
"Tidurlah bersama faris di sini. Aku akan tidur di sofa." ucapku.
Fare menggeleng. Baru saja aku hendak melangkah pergi dari sini. Dia menarik tanganku seakan tidak rela aku pergi.
"Kasur ini lumayan besar. Kurasa masih sangat cukup untuk kita tidur bersama." ungkap fare.
Tersenyum. Aku tersenyum melihatnya. Aku sudah menduganya. Dia tidak akan tega membiarkan aku tidur di sofa.
"Kamu yakin? Apakah tidak akan membuat kalian gerah nantinya?"
Walaupun aku sangat ingin untuk tetap tinggal dan menuruti keinginan darinya, tapi aku tidak ingin membuat farisku merasa tidak nyaman dengan aku yang juga ikut tidur bersama. Bodohnya aku yang tidak menyiapkan kamar lain jika akan terjadi sesuatu hal semacam ini.
Aku melirik putraku. Dia beranjak bangun dari duduknya. Masih berada di atas ranjang. Aku mengalihkan pandanganku karena merasa penasaran. Dia merentangkan kedua tangannya.
"Ayah, ita bubu cama-cama." ucap faris.
Aku terkekeh. Begini rasanya menjadi ayah. Panggilan dan bahkan status yang belum pernah terlintas di kepalaku. Tidak menyangka sama sekali jika dalam sehari hidupku tiba-tiba saja berubah.
Aku menghampirinya. Menyambut sosok mungilnya ke dalam pelukan ku. Kali ini aku tidak bisa menolak.
"Baiklah, ayah akan tidur bersama." ucapku.
Sedikit menoleh ke arah fare yang kini sedang tersenyum ke arah kami.
"Ayo kita tidur! Besok pagi kita harus belanja kebutuhan rumah. Aku akan membeli ranjang yang lebih besar dari ini." ucapku.
Sambil aku mulai merangkak naik dan mencari posisi untukku. Membimbing Faris agar ikut tidur bersamaku. Aku mengangkat kepalaku agar dapat melihat fare yang saat ini masih mematung.
Aku bisa melihatnya. Ada keraguan diwajahnya. Dia seperti sedang berfikir keras akan sesuatu. Ah... Aku mendesah pelah.
"Apa yang kamu lakukan disitu? Jika kamu tidak ingin melepaskan hijab mu, tidak perlu merasa sungkan. Kamu bisa tetap memakainya, kita memang belum muhrim." tuturku.
Entah menang karena hal ini atau apa, aku tidak tahu. Namun bisa ku lihat jika dia mengangguk. Perlahan dia mulai melangkah dan beringsut naik ke atas ranjang. Aku tahu jika fare kini sudah kembali menjadi fareku yang dulu.
Aku membiarkan faris berada di tengah. Menjadi pembatas diantara kami. Hhhhuuuufftt... Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk segera melangsungkan pernikahanku dengannya.
"Selamat malam, faris." ucapku sembari mencium kening bocah itu. Kemudian disusul oleh fare yang melakukan hal sama seperti ku.
Aku masih menahan setengah tubuhku dengan salah satu tanganku. Menghadap ke arah fare yang saat ini hendak kembali merebahkan tubuhnya.
"Apa kamu tidak ada niatan untuk mencium ayahnya juga."
Ku lihat dia melotot dan tak lama kemudian ada semburat merah diwajahnya. Aku terkekeh kecil melihatnya. Melihat dia sudah menutup mata aku pun ikut merebahkan diri dan segera menyambut mimpi ku. Hah... bahagianya.
****
Keesokan harinya.
"Kamu, sih. Gak ngebolehin bawa baju. Masa aku pake baju ini lagi." keluh fare saat aku baru bangun tidur.
Aku yang masih setengah sadar hanya bisa menatap bodoh. Wanita memang benar-benar repot.
"Yasudahlah, nanti kita cari sarapan di gading fajar sekalian mampir di Indah bordir." jawabku santai.
Ku lihat sepertinya dia baru saja selesai mandi. Wajahnya sudah terlihat segar, bahkan harum sabun mandi ku tercium walaupun ada jarak diantara kami.
