
Musim dingin tidak banyak yang bisa dilakukan diluar rumah. Ayah dan ibu tidak ke ladang. Merylin juga sudah selesai sekolah. Kadang Minggu juga tidak ke gereja, karena salju yang tinggi. Semua putih tertutup salju.
Merylin suka dengan salju. Ketika jatuh satu satu dari atas dan mendarat di mana saja di atas bumi. Pelan-pelan menutup permukaan tanah, ilalang. Hingga semua pepohonan di hutan pun tertutup salju.
Bukit Greenpines sangat indah saat musim semi. Hijau membentang dan membuat mata segar memandangnya. Ketika salju menyelimuti, keindahannya tak kalah memanjakan mata. Dan Snowpines, nampaknya tepat nama itu melekat pada kota kecil itu. Pohon-pohon pinus tertutup salju di sekeliling kota itu ketika musim dingin seperti ini.
"Merylin, ibu membuat minuman hangat. Ini, biar menghilangkan dingin." Margareth memanggil. Merylin yang memandangi padang luas di bawah bukit yang kini mulai menjadi hamparan es.
"Iya, Bu. Trimakasih." Merylin menoleh, menghampiri ibunya.
Perapian di pojok ruangan itu menyala, memberi kehangatan bagi seluruh penghuni rumah. Dingin seakan langsung diraup dan dilempar keluar rumah, berganti rasa hangat yang menyapa.
"Albert, minumlah." kata Margareth kepada Albert yang sibuk membetulkan kotak di depannya.
Itu kotak penyimpanan perkakas ayah. Ada engsel yang lepas, dan Albert mencoba membetulkannya.
"Ya, sedikit lagi selesai." Albert terus saja mengutak-atik kotaknya.
"Sayang ya... hari jadi negeri kita kali ini benar-benar diselimuti salju. Tidak seperti tahun lalu, salju belum sebanyak ini turun." ujar Margareth.
"Ya... Ibu benar. Acara perayaan mungkin sekali tak bisa dilakukan di luar rumah." kata Merylin.
"Mudah-mudahan Tuhan masih berbaik hati memberi beberapa hari cerah waktu acara perayaan. Aku ingin mengajak kalian ke kota, melihat pertunjukan di halaman balai kota." Albert menutup kotaknya. Lalu mengambil minumannya dan meneguknya, menghangatkan kerongkongan dan dadanya.
"Wah... kalau benar bisa ke kota, aku senang sekali." Merylin melihat ayahnya. "Tapi kalau pun tak bisa pergi, aku tidak masalah, Ayah."
Tiba-tiba ia teringat terakhir kali ke kota, di balai kota, tempat dia bertemu Clarence. Semua kenangan akan muncul. Membuat pilu hatinya menyusup lagi.
"Kita lihat nanti saja. Kalau tidak bisa ke kota, biasanya Thompson dan Randall akan mengajak kita berpesta kecil di rumah mereka." Margareth menuang lagi minuman ke gelasnya.
"Iya... aku jadi kangen masalah Rebecca. Dia kalau masak daging panggang, sedap sekali." ujar Albert.
"Memang. Tapi dia hanya tersenyum waktu aku tanya resep masakannya. Katanya rahasia keluarga. Ah, bisa saja dia..." sahut Margareth.
"Ibu, Ayah... aku mau ke kamar dulu." Merylin sudah bosan hanya duduk saja di ruang depan. Dia memilih masuk dalam kamarnya.
"Merl, boleh minta tolong ambilkan selimut. Yang di kamar Clark saja." Albert memandang Merylin.
"Ya, Ayah..." Merylin tersenyum simpul. Ayah masih memanggilnya Clark. Merylin membelokkan langkah ke kamar sebelah. Kamar Clarence ketika di rumah ini.
Sampai sekarang, dia jarang masuk kamar itu. Merylin pasti ingat kembali kenangan bersama Clarence di rumah ini. Masuk kamar ini lagi, tentu saja bayangan wajah tampak pangeran itu muncul. Dia berbaring lemah di ranjang itu. Di ranjang itu pula dia mulai bisa bangkit, memulai hidup menjadi rakyat jelata karena hilang ingatan. Di ranjang itu pula, Clarence menarik Merylin mendekat padanya dan berkata aku mencintaimu. Di hari terakhir di rumah ini, Clarence memeluk dan mencium kening Merylin, mengatakan dia pasti akan kembali.
"Ah..." Merylin mendesah. Cepat dia mengambil selimut, memberikan pada ibu dan masuk ke kamarnya.
"Tuhan... sampai kapan aku akan seperti ini... jelas Clarence tak ingat padaku. Apa yang kuharapkan?"
