Life Goes On

Life Goes On
12 - Ke Kota Raja



Merylin dan Clarence tiba di rumah. Mereka pulang dari sekolah. Hari sangat panas. Lelah dan letih rasanya. Merylin dan Clarence menaruh tasnya. Clarence ke dapur mengambil minum. Merylin memilih duduk menyelonjorkan kakinya di ruang depan.


Ibu menyiapkan makan siang untuk mereka. Ayah hari ini ke kota membeli beberapa keperluan untuk ladang, ternak, dan rumah.


"Makanlah... masakan sudah siap." kata ibu.


"Wah, ini lezat. Aku benar-benar lapar." Clarence mengambil piring dan memenuhi dengan masakan ibu yang masih panas.


"Merl, kau masih belum mau makan?" Clarence membawa piringnya ke depan. Dia duduk di sebelah Merylin.


"Tinggal tiga hari lagi selesai bulan puasa untuk Raja Patrick." jawab Merylin. Dia melihat Clarence yang makan dengan lahap.


"Kenapa Tuanku tidak mau pulang?" Merylin setengah berbisik, tidak mau ibu mendengar.


"Jangan mulai lagi, Merl." tegas Clarence.


"Apa salahnya melihat ayah sendiri? Ratu Felicia sakit saat mendapat kabar kamu tewas diterkam binatang buas. Siapa tahu kepulangan kamu akan membuat Raja segera sehat." kata Merylin masih setengah berbisik.


Clarence menaruh sendoknya. Dia lihat Merylin. "Kalau aku pulang apa yang akan terjadi? Henry ketahuan berusaha membunuhku. Dia akan dihukum mati. Karena siapa yang melukai putra mahkota pasti dihukum mati. Itu pilihan sulit buatku, ayah dan ibu. Kamu mau kami perang dalam keluarga?" Clarence menjawab juga setengah berbisik.


Merylin terdiam. Ternyata tak semudah yang dia pikirkan. Ah.. bagaimana ini?


"Kau tak merindukan mereka?" tanya Merylin.


"Sangat. Ayah, Ibu, hm... aku rindu senyum dan peluk mereka. Terlalu banyak waktu yang kami telah lewati. Aku tentu merindukan mereka." nada suara Clarence berubah terdengar sedih.


"Yang mulia.."


"Aku hanya tidak ingin terjadi kekacauan di istana jika aku tiba-tiba muncul. Mengertilah, Merl..." potong Clarence.


Merylin tak melanjutkan perkataannya. Clarence kembali melanjutkan makannya.


Di luar terdengar terompet keras dibunyikan. Dan ini suara terompet yang beda dari biasanya. Terompet menandakan berita duka.


Merylin, Clarence dan ibu bergegas keluar. Tetangga mereka juga sudah berbaris di depan rumah menunggu kabar yang akan diumumkan. Ini pasti ada hubungan dengan Raja Patrick.


"Berita duka. Yang Mulia Raja Patrick telah wafat. Istana akan melangsungkan masa berkabung selama dua bulan. Pemakaman Yang Mulia Raja Patrick akan dilaksanakan dalam tiga hari ke depan. Dan tiga hari setelah itu penobatan Raja Henry akan diselenggarakan."


Lalu tiga penunggang kuda itu secepatnya meninggalkan Greenpines melaju ke daerah di seberang bukit.


"Ya Tuhan.. kenapa duka bertubi-tubi terjadi pada negri ini? Raja Patrick raja yang baik.. kami masih membutuhkan dia..." gumam ibu, dia masuk kembali dalam rumah.


Mendapat kabar ini, Clarence langsung terduduk di kursi panjang di depan rumah. Dia mengepalkan kedua tangannya. Hatinya hancur, bingung dan kalut.


Merylin duduk di sisinya. "Pulanglah... kumohon..." bisik Merylin.


Mata Clarence berkaca-kaca. Dia ingin sekali berteriak sekuat-kuatnya. Tapi dia tekan hingga dadanya terasa sakit.


"Yang mulia..." Merylin memegang lengan Clarence.


"Ya... aku akan pulang..." kata Clarence akhirnya. Dia masuk ke dalam rumah, mengambil dua potong pakaian, memasukkan dalam tas dan bersiap pergi.


Merylin memperhatikan Clarence dengan hati gundah dan cemas. Clarence akan pulang. Tapi keadaan belum tentu akan menjadi baik. Dia akan berhadapan dengan Henry. Apa yang akan terjadi nanti?


"Doakan aku. Aku merasa sangat takut." kata Clarence. Dia meraih pundak Merylin dan mendekapnya erat. "Aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi. Doakan aku, Merl."


