
Aaaaaaaahhh...
Aku merebahkan tubuhku diatas kasur empuk dan nyaman di dalam kamarku. Kamar sederhana inilah kamar yang menjadi tempatku berkeluh kesah. Itu dulu sebelum aku pergi merantau untuk meraih ilmu dan kesuksesan.
Aku sangat bersyukur karena saat ini, takdir telah menjawab segala doa-doaku. Memberikan jalan termudah untuk aku bisa lolos tes beasiswa di ITB dan juga mendapatkan pekerjaan yang cukup menjanjikan.
Tapi, hanya satu doa yang tertinggal dan belum terwujudkan. Doa untuk mendapatkan jodoh sesuai dengan keinginan hatiku. Meminang seseorang yang sudah memberiku inspirasi dan semangat berjuang tinggi. Dia lah wanitaku, Farenina.
Segera kucukupkan aktivitasku membayangkan wanita itu. Karena saat ini tubuhku sudah sangat lelah setelah tadi berkumpul dan mengobrol santai dengan seluruh keluargaku.
" Semoga saja besok aku bisa melihatnya. "
Aku tersenyum sendiri. Membayangkan wajah cantiknya setelah dua tahun tidak berjumpa. Aku sangat berharap jika dia masih berstatus single seperti waktu terakhir aku bertemu dengannya.
****
AUTHOR POV
Keesokan harinya.
Azmi baru saja terbangun dari tidurnya saat suara adzan subuh berkumandang. Tak lama setelah itu suara ketukan dari luar pun terdengar. Azmi tampak tersenyum. Inilah yang selama ini dia rindukan. Sosok keluarganya yang selalu harmonis.
" Az, bangun. Shalat dulu. " panggil seseorang dari luar.
Suara itu sudah sangat familiar ditelinga azmi.
" Iyah, bu. " jawabnya sebelum akhirnya pintu kamarnya terbuka.
Tak ingin berlama-lama, azmi segera menuju kamar mandi untuk mandi. Tak lupa dia untuk membawa baju ganti.
Yah, di desa kecil itu tidak sedikit orang yang berbondong-bondong menuju masjid. Ini adalah pemandangan yang sangat jarang dijumpai oleh azmi ditempatnya tinggal.
Karena kebanyakan dari mereka adalah orang sibuk. Mungkin kebanyakan dari mereka memilih untuk shalat dirumah saja atau mungkin mereka memang bukanlah muslim seperti dirinya.
Bahkan azmi sendiri pun lebih suka shalat didalam rumah dinasnya. Memang sangatlah berbeda dan inilah yang dia rindukan.
****
Saat perjalanan pulang dari masjid. Ada beberapa tetangga yang menjadi heboh saat melihat sosok azmi. Para remaja pun juga banyak yang melirik ke arah lelaki itu.
" Masya Allah.. Mas azmi makin ganteng aja. "ucap salah satu tetangga.
Ibu dan ayah hanya tersenyum. Merasa bangga melihat putranya yang kini menjadi perbincangan.
" Hehehe. Iyah, bu. "
" Sudah punya calon belum ? Tu anak ibu tu, anisa. Baru lulus kuliah. Mau gak dijodohin sama anak ibu. " ucapnya lagi.
Hah, gak lah.. Calonku sudah ada. Aku gak bakal nyari calon yang lain.
Azmi menoleh ke arah kedua orangtuanya. Namun, sepertinya kedua pasangan paruh baya itu tampak acuh padanya.
" Hehehe.. Saya sudah punya calon, bu. " jawab azmi sopan. Walaupun siapa yang tahu hatinya sedang mengumpat.
Sontak ibu dan ayah pun mengalihkan pandangannya ke arah sang putra. Namun , kali ini azmi memilih untuk berjalan dengan sedikit cepat meninggalkan mereka.
***
" Ayah, ibu apa-apaan sih. Azmi beneran sudah punya calon sendiri. " ucap azmi yang kini sedang ditodong dengan segudang pertanyaan.
Mbak mayra dan mas adit terlihat senyum-senyum menyaksikan perdebatan diantara mereka.
" Tapi anisa itu anaknya cantik, le. Dia pinter dan juga lulusan sarjana, sama kayak kamu. " tutur ibu.
" Kalau kamu punya calon, kenapa gak dikenalin sama kita, az ? " sahut ayah.
" Ayah, kita kan sudah berbicara dengan keluarga bu sigit. " ucap ibu mengingatkan.
" Putramu sudah punya calon. Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. " tutur ayah pada ibu.
Azmi tampak terdiam. Ada sedikit keraguan dihatinya untuk berkata jujur. Namun, dia benar-benar tidak ingin ada orang lain yang menggantikan posisi wanitanya.
" Azmi ingin melamar fare, yah. Kepulangan azmi kali ini karena azmi ingin melamarnya. " ucap azmi lirih.
Ayah dan ibu tersentak kecil. Bukan hanya mereka, namun mbak mayra juga ikut terkejut. Mereka sedikit banyak telah mengetahui dan kenal dengan wanita yang bernama fare itu.
