LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Menikahlah denganku



Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore. Kami masuk ke dalam rumah kosan tempat tinggal fare. Si bocah imut itu sudah terlelap sejak tadi. Mungkin dia kelelahan setelah menangis.


Masalah fare sudah tuntas. Kelima ibu-ibu rempong itu sudah meminta maaf pada fare walaupun terlihat tidak ikhlas.


Ku lihat fare sedang merebahkan tubuh bocah itu. Kini aku bisa melihat seisi ruangan kecil itu dengan seksama. Mungkin ruangan ini tidak lebih dari 4x5 m lebarnya. Aku melihat kasur dan juga meja kecil yang di atasnya terdapat kipas kecil.


Mataku beralih menatap ruangan yang ada di belakang sana. Sepertinya itu tempat untuk memasak dan juga kamar mandi. Aku mulai beranjak dari dudukku. Menoleh sekilas ke arah fare.


"Aku akan shalat ashar. Apa bisa aku menumpang shalat disini?"


Fare menoleh ke arahku. Dia mengangguk.


"Yah, kamar mandinya ada disana."


"Jika kau mau, kita bisa shalat berjamaah." tawarku.


Kulihat dia hanya mengangguk. Aku pun segera melangkah menuju kamar mandi.


****


Bacaan dzikir ku lantunkan setelah selesai mengakhiri shalat ku. Menghayati setiap doa nya. Aku sungguh tidak menyangka akan di hadapkan oleh situasi yang seperti ini.


Bahagia dan juga terharu. Takdir kembali mempertemukan kami dengan keadaan yang lebih baik. Aku sungguh bersyukur. Melihat fareku yang kini semakin cantik dan menawan tanpa adanya polesan make up.


Aku memutar sedikit tubuhku setelah aku mengakhiri shalatku dengan doa. Kini kedua mata kami bertemu. Tak ragu aku menyodorkan tanganku. Namun, fare tidak bergeming. Dia hanya menatap datar ke arahku.


"Terimakasih, Az." ucapnya.


Aku tersenyum pahit. Sial. Setelah kejadian pahit beberapa tahun yang lalu. Kini setelah lama tak berjumpa, dia hanya mengucapkan terimakasih.


"Hanya itu yang bisa kau ucapkan?" ucapku.


Dia menunduk.


"Maaf, Az. Tolong maafkan aku!" ucapnya lirih.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu hal padamu? Mengapa kamu pergi saat itu. Mengapa kamu meninggalkan aku, re?" tanyaku mendesaknya.


Dia mengangkat wajahnya. Air mata itu dengan lancangnya menetes. Merusak kecantikan wanitaku.


"Bagaimana kamu tega meninggalkan aku, re?


Dia menggeleng. Isak tangisannya semakin pilu. Tak kuasa menahan diri. Pertahanan ku roboh. Aku pun mulai menangis.


"Kau tahu, aku mencari mu seperti orang gila. Menghabiskan waktuku selama dua tahun di Jakarta untuk mencarimu. Hanya untuk mencarimu." ucapku dengan penuh penekanan.


Ku lihat dia semakin terisak.


"Maafkan aku, az. Kumohon maafkan aku!"


Aku mendesah kasar. Rasanya emosiku kembali naik.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi sehingga kamu memilih untuk pergi meninggalkan aku saat itu.?"


Fare mengusap wajahnya. Dia memberanikan diri untuk menatapku.


"Barrac mencari ku setelah aku memberikan kesaksian pada polisi. Sehingga malam harinya aku bergegas untuk pergi dan kembali ke kampung halaman. Aku hanya mengingat ria sahabat ku. Aku bersyukur karena dia bisa membantuku untuk mencarikan tempat tinggal dan sebuah alasan untuk bertahan." jelasnya dengan masih sesenggukan.


Aku mengernyitkan dahi.


"Yah, barrac datang padaku. Dia meminta tolong agar tidak di libatkan dalam urusan percobaan pembunuhan terhadap ku. Aku mengabulkannya dengan satu syarat yaitu membebaskan mu."


"Jadi dia tidak di tangkap polisi?'


Aku menggeleng.


"Dia kembali ke negaranya, Amerika." ungkap ku.


Aku melirik sekilas ke arah bocah yang sedang terlelap itu. Menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menguatkan hati atas penjelasan yang akan ku dengar sebentar lagi.


"Jadi, siapa ayah dari putramu?"


"Di-dia...."


"Apa kau benar-benar telah menikah sirih?" tanyaku.


Dia menggeleng. Dengan penuh harap aku memberanikan diri untuk kembali bertanya.


"A-apa dia adalah benihku? Apa dia hasil dari perbuatanku padamu?"


Aku melihatnya mengangguk. Masya Allah. Jeritku dalam hati. Bahagia bercampur haru. Aku kembali menangis. Segera ku tarik tubuhnya. Aku merengkuhnya dengan penuh cinta.


