
Ayah, ibu dan mbak may sedang duduk di depanku. Kami semuanya sedang duduk di ruang tamu rumahku. Rumah yang masih tetap sederhana hingga aku sudah sebesar ini, hingga aku sesukses ini.
Ibu dan ayah tidak memimpikan sesuatu yang mewah layaknya tetangga ku yang lain, yang memiliki rumah mewah nan megah ala lingkungan kampung. Sesepuh ku itu tampak teguh dengan niat memenuhi panggilan- Nya untuk berkunjung ke tanah suci Mekkah.
Aku begitu terharu ketika mengingat akan mimpi mereka. Bukan hanya sekedar untuk berangkat kesana, tapi mereka juga memikirkan kesiapan dan kemapanan diri maupun lingkungan sekitarnya.
Bukannya sombong yah, teman-teman. Memang ibu ku ini suka sekali bersedekah pada tetangga ataupun pada fakir miskin. Walaupun tidak seberapa, namun dengan keikhlasan dan ketulusan hati mereka berharap sesuatu yang kecil itu bisa bernilai besar bagi mereka yang memang sedang membutuhkan.
Hhhhhhuuuft.. Aku menghela nafas. Kembali lagi pada mereka bertiga. Bagian dari hidup ku. Orang-orang yang selalu ada di samping ku.
Yah, ketiganya masih terdiam dengan sesekali berdehem melihat ke arahku. Aku tersenyum tipis. Ibuku tampak tidak sabaran.
"Azmi ingin segera menikahi fare, yah, bu. Bagaimana menurut ayah dan ibu?"
Ayahku kembali berdehem. Ibu masih menatapku dengan tatapan kebingungan. Seakan ada isyarat jika dia meresa keberatan atas keputusanku.
"Iyah, kalau masalah jodoh. Ayah tidak ingin mengatur kisah hidupmu, le. Tapi apakah kamu sudah yakin ingin menikah dengan seorang,"
Ayah menghentikan perkataannya. Dia seperti sedang berfikir sejenak.
"Ehmm... Maaf Ayah sebelumnya. Apakah, nak fare ini seorang janda?"
"Begini maksud ayah, azmi. Ayah sama sekali tidak pernah membatasi mu mengenai jalan hidup kamu. Ayah hanya ingin memastikan, apakah kamu sudah mantap dengan keputusan mu ini? Ayah tidak ingin melihat mu yang akan menyesal di kemudian hari."
Aku mengangguk setuju. Memang pendapat seperti ini sudah ku perkirakan sejak tadi. Entah ayah atau ibu, atau bisa jadi keduanya. Mereka pasti akan berfikir mengenai hal semacam ini.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Menghembuskannya panjang.
"Yah, bu. Sebenarnya fare ini belum pernah menikah. Waktu itu sebelum Azmi mengalami tragedi percobaan pembunuhan, fare dan Azmi telah melakukan 'itu'. Azmi sungguh tidak menduganya jika kelakuan Azmi kala itu membuatnya hamil."
Dengan degup jantungku yang berdegup semakin kencang. Ku genggam erat tangan fare. Aku juga merasakan kegugupan yang sama.
Masih mencoba untuk duduk dengan tenang, namun pandangan ketiga orang yang ada di depanku membuatku merasa semakin tidak nyaman. Seakan aku adalah seorang terdakwa yang telah melakukan kejahatan.
Ku tundukkan kepalaku. Ibu dan ayah terlihat ingin menangis. Mungkin mereka kecewa mendengar pengakuan dariku.
"Ayah, ibu. Tolong maafkan Azmi yah, bu! Azmi sungguh khilaf saat itu. Ini adalah Muhammad Al Faris. Putra Azmi. Tolong restui kami yah, bu!"
Aku masih tertunduk lesu. Tidak berani menatap ke depan. Suara isak tangis seseorang telah terdengar di telingaku. Ini lah yang aku tidak sukai dengan kedua orangtua ku. Mereka berdua tidak pernah marah ataupun berteriak membentakku. Sehingga aku sendiri yang merasakan betapa hinanya aku sebagai seorang anak yang membuat hati mereka tersakiti.
"Le, kamu harus minta ampun. Berbuat zina adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Ayah sungguh tidak menyangka jika putra ayah bisa melakukan itu,"tutur ayah sembari memeluk ibu.
Aku sedikit mengangkat wajah ku. Hatiku begitu sakit melihat keduanya yang sedang menangis. Lihatlah, wanitaku pun ikut menangis. Semuanya memanglah kesalahanku. Entah setan apa yang saat itu telah berhasil menghasut ku.
Sekarang aku sadar, memaksakan kehendak itu akan sangat tidak di anjurkan karena dapat merugikan banyak pihak yang tersakiti.
"Ayah, ibu. Tolong maafkan Azmi!" ucapku dengan penuh penyesalan.
"Tidak, le. Kamu tidak perlu meminta maaf pada kami. Kesalahannya terletak pada sikapmu yang terlewat batas itu. Mintalah ampunan pada-Nya. Tebus segala dosa yang sudah kamu lakukan pada-Nya. Ayah dan ibu pasti akan merestui kalian. Iyah, kan bu?"
