
Angin kerinduan menghampiri ku. Aku menarik ujung bibirku keatas. Wanita dengan pakaian muslim yang dipakainya terlihat begitu menawan. Kami masih saling menatap sebelum salah satunya mengalihkan perhatianku padanya.
"Mas, terimakasih atas bantuannya. Tadi keponakan saya ini tiba-tiba lari saat kami sedang membeli minuman." jelasnya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Kembali melihat sosok wanita cantik yang ada dibelakangnya. Dia mengulurkan tangannya untuk meraih bocah kecil yang sedang ku gendong.
Aku kembali tertegun.
Hah... Benarkah yang kulihat saat ini ?
"Terimakasih" ucapnya.
"Ayo gendong bunda! Kita harus pulang." ucapnya pada bocah ini.
Aku menelan ludahku kepayahan. Masih menatap lekat wajah cantiknya. Hatiku seakan sesak ketika mendengar dia menyebut dirinya dengan panggilan bunda.
Apakah dia sudah menikah?
Perlahan dan kaku. Seakan berat untuk memberikan bocah imut itu padanya.
"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih." ucapnya lagi.
Dengan mudahnya dia mengatakan itu. Hanya itu?
"Re, kita harus bicara."
Tidak menggubris. Keduanya berbalik dan melangkah pergi. Namun, aku lebih dulu menahan tangan wanita yang satunya, karena memang dia yang melangkah sedikit lambat.
"Ada apa?"
"Dimana kalian tinggal. Saya harus menemui fare."
Dia tersenyum dan mengangguk.
"Kamu lupa padaku, az? Aku ria sahabat fare. Jika kamu mengingatku, maka kamu juga ingat tempat tinggal ku. Dia ngekos di gang sebelah rumahku."
Jelasnya dengan sopan. Perlahan wanita yang mengaku bernama ria itu menarik tangannya. Berbalik dan berlari kecil ketika melihat sosok fare yang sudah melangkah jauh.
Aku masih mematung. Apakah benar yang ku lihat tadi? Benarkah semuanya nyata dan bukan ilusi ku saja? Masih bergelut dengan pikiranku. Namun, tiba-tiba saja hatiku merasakan sesak.
Mengingat sosok bocah kecil imut tadi membuatku semakin merasakan kehancuran. Sepertinya fare sudah menikah dan memiliki seorang anak. Tak terasa sesuatu mengalir. Dadaku naik turun dengan cepat. Cairanku semakin deras berlomba untuk jatuh.
Dengan cepat aku pun menuju parkiran motor. Aku tidak ingin menjadi bahan tontonan gratis oleh orang sekitar. Menaiki motor kesayanganku. Setelah membayar karcis. Aku pun segera melajukan motorku dengan cepat. Rasanya aku ingin sekali cepat sampai dirumah.
****
Aaaaarrrgghh....
Sial....
Breng sek...
Mencoba untuk melampiaskan amarahku pada takdir. Kali ini aku tahu, bahwa aku tidak bisa mendapatkan semuanya walaupun aku sudah meminta. Dengan berbisik aku meyakinkan hati. Bahwa memilikinya bukanlah kemampuanku. Namun, agaknya tubuhku merespon lain.
Tidak terima. Barang berserakan dimana-mana. Kamar yang biasa ku bersihkan itu tampak kacau. Aku marah. Sungguh marah. Bagaimana bisa takdir mempermainkan keadaanku. Ketika tinggal selangkah lagi aku mendapatkan dia seutuhnya. Lagi-lagi semuanya terhalang.
Aaaaaarrrghhhh....
Mengusap kasar wajahku. Berulangkali kali menarik rambutku sendiri. Walaupun sakit, namun hatiku merasakan sakit yang lebih dari ini.
"Aku tidak butuh semuanya. Aku hanya butuh cintanya. Mengapa tidak bisa?"
Teriakku meluapkan segala emosi. Segala rasa yang tertahan selama ini. Kerinduan akan dirinya mulai terkikis oleh sang waktu. Walaupun cintanya masih ada di dalam hati. Namun, aku sudah merelakan kepergiannya.
Lalu sekarang apa lagi. Tuhan kembali menghadapkan dia di depanku dengan status berbeda. Apa yang sebenarnya telah di gariskan oleh takdir untukku? Benar-benar pandai dalam meremukkan hati.
Aku mulai lemas. Tenagaku mulai berkurang. Aku pun memilih duduk di tepi ranjang. Duduk sedikit membungkuk. Menopang kepalaku dengan kedua tangan yang bertumpu pada kakiku.