"Kenapa kamu tidak bilang, re? Kenapa kamu tidak mencari ku?"


"Bagaimana bisa kamu menjalani hidupmu yang berat ini sendiri? Bahkan aku sudah bersusah payah mencarimu. Aku sungguh-sungguh ingin menjadikanmu istriku. Lalu mengapa kamu memilih pergi? Apa yang kamu takutkan?" ucapku di sela-sela isak tangisku.


Aku meluapkan segera rasa yang selama ini tertahan di dalam hatiku. Apa yang sedang dia pikirkan sehingga dia memilih untuk pergi dan menghilang daripada mencariku dan membangun rumah tangga yang bahagia.


"Katakan, re! Apa yang kau takutkan?" desakku.


"A-aku hanya tidak ingin menjadi beban untuk mu, az. Lihatlah sekarang! Aku kembali merepotkan dirimu. Aku kembali membawamu masuk ke dalam duniaku yang pahit ini. Seharusnya kamu tidak akan mengalami hal semacam ini, jika saja kamu menjauhiku."


Aku meleraikan pelukanku dengan cepat. Merasa tidak terima dengan pendapat fare mengenai diriku. Bahkan aku rela mati hanya untuk bisa membawanya pergi bersamaku.


"Apa yang kau katakan, re? Aku benar-benar tulus mencintaimu. Aku bahkan rela mengalami kesusahan seperti ini. Yang penting aku selalu bersamamu. Mengapa kau tidak mengerti? Apa kejadian di Jakarta tidak cukup untuk membuktikan semuanya, re. Bahkan kau pun sudah mengalami hal yang lebih buruk dari ini. Lalu apa lagi yang kau takutkan?" jelasku sedikit kesal.


"Ku mohon, kali ini jangan menolakku! Kita bahkan sudah memiliki anak. Kuharap kamu bisa membuka dirimu, re."


Aku menarik nafas.


"Menikahlah denganku? Tidak ada alasan untukmu menolakku. Dia adalah putraku."


Aku melirik ke arah bocah itu. Hanya sebentar, kemudian aku kembali menatap ke arah fare. Meraih kedua tangannya.


"Ku mohon, menikahlah denganku!"


Dia mengangguk. Ku lihat dia mengangguk. Masya Allah. Ini kah jawaban atas doa-doa ku selama ini. Ya Allah Terimakasih..


Segera ku rengkuh tubuhnya. Memeluknya erat. Berulangkali aku mendaratkan ciuman di kepala wanita itu. Dia pun juga ikut membalas pelukanku. Bahagia dan lega. Sungguh hidupku seakan sempurna.


****


Malam harinya.


Aku tersenyum lebar. Hatiku merasa puas. Kini aku telah memboyong keluarga kecilku menuju ke rumahku yang berada di desa Spande. Setelah tadi mampir untuk makan malam di restoran iga bakar depan GOR Sidoarjo. Aku pun segera melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.


Hanya 5 menit saja kami sudah sampai. Rumah sederhana yang memiliki dua lantai itu terlihat unik dan menarik. Aku melirik ke arah fare. Dia tercengang menatap me arah rumahku. Setelah membuka pintu gerbang, aku segera mengajak fare dan faris masuk kedalam rumah.


"Ayo masuk!" ajakku.


Fare mengangguk kecil sembari menggendong faris.


"Unda, ini uma ciapa?"


Aku tersenyum mendengar suaranya. Setelah ku masukkan motorku. Aku kembali menutup pagar dan menguncinya. Melangkah mendekati fare yang saat ini sedang menungguku di depan pintu.


"Ini adalah rumah faris. Mulai sekarang faris dan bunda akan tinggal bersama dengan ayah." jelasku padanya.


Mata bulatnya mengerjap beberapa kali sembari menatapku.


"Ayah."


Aku mengangguk. Subhanallah. Perasaan apa ini. Begitu terhanyut saat dia memanggilku dengan sebutan itu. Aku benar-benar bersyukur karena bisa bersatu kembali dengan fare ku.


"Iyah, sayang. Ini ayah, nak. Sekarang faris dan bunda akan tinggal bersama dengan ayah." ucapku.


Kulihat dia mengangguk dan tersenyum. Aku sungguh tersentuh melihat putraku. Bagaimana bisa selama tiga tahun ini fare berusaha kuat dalam menjalani kehidupan yang cukup berat.


Tanpa terasa air mataku kembali menetes. Tak kuasa aku menahan haru. Wanitaku benar-benar wanita tegar dan selalu akan menjadi seperti itu.


Aku merasakan tubuhku menghangat. Fare memelukku. Hingga akhirnya aku pun merengkuh mereka. Kami berpelukan di depan pintu.


Semoga saja kebahagiaan menyertai Keluargaku....


Tbc.


.


.


.


.


.


Hanya khayalan saja yah..


Farenina.



Azmi Maulana.