LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Akankah semua ini harus berakhir



"Semua lelaki itu emang paling suka di godain."


"Sok baik di depan. Tapi pas lihat yang bening dikit aja gak bisa nahan."


Aku menggelengkan kepala. Merasa heran dengan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Sejak kejadian dimana aku di goda oleh salah satu temannya tadi, membuat fare terus saja menggerutu.


Aku hanya bisa terkekeh sembari terus fokus menatap ke depan. Apa mungkin dia sedang cemburu padaku. Masih mencoba untuk mencari jawaban dari pertanyaanku sendiri.


Walaupun tadi dia melihat sendiri jika temannya itu yang memaksaku untuk ikut dengannya. Bahkan aku juga menolaknya. Tapi tetap saja fare terus menerus menyebut jika lelaki itu semuanya sama. Tidak bisa melihat yang bening sedikit.


Hhuuuhhhft...


Ku hembuskan nafas panjang. Wanitaku ini masih menggerutu tanpa henti. Apa dia tidak merasa capek. Aku yang mendengarnya saja merasa cukup. Telingaku bahkan sudah panas mendengarnya.


"Re, sudahlah! Tidak perlu dibicarakan lagi. Bagaimana jika temanmu tadi bilang ke tantemu karena melihatmu."


"Biarin aja."


Ku dengar dari nada bicaranya, dia masih merasa kesal. Hah, merasa lucu saja dengan keadaanku. Kemarin saja dia terus menolakku bahkan tak segan dia untuk pergi. Tapi kenyataannya berbeda sekarang. Benar-benar terbalik.


Baru saja fare menutup mulut. Tak ku sangka sebuah mobil berwarna hitam melaju kencang kemudian menghentikan mobilnya tepat di depanku. Terdengar suara decitan yang cukup membuatku bergidik ngeri. Kedua tanganku pun dengan sigap menarik gagang rem. Ku tekan dengan erat.


Fare memukul pundak ku karena tubuhnya yang kini menubruk sisi punggung ku. Kedua mataku terpaku ke arah mobil itu. Otakku menangkap sinyal bahaya. Segera aku merogoh kantong celanaku.


"Ada apa sih, az? Bikin kaget aja." omelnya.


Gawai berlogo apel separoh ku sodorkan kebelakang.


"Buat apa ini?"


"Cepat hubungi kantor polisi!" pintaku.


"Hah..."


Ku rasa fare masih bingung. Aku masih menatap ke arah mobil yang kini sudah terbuka. Seseorang turun dari sana. Di lihat dari gayanya aku bisa menebak jika orang itu adalah tante risa.


"I-itu... Bagaimana bisa?"


Fare pun tampak terkejut. Mencengkram kuat bahuku. Dengan sigap aku pun menyentuh tangannya yang masih berada di bahuku. Mencoba memberikan ketenangan.


"Pasti temanmu tadi yang bilang."


"Bagaimana ini, az?"


"Telepon kantor polisi!"


Aku mengingatkan fare untuk segera menghubungi kantor pelayanan masyarakat. Mengantisipasi jika nanti terjadi sesuatu yang tidak terduga.


Kepalaku menengok ke belakang. Kanan dan kiri. Sial. Jalanan sepi. Tentu saja. Karena sekarang sudah hampir pukul 2 pagi. Mana mungkin ada orang yang lewat jalan ini.


Tante risa melangkah mendekat dengan di ikuti oleh dua orang lelaki bertubuh kekar. Aku bergidik melihatnya.


"Berani sekali kau membawa kabur nina dari pemiliknya." bentak tante risa.


Aku pun turun. Di ikuti fare yang juga ikut turun. Cengkraman tangannya kini berpindah pada pinggangku. Setelah tadi samar-samar dia menghubungi kantor pelayanan masyarakat. Aku sedikit merasa lega.


"Siapa pemiliknya? Aku bahkan tidak tahu. Karena memang fare bukan miliki siapa pun." jawabku tegas.


Aku melihat tante risa memandangku dengan tatapan tajam. Wajahnya mengeras. Wanita tua itu sedang memikul amarahnya terhadapku.


"Hajar lelaki itu dan segera bawa nina."


Tak berselang lama dua orang lelaki yang bertubuh kekar itu itu segera melangkah maju kedepan. Aku pun segera melepaskan cengkraman tangan fare agar bisa lebih leluasa dalam menghadapi mereka.


