LOVE, FARENINA

LOVE, FARENINA
Shalawat dan dzikir



Satu tahun kemudian.


Aku tersenyum tipis saat kini aku dapat melihat sebuah rumah dengan pagar berwarna hitam. Itu adalah rumahku bersama dengan fare. Hari ini aku pulang lebih awal karena aku sudah berjanji akan mengajak keluarga kecilku jalan-jalan ke Royal Plaza Surabaya.


Matahari dari arah barat terasa masih begitu hangat mengapa kulitku. Dengan perasaan yang membuncah aku mulai berhenti di depan pintu gerbang rumahku.


Bayangkan sosok bocah laki-laki ku dan wanita cantik sudah memenuhi isi kepalaku. Tak luntur senyuman ini menghiasi wajah ku.


"Assalamualaikum."


Aku memasuki halaman depan rumah sambil menuntun motorku. Memarkirkannya di samping rumah dan segera masuk kedalam melalui pintu samping.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Aku baru saja masuk kedalam rumah. Harum masakan istriku sudah tercium memenuhi rongga hidung. Hingga kini membuat cacing-cacing di dalam perutku mulai beraksi.


"Loh, mas. Jam segini kok udah pulang? Tumben," tanya fare yang terlihat sedang sibuk memasak di dapur.


Aku melangkah masuk dan menghampirinya. Kulihat dia sedang memutar sesuatu. Membuat bara api menjadi kecil. Dengan senyuman manisnya, dia memyambut ku sembari mencium tanganku.


Perasaan apa ini. Begitu bangga aku berada diposisi ku saat ini. Dia wanita ku sangat menghormati ku. Aku pun tersenyum.


"Kan hari ini kita mau jalan-jalan. Masa lupa?" jawabku.


Dengan sedikit membungkukkan tubuhku aku mencium perut buncitnya. Usia kandungan fare sudah semakin dekat dengan Hpl. Sebenarnya aku takut membawanya pergi keluar, tapi mau bagaimana lagi. Faris terus saja merengek minta jalan-jalan ke Royal karena waktu itu aku mengajaknya untuk mencari kado, dan sepertinya sekarang dia ketagihan.


"Tapi kandungan ku hanya tinggal menunggu hari. Apa sebaiknya aku tunggu di rumah saja," tawarnya.


Aku menggeleng.


"Kamu ikut saja lah, di rumah sendirian malah bahaya. Hanya sebentar saja. Setelah selesai bermain langsung pulang."


Kulihat di mengangguk. Aku memeluknya erat dan memberikan dia ciuman di puncak kepalanya. Begitu senangnya hatiku.


Namun, tiba-tiba saja dia meleraikan pelukannya. Berbalik dengan cepat. Aku sedikit menjingkat. Aroma tidak sedang menyeruak masuk kedalam Indra penciumanku.


"Astaghfirullah haladzim. Masakan ku gosong, mas."


Aku terkekeh kecil. Dia terlihat begitu sedih. Aku menghampirinya dan merangkul bahunya. Melihat kedalam panci di mana masakan fare kini berubah menjadi gelap dengan aroma yang sudah tidak sedap lagi.


"Yasudah, makan di luar saja lah."


"Aku udah susah payah bikinnya. Baru dapat resep baru buat menu di cafe mu, mas," ucapnya kesal.


"Besok bikin lagi deh. Aku bantuin," bujuk ku mencoba menenangkan hatinya yang sedang sedih.


Aku menggiringnya pergi dari dapur agar dia tidak merasa sedih lagi. Aku membimbingnya masuk ke dalam kamar. Mood ibu hamil akan mudah berubah. Dan aku sudah banyak tahu mengenai trik membuat ibu hamil kembali ceria.


"Sudah sana mandi. Biar aku bangunin faris dan ku mandiin sekalian."


Fare terlihat masih cemberut. Aku terus berfikir sejenak.


"Kenapa? Masih kesel mikirin masakan tadi?"


Kembali memeluknya. Aku menciumi wajahnya.


"Bagaimana jika aku yang memandikan mu? Mungkin luluran bersama bisa menghilangkan kekesalan mu," tawarku dengan sedikit menggodanya.


Mengusap lembut perut buncitnya. Perlahan semakin ku arahkan keatas. Dan kalian tahu apa yang terjadi setelahnya.


Plaaakkk


"Mas, apaan sih. Mikirnya itu mulu deh. Yasudah aku mandi sendiri aja deh."


