LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Mohammad Al Faris



Pov Fare


Aku hanya bisa menghela nafas berungkali. Sudah 4 tahun berlalu. Aku berusaha keras mengikhlaskan dia, mematahkan cintaku pada sosok lelaki itu. Mengapa setelah semuanya sudah membaik takdir kembali mempertemukan kami.


Sejak tadi pagi sepulang dari alun-alun Kota Sidoarjo, pikirkanku terus terusik oleh sosoknya. Ada perasaan rindu yang menggelora, juga ada pula perasaan bersalah. Namun, semuanya sudah berlalu. Sekarang semuanya sudah berbeda.


Mohammad Al Faris adalah putraku, kesayanganku, separuh jiwaku. Melihat bocah kecil itu seakan menunjukkan statusku sekarang. Menjadi seorang ibu yang berstatus lajang, lumayan sulit untukku. Tapi, aku bersyukur karena memilikinya dalam hidupku. Penyemangatku.


Banyak juga dari para tetangga di tempat kos ku yang merasa terganggu dan tidak suka dengan keberadaan ku, karena memiliki status yang tidak jelas. Tapi aku sungguh tidak perduli. Cemoohan dan gunjingan ibu-ibu terasa kebal ditelinga ku.


"Unda... Obing payis ucak."


Mendengar kata ajaib itu membuatku tersadar akan lamunanku. Aku menoleh. Faris putraku menyodorkan mainan mobilnya yang telah patah. Wajahnya mendung dengan bibirnya yang sudah bergetar ingin tangis.


"Kok bisa sampai rusak? Faris gimana maininnya?" tanyaku lembut.


Dia bercerita menggunakan kata ajaibnya. Bocah berusia 3 tahun itu mulai menangis. Dia bercerita, jika alfan anak tetangga sebelah yang merusaknya. Aku sedikit kecewa sebenarnya. Baru saja aku membelinya tadi pagi. Walaupun harganya tidak terlalu mahal, tapi tetap saja aku harus mengumpulkan uang dulu untuk membelinya.


"Yasudah, nanti kalau bunda udah gajian pasti dibelikan lagi. Yang lebih bagus." janjiku padanya.


Ku lihat dia mengangguk. Walaupun sebenarnya aku merasa sedikit kesal jika mengingat bocah nakal itu. Dia selalu saja merusakkan mainan faris. Harga bukan menjadi masalah, tapi mainan itu aku membelinya dengan susah payah. Menyisakan gajiku selama dua atau tiga minggu.


"Jagoan pintar. Tos dulu dong, biar bunda semangat jahitnya, biar bisa cepet dapat duit buat beli mobil-mobilan baru." seruku sambil mengangkat tanganku.


"Bial bica etemu ayah." sahutnya.


Aku menelan ludahku kepayahan. Kata ini lagi. Mataku tiba-tiba saja menjadi perih. Sakit sekali jika dia mengingatkan ku pada sosok ayahnya yang hingga saat ini tidak pernah mengetahui keberadaannya.


Aku memaksakan diri untuk mengangguk.


Kami sama-sama menubrukkan tangan kami hingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras. Aku tersenyum lebar. Perasaan ku masih tidak menentu. Banyak pertimbangan yang menjadi beban ku.


"Kamu bubu dulu, gih. Ntar bunda buatin susu." tawar ku.


Dia mengangguk. Tak menunggu lama aku segera beranjak dari duduk ku. Melangkah mendekati meja dan mengambil dot untuk membuatkan faris susu.


Aku sudah terbiasa hidup susah seperti ini. Namun, hatiku tak kuasa saat aku mengikutsertakan faris dalam kesusahan ku. Menetes tanpa sengaja. Bahkan untuk makan dan membeli susu saja aku harus menyelesaikan jahitan hingga malam menjelang pagi. Mengejar setoran selama satu minggu agar selesai lebih cepat.


Semuanya aku lakukan demi kebahagiaan putraku. Tidak ada yang lain selain dia yang saat ini ku miliki. Sebisa mungkin aku akan berjuang sendiri untuk membawanya menuju kebahagiaan.


Mengingat itu, aku meringis. Seandainya saja aku tidak membatasi diri waktu itu, mungkin faris akan hidup dalam kemewahan, bukan seperti ini. hhhhuuuufftt... Aku menghela nafas. Semuanya sudah berlalu.


"Ini, sayang. Ayo lekas tidur! Bunda mau jahit lagi." tuturku.


Setelah ku lihat dia mengangguk. Aku pun segera melepaskan pakaiannya. Di ruangan kecil ini terasa panas walaupun ada kipas yang menjadi penyejuk. Untung saja dia tidak pernah mengeluh.


