LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Kedatangan tamu istimewa



Setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbelanja kebutuhan fare dan faris, putraku. Kini aku memaksa fare agar setuju untuk berkunjung ke rumahku. Aku tidak ingin menunggu lama, rasa takut akan kehilangan sudah cukup aku rasakan.


Biarkan semua kegagalan ku dimasa lalu berlalu diterpa oleh sang waktu dan aku tidak ingin semuanya terulang lagi. Tidak ingin mengulangi kepahitan yang sama.


"Az, tapi aku belum siap bertemu dengan mereka."


Sekilas ku lihat wajahnya.


"Kenapa? Malu?" tanya ku.


Kulihat dia mengangguk samar. Faris menatapku. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tapi aku hanya menyambutnya dengan senyumanku sambil mengusap pipinya.


"Faris mau kan ikut ayah ke rumah kakek dan nenek." tanya ku pada faris.


Bocah itu hanya tersenyum senang sambil mengangguk. Begini saja rasanya sudah sangat senang. Entah apalagi nanti setelah mereka benar-benar telah menjadi Keluargaku seutuhnya.


"Az...."


"Sudahlah, re. Kamu harus siap. Aku tidak ingin menundanya lagi. Semakin cepat kamu bertemu dengan kedua orang tua ku, maka semakin cepat pula aku memilikimu." tukas azmi dengan menampilkan senyuman termanisnya.


"Aku sudah terlalu lama dipermainkan oleh takdir. Biarkan sekali ini saja aku yang menentukan takdirku."


Aku meraih tangan fare dan menggenggamnya erat. Memberikan keyakinan padanya. Bahwa semuanya akan baik-baik saja. Keluargaku bahkan sudah memberikan restu sejak dulu. Hanya saja takdir masih belum berpihak kepada ku.


"Percaya saja padaku, mereka pasti akan menerimamu."


Sekilas aku melihatnya. Dia mengangguk kecil, tapi aku masih bisa melihat kegelisahan dari raut wajahnya. Genggaman tangan ku semakin erat ketika aku merasakan tangannya yang terasa dingin. Kekehan kecil keluar dari mulutku begitu saja.


"Tarik nafas, hembuskan. Semuanya akan baik-baik saja." tuturku padanya.


Hanya beberapa menit lagi, kami akan sampai. Aku dengan sangat santai menoleh dan tersenyum lembut. Berharap ketenangan ku bisa menular pada fare, tapi nyatanya tidak.


"Apa yang harus aku katakan jika mereka bertanya mengenai statusku, az?" tanyanya padaku.


"Jawab saja dengan jujur. Aku tidak biasa berbohong, re. Walaupun mereka marah, yang jelas marahnya juga sama aku karena udah bikin kamu hamil."


"Ehmm... Tapi bagaimana jika mereka tidak percaya dan tidak bisa menerima faris." tanyanya lagi.


Aku mengernyitkan dahi. Menoleh ke arah fare sambil menatapnya tajam. Ada perasaan aneh yang kini tiba-tiba muncul.


"Mengapa kamu berbicara seperti itu? Jika kamu yakin faris adalah putraku, lalu kenapa kamu takut. Apapun yang terjadi faris akan tetap menjadi putraku. Jangan pernah kamu takut mengatakannya."


Jawabku dengan tegas. Aku menghela nafas panjang setelah aku menghentikan mobilku di halaman rumahku. Rumah sederhana nan elok itu mengingatkan aku pada sosok diriku sebelum menjadi seperti sekarang ini.


Ku lihat mbak may dan vino sedang duduk-duduk di depan melambaikan tangannya. Aku menoleh dan mengusap lengan fare.


"Ayo turun. Sini faris biar sama aku."


Aku mengambil alih faris dari pangkuannya. Membuka pintu mobil dan menggendong putraku. Baru saja menutup pintu mobilnya. Mbak mayra berteriak memanggil ibu dengan hebohnya.


"Ibu... bu... Lihatlah siapa yang datang!" teriak mbak may.


Aku tersenyum. Menghentikan langkah kaki ku untuk menunggu wanitaku. Menggandeng tangannya sebelum aku melangkah masuk kedalam rumah.


Beberapa tetangga yang ada di depan rumah bahkan terlihat kepo saat melihat kedatangan ku bersama dengan fare dan faris.


