LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Balon LOL



4 tahun kemudian.


Aku membuka mataku. Melihat jam yang ada di dinding. Segera ku paksakan diri untuk bangun. Tubuhku rasanya remuk semua. Sejak dua hari yang lalu. Aku tidak bisa diam. Keadaan Warkop ala remaja kekinian yang baru ku bangun setahun yang lalu semakin ramai.


Melakukan gerakan merenggangkan otot-otot pada tangan dan leher sebelum aku mulai beranjak dari tempat tidur. Merasa lebih baik segera ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi.


Membersihkan diri dan juga sekaligus mengambil air wudhu. Melaksanakan shalat subuh kemudian seperti biasa. Lari-lari pagi setiap hari. Karena hari ini hari minggu, jadi aku memutuskan untuk pergi ke alun-alun kota Sidoarjo.


Yah, aku Azmi Maulana susah kembali ke kota kelahiran ku. Sidoarjo. Sudah dua tahu aku kembali setelah dua tahun bertahan dengan ambisi ku untuk menemukan fare. Dengan semangat tanpa menyerah, aku menyusuri ibu kota Jakarta untuk menemukan sosok wanitaku.


Entah apa yang terjadi ketika aku sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Namun, setelah aku membuka mata. Yang ku lihat pertama kali adalah ibu. Ternyata fare menghubungi keluargaku. Masih tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu.


Ibu hanya bilang jika dia pamit pulang, tapi siangnya akan kembali. Namun, kenyataannya bukan seperti itu. Dia memilih pergi. Meninggalkan secarik kertas di atas nakas di dalam kamar.


Maaf...


Tolong maafkan aku az!


Aku membawa uang darimu.


Aku memilih untuk pergi, aku tidak sanggup membawamu masuk kedalam duniaku yang kejam ini. Setelah aku memberikan kesaksian pada polisi. Aku memutuskan untuk pergi.


Cukup hanya sampai disini. Jangan lagi kamu mencari ku. Aku ingin semuanya berakhir.


Meremas kertas sialan itu. Aku tidak mempermasalahkan perkara uang yang dibawanya pergi, namun aku sungguh merasa kesal padanya karena dia sudah meninggalkan cintanya di dalam sini. Di lubuk hatiku.


Hah... Mengingat masa-masa itu membuatku semakin merasa kesal. Ku cukupkan angan ku mengenai wanita itu. Setelah shalat dan meminta petunjuk dalam urusan hati, segera aku beranjak. Memakai pakaian olahraga dengan mengambil kunci motorku.


Semenjak dua tahun yang kelam itu, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Menuruti permintaan kedua orangtua ku yang terus merasa khawatir. Dengan berat hati aku pun memutuskan untuk berhenti bekerja. Berhenti membangun mimpi dengan menyukseskan perusahaan orang lain.


Beruntung sekali, setelah aku pulang ke kampung. Teman lamaku banyak yang tahu dan mereka mengajak untuk melakukan reoni. Disinilah kehidupan baru ku dimulai.


Mencoba untuk mengikuti saran dari temanku. Dengan modal kecil yang ku keluarkan. Aku mulai merambah menjadi seorang pengusaha.


Distro atau toko pakaian untuk para pemuda. Satu tahun tanpa ku duga. Usahaku lancar. Bahkan saat ini aku susah memiliki tiga toko di berbagai tempat di sekitar Sidoarjo dan Surabaya.


Bersyukur. Aku selalu bersyukur, karena Allah tidak pernah pelit untuk memberikan rezeki pada umatnya yang selalu meminta dengan tulus.


Sukses menjadi pengusaha distro. Aku pun ingin membuat usaha baru yang lebih menyenangkan. Yah, aku terprovokasi oleh ucapan ibu yang memberikan saran untuk membuat warkop bernuansa cafe ala remaja yang saat ini lagi hitz. Tempat nyaman dan unik namun makanan yang tersedia tidak terlalu merogoh kocek.


