LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Membawanya pergi



Terdengar ibu-ibu dan bapak-bapak yang berbisik lirih. Kami masih menunggu kedatangan pak RT. Aku masih berdiri di hadapan fare yang saat ini tengah merengkuh tubuh mungil putranya di samping pintu kosanya.


Kami semua berada di depan rumah kos yang fare tinggali. Seseorang datang membuatku mengalihkan pandanganku dari fare ke arahnya.


"Haduh, mbak fare lagi. Mau sampai kapan mbak fare bikin rusuh di tempat kos saya." celetuk ibu-ibu itu tanpa memberikan salam.


Kedua tanganku yang ada di dalam kantong celana ku sudah terkepal kuat. Dengan perasaan kesal aku pun segera menyela ucapan fare.


"Maaf, bu war. Saya ti...."


"Fare akan pindah setelah ini. Dia akan tinggal bersama dengan saya, jadi ibu tidak usah khawatir." sahutku.


Kulihat fare menatapku tajam. Aku tidak perduli. Ibu itu pun juga ikut menatapku.


"Bagus kalau begitu."


Ibu itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah fare.


"Apa dia ini suami kamu mbak fare? Yang katanya nikah sirih." tanyanya.


Aku mendelik. Jadi selama ini fare mengaku menikah sirih. Lalu anak itu? Apa mungkin dia menikah sirih? Pikiranku mulai tidak terkendali. Disisi lain aku merasa ada setitik harapan. Ini kesempatan untukku membawanya pergi dari sini.


"Iyah, bu. Saya adalah suaminya. Baru saja saya pulang dari Jakarta dan ingin menjemput mereka." Jelasku.


Kini aku menatap fare dengan tajam. Dia pun juga ikut menatapku tajam. Apa yang sebenarnya dia sembunyikan. Dalam keadaan seperti ini, dia masih tetap tidak ingin menjelaskan semuanya padaku.


"Oh... Begitu yah. Pantas saja kami disini tidak pernah melihat mu. Sebaiknya kamu bawa mereka ikut tinggal bersama mu agar ibu-ibu disini tidak merasa terusik lagi." tuturnya.


Ingin sekali ku tampar mulut tebal itu. Membuat ku semakin merasa kesal saja.


"Tentu, bu. Kami juga akan segera melangsungkan pernikahan secara resmi." balasku dengan bangga.


Ku biarkan beberapa orang di luar sana yang semakin menggunjing ku mau pun fare. Aku merasa sangat muak dengan mereka semua.


"Apa yang kau katakan, Az.?"


"Diamlah!! Kau terlalu banyak berbicara. Menurut saja apa kataku." jawabku sarkas.


Dia kini terdiam. Menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan. Entah sedih, marah, senang atau terharu. Aku tidak tahu. Melihatnya yang seperti itu membuatku ingin sekali untuk segera merengkuhnya. Tak kuasa hatiku melihatnya dalam keadaan yang seperti ini.


Tak lama suara berisik terdengar semakin jelas. Aku melihat ke arah depan gang. Ternyata pak RT dan pak RW datang. Mereka menghampiri ku. Aku tersenyum.


"Ada masalah apa lagi mbak fare?" tanyanya dengan sopan.


"Sebaiknya kita bahas ini dirumah saya saja pak, agar lebih nyaman." tawar bu war sebagai pemilik kos.


"Iyah, bu. Sebaiknya begitu." sahutku.


Setelah mengangguk, mereka pun berjalan menuju kedepan. Rumah bu war ada di samping kos ini. Aku melihat fare mulai beranjak sambil menggendong bocah itu. Aku menghentikan niatnya untuk melangkah.


"Biarkan aku mengaku sebagai suamimu." pintaku.


Kami saling menatap. Aku tersenyum ketika melihatnya mengangguk. Bernafas lega karena dia menerima tawaranku.


Pada akhirnya, kami pun serentak menuju ke rumah bu war. Aku merangkul bahu fare. Dia tidak menolaknya. Mungkin dia sudah lelah. Atau mungkin dia memang merindukan pelukan hangat seseorang.


Ingin sekali aku menangis saat ini. Aku meyakinkan diri, jika semua ini sudah di atur oleh takdir. Betapa kejamnya takdir pada wanitaku. Dia memberikan ujian yang bertubi-tubi, bahkan aku saja yang menyaksikan seakan tidak kuasa. Merasa begitu hancur saat melihat keterpurukannya.


****


Ada lima ibu-ibu yang mengeroyok fare dan ada tiga bapak-bapak yang menjadi saksi berdiri diseberang sana. Pak RT dan pak RW beserta ibu kos berada ditengah. Aku berdiri di samping fare yang saat ini sedang merengkuh tubuh kecil putranya. Kami saling berhadapan.