Ibu yang masih menangis di pelukan ayah hanya mengangguk kecil. Entah apa yang sedang ibu pikirkan, tapi dari raut wajahnya aku bisa melihat kegelisahan dan kesedihan.
Aku mengangguk kecil. Melepaskan genggaman tanganku dan segera menggeser tubuh faris di samping fare. Aku segera beranjak dari dudukku dan tanpa ragu aku berlutut di depan mereka. Kedua orangtua ku. Aku menangis terharu. Mereka berdua memang orangtua yang benar-benar the best.
"Ayah, ibu tolong maafkan, Azmi. Tolong maafkan kesalahan Azmi!"
Sambil ku genggam tangan mereka.
"Semuanya sudah terjadi, sebenarnya ibu sangat kecewa padamu, Le. Bagaimana bisa kamu melakukan itu? Ibu merasa gagal mendidikmu."
Mendengar itu bersamaan dengan tangisan pilu. Hatiku tak kuasa menahan haru. Menjerit-jerit di dalam sana untuk meminta ampunan.
"Maaf, bu. Maafkan Azmi. Tolong maafkan Azmi."
Ku genggam erat tangannya. Aku menangis tersedu-sedu. Menyesali akan perbuatanku yang membuat kedua orangtua ku sangat terpukul seperti ini.
Aku mendongakkan kepala. Menatap ayah dengan tatapan nanar. Bahkan mereka berdua seakan merasa bersalah atas kesalahan yang ku perbuat pada fare.
"Ayah tolong maafkan Azmi! Azmi akan bertanggung jawab. Azmi akan menikahinya dan menebus kesalahan azmi di masa lalu."
"Yah, kamu harus bertanggungjawab atas kesalahan mu padanya. Ayah sungguh malu pada calon istri mu, Az. Dia bahkan berjuang sendiri membesarkan putramu," tutur ayah.
Aku mengangguk mantap beberapa kali sebagai bukti jika aku benar-benar serius dengan keputusanku.
"Aku akan secepatnya menikahinya, yah, bu. Tolong restui kami!"
Ayah meraih lenganku dan membawaku untuk bangkit dari posisi ku. Tak ragu dia memelukku. Hal itu semakin membuatku terisak. Bagaimana bisa aku membuat kedua orangtuaku ini merasa tersakiti akibat ulah ku.
"Bahagiakan mereka, Az. Berjanjilah pada Ayah, jika kamu akan selalu membahagiakan mereka," bisik ayah sembari menepuk punggung ku.
Aku mengangguk.
"Pasti, yah," jawabku tegas.
Sedikit meleraikan pelukannya. Ayah kini menatap lurus ke arah fare. Melambaikan tangannya agar fare mendekat. Aku melihatnya. Wanita ku juga menangis. Dia mengusap wajahnya yang tampak basah. Sambil menggendong faris putra kami. Dia mulai beranjak dan melangkah mendekat.
Ayah tanpa ragu menyambut fare kedalam pelukan kami. Dia, seseorang yang paling ku hormati telah memelukku bersamaan dengan fare dan juga putraku.
"Semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan. Dijauhkan dari segala macam godaan setan yang dapat memisahkan hubungan kalian. Ayah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga kalian."
"Terimakasih, yah. Terimakasih."
Dengan bibir bergetar dia berucap. Aku melihatnya. Dia wanitaku. Menangis begitu pilu di dalam pelukan ayah. Masih melihatnya. Ada perasaan haru di dalam sana. Mungkin fare sedang meluapkan segala kerinduannya terhadap sang ayahanda yang sudah lama meninggalkan dirinya.
Ku usap lembut punggungnya setelah aku mengusap wajahku yang basah. Perlahan aku meraih faris yang ada di gendongannya.
Ku biarkan fare kembali memeluk ayah. Membiarkan wanita ku yang sedang melepaskan segala kerinduannya. Aku melirik ke belakang. Ibu dan mbak mayra juga ikut menangis sesenggukan.
Aku begitu bersyukur karena memiliki Keluarga yang seperti mereka. Yang selalu merangkul ku dalam keadaan apapun. Yang selalu ada di saat-saat terpuruk ku. Yang selalu mengingat aku akan kesalahan ku perbuat.
Memang benar adanya. Kita tidak bisa menentukan takdir yang sesuai dengan keinginan kita, namun takdirlah yang telah memilih kita. Tapi kembali lagi pada kebesaran-Nya. Apapun pasti bisa terjadi ketika kita memintanya dengan tulus dan tanpa henti.
Merayu pemilik kita dengan terus menerus tanpa ragu. Insyaallah, Allah maha pemurah yang pastinya akan mengabulkan permintaan hambanya yang beriman dan selalu mengingat kebesaran-Nya.
Percayalah satu hal, setiap takdir yang sudah disiapkan oleh-Nya memiliki rencana yang lebih indah dari takdir yang kita inginkan.
Tbc
.
.
.
.
.
.
😭😭😭😭😭😭
Menangis di part ini..
Author benar-bener kembali pada kesadaran diri, jika author pun juga bukan siapa-siapa..
Hanya menuangkan renungan hati yang tidak tersampaikan..
🙏🙏🙏