
Pagi pun kini telah berganti. Aku dan fare baru saja selesai makan siang bersama. Fare kini sudah membuka kerudungnya karena alasan risih.
Aku bisa memakluminya, mungkin selama satu tahun ini dia sudah terbiasa memakai pakaian minin dan juga ketat. Aku pun tidak ingin memaksakan, hanya saja aku tidak ingin membuat banyak dosa dengan terus melihat pemandangan indah darinya.
"Biar aku yang nyuci piringnya." ucapku.
Fare hanya diam menatapku.
"Gak usah, az. Aku masih ingat kok gimana caranya nyuci piring." ucapnya.
"hehehe... Aku pikir kamu cuman disuruh tiduran aja."cetusku.
Dia terkekeh.
"Iyah memang." balasnya singkat.
"Oyah, az. Kamu libur berapa hari?" tanyanya.
"Kurang lima hari lagi. Kenapa?"
Dia menggeleng.
" Sebenarnya aku pengen nahan kamu, re. Aku gak rela kamu balik lagi kerumah tantemu." ungkapku.
Aku mulai beranjak berdiri menghampiri fare yang sedang sibuk mencuci piring. Bersandar pada dinding dan kini aku bisa melihatnya. Tidak bisa diucapkan lagi. Aku benar-benar bahagia saat ini. Inginku terus seperti ini. Semoga saja Allah menunjukkan jalan.
"Ngomong apa sih, kamu. Jangan bikin masalah sama tante risa. Kan aku udah bilang kemarin. Jangan ikut campur masalahku, az. Aku tidak ingin kamu mendapatkan masalah." tuturnya.
"Kenapa re? Kamu adalah sahabatku sejak kecil. Tidakkah kamu mengerti. Aku ingin membawamu pergi dari tantemu."
Fare menggeleng. Dia meletakkan piringnya di atas rak. Kemudian mengambil lap bersih untuk mengelap tangannya yang basah.
"Kamu memang sahabatku, az. Tapi kehidupanku sekarang sudah berbeda. Tanteku memiliki banyak anak buah. Dia bisa saja melakukan sesuatu hal buruk pada padamu. Jadi jangan pernah kamu berniat untuk membawaku kabur." Tuturnya lagi.
Fare hendak berbalik. Namun aku lebih dulu menahan tangannya. Melangkah semakin mendekat. Kami saling memandang.
"Kamu tahu mengapa aku rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk bertemu denganmu. Hingga aku rela kembali ke Jakarta ketika aku sudah berada di kampung. Semua itu aku lakukan demi kamu, re. Aku ingin bertemu denganmu, menyelamatkanmu, membawamu pergi dari kehidupanmu yang kelam. "
Aku mencengkram kedua lengannya. Masih menatapnya dengan penuh rasa yang bergejolak di dalam dada.
"Aku mencintaimu, re. Aku ingin menghalalkanmu."
Fare terpaku ditempatnya. Perlahan dia menggeleng. Kemudian air matanya menetes. Bingung. Aku sungguh bingung saat kini melihatnya terisak.
"Jangan, az! Jangan bilang seperti itu! Cukup hanya sebagai seorang sahabat. Jangan pernah kamu menginginkan diriku!" ucapnya sambil terisak.
Aku semakin mengeratkan cengkraman tanganku. Mengguncangkan tubuhnya.
"Apa maksudmu, re? Kamu bilang jangan, perasaanku sejak dulu masih sama. Aku sungguh memendamnya dengan begitu rapi. Hatiku hanya menginginkan dirimu. Tidakkah kamu mengerti, mengapa hingga saat ini aku masih ingin menemuimu." jelasku.
"Az, aku tidak pantas mendapatkan cintamu. Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Jangan lagi mengharapkan aku!"
Entah setan apa yang sedang merasukiku. Amarah dan rasa kecewa menjadi satu. Pikiranku seketika itu buntu. Aku hanya menginginkan kehadiran wanita itu, tapi nyatanya dia tidak menerima cintanya.
Begitu saja aku melakukannya. Menyatukan bibir kami dengan sedikit memaksa. Ku biarkan fare yang terus memukulku. Tidak menyerah. Aku semakin memperdalam pagutanku.
Mmmmmm..eemmmm..
Beberapa detik ku lewati sebelum aku merasa kehabisan nafas. Hanya dengan menciumnya, bisikan setan kembali datang. Membuatku sangat menginginkan wanita itu. Menginginkan sesuatu hal yang lebih dari sekedar berciuman.
Plak..