Sambil memaksa melepaskan pelukanku. Fare segera melangkah pergi menuju kamar mandi. Aku pun kini hanya bisa terkekeh melihat tingkahnya.


****


Ku lihat faris sesekali melambaikan tangannya ketika menaiki kereta api yang ada di Time Zone. Tersenyum lebar. Begitu bahagia.


Aku berdiri di samping fare yang saat ini sedang duduk sambil tersenyum lembut ke arah putra kami. Rasa syukur selalu berkumandang tanpa henti di dalam hati.


Setelah pernikahan ku satu tahun yang lalu hidupku benar-bener berubah. Kebahagiaan datang setiap waktu. Bahkan rezeki yang tidak terduga juga mengalir deras. Hingga aku pun tak jarang membagikan sebagian rezeki yang ku miliki pada masjid dan panti asuhan.


Mengucap syukur atas karunia yang Allah berikan padaku. Eiits... Jangan merasa iri dulu padaku. Ceritaku belum berakhir. Mengapa aku memilih judul novel ini adalah Love, Farenina. Yah, tentu saja karena aku sangat mencintainya.


"Ayah, mau naik itu."


Teriakkan faris membuyarkan lamunanku.


"Apa, sayang? Mau naik apa?"


Aku menghampirinya dan menggendongnya. Membawanya ke arah permainan tunggang kuda. Ternyata dia yang masih kecil sudah menyukai tunggang kuda. Membuatku teringat dengan aktivitas ku bersama dengan fare.


Baru saja aku meninggalkan fare beberpa menit. Namun, terdengar sayup-sayup suara seseorang yang memanggilku. Aku merasa penasaran. Hingga saat aku tersadar, beberapa orang sedang berlarian dengan panik.


Aku pun segera menoleh ke belakang. Dimana sosok wanitaku yang tadi sedang menungguku. Mataku membulat sempurna. Dengan cepat aku segera Berlari menghampirinya.


"Mas, perutku mulas."


Jantungku seakan mau copot dari tempatnya.


Aku menolehkan ke sekeliling. Memanggil petugas keamanan. Meneriakkan nama putraku dan menunjuk ke arah faris yang masih terbengong di tempatnya.


"Pak, tolong gendong putra saya, yah. Saya mau turun ke bawah sama istri saya."


Ku lihat dia mengangguk. Entah kuat atau tidak. Pikiranku mendadak buntu. Berbagai macam perasaan bercampur aduk. Keringat dingin dan keringat capek bercampur jadi satu.


Aku menggendong fare menuju lift. Dengan bantuan dari petugas keamanan tadi yang mengekori ku untuk mengawal ku dan juga untuk menggendong faris.


Masih dengan detak jantung yang tidak beraturan. Rasa ingin menangis dan berteriak kencang seakan sedang mendesakku.


Aku terus berucap istighfar dan meminta bantuan padanya. Mengharapkan sesuatu hal yang terbaik untuk keluargaku. Berharap jika fare dan putriku akan selalu dalam lindungannya.


Aku berlari kencang menuju pintu keluar. Beruntung sekali karena di depan royal ada rumah sakit elit milik anggota TNI. Aku berteriak dengan masih menggendong fare.


Masih berusaha untuk tetap kuat. Menggendong tubuh wanitaku yang kini tidak seperti dulu. Aku membawa dua nyawa di dalam satu raga.


"Taksi, taksi."


Aku dan dua orang satpam berteriak. Mereka juga sama paniknya denganku. Bahkan aku sangat tidak tega melihat istriku yang saat ini sedang menangis sambil mencengkram kuat lengan ku.


"Saakkiiit, mas."


Taksi berhenti di depanku. Aku membawa fare masuk ke dalam sana. Faris putraku, ku biarkan duduk di depan. Aku mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang untuk ku berikan pada petugas keamanan tadi yang menggendong putraku.


"Terima saja, mas. Ini sebagai ucapan terimakasih saya."


Setelahnya aku menutup pintu. Melihat kembali wajah fare yang memucat. Aku menggenggam tangannya.


"Bertahanlah, sayang! Sebentar lagi kita akan sampai."


Masih menggenggam erat tangannya yang mulai terasa dingin. Aku bisa mendengarnya mengeluh kesakitan.


"Tarik nafas, hembuskan.." ucapku.


Aku menangis. Berharap jika istri dan putriku akan baik-baik saja setelah ini. Jantungku masih berlarian. Dengan pikiran kacau aku terus membacakan shalawat dan dzikir. Berharap semuanya akan berlalu dengan mudah.


Tbc.