"Ya, Yang Mulia." ucap Merylin lirih.


"Aku sangat mencintaimu. Trimakasih untuk semuanya. Aku pasti kembali untukmu." Clarence mencium kening Merylin. Cukup lama, lalu dia keluar kamar. Clarence menemui ibu yang termenung di dapur. Dia juga sangat sedih dengan kabar duka dari istana.


Tanpa menunggu jawaban ibu yang bingung dengan Clarence, pangeran itu bergegas keluar rumah dengan tas di tangan. Dia mengeluarkan Snowy dari kandang. Dia menaiki punggung kuda gagah itu. Clarence menatap Merylin yang berdiri tak jauh dari pintu rumah.


Pandangan mereka bertemu. Sama-sama berkecamuk, tapi tak bisa mengungkapkannya lagi. Clarence memukul punggung belakang Snowy, segera kuda itu melesat meninggalkan rumah, menurun bukit melaju cepat menuju kota.


Setelah Snowy tak terlihat lagi, Merylin kembali ke dalam rumah. Ibu menunggu dengan wajah penuh tanya.


"Merl, ada apa?" Ibu menarik Merylin mengajaknya duduk di rumah depan. "Pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Untuk apa Clark pergi ke kota raja tiba-tiba?"


Merylin melihat ibunya. "Jika aku katakan, ibu tak akan percaya padaku."


"Apa maksudmu, Merl?" ibu makin bingung memandang putrinya yang sedang resah itu.


Merylin menatap ibunya. "Clark adalah Pangeran Clarence."


"Jangan main-main, Merl. Pangeran Clarence sudah wafat." tandas ibu cepat.


"Untuk apa aku berbohong, Bu?" ujar Merylin. "Beberapa hari lalu, Clarence terbentur dengan keras di kepalanya. Dan itu membuatnya ingat kembali siapa dirinya. Dia menceritakan apa yang terjadi hingga dia tersesat dan terluka di hutan. "


Ibu menatap Merylin dengan terperangah. Matanya melebar sedangkan mulutnya sedikit menganga karena tak percaya apa yang dia dengar.


"Pangeran Henry ingin membunuhnya. Mereka bertarung dan..." dan Merylin menceritakan kejadiannya seperti yang Clarence ceritakan pada Merylin.


"Ya Tuhan... ya Tuhan.." Ibu terlihat sangat bingung, tegang, dan sedikit takut. Dia mendekap dadanya.


"Ini benar, Bu. Itu yang terjadi." kata Merylin menutup kisahnya.


Ibu masih memandang putrinya dengan rasa tak percaya.


"Saat aku bertemu dengannya di hutan, aku tahu dia Pangeran Clarence. Sebelumnya, waktu ke kota di acara pembukaan perburuan, aku bertemu Pangeran di balai kota. Sangat dekat seperti kita sekarang. Dan, wajahnya sama seperti yang ada di mimpiku. Karena itu, aku tak percaya dia telah mati." ucap Merylin.


"Ya Tuhan..." Lagi-lagi ibu tak takut harus bisa apa. Dia semakin terkejut dengan pengakuan Merylin.


Selama ini dia selalu marah ketika Merylin bercerita tentang mimpinya bertemu Pangeran Clarence. Ternyata, mimpi putrinya itu bukan bualan, tapi satu pertanda akan sesuatu dalam hidupnya.


"Jadi Pangeran Clarence ada di sini selama ini? Bersama kita?" kata Ibu, mash rasa heran, bingung, tak bisa percaya rasanya.


"Aku tahu, Bu, dia tak pernah mati." Merylin berdiri, masuk ke dalam kamarnya dan menangis.


Hatinya bercampur antara bahagia dan sedih dengan semua kejadian ini. Dia berlutut di pinggir tempat tidur dan berdoa untuk Clarence.


"Tuhan.. jaga dan lindungi dia... aku tahu ada hal besar menunggunya. Sesuatu yang berat. Aku tak bisa berbuat apapun. Aku hanya bisa berdoa, meminta Kau sertai semua yang dia lakukan..." doa Merylin.


Air matanya terus saja mengalir. Perlahan, rasa tenang mulai menyelimuti hatinya. Tuhan menolong Clarence tetap hidup sejauh ini. Pasti dia bisa melewati ini. Dia pemuda yang kuat dan tangguh. Dia pasti bisa.


.


.


.


.


thank you yang sudah membaca novel ini. πŸ˜€πŸ™


Kasih like, vote, poin, bintang, dan love ya.. β€β€πŸ˜€πŸ™πŸŒΌπŸŒŸ