LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Berhasil



Aku merasakan sesuatu yang ada di balik pakaian fare. Bahkan kemarin aku sempat melihatnya. Yah, aku sempat melihatnya. Ini seperti bekas jahitan. Lalu apa hubungannya dengan tante risa. Kami saling mengunci pandangan mata. Kulihat dia menarik nafasnya.


"Ini adalah bekas jahitan, tante risa tak segan menancapkan belati tajam untuk membunuhku saat tahu aku kabur enam bulan yang lalu. Dan bertepatan dengan itu barrac datang, kemudian dia menolongku. Membeliku agar tante tak memiliki kuasa padaku."


Cairan bening itu meleleh. Perlahan dia menundukkan kepalanya. Mulai terdengar suara isak tangisnya.


"Aku menjaga diri bukan karena aku yang telah di jual, az. Tapi karena aku sudah di miliki oleh barrac. Bahkan dia juga membantuku agar terhindar dari siksaan tante risa. Aku hanya menghargai kebaikannya."


Ku raih tangannya. Ku genggam erat.


"Tolong maafkan aku, re. Maafkan aku!"


Ku lihat dia menggeleng.


"Semuanya sudah terjadi, az. Aku tidak ingin lagi kembali. Sekarang semuanya sudah berbeda. Kita tidak perlu kesana. Aku takut jika tante akan melakukan hal yang lebih buruk pada kita."


Masih terisak.


"Lalu, bagaimana aku bisa menikahimu? Tidak mungkin jika kita tinggal bersama tanpa status yang jelas."


"Kita bisa menikah tanpa harus meminta restu dari tante."


Aku menggeleng. Dia melupakan sesuatu.


"Tapi, aku butuh berkas-berkas milikmu untuk mengurus semuanya sebelum menikahimu."


Ku lihat fare mengangkat wajahnya. Menatapku dengan lekat. Ku rasa dia baru menyadari akan hal itu. Aku sudah merasa sedikit lega karena saat ini aku sudah mengetahui semuanya. Semua ketakutannya. Dia hanya tidak ingin aku terluka sama seperti dirinya. Ada kegembiraan yang kini menelusup masuk.


"Aku menyimpannya di dalam lemari. Akan ku coba untuk mengambilnya nanti malam."


Kini giliranku yang menggeleng. Aku tidak ingin usahaku sia-sia jika nanti fare akan ketahuan dan di kurung oleh tante risa. Aku tidak rela.


"Jangan! Bagaimana jika nanti tantemu tahu dan mengurung mu. Kita bisa mengurusnya lagi. Membuat laporan kehilangan dan menyerahkan laporan tersebut pada kelurahan di desa."


Fare menggeleng.


"Itu akan memakan waktu yang lama, az. Bisa berbulan-bulan. Biarkan aku yang mengambilnya. Aku bisa masuk lewat pintu belakang. Aku harus melakukannya."


"Jangan, re! Aku takut tantemu bakal tahu."


"Aku harus mencobanya. Kamu bisa ikut bersamaku, tapi hanya menunggu dari luar. Jika terjadi sesuatu aku akan berteriak."


Kami saling menatap. Saling mengunci pandangan mata untuk saling meyakinkan. Kemudian aku mengangguk. Walaupun terbesit seribu ketakutan akan keadaan fare, namun tetap saja dia harus mencoba..


"Aku harus ikut masuk kedalam."


Fare menggeleng.


"Percayalah, az! Semua pasti bisa ku lakukan."


"Baiklah."


****


Malam harinya.


Biasanya jam 11 malam semuanya sudah harus masuk ke dalam kamarnya. Tante risa benar-benar pandai dalam menutupi kejahatannya. Memang seperti itu aturannya. Rumahnya yang tampak seperti rumah kos itu harus sudah sepi ketika malam semakin larut.


Namun, seperti yang fare ketahui, jika ada yang pulang sangat larut atau hingga pagi maka mereka harus lewat pintu belakang. Pintu yang menghubungkan jalanan belakang rumah. Sehingga di lingkungan sekitarnya tidak ada yang mengetahui semua kelakuan busuknya.


