
Kulihat wanita itu itu tersenyum lebar. Kami kini telah duduk saling berhadapan. Berulangkali aku mengucapkan istighfar saat mendapati wanita itu yang sedang berulah. Tubuh keriputnya membuatku semakin muak melihatnya.
Sungguh menjijikkan.
" Jadi kamu berani bayar berapa untuk bertemu dengan keponakan saya ? " tanyanya to the point.
Aku menatap kesal dan juga tak percaya. Bagaimana bisa ingin bertemu saja harus membayar, aneh sekali bukan.
" Begini tante. Saya adalah teman masa kecil fare. Saya ingin bertemu dengannya. Ingin melepaskan rindu. " jelasku.
Wanita tua itu tertawa kecil.
" Bo**h.. Kamu pikir apa ? Disini tidak ada yang gratis anak muda. Kamu sudah memasuki duniaku. Wanita yang ingin kamu temui adalah milikku. Jadi kamu harus mengikuti peraturan dariku. " tuturnya.
Aku mendelik. Semakin kesal dan juga gemas menghadapi wanita tua itu. Pikiranku mulai berputar. Bahkan aku masih belum mengetahui secara detail mengenai wanita tua ini dan juga dunia yang dia katakan.
" Maaf, tante. Sebenarnya apa yang tante maksud ? Memasuki dunia dan mengikuti peraturan dari tante. Saya hanya ingin bertemu dan mengobrol saja. Apa begitu saja harus membayar ? " tanyaku.
Seketika itu, aku pun baru menyadari akan ucapanku sendiri. Tersentak kecil. Kini pikiranku telah terbuka.
Sial. Apa yang dimaksud wanita tua itu adalah aku sebagai pelanggan, seperti yang dikatakan oleh petugas keamanan tadi ? Apa mungkin fare menjadi seorang wanita penghibur ?
Pikiran nalarku seakan buntu. Kini tinggallah pikiran haluku yang berkelana. Bisa jadi rumah mewah ini adalah rumah dari seorang Ger** dan fare telah menjadi salah satu dari wanita yang dijualnya. Tapi apakah mungkin dia yang seorang tante, memiliki hubungan dengan fare, akan tega menjual keponakannya sendiri.
" Bagaimana ? Aku tidak ingin berbasa-basi lagi anak muda. Kurasa kamu sekarang sudah tahu apa maksud dari perkataan ku. " ucapnya yang kini telah menyadarkan ku dari lamunanku.
" Dia adalah keponakanku, tapi jika berurusan dengan uang. Dia tetaplah menjadi dagangan ku. " lanjutnya.
Aku pun kini sedikit faham setelah beberapa menit berfikir. Menggabungkan setiap kalimat yang mungkin bisa kujadikan kesimpulan.
" Baiklah, berapa yang harus saya bayar, tante. Saya ingin bertemu dengannya, mungkin dalam waktu beberapa hari. " ucapku mantap.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Jika bisa aku mungkin akan membawanya kabur dari tempat ini setelah pertemuan kami nanti. Sungguh ku sayangkan, pertemuanku dengan fare akan berakhir di tempat seperti ini.
" Kamu berani bayar berapa anak muda. Mereka biasa membawa fare keluar dengan tarif yang lumayan tinggi. "
" Berapapun yang tante minta, pasti akan saya bayar. " jawabku tegas.
Aku sungguh tidak ingin membuat Fareku yang terus terjebak di dunia seperti ini. Aku harus mencari cara agar bisa membawa wanitaku keluar dari sini. Entah ini cinta atau obsesi, namun yang pasti aku ingin segera menyelamatkan fare dan membawanya pergi dari sini. Memiliki wanita itu seutuhnya.
Kenyataan baru yang kini membuat hatiku merana. Tidak percaya bahwa tidak menduga jika aku akan bertemu dengan wanitaku dengan cara yang seperti ini.
Walaupun saat ini aku merasa gelisah dengan keadaan fare. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu waktu untuk kita saling bertemu.
" 10 juta. Kau bisa memberikan uang 10 juta untuk tiga kali pertemuan dengan sahabatmu itu. Bagaimana ? Sanggup ? " ucapnya dengan sedikit meremehkan.
" Ah, iyah. Sampai lupa. Kamu bisa bertemu dan melakukan apapun itu kecuali satu hal. Saya tidak ingin kamu melakukan hubungan badan dengannya. " tuturnya.
Aku kembali tersentak. Begitu sakit hati ini mendengar penuturan dari wanita tua itu. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi mendengar dia berbicara akan hal semacam itu.
Bahkan, aku tidak pernah dekat ataupun menyentuh wanita mana pun. Tapi kali ini, hari ini wanita tua itu seakan sudah menunjukkan siapa diriku dan siapa dirinya.