Yah, kalian pasti tahu kan. Kehidupan di desa itu seperti apa. Banyak ibu-ibu yang suka nyinyir sana sini. Memberikan kritikan dan pendapatnya pada setiap orang yang dirasa kurang pas di hatinya, tapi mereka lupa untuk menilai diri sendiri terlebih dahulu.


"Wah, siapa itu mas azmi?" tanya ibu sita.


Aku mengangguk dan tersenyum.


Hah, lihat saja wajahnya. Sudah jelek apalagi yang ingin dia banggakan dari dirinya jika dia tidak memiliki hati yang baik. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ku sendiri. Merasa lucu dengannya.


"Oh, calon istri? Lha itu anak siapa, mas?"


Tarik nafas, hembuskan. Ibu-ibu disini memang selalu bisa membuatku cepat masuk surga. Bagaimana tidak, saat ini saja aku sudah mengucapkan segala macam dzikir di dalam hati agar aku tidak melakukan kekhilafan pada orang yang lebih tua.


"Ini anak saya, bu. Anak kami. Mari bu sita, saya masuk dulu." ucapku dengan sopan tanpa banyak basa-basi lagi.


"Az."


Aku menoleh kesamping. Lihatlah, wanita ku sepertinya sedang ingin menangis. Entah dia merasa malu atau apa, aku tidak tahu. Melihat itu, aku semakin menggenggam erat tangannya.


Aku sadar, aku pun bukan orang yang sempurna. Namun, bagaimana bisa mereka yang juga sama sepertiku. Hanya manusia biasa yang pastinya memiliki kekurangan. Memandang rendah orang lain tanpa melihat kekurangan diri sendiri.


Takdir sudah menentukan jalan hidup kita. Bahkan sebelum fare memilih untuk menutupi auratnya, dia juga pernah mengalami hal dimana dirinya begitu laknat. Namun, apa yang bisa dia lakukan jika takdir sudah memilihnya.


Siapapun orang tidak akan pernah mau menjadi seorang ja lang jika mereka tidak terpaksa. Mungkin sebagian wanita yang memilih menjadi seorang ja lang karena memang dia menginginkannya ataupun ada juga yang menjadi wanita ja lang karena terpaksa. Yang pasti mereka memiliki alasan yang kuat saat pertama kali memutuskan untuk menjadi seperti itu dan takdir lah yang memilihnya.


Orang baik pasti akan menemukan jalan yang baik pula melalui kebesaran atas kuasa-Nya. Yakinkan iman kita pada-Nya, maka semua akan baik-baik saja.


"Gak usah di dengerin."


"Masya Allah, Azmi. Siapa ini? Wah... Dapat tamu dadakan, ibu. Ayo masuk!" sambut ibu dengan heboh.


Aku mengangguk. Mengganti posisi faris di tangan kiri ku. Aku segera menyalimi tangan ibu. Bergantian dengan fare.


"Kedatangan tamu spesial, bu." teriak mbak may.


Aku hanya tersenyum.


"Ayo, salim sama nenek dulu sayang."


Aku mengambil tangan kanan faris agar menyalimi tangan ibu. Ku lihat wajah ibuku seperti orang yang kebingungan. Mungkin dia sedang penasaran mendengar ucapan ku tadi.


"Ayah mana, bu?" tanyaku.


"Ada di dalam, lagi shalat ashar. Yasudah masuk dulu." jawab ibu.


"Ayo, nduk masuk dulu!" ucapnya pada fare.


Aku kembali menggandeng tangan fare. Wajahnya kini berubah menjadi tegang. Aku sedikit merasa kasihan padanya, tapi mau gimana lagi. Kalau aku tidak segera berbicara dengan kedua orangtua ku, lalu sampai kapan aku harus menyimpan dosa dengan menyembunyikan fare dan faris di rumahku.


Aku duduk di sofa, menarik tangan fare agar duduk di samping ku. Mencoba untuk tetap tenang. Walaupun dalam hati aku terus saja berdoa, semoga ibu bisa tenang dan bisa menerima setelah aku menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan takut selama ada aku." bisikku.


Ibu duduk di depan kami. Tak lama kemudian mbak mayra keluar dengan membawakan makanan dan minuman untuk suguhan.


"Gak usah repot-repot segala, mbak." ucapku.


"Kedatangan tamu istimewa, suguhannya juga harus istimewa." ucapnya.


Aku terkekeh kecil mendengarnya.


"Mbak may bisa aja. Ini farenina, mbak. Masa lupa." ucapku.


Seketika itu mbak mayra dan ibu melongo.


Tbc