Nah, terbukti. Sudah satu tahun ini aku menggeluti usaha baru ku ini. Mencari kenalan seorang koki yang cukup pandai dalam mengolah masakan. Koki yang cukup muda dan Kami mengenal tanpa di sengaja ketika mereka yang sedang mampir di tokoku dengan saling berbincang mengenai lowongan pekerjaan. Dia adalah pemuda dan pemudi lulusan SMK negeri 1 Buduran.


Mengucap syukur atas nikmat yang luar biasa di berikan padaku. Semua bisnis yang ku bangun dari nol. Bahkan ini bukanlah bidang ku. Namun, semuanya berjalan lancar atas seizin-Nya. Bahkan, rumah dan mobil pribadi sudah ku miliki sejak empat bulan yang lalu.


Udara pagi nan sejuk masih dapat ku nikmati. Hari ini aku ingin sekali Menghabiskan waktu untuk menikmati hari libur. Hari membuka diri. Di usia ku yang sudah menginjak 30 tahun. Membuat ibuku terus saja mengomel agar aku segera mencari calon mantu. Untuk saat ini, aku pun masih bingung mengatur perasaanku.


Setelah sepeda motor terparkir. Aku pun mulai berlari kecil. Kaos santai dengan celana training menjadi pilihanku. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa tubuhku. Begitu sejuk. Harum udara pagi yang begitu menenangkan. Membuatku merasa rileks.


Masih fokus ke depan. Masih melakukan aktivitas yang biasa ku lakukan. Tiba-tiba saja otakku menangkap tanda bahaya dari sosok bocah kecil yang menangis sembari mengejar balon. Benda berbentuk LOL nan ringan itu terbang.


Bukan, bukan itu yang menjadi bahaya. Namun mobil dari arah berlawanan yang sedang melaju kencang. Cukup kaget. Aku pun segera berlari. Walaupun ramai pejalan kaki, namun sisi jalan raya depan masjid Agung Sidoarjo masih di buka untuk satu jalur.


Yang lain mungkin sedang sibuk. Bahkan kedua orangtuanya mungkin sedang asyik sendiri sehingga membiarkan bocah kecil itu berlari sendirian.


Cukup cepat dan sigap. Aku membawa tubuh kecilnya menjauh dari jalanan. Dia meronta sambil menangis.


"Bayon.. Bayoncu..."


Ucapnya yang sangat menggemaskan. Bocah kecil lucu ini terus saja berceloteh khas dirinya. Aku pun tak sampai hati. Menggendongnya menuju tukang balon bocah lelaki itu tampak girang setelah aku membelikan balok karakter LOL dan juga thomas.


Eh.. Aku baru sadar. Dimana orangtuanya. Bodoh. Karena tidak tega melihatnya menangis, aku sampai lupa untuk mencari orangtuanya.


Menengok ke segala arah sembari aku menuju tempat dimana aku melihat bocah kecil itu berlari. Sepertinya tidak ada tanda-tanda Orang yang mencari anaknya. Alu Menatap bocah yang ku gendong ini dengan lekat. Aku tertegun. Wajah itu. Wajah itu mengingatkanku pada seseorang.


"Faris.. Faris.."


Aku mendengar teriakkan seseorang. Samar-samar. Perlahan aku mengikuti suara yang ku dengar. Lembut. Seakan aku begitu mengenal suara ini.


"Bocah kecil, siapa namamu nak? Kamu datang kemari dengan siapa?"


"Payis tatang cama unda."


Aku hanya menatapnya lucu. Terkekeh kecil saat mendengar celotehannya.


"Faris... Faris..."


Suara itu terdengar lagi. Aku pun segera melangkah menghampiri asal suara. Menatap ke sekeliling. Masih belum melihat sosok orangtua yang terlihat khawatir.


"Faris... Masya Allah. Bunda nyariin kamu, nak." omel seseorang dari belakangku.


Dengan cepat aku pun berbalik badan. Terlihat dua wanita berparas cantik menghampiri ku. Sesaat aku mematung. Mataku terbelalak. Jantungku berdegup kencang. Bahkan salah satu dari keduanya pun juga terlihat kaget saat melihatku.


Tbc.