"Emang mau ngapain ke Indah bordir pagi-pagi?" Masa kita kesana dengan pakaian ku yang kayak gini?"
"Yang jelas kita mau ngeborong baju buatmu sama sekalian beli baju buat faris. Tunggu bentar, kita shalat subuh berjamaah."
Aku yang memang berbicara sambil mengambil langkah, jadi tidak menunggu lama untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, kami sudah menyelesaikan shalat bersama. Faris dan fare sudah bersiap menungguku yang masih menyiapkan mobil di garasi.
Ahhh... berulangkali aku mengucap syukur. Rasanya aku benar-benar bahagia. Tiada perasaan lagi yang ingin ku rasakan. Hanya kebanggaan dan kebahagiaan seperti ini saja aku sudah sangat cukup.
"Ayo, masuk. Mobil sudah siap." teriakku pada mereka yang sedang duduk di depan teras.
Aku tersenyum saat melihat faris yang sangat antusias untuk segera naik ke dalam mobil.
"Yee.. Aik obing. Yee.. Payi aik obing."
Masya Allah.. Aku terharu mendengarnya. Putraku sangat senang saat ini. Aku tersenyum lebar. Sungguh Allah maha membolak-balikkan hati. Setelah membuatku terpuruk, kini dia mengembalikan kebahagiaan ku dengan membuat mereka bahagia.
Secepat kilat aku mengusap ujung mataku yang terasa berair. Aku berjanji akan selalu membahagiakan mereka setelah ini. Tidak akan aku biarkan mereka menderita lagi ataupun di rendahkan oleh orang lain.
Setelah melihat fare masuk dan duduk disampingku. Segera ku injak pedal gasnya. Hingga sudah keluar dari rumah. Ku biarkan gerbang rumahku terbuka, karena sebentar lagi ada bu siti sebagai PRT ku yang akan datang dan membersihkan rumah.
Aku sudah mempercayakan rumahku pada beliau. Bahkan dia sendiripun juga memiliki kunci rumah ku. Tidak masalah. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, karena memang rumah bu siti ada di belakang rumahku. Jadi aku tidak perlu takut jika dia ingin berbuat jahat.
"Kamu mau sarapan apa, re?"
Kami sekilas saling menatap.
"Terserah. Sepagi ini ada toko yang udah buka. Mending di warung pinggir jalan aja. Nyari soto atau rawon biar faris juga ikut makan. Kalau pecel dia gak suka." jelasnya.
Aku mengangguk setuju. Apapun yang mereka inginkan, aku pasti akan mengabulkannya. Mewakili pemilikku untuk membuat mereka bahagia.
Ketika aku melintasi jalanan di samping GOR. Terlihat tidak ada pedagang soto ataupun rawon. Masih terus menatap ke depan sembari berharap jika di depan sana akan ad warung nasi yang kami cari.
Hah... Tetap tidak ada.
"Kita cari di alun-alun aja gimana? Soto Dji Jaya enak juga." tawarku.
"Yah, terserah kamu aja lah. Ntar sekalian mampir di kosan buat ambil barang-barang."
Aku menggeleng.
"Aku tidak ingin kamu membawa barang-barang mu. Bawa saja mesin jahitmu saja. Yang lain biarkan saja di sana. Suruh ibu kos mu kasih kan siapa yang mau."
Fare menggeleng.
"Jangan sumbar begitu, az. Aku tidak ingin melupakan keadaan ku sebelum ini. Aku akan tetap mengambilnya. Barang-barang itu akan ku simpan. Agar aku selalu ingat akan setiap perjuangan ku untuk melewati hari-hari beratku selama ini. Agar aku tidak menjafi orang yang lupa diri."
Subhanallah... Hatiku meleleh. Dia wanita ku memang tidak ada tandingannya. Aku kembali menyeka ujung mataku yang mulai berair. Bahkan dengan lancang dia berjatuhan.
"Baiklah."
Entah sadar atau tidak. Kini aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Dia pun tidak menolak.
Tbc.