Sial.. Aku bukan lelaki breng**k yang datang kemari hanya karena ingin mencari kepuasan tersendiri. batinku meronta.
Masih menahan perasaan yang mulai bergejolak. Aku berusaha untuk tetap tenang di depan wanita tua itu. Aku tidak boleh gegabah untuk mengambil langkah.
Masih berfikir. Namun aku pun juga harus segera memberikan jawaban. Menyiapkan mental untuk aku menunjukkan bakat aktingku.
" Akan kuberikan 20 juta.7 hari biarkan dia bersama denganku. Ikut tinggal denganku tanpa terusik olehmu. Bagaimana tante ? Tapi sebelum itu, saya ingin melihat foto fare sebelumnya, hanya untuk memastikan. " tawar ku.
" Tapi sebelum itu, saya ingin melihat foto fare sebelumnya, hanya untuk memastikan. " lanjut ku.
" Heemm.. "
Wanita tua itu segera mengambil ponselnya dari saku bajunya. Segera menyodorkan benda pipih itu kehadapan ku.
Aku mengangguk setelah memastikan jika fare yang dia maksud memanglah fareku.
" Bagaimana tante ? " tanyaku lagi mengenai tawaranku.
Masih kuperhatikan jika saat ini dia sedang berfikir. Berharap dalam hati jika wanita tua itu bisa menerima tawaran dariku. Aku sungguh merasa ingin sekali segera bertemu dan membawa wanitaku untuk pergi dari sini.
" Baiklah, tapi ingat pesanku. Jangan sampai kamu melakukannya.. "
Alhamdulillah.. Kau pikir aku akan diam saja. Aku akan mengikatnya. Lihat saja nanti.
Perasaanku sedikit senang karena kini aku menyadari jika wanitaku masih tersegel. Pikiran kotorku mulai bermunculan di kepala. Berbagai bisikan setan mulai menggoyahkan imanku.
Sabar.. Sabar.. Semuanya pasti akan ada jalan.
Masih ku yakinkan hati dan pikiranku pada kuasa maha besar Allah. Tidak ada yang bisa melawan kehendak-Nya.
Aku mengangguk mantap.
" Berikan saya nomor rekeningnya. Uangnya akan segera saya transfer. "
Kulihat wanita tua itu tersenyum senang. Mungkin dia mengira aku dengan mudah dia bohongi. Biarkan saja dia berfikir seperti itu. Tapi tunggu saja apa yang mungkin saja bisa aku lakukan tanpa dia sadari.
" Tapi dia sedang keluar. Mungkin dua jam lagi dia akan kembali. Tunggulah dulu sampai dia datang dan kamu bisa.... "
" Saya tidak bisa menunggu terlalu lama, tante. Uang akan saya transfer dan berikan alamat dimana fare berada. Biar saya yang menjemputnya. " tukas ku.
Pikiran buruk ku terus saja memprovokasi ku. Aku takut jika mungkin akan terjadi sesuatu pada fareku. Aku pun merasa tidak terima saat bayangan sosok lelaki yang saat ini sedang menjamah tubuh wanitaku.
Sial.
Berulangkali aku mengumpat kasar. Namun, setelahnya aku pun mengucap istighfar. Rasanya saat ini imanku telah di uji dengan cukup berat.
" Sabarlah sebentar anak muda. Jam kerjanya masih belum selesai. "
Terkekeh kecil. Wanita tua itu mentertawai ku. Merasa aku terhina oleh tawanya. Aku pun kembali berucap.
" Akan kuberikan 5 juta lagi untuk membayar sisa jam kerjanya. " sahutku.
Saat ini aku sudah merasa begitu tegang. Sangat kuat untuk menahan gejolak di dalam hati yang semakin lama membuatku semakin tidak bisa menahan diri.
" Hahaha.. Baiklah. Anak muda jaman sekarang memang suka tidak sabaran. " ucapnya.
" Datanglah ke CAFETARIA STAR. Dia sedang menemani tamu yang mengadakan pesta disana. Jika kamu bisa menemukannya, kamu bisa membawanya pergi. " ucapnya dengan tersenyum remeh.
Sial. Dia sedang mengerjaiku. Baiklah, kita lihat saja bagaimana aku bisa membawanya pergi.
Dengan memaksa bibirku tersenyum, kini aku mulai beranjak dari dudukku.
" Baik, saya pergi dulu. Kirim nomor rekeningnya dan akan segera saya transfer uangnya. " ucapku sebelum aku melangkah pergi.
Segudang rasa yang bercampur aduk telah kubawa pergi bersama dengan harapanku untuk segera bertemu dengan wanitaku.
Tbc.