Life Goes On

Life Goes On
35 - Di Hari Itu



Mentari tersenyum menyapa pagi. Awan berarak indah dengan bentuk aneka ragam membuat langit makin cantik. Bunga bermekaran ketika sinar matahari mulai meninggi. Burung beterbangan dengan bercuit riang gembira.


Goldy Star sedang bahagia. Putra Mahkota hari ini dinobatkan menjadi raja. Setelah sekian bulan negeri dipimpin sang ratu, Pangeran Clarence, kesayangan rakyat, siap menerima tampuk pimpinan tertinggi.


Halaman istana telah siap menggelar penobatan raja baru. Rakyat tak sabar menyongsong hari ini. Bukan sekedar ingin melihat Clarence menjadi raja, terlebih mereka ingin melihat gadis biasa, rakyat jelata, yang telah dipersunting raja baru mereka.


Berita tentang Merylin sudah membahana seantero negri. Mereka ingin melihat sendiri seperti apa gadis yang mampu menaklukkan pangeran kesayangan mereka.


Gerbang istana dibuka. Para pembesar dan keluarga kerajaan telah duduk di tempat yang disiapkan. Rakyat telah memenuhi halaman istana. Pada prajurit bersiap di posisi masing-masing. Makanan untuk pesta juga telah ditata di banyak tempat di sekitar istana.


Pendeta Benette, kini berdiri di atas panggung, dengan senyum dan wajah cerah, menunggu Clarence akan datang ke atas panggung.


Terompet dibunyikan, tanda upacara dimulai. Dari dalam istana, Clarence berjalan diiringi Jendral Donovan dan Jendral Logan. Beberapa meter Felicia berjalan bersama Merylin, di belakangnya Albert dan Margareth.


Wajah-wajah gembira menatap pada pemandangan di depan mereka. Rakyat terpana, para pembesar kerajaan terpesona. Clarence begitu gagah, sedang Merylin sekalipun kesederhanaannya masih terlihat, dia begitu anggun dan cantik, tidak kalah dengan Ratu Felicia yang tersenyum manis di sisinya.


"Merylin, tersenyumlah, Sayang." Felicia memandang Merylin.


Merylin tersenyum. Dia merasa sangat kikuk dan gemetar sebenarnya. Tetapi dia mengayunkan kaki selangkah demi selangkah mengikuti Felicia. Mereka duduk di kursi khusus di posisi paling depan.


Sekarang Pendeta Benette mengambil alih seluruhnya. Dia meminta penasihat raja membacakan peraturan negara akan sumpah seorang raja. Kemudian Pendeta Benette mengucapkan doa, lalu mengenakan kepala di atas kepala Clarence dan Jendral Donovan memberikan pedang kejayaan negara kepada Clarence.


Kemudian, Pendeta Benette memanggil Merylin ke panggung mendampingi Clarence. Merylin gugup sekali. Wajahnya merona karenanya.


"Yang Mulia, tidak akan apa-apa." Bisik Pendeta Benette dengan senyum ramah. Dia tahu Merylin gugup.


"Trimakasih." ucap Merylin. Dia tersenyum untuk menghilangkan rasa gemetar. Dia berdiri di sisi Clarence.


Rakyat bertepuk tangan gembira melihat mereka berdiri berdampingan. Sungguh serasi.


Clarence tersenyum.


"Mereka menyukaimu, Sayang." ucap Clarence. Merylin makin lebar tersenyum. Membuat hatinya lebih nyaman.


Pendeta Benette melanjutkan menobatkan Merylin menjadi permaisuri, diberikan mahkota cantik di kepalanya. Kembali rakyat bertepuk tangan bahkan bersorak sorai girang dengan hari luar biasa ini.


Pendeta Benette memberi kesempatan pada Clarence untuk memberi sambutan kepada semua yang hadir.


"Sungguh, hari ini kita semua bahagia. Karena sejarah baru akan dimulai di Goldy Star. Aku berterimakasih untuk kesempatan dapat melayani rakyat negri ini. Negri yang aku cintai. Tempat kita lahir, tumbuh, dan menikmati kebahagiaan.


"Hari ini juga, kegembiraan kita lengkap karena aku diberkati dengan wanita luar biasa di sisiku, Merylin Annete Jane Everance. Gadis dari kota kecil Snowpines. Kota yang mungkin jarang kita dengar. Tapi di sana menyimpan kekayaan luar biasa.


"Sebagian besar kita tentu bertanya, kenapa pangeran bisa tergoda dengan gadis dari kota kecil?" Clarence memandang ke seluruh yang hadir.