"Jadi bagaimana awal kejadiannya pak Rahmat, pak Dadang dan pak Sobri? Jelaskan pada saya!" ucap pak RT.


Mereka bertiga menarik nafasnya. Pak dadang dan pak sobri adalah suami dari tetangga kos fare. Sudah pasti mereka tahu kejadian yang sebenarnya. Semoga saja mereka tidak memberikan keterangan palsu. Karena aku yakin jika wanitaku tidak bersalah.


"Saya melihat mbak fare sedang menjahit. Tapi bu Marta ini berteriak di luar manggil mbak fare. Merasa penasaran saya pun duduk tenang di depan teras." jelas pak sobri.


"Lalu, kenapa bu Marta memanggil mbak fare sambil berteriak?" tanya pak RT.


"Yah karena saya marah dong. Suami saya tadi pagi di godain sama ja lang itu. Ini, ibu-ibu ini yang melihatnya." jelas bu marta sengit.


"Tolong jaga ucapan Anda, bu! Dia istri saya." tuturku merasa tidak terima.


Pak RT dan pak RW berganti menatap ke arah ku.


"Oh.. Jadi Mas ini suami sirihnya mbak fare? Kenapa baru muncul, Mas?" tanya pak RW.


"Iyah, kenapa baru muncul?"


"Paling cuma pura-pura saja."


"Iya, mana ada suami tega menelantarkan anak dan istrinya."


Seruan ibu-ibu saling bersahutan. Membuatku merasa semakin terbakar oleh api amarah.


"Maafkan saya, pak. Maafkan saya ibu-ibu. Karena saya sedang dinas di Jakarta. Sekarang saya sudah keluar dan kembali lagi kemari, saya ingin membawa keluarga saya untuk tinggal di rumah baru saya." jelasku sopan.


"Halah, paling juga pelanggan yang ngaku-ngaku biar dapat jatah gratisan." sahut ibu berperawakan tinggi.


Aku menatapnya tajam. Rasanya muak sekali dengan ibu-ibu ini.


"Tunggu saja undangannya nanti setelah kami meresmikan status kami." jelasku dengan perasaan keruh.


Mereka tersenyum mengejek. Benar-benar membuatku muak dan ingin menampar mereka satu persatu.


"Hem... Baguslah kalau begitu." ucap pak RT.


"Oke. Sekarang mbak fare jelaskan, apa benar kamu tadi pagi menggoda pak muji?"


Ku lihat fare menggeleng.


"Sebenarnya bukan saya yang menggoda, tapi pak muji lah yang menggoda saya, bahkan memegang tangan saya." jelas fare.


Wajahku seketika mengeras. Sialan lelaki itu. Berani sekali dia menggoda wanitaku. Awas saja nanti.


"Hah, alasan. Mana mungkin suami saya melakukan itu. Kamu jangan bohong yah."


"Saya berkata jujur bu. Terserah kalian berfikir apa. Yang pasti, saya tidak pernah menggoda suami kalian. Bahkan suami saya lebih tampan dari pada suami kalian." ungkap fare.


Aku tersenyum tipis saat mendengar penuturan darinya. Merasa bangga walaupun dia hanya mengatakan sesuatu kebohongan. Semuanya tampak diam.


"Makanya, bu. Di rumah itu gunanya menjaga suami. Melayani dan memberikan kepuasan, bukannya menyalahkan kecantikan istri saya."


Fare menatapku. Aku pun juga menatapnya.


"Iyah, tadi pagi saya juga lihat sendiri kok, kalau pak muji yang memegang tangan mbak fare." sahut pak rahmat.


"Owalah bu, Marta. Lagi-lagi nurutin omongan ibu-ibu yang belum pasti kebenarannya. Ini sudah kesekian kalinya bu Marta dan ibu-ibu ini menghakimi mbak fare. Saya hampir saja angkat tangan mau bawa urusan ini ke kantor polisi. Tapi karena pak Rahma sudah mengatakan kebenarannya, semua masalah ini saya anggap beres. Mbak fare juga sudah ada suaminya, jadi tidak ada yang perlu di permasalahkan lagi kan." jelas pak RW.


"Iyah, sebaiknya ibu-ibu ini meminta maaf dulu sama mbak fare." tutur pak RT.


Kelima ibu-ibu rempong itu tampak enggan. Mereka terlihat masih memendam kekesalan terhadap fare.


"Sudah seharusnya yang salah meminta maaf. Lihatlah wajah istri saya yang sudah mendapatkan amukan ibu-ibu." ucapku.


"Iyah, bu. Ayo segera minta maaf sama mbak fare." tutur pak RW.


Mau tak mau. Mereka pun akhirnya melangkah mendekati kami. Berjabat tangan walaupun hanya sebatas menempel. Aku merasa lega. Namun, masih ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan pada fare setelah ini.


Tbc.