"Kamu bukanlah azmi sahabatku. Kurasa dia tidak akan berani bertingkah seperti ini." bentaknya.
Hanya menciumnya saja dia semarah ini? Yang benar saja, lalu apa saja yang dia lakukan selama ini jika sedang menemani pelanggannya seperti yang waktu itu.
Aku menatapnya tajam dengan memegangi pipi kiriku.
"Lalu dia akan bertingkah seperti apa saat dia sedang mencintai seseorang?"
"Aku benar-benar mencintaimu, re. Menikahlah denganku. Aku akan membawamu pergi dari tantemu."
"Asal kamu tahu, az. Aku tidak pernah mencintaimu. Jangan memaksakan kehendakmu seperti ini!" bentaknya.
Seketika aku pun tersulut emosi. Kedua tanganku terkepal kuat.
"Jadi kamu tidak pernah mencintaiku? Lalu, apa maksud pesan terakhirmu waktu itu? Hanya satu tahun berlalu, kurasa kamu pun masih mengingatnya. Kamu bilang akan menungguku. Apa maksudnya?" kini aku pun tak bisa menahan diri.
Fare masih menatap tajam ke arahku. Hingga setan pun kembali memprovokasi ku. Kutarik tangannya dengan paksa. Aku membawanya masuk kedalam kamarku dan segera menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur.
Amarah bercampur aduk bersama perasaan yang lainnya. Begitu membuncah saat aku mendengar dia tidak mencintaiku. Masih teringat dengan jelas saat terkahir kali dia mengirim pesan padaku. Dia akan menungguku hingga aku datang.
"Az, apa yang akan kamu lakukan?" bentaknya.
Aku bisa melihatnya yang sedang ketakutan. Tidak perduli. Aku pun segera membuka kaos yang kupakai.
"Aku akan melakukannya dan membuatmu hamil." ucapku tegas.
Ku lihat kini fare menggeleng. Dia pun bergerak mundur dengan cepat dan segera turun dari atas kasur. Belum sempat dia berlari, aku telah lebih dulu menahannya. Kembali menarik tangannya dan menghempaskannya kasar.
"Aku sudah membayar mahal. Aku ingin membawamu pergi dan ingin memilikimu seutuhnya."
Dia menggeleng. Namun, dengan gerakan cepat aku menarik pakaiannya.
Ccccrrriiiekkkk..
Ntah kerasukan apa, sehingga aku tak menghiraukan keadaan wanitaku yang sedang terisak. Masih menciumnya. Sudah tidak beraturan dalam memilih tempat yang ingin kucium.
"Az, jangan lakukan!" suaranya terdengar parau.
Astaghfirullah haladzim..
Aku yang sedang mencumbu bagian dadanya, seketika itu juga terperanjat. Aku segera menjauhkan diri. Menarik selimut untuk menutupi tubuh wanitaku yang sudah terekspos bagian atasnya. Sekilas kulirik ada beberapa tanda kemerahan yang sebentar lagi akan terlihat jelas.
Mengusap wajahku kasar. Aku merutuki kebodohanku. Setan benar-benar lihai dalam menghasutku. Menatap ke arah fare yang kini sedang terduduk dengan memeluk lututnya, masih terus terisak sembari mencengkram kuat selimutku.
"Aku telah dijual oleh tante risa pada salah satu pengusaha kaya. Beberapa bulan ini, dia sedang berada diluar negeri. Tante harus menjagaku agar tetap suci ketika dia datang kembali dan membawaku." ucapnya dengan mulut bergetar.
Aku melongo mendengar penuturan darinya. Bagaimana bisa? Wanitaku dijual?
Tunjukkan keadilanmu ya Allah..
Kini aku melangkah mendekatinya. Segera ku rengkuh tubuhnya. Tanpa kusangka, dia pun juga membalas pelukanku. Yah, aku sangat yakin jika fare melakukan semua ini hanya karena takut pada tante risa.
"Aku akan membawamu pergi jika kamu menginginkannya." sanggupku.
Fare menggeleng.
"Aku tidak ingin kamu mempertaruhkan nyawamu demi aku, az. Duniaku sangat kejam. Nyawa pun seakan tidak berarti." jelas fare.
Aku meleraikan pelukanku. Menangkupkan kedua tanganku pada pipinya. Mengusap lembut air matanya. Menyesal dan juga kecewa. Aku tidak bisa mengungkapkannya.
"Ijinkan aku membawamu pergi, re. Menikahlah denganku. Kita bangun kehidupan yang baru. Kamu dan aku." tawarku.
Tbc
like..
like..
like..
like..
Terimakasih..