Life Goes On

Life Goes On
9 - Menjadi Idola



Dengan gembira Merylin dan Clarence membantu ayah panen di ladang. Pak Randall dan Pak Thompson juga membantu. Memang biasa begitu kehidupan di desa ini. Saling membantu saat panen. Hasil panen musim ini lebih banyak dari yang sebelumnya. Albert terlihat sangat puas.


Hari Minggu saat ke gereja, Albert dan Margareth membawa sebagian hasil panen untuk diserahkan ke Pastor Charles. Charles akan membagi untuk mereka yang membutuhkan.


Clarence dikenalkan di depan jemaat oleh Charles. Semua menyambut dia ramah. Banyak yang memuji ketampanan Clarence. Apalagi setelah rambutnya dicukur, dia makin tampan dan terlihat lebih rapi. Pak Randall memang tukang cukur handal. Sehari sebelum ke gereja, Pak Randall memotong rambut Clarence.


Sekarang Clarence juga ikut sekolah. Anak seusia Merylin dan Clarence duduk di bangku kelas teratas. Jumlah murid di kelas ini 14 orang. Ms. Verren Anderson, guru kelasnya, sangat ramah. Masih muda tetapi tegas dan sangat cerdas. Selalu penuh semangat mengajar anak-anak itu. Satu minggu mereka sekolah hanya empat hari, tapi sangat menyenangkan.


Dan Clarence sangat menonjol di kelas. Dia cepat sekali belajar. Materi yang diberikan dia langsung mengerti dan menguasai. Clarence juga merasa aneh, dia seperti sudah pernah belajar pelajaran yang diajarkan Ms. Anderson. Sayang, dia tak ingat kapan dan di mana. Dengan kepintarannya dan pengetahuannya yang luas, Clarence justru membantu Ms. Anderson mengajar.


"Sebenarnya siapa Clark ini? Dia sangat berbeda dengan anak-anak di kota ini. Belum pernah aku menemukan murid seluar biasa dia." kata Ms. Anderson.


"Kamu seperti sudah belajar semua yang aku ajarkan, Clark. Apa mungkin kau sebenarnya sudah lulus sekolah?" tanya Ms. Anderson usai kelas hari itu.


"Saya tidak tahu, Ms. Anderson. Mau bagaimana, saya tidak ingat diri saya. Tapi saya tidak lupa apa yang saya pernah belajar. Apa itu tidak aneh ya?" Clarence mengangkat bahunya.


Ms. Anderson tersenyum. "Aku yang senang, punya asisten di kelas jadinya. Kamu sabar sekali mengajari teman-teman kamu."


"Saya senang punya banyak teman. Selama ini saya hanya berdua saja dengan Merylin. Kalau main dengan anak tetangga, mereka masih kecil, beda dunianya. Hee..." Clarence terkekeh.


Keyakinan Ms. Anderson bisa jadi Clarence ini anak pejabat atau orang terpandang. Tapi anehnya kenapa sampai sekarang tidak ada yang mencari dia.


Karena kepintaran dan keramahannya itu, Clarence langsung dikenal di seluruh sekolah. Banyak gadis yang tertarik dengannya. Mereka berebut menarik hati Clarence. Khususnya gadis-gadis di kelasnya. Mereka suka merubung Clarence dengan alasan minat diajari materi yang sulit. Merylin jadi merasa tersisih. Dia dan Clarence hampir tak pernah bisa bicara bila di sekolah.


Seperti pagi itu, saat jam istirahat, Merylin melangkah menuju bangku Clarene. Tapi Sarah Hanson sudah lebih dulu mendekati Clarene. Lalu Kathleen Huck, Mary Dawson, dan Patricia Lennox ikut bergabung. Merylin terang saja jadi sebel. Dia keluar kelas, menuju pohon besar di halaman. Dia duduk di anak tangga di bawah rumah-rumahan di pohon besar itu. Dia marah sekali kali ini.


Jesse Taylor, salah satu teman kelasnya menyusulnya.


"Hei, apa kamu marah?" tanya Jesse. Dia duduk di sebelah Merylin.


"Marah?" Merylin melihat Jesse.


"Ya, pada Clark." jawab Jesse.


"Ya. Aku marah. Dia tak pernah peduli padaku kalau di sekolah. Dia selalu sibuk dengan gadis-gadis itu." ucap Merylin kesal.


"Kukira itu wajar. Masalahnya di sekolah ini belum ada anak yang sehebat dia. Tentu saja gadis-gadis itu kagum dengannya." tukas Jesse. Dia berusaha menenangkan Merylin.


