LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Ikut bersamaku



Aku mulai merasakan jantungku yang berdegup kencang saat kini aku telah masuk kedalam party yang diadakan oleh benny. Aku sama sekali tidak mengenal setiap orang yang ada di dalam sana, namun satu hal yang saat ini menjadi tujuanku. Berharap sesuatu hal yang tidak kuinginkan tidak sampai terjadi.


Masih menelisik setiap wajah wanita cantik dan berpakaian seksi. Sedikit menekan hasratku yang mulai merangkak naik. Tentu saja aku pun merasa tergoda oleh para wanita yang sedang mengumbar tubuhnya. Aku juga lelaki biasa yang memiliki hasrat dan syahwat.


Tak kusangka dan tak kuduga. Saat mataku menatap kearah sosok wanita cantik yang sedang duduk di sofa bersebelahan dengan pria tua yang lebih cocok menjadi ayahnya, mataku terbelalak sempurna. Baru saja aku mengatainya wanita cantik yang bodoh, namun disaat yang bersamaan aku merasa sangat terkejut dan juga marah.


Sial. Itu fareku. Iyah, dia wanitaku.


Pikiranku tiba-tiba saja kacau. Bingung dengan apa yang harus kulakukan saat ini. Sejenak aku menatapnya, dia semakin cantik dan juga..... Oh.. sial.. Dia benar-benar seksi.


Sekali lagi aku meyakinkan diri untuk melangkah lebih dekat. Menatapnya dengan lekat. Dan bisa kupastikan jika memang wanita cantik itu adalah wanitaku.


sial. Bagaimana bisa fare yang selama ini kukenal menjadi berubah seperti ini. ?


Rasa suka, rasa rindu, rasa kecewa dan amarah menjadi satu. Namun, satu hal yang lebih besar dari sekian rasa yang kumiliki, aku benar-benar sangat mencintainya. Sangat mendambanya dalam keadaan apapun.


Baiklah, sekarang giliranku.


Langkah kakiku tegas dan cepat. Tidak menghiraukan keadaan sekitarnya. Bahkan ada beberapa orang lain yang juga duduk disofa tersebut yang sedang asyik berbincang dengannya.


Aku segera menarik tangannya. Hingga dia terperanjat saat kini tubuhnya sudah berdiri dari posisi duduknya.


Hhhhhhhhhh


" Hei, apa yang kamu lakukan ? " teriak pria tua yang dusuk disampingnya. Pria tua itu tampak sangat terkejut hingga dia pun ikut beranjak dari duduknya.


Kulihat fare tertegun melihat kearahku.


" Aku akan membawa pergi istriku. " bentakku pada pria tua itu.


Ada dua lelaki tampan yang kini juga ikut berdiri. Menatap kesal ke arahku. Biarkan saja. Aku tidak perduli dengan mereka. Yang ku perdulikan hanyalah fareku seorang.


" Apa kamu bilang ? Jangan bercanda kamu ! " ucap pria tua itu.


" Hei, bro. Santai dulu. Lihatlah baik-baik wanita itu ! Apa benar dia istrimu. " sahut salah satu lelaki yang ada di depanku.


Aku tersenyum tipis. Mencoba memasang wajah yang meyakinkan. Walaupun sebenarnya aku sedang ketakutan setengah mati. Berharap dalam hati jika Allah selalu melindungiku dan memberikan jalan untukku.


" Fare, apa yang kamu lakukan disini ? Ayo kita pulang ! " bentakku pada fare.


Namun, fare hanya terdiam menatapku. Mungkin saat ini dia sedang bingung. Entah apa yang sedang dia pikirkan, namun kini aku bisa melihat kembali sosok wanitaku yang sebenarnya. Tatapan mata itu. Begitu lembut dan menenangkan hati.


Aku tersenyum tipis melihatnya. Eehhh.. Hanya sesaat saja. Aku tidak habis pikir, kenapa fare menarik tangannya dari genggamanku.


" Aku sudah mencarimu kemana-mana. Ayo pulang ! " bentakku lagi.


Dia melangkah mundur saat aku ingin meraih kembali tangannya. Kini amarahku langsung meningkat. Melihat fare yang seakan tidak ingin pergi bersama denganku.


Astaghfirullah haladzim.. Kenapa dia tidak bisa diajak kerja sama.


" Siapa kamu ? Aku tidak mengenalmu. " ucapnya.


Aku mendelik. Sial.


" Bro, sebaiknya lo pergi. Jangan bikin onar disini ! Lo pasti bakal nyesel kalau bikin ulah di pesta benny. " tutur lelaki tadi.


Kulihat tiga orang lelaki berbeda usia itu dan juga satu wanita cantik lainnya yang kini menatapku dengan aneh.


