucapnya lirih.


Aku terperangah mendengarnya. Dia terkekeh kecil melihatku.


"Masa sih?" ucapku tidak percaya.


"Kamu tu kemana aja, az. Dia kan suka begituan sama pacarnya. Denger-denger, dia ini emang sengaja pengen hamil pas ngelakuinnya sama si cowok." jelasnya lagi.


Lemes bener nih mulut. Tau aja gosip yang beginian. Jangan-jangan dia juga pernah ngelakuin lagi sama si tara. Hehehehe.


"Lah aku tetep diruangan. Ngecek kerjaanku yang selalu numpuk. Trus kamu kok bisa tahu. Kan kamu sama tara beda ruangan?" tanyaku.


Dia tersenyum malu. Mengangkat tangannya dan kemudian mendorong tubuhku pelan.


"Gimana sih, kalau urusan 'gituan' mah, jangankan beda ruangan. Beda kota aja di datengin." balasnya sambil terkekeh.


Aku melongo.


Sial nih cowok. Lagian si tara jadi cewek murahan banget.


"Rejeki dong kamu bisa cicipin calon istri orang." balasku asal.


Andre semakin terkekeh.


"Kamu sih, diem aja di rumah. Sekali-sekali ikutan bareng kita kalau lagi Clubing. Biar ngerti arti kehidupan yang sebenarnya." ucap andre bangga.


"Arti kehidupan buat aku sih, bahagiain orangtua, dre. Aku merantau buat cari kesuksesan. Biar orangtuaku gak gitu-gitu aja. Beda sama kamu, dikampung orangtua udah jadi juragan." balasku.


Jika mengingat akan hal ini, aku semakin merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka. Namun, aku tetap bersyukur karena atas izinnya, sekarang aku sudah berhasil dan memiliki kesetaraan dengan mereka yang seorang anak juragan atau anak pengusaha.


"Dalam banget, az. Bikin nangis aja. Jadi inget ayah sama mamaku." ucap andre lemas.


Aku menepuk bahunya.


"Santai aja bro. Jangan diresapi gitu!"


Terlihat dia menghela nafas berat. Membuatku bingung akan hal itu.


" Kenapa, dre?"


"Mamaku sakit, bahkan aku belum ada niatan buat ngajuin cuti. Bener-bener anak durhaka."


Aku menahan tawa. Kenapa si andre jadi melankolis begini. Kayaknya aku salah ngomong kali yah.


"Yauda, besok ajuin cuti ajalah. Sekarang kamu telvonin. Tanyain kabarnya, biar mamamu seneng." tuturku.


Kulihat dia mengangguk. Kemudian beranjak dari duduknya.


"Thanks yah, az. Kamu udah bukain mata hatiku." ucapnya seraya berjalan menuju rumah dinasnya.


Aku terkekeh geli. Bagaimana bisa dia menjadi lucu begitu. Bener-bener tidak terduga. Ngomongin apa endingnya apa.


****


Melihat kemeja ini, jadi keinget sama fare yang kemarin pake gamis.


Sekali lagi aku mematut diriku di depan cermin. Kurasa penampilanku sudah maksimal. Dengan hati yang masih berkabut rindu, aku memilih untuk tidak terhanyut. Walaupun bayangan wanita cantik yang bernama Farenina terus saja mengganggu konsentrasiku.


Pukul setengah 7. Aku keluar dari rumah dinas. Naik diatas si hitam dan segera melajukannya menuju hotel tempat acara resepsi pernikahan tara.


****


Para tamu undangan membeludak. Aku masih menikmati makanan yang ada didepanku. Sambil sesekali aku melihat kesegala arah. Menyaksikan betapa indah dan megahnya gedung ini.


Namun siapa yang menyangka jika saat ini seorang wanita yang berbalut dress berwarna merah itu adalah fare. Mataku tak sengaja melihat sosoknya yang begitu ku kenal. Wanita yang sudah ku claim sebagai wanitaku. Namun, dia menolak. Malang sekali.