Ntah apa reaksinya. Aku tidak bisa melihatnya karena saat ini dua orang mengerikan itu sudah memulai aksinya. Aku pun maju dan menghadapi keduanya.


Takut, sudah pasti. Ini pertama kalinya aku menggunakan keahlian ilmu bela diriku pada orang yang benar-benar musuhku.


*Bugh..


Bugh..


Arrgh...


Euuuggh*...


Berungkali aku terkena pukul. Masih mencoba bertahan walau aku pun juga berhasil memukul. Gerakan mereka cukup lincah. Aku pun sama. Namun aku hanyalah azmi. Manusia biasa yang bukan seperti pemeran kesatria di novel kebanyakan.


Salah satu dari mereka berhasil menendang perutku. Aku pun melangkah mundur sambil menahan sakit pada perutku. Menekan kedua tanganku di atas perutku yang mulai terasa nyut-nyutan.


Aku bisa mendengar fare memekik. Berteriak dan memohon. Namun, aksi mereka masih berlanjut. Masih ku rasakan tubuhku yang kini mulai berdenyut sakit, bahkan aku bisa merasakan cairan kental yang kini mulai mengalir dari hidung. Kami bertiga tampak kacau. Namun, mereka berdua dan aku hanya sendiri.


Salah satu dari mereka berlari menghampiri ku dan segera mencengkram kuat kedua tanganku. Tubuhku mulai lelah. Nafasku ngos-ngosan. Akankah semuanya berakhir pilu seperti ini.


Aku berbisik lirih dalam hati. Allah selalu bersamaku. Dia pasti membantu hambanya yang sedang kesulitan. Kemudian dia yang ada di depanku segera memukul perutku.


Eeuuuggh..


"Berani sekali kamu anak muda. Lihatlah sekarang! Kamu tidak berdaya di hadapan nina."


"Tante cukup, tan. Nina bakal balik tapi jangan sakiti dia." ucap fareku dengan suara seraknya.


*Bugh


Euuuggh*..


Tubuhku rasanya remuk redam. Perutku seakan mati rasa. Melemas. Tak ada tenaga lagi untukku melawan. Terdengar langkah kaki semakin mendekat. Tante risa kini memegang daguku. Dia tersenyum mengejek.


Wanita tua breng sek. umpatku


Ku lihat dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya. Mengkilap. Mataku memicing. Sial. Pisau. Aku pun mencoba meronta setelah melihat benda tajam itu. Sinyal tanda bahaya membuatku semakin merasa takut. Takut akan kehilangan nyawa di saat aku belum merasa menang untuk memiliki wanitaku.


Jantungku berdegup kencang. Fare kembali memohon. Dia bahkan bersujud di bawah kaki wanita tua ini. Menangis. Wanita itu tampak begitu ketakutan.


"Jangan tante! Jangan lakukan sesuatu padanya!"


Plak.


"Kau sudah berani kabur, dasar ja lang. Lihatlah lelakimu! Dia hanya menjadi pengacau."


Bertepatan dengan itu. Kurasakan perutku teriris. Perih. Nyerih. Aku memekik merasakan sakit. Kepalaku menunduk ke bawah. Sekali lagi kurasakan sakit yang sama. Benda tajam itu kini masuk kedalam perut.


Ku lihat tante risa menariknya. Darahku masih tersisa di sana. Kini cairan kental itu merembes. Aku tertegun. Rasa sakit semakin menjadi. Aku kembali memekik. Sakit. Sungguh sakit.


Tubuhku merosot kebawah. Aku hanya bisa melihat dan mendengar dengan samar. Fare di tarik paksa oleh tante risa. Dia berteriak memanggil namaku. Dia menangis dan berulang kali memberontak agar tangannya terlepas. Namun, sebuah tamparan dia dapatkan lagi dari wanita tua itu.


Rasa sakit ini semakin melilit tubuhku. Perlahan mataku meredup dan akhirnya tertutup. Namun, aku masih bisa mendengar suara bising. Teriakkan dari beberapa orang Bahkan, sebuah tembakan. Entah apa yang terjadi.


"Az, Bertahanlah!"


"Kamu harus bertahan!"


Aku mendengarnya. Dia menggenggam tanganku. Bisa ku rasakan saat ini tubuhku melayang. Namun, keadaanku masih tetap sama dengan kedua mataku yang masih terpejam. Akankah semua ini harus berakhir?


Tbc.