
Aku masih sangat ingat kejadian satu bulan yang lalu. Dimana sosok wanita yang ku cintai memilih untuk menggelengkan kepalanya. Membiarkan aku menelan rasa sakit ini sendiri.
Dengan masih di lingkupi oleh perasaan amarah dan kecewa. Pada akhirnya, aku mengembalikan fare, wanita yang selama ini telah menempati ruang hatiku. Aku pun berusaha rela, ikhlas pada jalan takdirku jika memang fare lebih memilih untuk tidak menerima cintaku.
Walaupun sebenarnya, aku sangat yakin jika wanita itu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi, apa mau dikata jika dia lebih memilih menggeleng. Marah, jengkel dan kecewa itu sudah pasti aku rasakan. Hingga saat ini pun aku masih merasa tidak terima dengan kenyataan.
"Azmi."
"Astaghfirullah haladzim." pekikku sambil mengusap dadaku yang ingin copot.
"Tara, kamu ngagetin aja."
"Heheheh... Maaf, pak. Habis ketokin pintu gak ada sahutan. Lagi banyak kerjaan yah, Az."
Aku menggeleng. Dia adalah rekan kerjaku, Tara Aprilia. Wanita cantik yang juga berasal dari keluarga berada. Tinggi 160 dengan postur tubuh ideal. Dan satu hal yang sangat disayangkan, karena aku sudah menolaknya sejak tiga bulan yang lalu.
Dia tanpa sungkan dan permisi, kini telah duduk di depanku. Tersenyum dan menyodorkan undangan padaku.
"Maaf ganggu. Aku cuman mau kasih undangan pernikahan. Datang yah." Ucapnya.
Aku menerima undangan berwarna merah itu dengan menampilkan senyuman. Walaupun sebenarnya aku sangat muak, yah.. dia memang terlihat sangat cantik dan juga baik. Namun siapa yang menyangka jika wanita itu suka sekali melakukan ONS dengan kekasihnya. Bahkan dia pun pernah mengajakku.
Masih lebih baik fareku, yang memang berstatus menjadi wanita bayaran tapi... Entahlah... Aku pun juga belum pernah melakukannya.
"Iyah, tentu. Jadi sama si bian?" tanyaku sambil tersenyum tipis.
Dia menggeleng. Sejenak aku tertegun. Mengamati wajahnya yang kini terlihat malu-malu. Padahal, baru satu bulan lalu mereka masih berstatus sepasang kekasih.
"Bian kurang hot, Az. Ini sama mantannu pas kuliah dulu. Dia baru saja pulang dari Amerika." jelasnya.
Sedikit melotot. Hingga wanita itu tersenyum malu padaku. Gila banget gak sih. Baru satu bulan pacaran, tapi nikahnya sama mantan pacar. Hebat nih cewek.
"Wah... Nikah sama bule dong? Pasti hot lah itu."
Aku menanggapinya. Belaga sok tahu, tapi nyatanya belum pernah. Bahkan berniat pun juga tak berhasil. Masih menatap wanita cantik itu dengan bersandar pada kursi nyamanku.
"Dia orang indo kok. Cuman punya usaha di sana. Tapi setelah nikah kami bakal tinggal disini. Bokap sama nyokapnya yang tinggal di sana." jelasnya.
Kepalaku manggut-manggut. Merasa faham dan mengerti. Hah... Jika mengingat pernikahan, aku jadi kembali mengingat penolakan fare.
"Kamu sendiri gimana? Masih belom ada calon juga?" tanyanya.
Sejenak aku mematung. Dia ingin bertanya atau memang sedang berniat mengataiku. Sial.
"Gampanglah. Umur juga baru mau nginjek 27. Nabung duit dulu sebelum nabung yang lain." balasku dengan santai.
Dalam hati aku mengumpat kasar. Membicarakan masalah calon dan pernikahan, seakan ingin menguji kesabaranku.
" Ehm... kamu gak ada kerjaan, ra?" tanyaku basa-basi.
Walaupun sebenarnya, aku ingin mengusirnya.
Kulihat dia tepuk jidat.