Aku segera beranjak berdiri. Hanya kasur kapuk yang di sediakan oleh pemilik kos yang menjadi alas untuk kami tidur. Satu lemari yang berukuran sedang ada di sampingnya. Jangan ditanya mengenai isi di dalamnya.


Gaji yang aku dapatkan selama menjahit baju konveksian itu hanya cukup untuk makan dan membayar kos. Sisanya aku bisa mengajak faris untuk sekedar jalan-jalan di alun-alun kota tanpa mengeluarkan biaya. Urusan pakaian, menjadi nomor kesekian untukku.


Walaupun hidup dengan pas-pasan seperti ini aku sudah merasa sangat bersyukur. Tidak ada lagi kepura-puraan dalam hidupku.


Aku mulai duduk dikursi. Kembali melanjutkan aktivitas ku yang tadi sempat tertunda. Menjahit pakaian muslim anak yang cukup populer brand nya.


Aku, harus terus berjuang untuk masa depan faris. Tidak ada lagi beban hidupku selain masa depan yang cerah untuknya.


****


Keesokan harinya.


Cukup menghabiskan uang 20ribu saja untuk membeli lauk pauk dan buah. Aku harus pandai mengatur pengeluaran. Jika tidak, maka setiap bulannya uang dari gajiku tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan kami.


Tidak masalah. Aku tidak pernah mempermasalahkan mengenai rezeki. Mau dapat rezeki banyak ataupun sedikit, kalau kita ikhlas dan bersyukur. Maka rezeki itu pasti akan barokah. Kita juga tidak akan pernah merasakan kekurangan.


"Wah, belanja apaan mbak fare." tanya seorang bapak-bapak yang sedang duduk di depan gang kos.


"Eh, pak muji. Ini pak, beli ayam sama sayur buat faris. Permisi." jawabku sopan.


Dengan santainya aku melanjutkan langkahku. Eh, pak muji kayaknya manggil lagi deh. Mau tak mau aku menoleh kebelakang lagi.


"Eh... Iyah pak ada apa?"


"Sini"


Dia memanggilku sembari mengayunkan tangan. Ada perasaan aneh, tumben sekali pak muji mau bersosialisasi. Padahal biasanya dia selalu berada di rumahnya, istrinya kan galak.


"Ada apa, pak?" tanyaku setelah melangkah mendekat.


"Eh...." pekikku.


Segera ku tarik tanganku sedikit paksa. Wajahku yang mulanya biasa, kini berubah menjadi marah. Dasar lelaki tua mesum. Gimana bisa dia memegang tanganku di depan umum. Hhuuuuuuuuuffft... Lelaki ganjen.


"Ada apa, pak? kalau mau ngomong sesuatu, ngomong aja gak usah pake pegang-pegang segala." ucapku sarkas.


Dia terkekeh.


Dasar lelaki sin ting.... umpatku


"Saya cuman mau nawarin aja, ntar malem keluar bareng yuk. Kita jalan-jalan ke kodam."


Astaghfirullah haladzim.... Sabar re.... sabar....


Lelaki memang begini. Gak bisa lihat yang bening dikit. Masih berani pegang tangan pula. Dasar suami gak punya akhlak.


"Pak, tolong jaga sikap Anda! Ini di depan umum. Kita bukan muhrim." tuturku dengan mencoba bersabar.


"Halah, re. Kamu aja hamil gak pake nikah. Masa cuman sekedar pegang tangan gak boleh. Sok jual mahal. Memang kamu biasa jual diri patokin harga berapa, sih?"


Seketika itu amarahku langsung naik. Aku pun tak segan untuk mengangkat tangan dan.....


Plakkkk...


Perduli apa dengan harga diriku. Bahkan aku dengan bangga mengandungnya kala itu. Kamu siapa, hanya lelaki breng sek yang tidak punya attitude.


"Jaga ucapan Anda! Saya sudah bilang sama pak RT, kalau saya ini nikah sirih pak. Anda tidak perlu bersusah payah mengurusi hidup saya."


Tersenyum lebar.


"Dasar ja lang."


Dengan masih menahan amarah, aku mulai berbalik dan melanjutkan langkah kakiku. Biarkan saja dia mengolok ku, aku tidak perduli. Ku sapu air mata yang tengah menemaniku selama ini. Hanya cairan bening ini yang selalu tahu akan kesedihan ku.


Aku melirik sekitar. Ternyata ada beberapa ibu-ibu yang juga tengah melihat perdebatan ku dengan pak muji. Biarkan saja lah.


Aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Menerima olokan dan cibiran dari tetangga, aku selalu beralasan jika aku adalah istri sirih, walau sebenarnya tidak. Ku biarkan rasa sakit ku di dalam sana yang semakin menggerogoti hati. Toh, pada akhirnya aku harus tetap berjuang untuk faris ku tanpa harus menunjukkan rasa sakit ini.


Tbc.