Perlahan fare masuk melalui pintu itu. Masih tertutup. Wanita itu tampak mengintip sebelum akhirnya dia membuka pintunya.


Matanya melotot. Dua orang lelaki sedang melangkah ke arahnya.


Astaga..


Fare berbalik badan dan bersembunyi di sisi tembok. Berjongkok di dekat tong sampah yang ada di sudut. Kedua matanya masih menatap lekat sosok lelaki yang baru saja keluar secara bergantian.


Wanita itu menghembuskan nafas lega. Kemudian kembali beranjak. Sekali lagi mendekati pintu. Kembali mengintip. Sepi. Kemudian dia mendorong pintunya. Kepalanya masuk dengan kedua matanya menelisik setiap sudut ruangan.


Dengan mengumpulkan keberaniannya. Dia pun mulai melangkah masuk. Mengendap-endap dengan di iringi oleh debaran jantung yang tidak biasa.


Kepalanya terus bergerak. Waspada. Melihat keadaan aman, dia pun segera menaiki anak tangga. Sedikit berlari kecil agar cepat sampai pada kamarnya. Yah, mau tak mau dia harus melepaskan sandalnya di luar agar tidak menimbulkan suara.


Sangat pelan dan hati-hati. Fare berhasil masuk ke dalam kamarnya. Dadanya naik turun. Keringatnya bercucuran. Ketakutan dan ketegangan berkumpul menjadi satu.


Berulangkali dia mengatur nafas. Hingga di rasa semuanya cukup dan keberaniannya kembali. Wanita itu segera membuka lemari pakaiannya. Membuka lemari kecil yang dia gunakan untuk menyimpan berkas-berkas penting miliknya.


Alhamdulillah... Tante risa tidak mengambilnya.


Senyuman lebar menghiasi wajahnya. Merasa lega. Tak ingin membuang waktu, dia pun segera bergegas untuk keluar. Hampir saja dia membuka pintu kamarnya, terdengar suara dua orang perempuan yang sedang berbincang.


Samar, fare tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Perlahan suara itu menghilang. Sedikit membungkukkan tubuhnya. Mengintip dari lubang pintu. Fare menghembuskan nafas panjang.


Dengan jantung yang masih berdisko ria, dia pun memberanikan diri untuk membukanya. Sepi. Kepalanya keluar untuk melihat sekelilingnya.


Aman. Semoga saja usahaku berhasil. Aku bisa pergi dari sini dan hidup bersama dengan azmi.


Wanita itu memantapkan hatinya. Tidak ada lagi alasan untuk dia menolak ajakan lelaki yang ingin menikahinya. Bahkan mereka pun juga sudah melakukannya.


Fare bergegas turun dari tangga. Masih dengan matanya yang berkeliaran. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Kemudian dia segera melangkah menuju pintu belakang. Matanya kembali melotot.


"Anis.. Bella.."


Terdengar suara teriakkan tante risa. Fare pun segera bersembunyi di dapur. Jantungnya kembali terpacu. Keringatnya kembali mengucur. Mendekap map miliknya dengan erat. Berharap jika Tuhan berpihak padanya.


"Kemana, dia? Apa mungkin belum pulang? Dasar wanita gampangan."


Fare mengintip. Terlihat tante risa berkacak pinggang sembari melangkah ke depan. Dia menghembuskan nafas lega.


Kemudian dia pun kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar lewat pintu belakang. Bernafas lega karena saat ini dia sudah berhasil keluar.


Kembali memakai sendal yang dia tinggal tadi. Membuka gerbang belakang dan kini dia benar-benar sudah berada di luar. Namun, fare kembali di buat terkejut ketika kini kedua matanya melihat sosok pengendara motor yang tidak lain adalah azmi.


Dengan langkah besar fare menghampirinya. Rasa kesalnya tiba-tiba naik melihat pemandangan Itu.


"Hei, hentikan!"


Tbc.