
Aku bersiul. Masih mematutkan diriku di depan cermin. Mencoba menenangkan perasaan ku sendiri yang sejak kemarin tidak menentu. Antara senang dan juga gelisah.
Aku melirik ke arah beberapa tumpukan kado ulang tahun ku yang ada di pojok kamar. Acara pesta ulang tahun ku selesai hingga pukul 11 malam. Hingga akhirnya aku harus menginap di rumah orangtuaku.
Hah.. Aku sungguh bersyukur sekali karena memiliki teman yang care seperti mereka yang tanpa keberatan untuk datang beramai-ramai ke rumahku, walaupun aku tahu mereka sudah banyak yang pindah rumah atau bahkan ikut tinggal dengan suaminya ke luar Jawa. Benar-benar salut aku pada mereka.
Kini fokus ku kembali pada sosok wanitaku. Hari ini aku berniat untuk mencarinya sekali lagi. Perut sudah terisi dan penampilan juga sudah rapi. Segera aku menyambar kunci motor dan jaket ku. Aku tidak ingin menunda waktu lagi.
Kali ini aku harus menemukan fare ku. Harus meluruskan segala macam perasaan yang selama beberapa tahun ini mengganjal di hatiku. Bukan hanya itu, aku pun juga merasakan takut untuk memulai hidup baruku setelah kemarin aku mengetahui fakta baru mengenai bocah itu.
Yah, aku harus menguatkan hati. Merelakan dia jika memang dia sudah mendapatkan hidup yang bahagia bersama dengan keluarganya.
Aku melangkah keluar. Mencari sosok lembut yang masih tampak cantik dengan beberapa kerutan di wajahnya.
"Bu, Azmi pulang dulu yah. Hari ini azmi ada kerjaan yang harus azmi urus." teriakku saat aku melihatnya sedang mengobrol dengan mbak may di teras rumah.
Dia menoleh, mbak may pun juga sama. Keduanya segera beranjak dari duduknya. Melihat dari raut wajah mereka, sepertinya ada yang tidak beres.
"Ada apa sih, bu?" tanyaku.
"Hehehe, ndak le. Ibu sama mbak mu ngimongin soal anggi. Temen kamu yang cantik itu loh. Kan dia juga masih single. Bahkan dia juga sopan, yah kan May." ungkapnya.
Aku terkekeh kecil.
"Dia sudah tunangan, bu. Masa iyah, ibu mau Azmi deketin tunangan orang." jawabku santai.
Ku lihat ibu memukul lengan mbak mayra. Mungkin mereka salah persepsi mengenai anggi. Bahkan aku saja juga baru tahu kemarin saat dia mengatakan akan menyusul rendra yang statusnya sebagai pengantin baru.
"Yauda, bu, mbak May. Azmi balik dulu. Keburu siang."
Sambil menyalimi tangan mereka.
"Ayah mana, bu?" tanyaku sambil celingukan.
"Baru saja berangkat mancing sama pak lukman dan pak bondan." jawabnya.
Aku mengangguk.
"Yasudah Azmi tinggal dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dengan cepat aku pun segera menaiki motor kesayanganku. Motor kenang-kenangan Ketika aku tinggal di Jakarta dulu.
Melajukan motorku menuju desa bluru. Sekali lagi aku mencoba peruntunganku untuk menemukan sosok wanitaku. Dengan perasaan tak menentu di iringi dengan degup jantung ku yang tidak stabil.
Semoga kali ini aku bisa menemukannya..
****
Matahari semakin membakar kulitku. Tepat berada di atas kepala ku. Membuatku merasakan pusing. Hingga mau tak mau, aku pun segera mencari warkop untuk singgah. Rasanya otakku mendidih.
Hhhhhhuuuft...
Aku menghentikan laju motorku. Di daerah bluru tengah. Tepat di depannya ada gang. Mengucap istighfar Ketika aku melihat beberapa orang sedang bertengkar.
Perlahan aku pun turun dari motor ku. Warkop yang ada disamping gang ini menjadi pilihanku. Rasa kering di tenggorokan ku terasa semakin menyiksa diriku.
Aku pun segera mencari tempat duduk. Baru saja aku mendudukkan tubuhku di salah satu kursi. Seseorang baru saja datang dan bercerita.
"Haduh, mas. Itu bu ida bertengkar lagi sama si fare. Gak ada bosannya orang-orang itu kalau bertengkar sama si fare."
Terkekeh sang penjaga warkop.
"Biasa, orang cantik banyak yang ngiri."