Merylin merebahkan tubuh, menarik selimutnya hingga di leher dan memejamkan mata. Dia alihkan pikirannya pada anak-anak di sekolah. Mengingat itu hatinya sedikit terhibur.
"Cepatlah berlalu musim dingin, aku akan mengajar lagi. Aku akan melupakan semuanya." ucapnya di hati.
🌟🌟🌟
"Merl..."
Merylin menoleh mendengar panggilan itu.
Pria tampan itu mendekati Merylin. Tatapan yang tajam tapi lembut, membuat Merylin merasa nyaman.
"Merl..." panggilnya lagi.
"Kau... Clarence..." bisiknya.
"Ya..." dia tersenyum, tampan.
Jantung Merylin seketika berdetak begitu cepat. Dia tak berkedip, tak bergerak. Berharap setelah ini nafasnya tak akan berhenti. Clarence datang... ya, dia datang...
"Merl..." Clarence mengulurkan tangannya.
Merylin menyambutnya. Tapi...
"Ini milikmu. Aku kembalikan. Trimakasih untuk semuanya." Clarence memberikan kalung Merylin di atas tangan gadis itu. Lalu dengan senyuman dia membalikkan badan, naik ke kuda putihnya dan berlalu.
"Clarence... Clarence..." Merylin tersentak.
Dia terbangun dan segera duduk. Dadanya berdebaran tak karuan. Rupanya dia bermimpi.
"Aku bermimpi tentang dia lagi..." Merylin mengusap rambutnya. "Sejak pertemuan di balai kota itu, baru sekarang aku memimpikan dia lagi."
Sangat jelas, Clarence mendekat padanya. Dan dia berikan kalung itu. Kalung yang dia titipkan Jesse agar Clarence menyimpannya.
"Apa artinya ini?" bisik Merylin.
Merylin masih duduk di ranjang, merapatkan selimut ke tubuhnya. Dingin terasa hingga menusuk kulit. Merylin mengambil baju hangat yang ada di ujung ranjang, dikenakannya dan membalut kembali tubuhnya dengan selimut.
Ingin tidur lagi, tapi Merylin merasa tak tenang. Mengapa setelah sekian lama dia bermimpi tentang Clarence lagi?
"Tuhan... beri aku petunjuk-Mu... ini pertanda sesuatu atau sekedar bermimpi? Aku harus berjuang lebih keras melupakan Clarence atau aku nikmati rasa hatiku yang terus merindukannya?" doa Merylin.
Dia menyandarkan badan dan kepala, di kepala ranjang. Menarik lagi selimut agar lebih rapat ke badannya. Berusaha tidak tidur, kuatir akan bermimpi lagi.
Jika dulu dia senang dengan mimpinya dan mengharap mimpi itu jadi nyata. Entahlah, kali ini Merylin justru tak ingin bermimpi jika kenyataan hanya akan melukai hatinya.
Karena lelah, akhirnya dengan posisi duduk Merylin pun terlelap. Kepalanya sedikit tertunduk, dengan lutut ditekuk dan tangan di atas lutut. Kepala bersandar pada tangan di atas lututnya.
"Merl..." lagi suara itu memanggilnya.
Merylin tak mau menoleh, dia tahu hatinya akan semakin galau saja.
"Merl..." suara lembut itu. Merylin tak mau menoleh.
Merylin merasa ada yang menyentuh pundaknya.
"Berbaringlah... kamu lelah..."
Merylin menoleh. Senyum itu... membuat hatinya teduh. Merylin tak menjawab, dia nurut ketika lengan kuat itu menariknya membaringkan tubuhnya.
"Clarence..." bisiknya. Kali ini rasa nyaman memenuhi dadanya.
"Putriku... kenapa kamu sampai seperti ini? Tidur dengan posisi tidak betul. Tidur pun pangeran itu masih ada di pikiranmu." Albert mengelus kepala putrinya. Dia kecup kepala Merylin. Dia sudah terlelap.
"Tuhan... aku tidak tahu harus bicara apa. Haruskah aku minta dia melupakan pangeran itu? Tapi Kau yang menunjukkan bahwa mimpinya itu benar. Aku dan Margie bahkan menganggapnya aneh. Tapi itu yang terjadi, yang dia impikan jadi nyata." Albert berdoa sambil memandangi wajah putrinya yang tidur dengan tenang.
"Sekarang, jika aku, ayahnya yang minta, apakah Kau akan kabulkan? Berikan kebahagiaan untuk putriku. Jika memang pangeran itu jalan hidupnya, lakukanlah... Jika tidak, angkat semua rasa yang bertumbuh di hati putriku." Albert mengusap pipi Merylin dan keluar kamar itu.
Di depan pintu masih sempat dia menengok Merylin, lalu masuk ke kamarnya sendiri.