Aku tersenyum miring. Seakan tidak ada rasa takut lagi saat ini. Tujuanku hanya satu, yaitu membawa pergi wanitaku dari sini. Dari dunia gelap yang merubahnya menjadi seperti itu.


" Asal kalian tahu, dia kabur saat kami sedang bertengkar beberapa bulan yang lalu. Jadi kumohon untuk jangan mencampuri urusan rumah tangga kami. " ucapku pada semuanya.


Aku tersenyum dalam hati. Melihat ekspresi wajah mereka yang melongo. Lucu sekali.


Aku tertawa tapi didalam hati. Melihat ekspresi wajah mereka yang semakin lucu. Bahkan fare pun juga melongo saat ini.


" Ayo pulang ! "


Aku melangkah mendekati fare yang masih mematung kebingungan. Meraih tangannya dan segera kutarik sedikit memaksa agar dia mau mengikutiku.


Sekilas aku menoleh kearah orang-orang tadi yang hanya mematung ditempatnya. Kini aku bisa tersenyum tanpa tertahan. Mereka semua masih menatap kearahku yang kini telah berhasil membawa fareku keluar dari pesta terkutuk itu.


" Apa yang kamu lakukan, az ? " bentaknya sambil mencoba menarik tangannya.


Aku hanya terdiam dengan terus melangkah. Masih menariknya untuk menuruni anak tangga. Dia kembali berceloteh.


" Az, lepaskan tanganku ! "


Bibirku melengkung keatas. Rasanya begitu sangat bahagia saat ini. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang di depannya. Biarkan saja dia merasa kesal seperti itu. Bahkan, dia tidak tahu jika saat ini akulah yang lebih pantas merasa kesal karena melihat tingkahnya.


" Az, kamu akan membawaku kemana ? " tanya fare dengan kesal.


" Diam dan ikut saja kemana aku membawamu. "


Aku mengajaknya keluar dari Cafetaria Star itu. Dia terus saja memberontak ingin aku melepaskan genggaman tangannya. Tidak, dia sama sekali tidak tahu jika azmi yang sekarang lebih kuat dari Azmi yang dulu.


" Az, lepaskan ! Lepaskan aku ! " bentaknya lagi.


Aku menghentikan sebuah taksi. Segera kubuka pintunya saat mobil itu berhenti. Memaksa wanitaku untuk masuk kedalam mobil.


" Ayo masuk ! " bentakku.


" Tidak, aku tidak mau. "


" Kamu harus ikut bersamaku, re. Aku sudah membayar mahal untuk bisa membawamu pergi. " ucapku kesal.


Sial. Aku keceplosan.


Fare Pun terdiam. Menatapku dengan tatapan sendu. Matanya mulai berkaca-kaca. Aku merutuki kebodohanku. Bagaimana bisa aku berbicara seperti itu.


Kumohon jangan menangis. Jangan menangis !


" Apa yang kamu katakan, az ? Kamu sudah membayar mahal untuk membawaku pergi ? " tanyanya.


Aku terdiam.


" Jadi kamu sekarang sudah menganggapku sama seperti mereka. " ucapnya lemas.


Perlahan dan tanpa paksaan, akhirnya dia pun masuk kedalam mobil. Sedikit menggeser tubuhnya kesamping agar aku bisa masuk dan duduk disebelahnya tanpa haru berputar.


Setelah aku masuk kedalam mobil tersebut. Segera ku sebut alamat tujuanku kali ini. Kulihat kini fare telah duduk bersandar sambil membuang wajahnya kesamping.


Aku menelan ludahku kepayahan. Pakaian fare benar-benar sukses membuat minatku membuncah. Menahan dengan sangat kuat hasratku yang kian bertambah.


Bagian atasnya yang begitu.. Eehhmmm.. Kulihat kini dia sedang menarik roknya yang sangat minim. Dia memang benar-benar wanita yang sempurna. Aku sungguh sangat menyukai setiap lekuk tubuhnya.


Sial.


Kucukupkan aktivitasku untuk menatapnya. Aku tidak ingin melewati batasanku. Rasanya, ingin sekali kusegerakan untuk menikahinya. Kini milikku mulai memprovokasi ku. Dia menginginkan kenikmatan.


Tidak. Tidak. Aku tidak boleh melakukannya. Saat ini aku harus bersabar menunggunya. Aku harus menjadikannya sebagai istriku terlebih dahulu. Yah, aku harus bisa menjadikan wanita ini sebagai istriku.


Nafasku terbuang panjang. Kini aku mengalihkan pandangan mataku dari kemaksiatan mata. Mencoba menenangkan diriku akibat melihat sosok wanitaku yang sedang menggoyahkan imanku.


Tbc..