Walaupun berbeda desa, namun karena azmi seringnya bercerita mengenai wanita itu hingga keluarganya pun sudah mengetahui semuanya.
" Kalian pacaran ? " sahut mbak mayra yang sedari tadi hanya diam.
" Gak lah, mbak. Kami hanya sahabatan aja. Tapi, azmi sudah menyukainya sejak dulu. " jelas azmi.
" Azmi hanya menginginkan dia untuk jadi istri azmi, bu, yah. " lanjutnya menatap pada kedua orangtuanya.
" Ibu kira, kamu tidak punya calon. Jadi ibu setuju saja pas mbak lina, istrinya pak Sigit nawarin perjodohan itu. " ucap ibu lirih.
" Maafin azmi yah, bu. " Azmi pun merasa bersalah. Tapi dia tidak ingin melepaskan wanitanya begitu saja. Karena memang hanya wanita itu yang ada didalam hatinya.
" Yowes, le. Cepet di lamar. Denger-denger ayahnya sudah meninggal setahun lalu. " sahut ayah.
Azmi yang mendengar itu pun segera mengadakan kepalanya ke arah yang ayah yang berdiri di samping ibu.
" Yang bener, yah ? " tanyaku antusias.
Ayah mengangguk.
" Cepet datengin, gih. ! Biar gak penasaran. " sahut mbak mayra.
Semoga saja dia tidak papa. batin azmi khawatir.
Lelaki itu pun segera beranjak dari posisinya yang tadi berjongkok. Melihat ke arah keluarganya. Mantap. Dia tidak ingin mundur sama sekali. Sekilas melihat ke arah ibunya yang seperti masih memendam perasaannya.
Azmi tidak ingin lagi menunggu. Dia pun segera melangkah menuju kamarnya. Berganti pakaian dan kembali keluar.
" Ayah, ibu. Azmi pamit pergi bentar. Mau lihat keadaan fare. " ucapnya.
Setelah menyalimi tangan mereka, Azmi hanya tersenyum pada kakak dan kakak iparnya. Sudah tidak ada waktu lagi untuknya berlama-lama.
Azmi pun segera menaiki motor bebek milik kakaknya dan segera membawanya pergi. Hatinya merasa gelisah. Seakan ada sesuatu yang tiba-tiba membebaninya.
" Semoga saja tidak terjadi apa-apa padanya. Ganti nomor pun tidak memberi kabar. " gerutunya dalam perjalanan.
Pasalnya memeng sejak terakhir mereka bertemu beberapa bulan kemudian nomor ponsel milik fare sudah tidak bisa dihubungi lagi.
Hanya 10 menit saja, azmi sudah kembali mematikan motornya. Memarkirkan motornya didepan halaman rumah sederhana itu dan tergesa-gesa untuk segera mengetuk pintu.
tok tok tok
Azmi seperti sedang menjalani tes ujian akhir sekolah. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya mengeluarkan keringat dingin. Tiba-tiba kegugupan mengambil alih keadaan.
Ceklek
...Seseorang lelaki membukakan pintunya. Tersenyum manis pada azmi yang saat ini masih mematung....
Deg
Seakan tertimpa batu besar didalam hatinya. Begitu sakit bahkan terasa semakin sesak hanya untuk bernafas. Dengan masih menahan kekecewaannya, azmi mencoba untuk tetap tenang.
" Mas, mau cari siapa yah ? " tanya lelaki itu yang kemudian membuat azmi tersadar.
Apa dia adalah suami fare ? Ya allah.. Tidakkah ada jalan untukku memilikinya ? batin azmi menjerit.
" Sa-saya mau mencari fare, mas. Apa Farenya ada ? " jawab azmi.
Lelaki itu mengernyitkan keningnya. Merasa bingung mendapati pertanyaan dari lelaki itu.
" Mas, disini gak ada yang namanya fare. Istri saya namanya Kinanti Anggraini. Mas gak salah alamat ? " lelaki itu balas bertanya.
Azmi merasa ada sedikit kelegaan ketika mendengar penuturan dari lelaki itu, tapi tidak. Belum, dia belum bisa merasa lega karena belum bisa berjumpa dengan fare.
" Ehmm.. Setahu saya ini adalah rumah bapak Amin. Dan beliau tinggal bersama putrinya yang bernama Farenina. "
Lelaki itu menggeleng.
" Dulu saya beli rumah ini sama ibu-ibu. Dia bilang orang Jakarta. Saya beli rumah ini dulu lewat telepon sebelum kami saling bertemu, mas. " jelasnya
Azmi pun tak ingin berlama-lama berfikir. Hatinya benar-benar gelisah. Memikirkan keadaan dan keberadaan wanitanya.
" Yasudah saya minta nomor ponselnya, mas. " ucap azmi cepat.
Lelaki itu mengangguk. Setelahnya dia melangkah masuk kedalam untuk mengambil ponselnya.
Semoga saja aku bisa menemukan petunjuk.
Karena memang fare tidak memiliki saudara disana. Bahkan tetangga pun juga tidak akrab dengan keluarganya.
Tbc..