LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Sebuah alasan



"Ka-kamu mau apa?"


Ku lihat dia seperti sedang ketakutan. Rasanya ingin sekali aku tertawa. Sungguh wajahnya lucu sekali. Dia terlihat marah, tapi menurutku itu sangat menggemaskan.


Masih membuka kemeja kerjaku. Yah, hari ini aku memutuskan untuk ambil libur saja. Membiarkan fare yang berasumsi kalau aku ingin melakukannya lagi.


"Aku akan berteriak, az." bentaknya.


Santai. Aku tidak takut sama sekali dengan ancamannya. Melangkah untuk melewatinya. Aku mengambil hanger untuk menggantung kemeja kerjaku. Senyuman tipis menghiasi wajahku. Dia benar-benar berfikir jika aku ingin melakukannya lagi.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanyaku santai.


Dahinya mengerut.


Aku meraih kaos berkerah untuk ku gunakan. Membiarkan celana kerjaku sebagai pasangannya. Tidak terlalu buruk. Aku melihat ke arahnya setelah selesai merapikan penampilanku. Yah... dia masih menatap ke arahku dengan was-was.


Sekali lagi aku melayangkan senyuman tipis. Melangkah besar menghampirinya. Segera ku raih pergelangan tangannya. Aku menariknya sedikit paksa.


"Mau kemana, az?" tanyanya sambil mencoba untuk melepaskan diri.


"Kita akan ke rumah tante risa. Aku akan melamarmu dan kita akan menikah." jawabku santai.


Namun, aku sungguh terkejut saat kini dia dengan cepat menarik tangannya. Melangkah mundur dan aku masih terpaku menatapnya. Bingung. Dia seperti sedang ketakutan.


Menggeleng.


"Jangan, az! Jangan kesana!"


"Kenapa?" tanyaku santai.


Walaupun aku penasaran, tapi aku harus bisa bersikap santai. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dia takutkan.


"Ehhhmmm... Jangan, az! Kamu gak boleh temui tante risa. Dia bisa saja melakukan hal buruk padamu." jelasnya dengan takut.


"Iyah, tapi kenapa? Niatku baik, re. Aku ingin melamar dan menikahimu. Apa ada yang salah?"


"Tentu saja salah. Barrac sudah membeliku. Lelaki yang kemarin kamu pukul. Dia adalah pemilikku."


Kali ini dia berbicara dengan nada tinggi. Amarahnya meluap, bahkan air matanya menetes. Aku menelan ludahku kepayahan. Tercengang. Tidak percaya.


"Jangan berani kamu datangin rumah tanteku, az! Barrac sudah pasti cerita semuanya. Aku tidak ingin kamu dalam bahaya."


Aku mengepalkan tanganku. Tak ku sangka jika hidup fare, sahabat dan juga cintaku begitu tragis. Lalu bagaimana bisa, dia bertahan dan hidup dengan tenang di dunianya? Mengapa dia tidak pergi saja agar terbebas dari tantenya.


Sempat terlintas di benakku, jika fare memang menyukai kehidupannya yang sekarang. Namun, kenapa malam itu dia menangis?


Masih menatapnya. Dadaku naik turun. Begitu juga dengannya.


"Lalu, bagaimana denganmu? Aku sudah lebih dulu melakukannya sebelum pemilikmu. Apakah kamu akan kembali?" tanyaku.


Ku lihat dia menunduk dan menggeleng.


"Bawa aku pergi! Mereka pasti akan mencari keberadaan kita."


Aku kembali terkejut mendengarnya. Dia sungguh membuatku bingung. Rasa penasaranku semakin membuncah.


"Mengapa aku harus membawamu pergi? Aku ingin melamarmu dan menikahimu dengan cara baik-baik. Kita tidak perlu pergi jauh-jauh. Apa yang kamu takutkan?"


Kepalanya terangkat. Wajahnya kacau akibat menangis. Aku kembali menelan ludahku sedikit berat. Meringis. Aku merasakan kepedihan yang saat ini dia rasakan. Berharap kali ini dia bisa menceritakan semuanya tentang hidupnya.


"Tante bisa saja meminta orangnya untuk membunuhmu. Aku sudah di jual, az. Barrac memilikiku sepenuhnya. Lalu bagaimana bisa kamu meminta padanya untuk menikahiku."


Dia menggeleng.


"Lalu apa yang harus ku lakukan, re. Aku serius ingin menikahimu. Menikahlah denganku jika kamu ingin pergi bersamaku." ucapku.