Masih kutatap dengan seksama. Seorang lelaki bule dengan senangnya mencium wanitaku di depan umum. Merengkuh pinggangnya. Dan yang terjadi, fareku hanya tersenyum... Iiuuuhhhh... Menyebalkan.


Tanpa kuminta, hati ini merasakan sesak. Sangat sakit dengan hanya melihatnya seperti itu. Tanganku terkepal kuat. Akankah aku harus memperjuangkan cintaku, tapi bagaimana jika dia tetap tidak menerima ku.


Mencoba menahan diri dari gejolak hati. Pikiran mulai kacau, dengan perasaan yang semakin tak terkendali. Kini aku mulai berdiri ketika kesadaran diriku mulai melemah.


Setan kembali menempati jiwaku. Otak dan gerak tubuh tidak sama. Aku terus melangkah mendekati mereka.


Eherm....


Keduanya menatapku setelah mendengar dehemanku. Fare melotot sedangkan pria itu menatap sekilas. Kemudian kembali sibuk berbicara dengan rekannya.


"Kita bertemu lagi." ucapku.


Fare mengangguk kecil. Lelaki itu kini kembali menatapku. Dahinya mengerut.


"Siapa? Kamu mengenalnya?" tanyanya sembari menatapku.


Aku mengangguk.


"Aku pelanggannya, sama sepertimu." balasku asal.


Fare kini kembali melototkan matanya. Kemudian lelaki itu menatap tajam ke arah fare. Aku menjadi bingung. Apa perkataanku ada yang salah. Bukankah fare biasa menemani pelanggannya. Lalu kenapa dia sepertinya marah mendengar penuturan dariku.


"Jaga bicaramu! Dia tunanganku." ucapnya ketus.


Aku sungguh terkejut. Bahkan fare tidak bilang jika dia sudah memiliki tunangan. Oohhh.. Aku baru ingat. Mungkin lelaki ini adalah lelaki yang membeli fare.


"Ohh... Jadi, kamu adalah lelaki yang membelinya." ucapku sambil melirik kearah fare.


Secepat kilat lelaki itu mencengkram krah kemejaku. Masih bingung dan juga gagal faham. Aku hanya terdiam.


"Sayang, sudah. Jangan begini! Kita sedang di lihatin orang banyak. Dia pasti salah orang. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Sebaiknya kita pergi saja dari sini." bujuk fare.


Perlahan aku merasakan cengkraman tangannya melemas. Sedikit mendorong tubuhku namun tidak sampai membuatku terjatuh.


"Ayo kita pergi!" ajak fare sambil menggandeng tangannya.


Itu adalah lelaki bule yang kemarin ku lihat. Namun, kini yang menjadi pertanyaan besar bagiku adalah siapa dia, benarkah dia tunangan fare. Lalu apa maksud dari perkataan fare kemarin, mengenai dirinya yang dijual.


Persetan dengan alasan dan penjelasan. Aku merasa semakin bodoh jika terus menahan perasaanku. Biarkan aku menjadi lelaki pemaksa setelah ini.


Dengan langkah besar, aku mulai menyusul mereka. Tanpa ku duga jika saat ini lelaki itu sedang menampar fare di depan ballroom hotel. Beberapa orang pun bahkan menyaksikannya. Terlihat fare masih mencoba merayunya. Lelaki itu tampak acuh. Dia pun segera menarik tangan fare dan membawanya pergi.


Sial... Aku tidak bisa membiarkan semua ini.


Menghampiri mereka yang kini sudah melangkah keluar. Keadaan tempat parkir lumayan sepi. Segera kutarik tangan fare. Hingga lelaki itu menghentikan langkahnya. Menatap ke arahku dengan sengit dan penuh amarah.


"Mau apalagi kamu?"


"Mau mengambil fare darimu." balasku santai.


Aku menarik tangan fare agar kini dia berada dibelakangku. Kami masih bersitatap dengan melemparkan pandangan tajam.


Tbc