"Fare... Benarkah kamu sudah menikah?"
Mengingat kenyataan itu membuatku semakin tak bergairah. Kenapa Tuhan begitu kejam. Hati yang telah lama rapuh kini semakin tak berbentuk lagi.
Wanita yang mulai ku ikhlaskan, kini kembali dihadirkan. Sesak. Dadaku semakin sesak kala mengingat dirinya. Hatiku yang telah membaik kembali menjadi hancur.
Aku menggeleng cepat, mencoba untuk menghalau perasaan kecewaku. Emosiku kini sedikit terkendali. Aku mengingat ucapan ria. Otakku mulai berfikir keras. Mencari seseorang di masa lalu. Sosok seseorang yang sangat dekat dengan fare.
Seketika itu aku teringat. Ku angkat wajah ku. Aku mengingatnya. Yah, dia ria yang dulu sering main ke rumah fare. Dia bilang dulu dia tinggal di...
Aha... Bluru...
Dengan cepat aku pun beranjak dari dudukku. Menekan perasaan kecewa ku pada takdir. Aku harus memastikan sendiri kebenarannya. Apa dia memang sudah menikah. Atau itu hanya sandiwaranya saja.
***
Sore hari.
Sudah dua jam aku berkeliling desa bluru. Namun, aku benar-benar lupa akan tempat tinggal ria. Berputar-putar mengelilingi setiap gang, tetap saja orang-orang yang ku tanyai tidak ada yang mengenal ria dan juga farenina.
Masih tak mengendurkan semangat. Sekali lagi aku memasuki gang, berharap jika nanti takdir membawaku padanya.
Menelusuri gang tersebut dengan sesekali aku bertanya pada warga sekitar. Namun, lagi-lagi tidak ada yang tahu maupun kenal dengan nama itu.
Aku menghela nafas. Merogoh gawai milikku yang terus saja berbunyi sejak tadi. Melihat nama yang tertera pada layar ponselku.
"Halo Assalamualaikum, an. Ada apa?"
"......."
"Kok bisa kehabisan, sih. Yawda gampang lah. Nanti biar saya belikan."
"......."
"Beres, Udah gak ada lagi yang kehabisan."
"......."
"Yah, wa'alaikumsalam."
Dengan berat hati. Aku pun segera mengakhiri pencarianku hari ini. Si tukang belanja di cafe ku kebingungan karena Kentang Frozen yang biasa di belinya kehabisan.
Mau tak mau, aku pun menuju Supermarket terdekat dari daerah Bluru. Tak ingin berlama-lama aku segera membawa motorku menuju Superindo yang ada di Jenggolo.
***
Baru saja aku dari cafe ku yang ada di Durung bedug. Warkop bernuansa cafe ala remaja yang letaknya di pinggiran persawahan. Anak muda benar-benar antusias untuk datang ke sana.
Hari ini aku absen dulu untuk mengurus cafe itu. Ibu sejak tadi sudah memberondong panggilan telepon. Sedikit khawatir, namun aku belum sempat untuk mengangkat panggilan darinya.
Melajukan motorku sedikit kencang menuju ke rumah orangtuaku yang ada di desa Candi. Hanya sekitar 15 menit saja kini aku sudah berada di depan rumah.
Wajahku mengerut bingung. Kok ada rame-rame di rumahku. Pikiran buruk pun menyelinap masuk. Dengan buru-buru aku masuk kedalam rumah. Hah... Aku terperangah. Kenapa banyak orang memenuhi rumahku.
"Selamat Ulangtahun, azz...."
Ada mungkin 25 orang. Mereka semua adalah teman-temanku saat sekolah dulu. Aku sangat terkejut. Tidak menyangka jika akan mendapatkan kejutan seperti ini.
"Hahahaha... Thanks gaes. Aku sungguh gak nyangka kalian bakal bikin kejutan kayak gini."
Sangat ramai. Mereka juga ada yang mengajak suami, istri dan anaknya. Hanya tinggal beberapa saja yang masih setia menyandang status single termasuk aku. Walaupun begitu aku tidak perduli.
Sorak tepukan tangan yang mengiringi lagu Selamat Ulangtahun terdengar nyaring. Telingaku berdenging tapi aku bahagia. Tidak menyangka sama sekali jika aku akan mendapatkan kejutan meriah seperti ini di usiaku yang sudah menginjak kepala 3. Bahkan ibuku juga sudah menyiapkan semuanya. Masya Allah. Nikmat mana yang aku dustakan.
Tbc.