"Iyah, aku sampai lupa sama laporannya pak anwar. Yasudah Az, aku balik dulu. Ntar pak anwar nyariin." pamitnya.
"Iyah, ra. Semoga lancar dengan urusanmu."
Sekali lagi dia tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. Perlahan bayangan wanita cantik itu menghilang bersamaan dengan pintu ruanganku yang tertutup.
Akankah aku bisa mewujudkan impianku untuk menyebarkan undangan pernikahanku sama fare ?
Terkekeh geli aku membayangkannya. Bahkan saat aku menyatakan cinta dan melamarnya kemarin, dia menolakku. Apa masih ada harapan? Entahlah...
Aku hanya bisa mengharap dan berdoa. Berusaha semaksimal mungkin, namun semuanya kembali lagi pada Sang Maha Pemilik Takdir.
****
"Pak, azmi. Tunggu bentar pak!" teriak seseorang.
Baru saja aku membawa motor maticku keluar gerbang, tapi teriakkan pak slamet membuatku harus menekan rem motorku dengan cukup kuat.
"Ada apa pak?" tanyaku.
Dengan kepalaku yang menoleh kebelakang, hingga aku bisa melihat pak slamet yang kini sedang berlari kecil menghampiriku.
"Ini mas, ada titipan."
Aku menatap amplop coklat yang pak slamet berikan padaku. Merasa bingung, memangnya siapa yang kirim paket. Aku juga tidak memesan apapun.
"Dari siapa pak?"
"Dari cewek cantik kayak model, mas."
Pak slamet terlihat antusias saat menjawabnya. Aku mengernyitkan dahi.
"Cewek cantik siapa, pak? Saya tidak memesan apapun. Apa bapak tidak salah orang?" tanyaku.
Pak slamet menggeleng.
"Bilangnya buat Azmi Maulana. Setahu saya, yang namanya Azmi Maulana yah cuman, mas Azmi." jelasnya.
Masih bingung. Dengan terpaksa aku pun menerimanya.
"Yasudah, siniin pak. Makasih, yah." ucapku setelah mengambil amplop coklat itu. Membuka tasku dan segera memasukkan benda berwarna coklat itu.
Setelahnya, aku pun segera kembali melanjutkan perjalananku untuk pulang. Langit sore tampak jelas dari pandanganku. Membuat silau. Hingga aku pun memilih menyipitkan mataku.
Menikmati perjalananku dengan kesendirian. Takdir Tuhan tidak akan pernah salah. Dan aku masih mengharap jika suatu saat fare akan benar-benar bisa untuk menjadi wanitaku.
Laju motorku semakin pelan sebelum aku menghentikannya. Lampu lalu lintas telah berubah menjadi merah. Motor dan mobil lainnya pun juga ikut berhenti bersisian denganku.
Masih menikmati keadaanku. Seketika mataku melotot saat kini kedua manikku melihatnya. Melihat wanitaku. Dia begitu cantik. Terlihat begitu anggun di dalam sana. Sebuah mobil mewah berwarna putih dengan kaca yang terbuka separoh.
"Dia memang lebih pantas berada di dalam sana dari pada disini. Bisa hitam kulitnya." ungkapku dengan lemas.
Takdir memang kejam. Memberikan rasa cinta, namun tidak bisa menikmatinya. Sangat sakit memang. Tapi kembali lagi pada diriku yang hanya makhluk kecil dimata-Nya.
Sesekali aku melirik ke arahnya. Mobil yang tak jauh dari tempatku berhenti itu tidak hanya dia saja yang ada di dalamnya. Terlihat sosok lelaki bule yang saat ini sedang duduk disampingnya. Merangkul bahunya.
Kulihat fare tersenyum manis. Sempat terbesit rasa marah karena cemburu. Namun, aku bisa apa sekarang. Wanitaku tidak memilihku.
tin tin tin
Aku mengalihkan pandanganku ke depan. Kini lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Dengan Menahan perasaan kecewa, kini aku melanjutkan perjalananku menuju rumah dinas tempatku tinggal.
Tbc