"Iyah, biar saja lah si fare suruh pindah." kata penjaga warkop.
"Kan pak RT yang keberatan."
Aku sudah melangkah pergi. Namun telingaku masih bisa mendengar percakapan mereka. Ku biarkan motorku terparkir di sana. Dengan langkah besar dan terburu-buru aku segera menghampiri kerumunan orang itu.
Masuk ke dalam gang yang di sana ternyata deretan rumah kos yang cukup banyak. Aku bisa melihat wanita ku. Dia sedang di seret-seret oleh beberapa ibu-ibu. Bahkan di sekitar mereka ada bapak-bapak yang meleraikan mereka, namun tidak ada yang berhasil.
Aku melihat di dalam sana bocah kecil yang ku temui kemarin tengah menangis kencang. Mungkin dia sedang ketakutan. Tanpa banyak berfikir. Aku pun segera menghampiri wanita ku.
"Dasar ja lang. Tidak tahu malu."
"Tukang onar, kau itu harus pergi."
"Pelakor, lebih cocok tinggal di do li sana. Perempuan lak nat."
"Hentikan!!!" teriakku
Aku menarik paksa kedua tangan ibu-ibu itu yang masih berusaha untuk melecehkan wanitaku. Ada yang menarik rambutnya, ada juga yang menampar pipinya, juga menarik pakaiannya.
Semuanya terkejut melihat kedatanganku, begitu pun fare. Lihatlah dia. Wanita ku sudah tidak berbentuk lagi wajahnya. Aku hampir saja merengkuhnya jika mereka tidak segera menegur ku.
"Siapa kau ini? Pelanggannya?" bentak salah satu ibu tadi.
"Iyah, dia pasti pelanggannya." sahut ibu yang satunya.
"Hah, sayang sekali cakep-cakep jari pelanggan ja lang gatel ini."
Ucapan ibu-ibu tadi bersahutan.
"Ada apa ini ibu-ibu? Mengapa kalian memperlakukan dia seperti ini?" tanyaku dengan menahan amarah.
"Dia itu sudah menggoda suami saya. Dasar ja lang gatel."
"Iyah, dia itu memang suka tebar pesona pada suami kami."
Astaghfirullah haladzim....Sakit sekali hatiku mendengarnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada fareku? Mengapa mereka begitu tega mengatakan hal seperti itu. Jika fare sudah bersuami, tidak mungkin mereka mengatakan aku adalah pelanggannya. Apa jangan-jangan... Ya Allah...
Aku melihat sekeliling. Ada beberapa ibu-ibu dan juga bapak-bapak. Ada yang menjadi penonton, ada juga yang tadi ikut meleraikan.
Hatiku menjerit-jerit. Aku tidak kuasa menahan diri. Darahku mendidih. Mereka begitu rendah memandang wanitaku.
"Re, masuklah kedalam!"
Ku lirik fare masih terdiam ditempatnya sembari memakai kembali kerudungnya. Ingin sekali aku menangis saat ini. Bagaimana bisa tuhan memberikan cobaan yang begitu berat padanya. Bahkan aku saja saat ini merasakan sesuatu di dalam sana yang seperti diremas-remas.
"Tolong panggilkan ketua RT, pak! Saya harus mengurus masalah ini hingga tuntas." ucapku pada mereka agar mau memanggilkan ketua RT. Aku tidak ingin wanita ku ditindas seperti ini.
"Sudah, mas. Pak RT sedang dalam perjalanan menuju kemari." sahut salah satu bapak-bapak.
"Az, jangan ikut campur! Kamu tidak usah ikut campur urusan ku." tutur fare.
Sekilas aku melihatnya. Rasanya aku ingin sekali berteriak padanya. Aku sungguh marah. Kesal. Hatiku sudah tidak berbentuk lagi saat ini. Lalu bagaimana bisa dia dengan santainya mengatakan itu.
"Masuklah kedalam! Biar aku yang menyelesaikan semuanya." bentakku padanya.
Ku lihat dia tersentak kecil. Aku tidak perduli. Rasanya aku ingin sekali berteriak kencang untuk meluapkan segala emosiku. Aku tidak ingin jika wanita ku ditindas seperti ini. Kalian akan tahu apa akibatnya.
Semuanya tercengang melihatku. Mungkin mereka sedang kebingungan dengan status kami. Sebentar lagi mereka akan tahu siapa orang yang tengah mereka tindas. Aku tidak akan membiarkan siapapun lolos setelah memperlakukan wanita ku dengan buruk.
Tbc.