
Erangan panjang lolos begitu saja dari mulutku. Rasanya sangat lega. Kubiarkan benih cintaku mulai melakukan perjalanan menuju tempat persinggahan. Berharap aku bisa menjadi pria sejati yang bisa membuat wanitaku ini segera... Heheheh... Hamil.
Sungguh gila bukan. Tapi biarkan saja, karena aku sudah menggila akibat mencintainya.
Aku yang kini sudah ambruk disampingnya, hanya bisa menatap punggung polosnya. Dia membelakangiku. Entah marah atau malu, aku tidak tahu. Dengan keadaan kami yang masih kacau, aku memberanikan diri untuk membuatnya agar dia menatapku.
Mata kami bertemu. Aku mengusap wajahnya yang basah terkena lelehan air mata dan juga keringat.
"Re... Tenanglah! Aku pasti bertanggung jawab." ucapku mantap.
Kulihat dia menggeleng.
"Anggap saja ini sebagai ganti dari uang yang kamu berikan pada tanteku." jawabnya sengan bibir bergetar.
Melihat tubuh polosnya membuatku tidak bisa berfikir jernih. Secepat kilat aku turun dari kasur. Mengambil selimut yang teronggok dibawah. Aku memberikannya pada fare sebelum aku pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Pikiranku masih tidak karuan. Bagaimana bisa fare dengan santainya bisa berbicara seperti itu. Aku yakin jika aku lah pria breng**k yang berhasil membuka segelnya. Namun, kenapa dia tidak ingin kunikahi. Aneh.
Setelah cukup, aku meraih handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhku. Melangkah keluar dari kamar mandi dan menuju pada lemari pakaian. Aku mengambil celana pendek dan kaos santai untuk segera ku pakai.
Kedua mataku masih menatap fare dengan lekat. Dia masih sama di posisinya. Terdiam. Rasanya aku ingin sekali berteriak agar dia bisa mengungkapkan perasaannya. Menceritakan semuanya mengenai isi hatinya.
Hhhhhhuuuft..
Aku mulai naik keatas tempat tidur. Duduk bersandar pada tepian ranjang. Masih menatapnya. Perlahan dia pun mulai mengubah posisinya. Berbalik dan memunggungiku.
"Re... Menikahlah denganku."
Diam. Dia hanya diam dan tidak menjawab. Baiklah, biarkan saja. Besok aku akan berbicara lagi padanya. Sekarang aku pun ingin tidur. Rasanya begitu lelah sekali.
Ku rebahkan tubuhku disampingnya. Sedikit berfikir keras sebelum akhirnya aku pun memeluk tubuhnya dari belakang. Bersyukur karena dia tidak menolakku. Hingga aku pun tak segan untuk semakin mengeratkan pelukan ku.
****
Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang. Perlahan aku mulai membuka mata, namun siapa yang menyangka jika Ketika mataku terbuka. Wajah cantik seseorang sudah berada di depan mata.
Entah sejak kapan dia mulai menghadap kearahku. Bahkan dia pun juga memelukku. Kami seperti pasangan suami istri. Astaghfirullah haladzim... Kini imanku mulai menegur. Aku begitu merasa bersalah padanya karena aku telah memaksakan kehendak.
Lebih tepatnya, aku memperko**nya. Sial. Menyebutkan kata itu membuatku seperti seorang penjahat saja.
Perlahan aku mulai memisahkan diri. Tubuh polosnya masih bisa kulihat dengan jelas. Masya Allah... Dia begitu sempurna.
Segera ku alihkan pandanganku agar setan tak lagi menghasutku. Aku pun segera beranjak turun dari tempat tidur dan menuju kekamar mandi. Membersihkan diri dan juga mengambil wudhu untuk shalat. Aku harus meminta ampunan pada Tuhan akibat kenakalanku semalam.
****
Pukul 6. Aku melangkah masuk kedalam kamar. Berniat ingin membangunkan fare, namun yang kulihat saat ini adalah fareku yang baru saja selesai mandi.
Dengan masih terbalut handuk dan rambut basahnya yang masih meneteskan air, dia menatapku. Sungguh menggoda iman.
"Maaf." ucapku.
Aku menutup kembali pintunya. Hanya menyisakan sedikit. Aku pun kembali berucap.
"Sarapan sudah siap. Aku tunggu di dapur!"
Setelah itu aku pun kembali melangkah menuju dapur. Mengingat setiap kejadian bersama dengan fare. Membuat hatiku berbunga-bunga. Ada perasaan istimewa di dalam hatiku untuknya.
Entah ini cinta atau obsesi. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri ketika berada dekat dengannya.
Sekitar lima menit kemudian, dia melangkah menghampiriku yang saat ini sedang duduk di meja makan dekat dapur.
Dia memakai pakaian yang tempo hari ku belikan. Gamis rumahan. Begitu pas dan cocok sekali dipakai olehnya.
