LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Apa ini?



Baru saja aku selesai menunaikan ibadah shalat subuh. Dengan masih menggunakan kemeja dan sarung, perlahan aku mulai mendekati sosok wanita yang sejak kemarin bersama denganku.


Bibirku melengkung keatas. Fare terlihat begitu pulas dalam tidurnya. Sejenak aku mematung didepannya, memperhatikan setiap inci dari wajahnya yang semakin bertambah cantik dari aku bertemu dengannya.


Hatiku berbisik lirih, aku sungguh menginginkan wanita ini untuk menjadi istriku, bahkan ketika aku masih duduk dibangku sekolah, keinginan semacam ini sudah kumiliki.


Kulihat dia menggeliat ringan. Tidak menyangka jika wanita itu merasa begitu nyaman tidur seranjang denganku. Eiits.. jangan berfikir terlalu jauh. Aku tidak akan mungkin berbuat sesuatu hal buruk padanya, tidak akan mungkin. Kami hanya tidur bersebelahan.


Kucukupkan aktivitasku untuk menatapnya. Dia belum halal bagiku. Sebaiknya aku segera membangunkannya agar kami bisa segera pergi dari sini dan tentunya, agar bisikan setan tidak menggangguku lagi.


"Re... fare... bangun."


Dia kembali menggeliat. Mencoba mengatur debaran jantungku saat kini dia sudah membuka matanya. Wanita itu benar-benar sukses membuatku tidak bisa berkutik ketika maniknya yang kini telah menatapku sejenak.


Aku tersenyum saat dia masih terus menatapku. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Samar-samar aku mendengar suara lirih.


"Az, kamu habis shalat?" tanyanya sembari terbangun dari tidurnya.


"Iyah. Kamu mandi dulu, gih." balasku sembari mengangguk.


Wanita itu pun segera beranjak bangun dari tidurnya. Aku pun kini juga melangkah menuju koperku untuk mengambil baju ganti.


Hahh... Rasanya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kulirik sekilas setelah dia kini berjalan masuk menuju kamar mandi.


Kenapa dia begitu sempurna sebagai seorang wanita. Itu hanya menurutku saja, karena memang aku sudah mengenalnya sejak dulu. Sejak kami masih kecil. Dengan keadaannya yang seperti ini, terbesit rasa menyesal karena aku terlambat melamarnya.


****


"Az, kita mau kemana? Lihatlah penampilanku!"


Aku hanya menoleh sekilas sambil tersenyum. Masih menggandeng tangannya kami masuk kedalam sebuah boutique. Sesekali aku menahan tawa ketika aku melihat penampilannya.


Pakaianku tampak kedodoran ditubuh fare. Bahkan celana jeans milikku harus dilipat karena memang tubuhku yang lebih tinggi darinya. Dengan sedikit adu mulut sebelum akhirnya dia memakainya.


"Apa ini, az? Kamu tidak sedang bercanda, kan?" ucap fare kesal.


Aku tertawa dalam hati. Melihat ekspresi wajahnya yang tampak kesal. Astaga... kenapa dia jadi lucu sekali, sih.


"Kamu mau atau tidak? Kan aku yang bayarin." ucapku santai.


Lihat saja, dia sedang mendengus kesal. Rasanya aku ingin sekali tertawa. Memang apa salahnya berkunjung di salah satu boutique ettaza. Yah, karena memang boutique ini adalah boutique langgananku ketika aku ingin membelikan baju gamis untuk kakak dan juga ibuku.


"Ayo masuk!"


Aku menarik tangannya paksa. Dia bisa saja mempermalukan kami dengan hanya berdiri disini.


"Selamat datang." sapa salah satu karyawan.


Aku tersenyum padanya. Tak kusangka ternyata dia ilmi, karyawan di boutique tersebut yang biasa melayaniku.


"Mas azmi. Mau belanja lagi, yah." ucapnya.


Aku mengangguk.


"Iyah, nih. Mau nganterin calon istri belanja." jawabku santai.


"Oh... Ini calonnya mas azmi." dia meyakinkan.


"Eh... Bukan... kami..."


Aku memegang lengannya. Dia menoleh dan aku tersenyum.


"Kami masih pacaran. Belum resmi. Sudah sana cari gamis yang cocok. Sekalian cari gamis yang bagus buat acara tunangan besok." tukas ku.


Ku biarkan saja dia merasa semakin kesal. Dia masih melototkan matanya. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Ntah mengapa aku jadi suka sekali membuatnya kesal. Dia terlihat lucu dan menggemaskan.


"Mari mbak." ajak ilmi setelah gadis itu tersenyum dan mengangguk hormat padaku.