"Benar!" terdengar beberapa sahutan. Terdengar gelak di beberapa tempat.


Clarence melihat Merylin. Wajahnya masih bersemu merah. Rasanya dia ingin duduk saja, tidak usah berdiri di sebelah Clarence. Dia mulai rasa malu. Karena Clarence akan banyak bicara tentangnya.


"Merylin sangat ingin bertemu denganku karena bermimpi tentangku. Tahun lalu, ketika hari perburuan, kami bertemu. Kami tidak berkenalan, justru salah paham. Dan Merylin marah padaku karena aku membentak dia malam itu."


"Hoouuuhhh..." terdengar sorakan.


Clarence dan Merylin tersenyum. "Pertemuan kedua, di dalam hutan, ketika aku terjatuh dari jurang, dia menemukanku. Dia tahu aku pangeran yang marah padanya di balai kota. Dia kemudian menolongku yang terluka parah. Lalu mendapati pria yang ditolongnya adalah pria yang hilang ingatan.


"Ketika semua mengira aku mati, Merylin, di lubuk hatinya yang terdalam, tetap yakin aku masih hidup. Pria hilang ingatan yang ditolongnya adalah pangeran. Ada saat dia memanggil aku Clarence, bukan Clark, nama panggilanku yang diberikan ayah Albert." Clarence melihat Albert.


Albert tersenyum sambil mengangguk.


"Dia terus bertanya pada Tuhan dan berdoa untukku meminta kebenaran dinyatakan. Dan akhirnya ingatanku pulih. Aku kembali ke istana, dia terus memberiku semangat agar aku tetap berjuang untuk negri ini." Clarence mengeluarkan kotak kecil dari saku jubahnya.


Di dalam kotak itu dia simpan kalung yang Merylin berikan padanya.


"Kalung ini, milikmu, Merl... kalung ini menceritakan banyak perjuangan menegakkan keadilan di Goldy Star. Aku kembalikan padamu. Dan sekarang, kita akan berjuang bersama untuk negri ini." Clarence mengenakan kalung mungil itu ke leher Merylin.


Makin keras semua yang hadir bertepuk dan bersorak.


"Dan.. tentu, dengan semua yang ada di sini.. bersama seluruh rakyat negri ini. Jika kita bergandengan tangan, cita-cita kita bersama, dapat kita raih. Trimakasih, trimakasih semuanya.." Clarence mengakhiri sambutannya.


Lalu menggandeng Merylin dan mereka duduk di kursi di atas panggung, berdampingan. Tepuk tangan kembali membahana. Sungguh kebahagiaan tiada tara. Kisah cinta istimewa dari pangeran dan gadis cantik dari kota kecil.


Pendeta Benette sekali lagi memimpin doa, mengakhiri acara penobatan. Lalu pesta rakyat digelar selama dua malam. Ucapan syukur sekaligus pesta pernikahan Raja dan permaisuri.


🌟🌟🌟


"Apa yang kamu rasakan, Sayang?" Tangan Clarence melingkar di pinggang Merylin. Dia memeluk istrinya dari belakang.


Merylin memegang tangan Clarence, menyandarkan kepala di dadanya.


Sedari tadi Merylin hanya berdiri di dekat jendela menatap ke halaman istana.


"Aku sungguh bersyukur untuk semua yang kita lalui. Tuhan teramat baik. Jika kupikir, aku bukan siapa-siapa, mengapa Dia memilihku untuk bermimpi tentangmu? Mengapa aku begitu ingin bertemu dan membuktikan dirimu di mimpiku adalah sama dengan dirimu yang sebenarnya?" kata Merylin.


"Aku tak bisa menjawabnya. Tapi aku bersyukur, kau mengikuti kata hatimu, mencariku. Dan sampai sekarang kita bersama. Sudah sekian lama." Clarence mencium kepala Merylin.


"Lima belas tahun, Clarence. Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu." Merylin membalikkan badan, menatap Clarence.


"Ya... lima belas tahun.. kau terus berdoa dan menguatkan aku. Trimakasih, Merl." Clarence tersenyum.


"Awas ya... aku pasti akan mengalahkanmu!!!"


Terdengar teriakan dari luar, di halaman istana. Dan terdengar suara kuda berlari mendekat.


"Anak-anak sudah kembali dari belajar. Ayo, kita makan siang dengan mereka." Clarence menuntun Merylin. Mereka turun ke ruang makan.


Di sana Felicia, Albert, dan Margareth sudah menunggu.


"Duduklah.. senang seminggu ini kamu ada di istana penuh. Jarang kamu bisa makan bersama kami, Clarence.' sambut Felicia.