"Duduklah! Kita sarapan bersama."
Ku lihat dia hanya mengangguk dan masih diam tanpa ingin menjawab pertanyaan dariku.
Kami makan dalam diam. Sesekali aku meliriknya. Namun, dia tampak acuh. Semakin cepat aku melahap makananku. Aku harus menuntaskan masalahku dengannya. Dia tidak bisa diam seperti ini.
Selesai.
Aku beranjak dari dudukku. Masih menatapnya dengan lekat. Lagi-lagi dia tidak perduli. Sabar. Aku harus sabar. Kini aku pun pergi meninggalkan dirinya sendiri. Mengambil amplop coklat yang tempo hari ku terima. Dari dalam lemari pakaian aku mengambilnya. Kini ku bawa amplop itu padanya.
Brruuukk..
Dia mendongakkan kepalanya. Menatapku dengan terkejut.
"Aku mengembalikan uang ini. Biarkan aku menikahimu." ucapku.
Aku tersenyum. Lega. Mendengarnya berbicara membuatku lega.
"Aku tahu uang ini adalah uangmu, re. Kamu berniat mengembalikannya padaku. Benar, kan?"
Dia terdiam. Kami masih menatap satu sama lain. Perlahan dia mulai bangkit dari duduknya. Membawa piring kotornya untuk diletakkan di atas westafel. Dia sedang menghindariku.
"Kamu ambil atau tidak, aku tetap akan menikahimu." ucapku lagi.
Berharap dalam hati kali ini dia menanggapi. Yah.. Benar. Dia berbalik. Menatapku tajam.
"Aku tidak ingin menikah denganmu, az." jawabnya sengit.
Aku terhenyak. Menelan ludahku kepayahan. Namun aku tetap tidak ingin mundur.
"Jika kamu tidak ingin menikah denganku maka aku akan membuatmu hamil agar aku bisa menikahimu."
Oh... Sial... Apa yang aku katakan. Ku lihat dia mendelik.
"Dasar gila. Kamu bukan azmi yang ku kenal dulu."
"Yah, kamu pun juga bukan fare yang ku kenal dulu. Anggap saja kita adalah orang asing yang tidak sengaja bertemu." balasku.
Kulihat dadanya naik turun. Dia sedang menahan amarahnya.
"Aku akan melaporkanmu karena kamu sudah melakukan pelecehan seksual padaku." balasnya semakin kesal.
Astaga.. Kenapa dia berbicara seperti itu?
"Baiklah. Aku pun juga akan melaporkanmu karena melakukan pemerasan terhadapku. Jika kamu mau, aku bisa mengatakan jika kamu memang menjual diri padaku. Mudah saja bagiku untuk mengatakannya."
Tangannya terkepal. Perlahan dia mulai melangkah menghampiriku. Dan tidak ku duga sama sekali. Tangannya terangkat dan.....
Plaaaakkk
"Breng**k kamu, az." teriaknya dengan penuh amarah.
Aku menatap lekat wajahnya. Ku lihat cairan bening sudah mengumpul dimatanya.
"Aku tidak sebreng**k lelaki yang membayarmu hanya untuk melakukan kesenangan, re. Aku membayarmu karena aku ingin bertemu dan menikahimu. Mengapa kamu menolak niat baikku?"
"Karena aku tidak pantas untukmu, az. Bahkan bertemu denganku saja kamu harus membayar. Apa kata keluargamu nantinya? Biarkan aku hidup tenang di duniaku sendiri, az. Pergilah! Carilah wanita baik-baik yang pantas untuk kamu nikahi!"
Dengan cepat aku menarik pinggangnya. Menatapnya dengan tajam. Emosiku pun tersulut.
"Aku hanya mencintaimu. Aku hanya menginginkan dirimu, re. Tidakkah kamu mengerti akan hal itu. Bahkan aku rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk bisa bertemu denganmu."
Dia menggeleng.
"Kamu adalah lelaki baik, az. Menikahlah dengan wanita baik pula." tuturnya.
Kini giliranku yang menggeleng.
"Aku hanya ingin menikah hanya denganmu."
"Aku tidak mau." jawabnya cepat.
"Maka aku akan memaksa."
Kini aku sudah mencekal tangannya. Aku menariknya untuk masuk kedalam kamar. Dia mulai memberontak.
"Jangan gila, az.! Aku tidak ingin hamil diluar nikah."
"Maka menikahlah denganku, re."
"Sudah ku bilang aku tidak mau." balasnya dengan berteriak.
"Baiklah, biarkan aku menghamilimu."
"Kamu sudah gila."
"Yah, aku memang sudah gila. Gila karena mencintaimu."
bbbbbrrraaakkk..
Pintu tertutup cukup keras untuk mewakili perasaanku yang mulai emosi.
Tbc.