Fare menatapku tajam sebelum akhirnya dia melangkah menuju ke arah pakaian yang ada di boutique tersebut. Berbagai macam model tersedia di sana. Dari yang sederhana hingga yang mewah.


Aku pun kini menuju sofa dan duduk disana. Membiarkan fareku yang sedang sibuk memilih gamis yang akan dipakainya.


10menit.


30menit.


60menit.


110menit.


Hingga dua jam pun berlalu. Bahkan aku terasa lumutan menunggu fare yang tak kunjung datang. Tenggorokan kering dengan perut yang mulai menabuh genderang. Perlahan ku usap perutku.


Sabar gaes..


Kini aku mengajak kedua kakiku untuk mencari keberadaan wanitaku.


"Re... Fare...."


Sosok wanita cantik keluar dari ruang ganti yang ada diujung. Dia melangkah menghampiriku. Masih kutatap sosoknya yang aku pun belum tampak jelas dengan wajahnya.


Cantik sekali dia.


"Az, maaf yah. Kelamaan nunggunya? Aku sekalian luluran tadi." ucapnya.


Aku pun baru menyadari jika wanita yang sejak tadi telah mengalihkan atensiku adalah wanitaku. Masya Allah. Kesempurnaan hanya milik Allah. Aku takut khilaf jika dia berpenampilan menarik seperti ini.


"Az, aku udah milih beberapa gamis. Kamu tinggal bayar, sekalian biaya nyalon tadi."


Aku mengangguk kaku. Hatiku begitu senang saat melihat wanitaku yang berubah menjadi bidadari surga. Gamis yang dipilihnya begitu cocok ditubuhnya. Kini aku tidak takut lagi pada bisikan setan. Karena fareku sudah menutup auratnya.


***


"Aku baru tahu, kalau disini ada salonnya juga." ucapku saat kami baru saja keluar dari boutique itu.


"Az, aku jadi kayak gimana gitu pakai baju ini. Risih. Pakai baju biasa yang sopan kan juga banyak, gak perlu pakai gamis segala." ungkapnya.


Aku tersenyum. Menoleh sekilas.


"Aku takut khilaf, re. Mulai hari ini kamu akan ikut tinggal bersamaku. Tinggal dirumah dinasku. Kamu bisa bilang kalau kamu adalah tunanganku jika nanti ada yang bertanya."


Kami kembali masuk kedalam mobil online yang tadi sudah ku sewa. Mulai melanjutkan perjalanan menuju rumah dinas dimana aku tinggal. Bersyukur karena aku bisa bekerja di kementerian dan mendapatkan rumah dinas. Sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan dana untuk menyewa rumah.


"Aku masih penasaran, az. Kenapa kamu sampai rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk bertemu denganku. Bahkan kamu juga menahanku selama seminggu."


"Ehmmm... Aku ingin berbicara sesuatu padamu, re." balasku singkat.


Mata kami bertemu. Detak jantungku mulai tidak karuan. Wajahnya yang begitu cantik semakin membuatku kepayahan mengontrol diri untuk segera memilikinya.


Cukup az.. Dia belum halal bagimu..


Hati kecilku terus mengingatkan. Seketika itu aku memalingkan wajah. Mengatur degup jantung yang masih berlonjakan.


Semoga saja aku bisa mengatakannya nanti tanpa ada halangan.


****


Aku dan fare turun dari mobil. Kuambil barang-barang belanjaan kami dan juga koperku dari dalam sana. Kulihat fare tampak ragu mengikuti langkahku menuju rumah dinas yang kutinggali.


Berderetan dengan rumah dinas yang lain dan keberuntungan memihak padaku, karena rumah dinasku yang terletak paling ujung.


"Ayo re! Kamu nunggu apa?" ajak ku.


"Apa tidak ada larangan jika aku ikut tinggal disini?" tanyanya.


"Bilang aja kamu istriku." jawabku santai.


Dia memukul lenganku sambil melotot. Dan itu membuatku tak bisa menahan tawa.


"Kenapa? Kamu gak mau jadi istriku?" godaku.


Kulihat dia hanya diam. Aku tersenyum saat kini melihat perubahan diwajahnya. Pipinya sedang merona. Masya Allah, cantik sekali dia.


"Yasudah, sebaiknya kita lekas masuk kedalam." ucapnya sambil melangkah lebih dulu.


Aku semakin tertawa saat melihat tingkahnya yang sedang malu-malu. Lihat saja dia. Berhenti. Mungkin dia sedang bingung saat ini. Karena memang aku belum mengatakan dimana tempat tinggalku.


Hahahahahaha


"Tempat tinggalku yang paling ujung."


Tbc