"Aku tahu itu. Tapi apa harus tiap hari begini?" bantah Merylin.


"Tenanglah. Tidak akan lama semua akan kembali seperti biasa. Aku tak mau temanku yang periang, baik hati dan ramah ini, jadi pendiam, suka galau, hanya karena hal semacam ini." Jesse melomoat turun dari tangga.


"Merl, aku suka padamu. Sangat suka." Jesse tersenyum, meninggalkan Merylin kembali ke kelas. Merylin membelalakkan mata mendengar ucapan terakhir Jesse. Apa itu artinya Jesse jatuh cinta padanya? Ah, entahlah...


🌟🌟🌟


"Merl, maaf, aku tak bisa pulang sama-aama." ucap Clarene setelah dekat dengan Merylin. Merylin menatap Clarene meminta penjelasan.


"Sarah meminta aku membantunya mengerjakan tugas sekolah. Kamu tidak apa-apa kan, pulang sendiri?" jelas Clarene. Nah, Sarah lagi, kan?


"Tidak." sahut Merylin. Dia melangkah meninggalkan Clarene dengan hati makin dongkol. Merylin tidak menoleh lagi, dia terus melangkah menjauh dari sekolah.


Dan kereta kuda jemputan Sarah lewat. Sarah, anak orang terkaya di daerah itu. Sangat cantik, penampilannya selalu jadi perhatian murid-murid laki-laki. Kereta itu melesat melewati Merylin yang berjalan di pinggir jalan. Dengan geram Merylin menendang batu kecil di depannya.


"Hm.. nah, masih marah tuh?" Jesse tiba-tiba ada di sisi Merylin menjajari langkah gadis itu.


"Salahkan aku marah?" tukas Merylin gusar.


"Bagaimana kalau aku antar kamu pulang? Lalu kita jalan-jalan di padang dekat rumahmu? Tempat itu sangat cantik." kata Jesse.


"Kenapa tidak?" Merylin menatap Jesse.


"Tapi aku perlu makan siang. Boleh aku makan di rumah kamu?" tanya Jesse.


Merylin tersenyum. "Kenapa tidak?" Jesse ikut tersenyum.


Berdua mereka menyusuri padang, memotong jalan utama, melewati jalan setapak menuju rumah Merylin. Rumah Merylin salah satu yang paling jauh dari sekolah dibanding murid lainnya. Sepanjang jalan mereka bicara, tertawa, dan bercanda. Merylin susah tak mau ambil pusing dengan Clarence. Terserah mau apa dia.


Seusai makan siang, keduanya menuju padang yang luas dan pergi ke telaga kecil tak jauh dari hutan Greenpines. Mereka menikmati hari yang cerah sambil bercanda, bermain bersama. Jesse mengajak Merylin membuat kincir angin dengan daun-daunan dan membiarkan angin meniupnya dan memutarnya dengan kuat. Merylin senang sekali. Hingga sore mereka masih seru bermain di sana.


🌟🌟🌟


Senja datang.


Clarence sudah pulang. Ayah dan ibu juga sudah di rumah, pulang dari ladang. Tapi Merylin belum kembali. Mereka mulai cemas. Mereka mengira Merylin sama sekali belum pulang dari sekolah.


"Ke mana anak itu?" ujar Margareth gelisah. "Dia tidak bilang pergi ke mana sepulang sekolah, Clark?"


"Tidak, Bu. Tapi aku akan mencarinya." Clarence keluar rumah, menuju kandang kuda. Dia keluarkan kuda putih, Snowy. Dari tiga kuda milik keluarga Everance, Clarence paling suka Snowy. Buatnya kuda putih itu keren, gagah.


Segera Clarence naik ke punggung Snowy dan melarikan kuda itu menuruni bukit menyusuri jalanan desa. Dia bertemu Pak Randall yang sedang berjalan ke arah rumahnya.


"Pak, apakah bapak melihat Merylin?" tanya Clarence.


"Oh ya.. aku melihatnya di sekitar telaga, dia dengan seorang anak muda, mungkin teman sekolahnya." Pak Randall menunjuk ke padang, arah telaga tak jauh dari hutan.


Clarence segera mengarahkan Snowy melaju ke tempat yang ditunjuk Pak Randall. Benar saja! Merylin ada di sana, dengan Jesse. Tertawa gembira nampak begitu mesra. Clarence jengkel sekali melihatnya. Dengan marah mulai naik, lebih cepat dia menghampiri Merylin dan Jesse.