" Iya, Ibu.. aku juga senang sekali." Clarence duduk di sebelah ibunya.


"Lihat itu.." Margareth menyentuh bahu Merylin. Mereka melihat tiga orang anak berjalan cepat ke arah mereka. Dua orang laki-laki dan seorang perempuan.


"Ah, besok aku pasti akan mengalahkanmu, Levin. Kamu tadi curang mencuri start." kata yang berambut coklat. Dia anak kedua Clarence dan Merylin, sebelas tahun. Dia banyak mirip Merylin.


"Cuma sekian detik, harusnya tak berpengaruh, Devon." Balas yang berambut merah. Levin, si sulung tiga belas tahun. Lebih mirip Clarence.


"Ibu, Ayah... Kakek, Nenek..." anak perempuan itu memeluk orang tuanya bergantian.


"Violetta, cantiknya ayah..." Clarence mencium pipi putrinya.


Violetta, baru sembilan tahun. Dia paduan Merylin dan Clarence.


"Sudah, selesai bicara soal kuda. Ayo, kita makan. Kalian juga pasti lapar." kata Felicia.


"Iya... lapar... aku mau daging itu, Nenek." Devon menunjuk mangkuk daging.


"Duduk, kita berdoa. Lalu kita makan." Margareth menarik lengan Devon mengajak dia duduk di sebelahnya.


"Iya, Nenek." ujar Devon.


"Ayah, minta tolong memimpin doa untuk makan siang kita." Clarence menoleh pada Albert.


"Baik, ayo kita mengucap syukur sebelum menikmati makanan ini." ujar Albert.


Mereka ambil sikap berdoa, Albert memimpin dan jamuan siang dimulai. Anak-anak bergantian bercerita tentang sekolah mereka hari itu. Felicia, Margareth, dan Albert tak bosan bertanya apa saja pada mereka.


Merylin dan Clarence hanya menjadi pendengar, sambil saling pandang. Lengkap sudah kebahagiaan yang mereka raih. Damai di negeri cantik ini. Memiliki keluarga yang manis dan menyenangkan.


Clarence berhasil menjadi raja yang baik seperti ayahnya. Merylin mampu mendampingi Clarence, menepis semua pikiran buruk mereka yang tak suka padanya. Bersama Felicia dan beberapa wanita lain dari kalangan istana, sering Merylin melakukan kegiatan sosial di tengah rakyat. Ayah dan ibu sesekali ikut. Kadang mereka pulang ke Greenpines. Di sana, rumah dan ladang dikelola para tetangga. Albert menyerahkan, terserah bagaimana mereka membagi hasilnya.


"Mau naik kuda berdua?" Clarence mengajak Merylin. Mereka sedang di kamar.


"Sekarang?" Merylin menaruh pena yang dipegangnya. Dia pandang Clarence.


"Apa yang kau tulis?" Clarence mendekatkan wajahnya pada Merylin dan mencium pipinya.


"Kisah kita. Aku ingin mencatatnya di sini. Anak cucu kita akan tahu, bahwa ada harapan di hidup kita. Apa yang kita impikan bisa menjadi nyata. Sekalipun nampak mustahil, Tuhan tahu bagaimna mengarahkan langkah kita, dan akhirnya kita sampai di tujuan." kata Merylin.


"Sayang..." mata bagus itu bertemu dengan mata jernih Merylin. "Aku makin sayang padamu. Dan akan makin cinta setiap hari."


"Berkuda?" Merylin tersenyum.


"Ayo.." Clarence berdiri.


Keduanya mengambil kuda di istal. Masih sama, kuda putih kesayangan Clarence. Keduanya naik di atas punggung kuda gagah itu. Clarence melarikan kudanya menuju bukit di belakang istana. Dari sana cantik menyaksikan matahari tenggelam.


Keduanya berdiri menatap langit yang memerah, indah, dan teduh.


"Impianku... itu doaku..." bisik hati Merylin. Dia peluk pinggang Clarence.


Clarence menoleh, mengusap wajahnya, menciumnya mesra, kembali menatap langit yang makin merah.


*


*


*


Setiap kehidupan yang Tuhan jadikan, pasti punya tujuan. Jangan pernah kehilangan harapan. Jalani dengan senyum dan semangat.


Pada saatnya, yang Dia rencanakan itu yang akan Dia wujudkan...


Dreams are fulfilled at the right. Be patient and wait for the fulfillment of your dreams.


Lailah Gifty Akita


.


.


.


TAMAT ☺🌟❀