Ku lihat dia hanya diam. Aku melangkah maju. Mengikis jarak di antara kami. Masih saling mengunci pandangan mata. Aku bisa merasakan jika dia juga mengharapkan ku. Tapi mengapa dia tidak mengatakannya.


"Menikahlah denganku, re? Aku sudah melakukannya. Biarkan aku memilikimu seutuhnya."


Meraih kedua tangannya. Ku genggam erat. Menyalurkan segala macam rasa yang kumiliki. Berharap dia bisa merasakannya, sehingga dia pun bisa mengungkapkan isi hatinya.


"Katakan sesuatu, re!"


"Jangan sekarang! Barrac adalah pengusaha kaya yang telah membeliku dengan harga yang cukup mahal. Lalu bagaimana bisa aku pergi bersama denganmu malam itu. Bahkan kamu pun juga memukulnya.Tante risa pasti sedang mencariku. Aku yakin saat ini tante sedang marah besar."


Aku terdiam. Menatap lurus kedepan. Bingung. Bagaimana sekarang? Mendengar kata membeli dan di jual. Seakan membuatku tak bisa lagi berfikir. Itu semua berada di luar akal sehatku.


"Berapa harga yang diberikan oleh tantemu padanya?"


"Apa kamu akan mengembalikan uangnya? Jangan konyol, az! Sudah pasti nilainya mencapai M. Aku masih virgin, dalam dunia kami dengan keadaan yang seperti itu maka siapa pun berani membayar mahal."


Aku terdiam. Ini adalah fakta yang baru ku ketahui. Bagaimana bisa tante risa setega itu pada keponakannya.


"Oleh sebab itu kamu hanya bisa menemani pelangganmu tanpa melakukan sesuatu hal."


Dia mengangguk samar.


"Bagaimana bisa tantemu tega melakukan ini padamu, re?" tanyaku yang semakin meeasa penasaran.


Dia menangis. Menunduk. Melepaskan genggaman tanganku. Menutup wajahnya dan tangisannya semakin pilu.


" Lima bulan aku membiayai pengobatan ayah. Tapi, uang yang ku dapat hanya bisa membayarnya sekian persen. Ginjal ayah rusak dan setiap bulan harus mencuci darah. Dapat uang dari mana jika aku hanya menerima upah dari hasil jahitan, az. Untuk membeli obat saja aku harus menyelesaikan dua baju. Lalu bagaimana dengan biaya mencuci darah? Tante risalah yang saat itu menjadi pilihannya. Aku menghubunginya. Meminjam uang padanya. Hanya mengandalkan upah dari hasil menjahit tidak akan bisa membayar hutangku. Hingga setelah ayah meninggal, dia memaksaku untuk ikut dengannya."


Tak kuasa. Bibirnya bergetar saat mengungkapkan isi hatinya. Cerita hidupnya. Aku menyesal. Mengapa aku tidak pulang disaat-saat dia membutuhkan bantuan.


Aku pun memberanikan diri untuk memeluknya. Saat ini aku akan selalu ada untuknya. Apapun yang terjadi. Aku tidak ingin lagi dia menderita.


"Lalu mengapa kamu tidak menghubungiku, re. Kamu bisa meminjam uang dariku saat itu."


Dia menggeleng.


"Siapa aku? Mana mungkin aku berani berhutang padamu, az. Biaya pengobatan ayah tidaklah murah."


Masih terisak. Aku merasakan hatiku teramat sakit mendengar suara tangisannya.


"Lalu, mengapa kamu tidak mencoba untuk kabur saja. Kamu juga tahu jika aku merantau disini, kamu kan bisa mencariku untuk meminta pertolongan." ucapku padanya.


Kurasakan dia mulai melepaskan pelukannya. Mengusap wajahnya dengan cepat. Wajah cantiknya kini terlihat memerah.


Tak ku sangka dia menarik tanganku. Mengarahkan telapak tanganku pada perutnya. Kiri. Kini tanganku ada di atas perutnya sebelah kiri.


"Aku yakin kamu sudah melihatnya kemarin." ucapnya.


Moment menjadi lelaki breng**k kini ku putar kembali. Mengingat setiap lekukan tubuh polosnya saat kemarin aku melakukannya. Menelan ludahku sedikit berat. Mengapa ingatanku tertuju pada kenikmatan itu. Gila.


Perlahan aku mulai memfokuskan diri. Sesaat. Ingat. Kini aku mulai mengingatnya. Tapi apa hubungannya? Masih menahan rasa penasaranku. Dia selalu saja menggunakan kode sebelum menceritakan semuanya.


"Yah, aku mengingatnya. Lalu apa hubungannya?"


Tbc...