Life Goes On

Life Goes On
8 - Selamat Jalan Pangeran Clarence



Dua hari berlalu.


Pagi itu ayah dan ibu pergi ke ladang. Merylin baru selesai menimba air dan membersihkan kakinya. Pastor Charles Brown datang. Merylin menemuinya di ruang depan.


"Anak Manis, apa kabarmu?" sapa Charles ramah seperti biasa.


"Baik. Tapi tidak soal Clarence." kata Merylin. Hatinya masih sedih setiap ingat Clarence.


"Aku mengerti perasaan kamu, Nak. Tapi siapa yang tahu Tuhan ijinkan dia mengalami nasib setragis itu." Charles mengusap bahu Merylin.


"Lalu, mana Clark? Aku ingin berkenalan dengannya." kata Charles.


Merylin mengajak Charles ke kamar. Clarence sudah bisa bangun. Sekarang dia duduk di kursi dekat jendela. Dia suka sekali melihat alam terhampar indah di bawah bukit rumah ini.


Charles tertegun memandang Clarence. "Pangeran Clarence?" katanya pelan. Dia tak percaya pemuda di depannya ini benar-benar mirip dengan pangeran itu.


"Clark, ini Pastor Charles Brown." Merylin mengenalkan Charles pada Clark.


Charles mendekati Clarence dan menyalaminya. Semakin dekat Charles semakin merasa mirip dengan Clarence. "Bagaimana kabarmu?"


"Aku sudah baik, Pastor. Trimakasih." Clarence tersenyum.


"Dua hari lalu Albert datang menemuiku menceritakan tentang dirimu. Aku akan berdoa buat kamu, supaya bisa segera pulih." kata Charles.


Lalu Charles menoleh pada Merylin. "Ikut aku sebentar, Merylin."


"Aku? Ah, iya.. baik.." jawab Merylin.


Charles sudah mendahului Merylin keluar rumah. Merylin mengikuti Charles. Charles mengajak Merylin menyusuri jalanan desa yang sepi.


"Merylin, aku harus memberitahu kamu, Clark sangat mirip dengan Pangeran Clarence." kata Charles sambil melihat Merylin.


"Aku tahu, Pastor." sahut Merylin.


"Kamu tahu?" Charles menatap Merylin lekat.


"Aku bertemu dengan Pangeran Clarence di ruang atas balai kota malam itu." kata Merylin.


"Malam pesta itu? Tapi kamu justru pulang lebih cepat. Kukira kamu sedih karena Clarence tidak ikut perjamuan malam itu." Charles terkejut tapi juga heran.


"Pangeran Clarence membuat aku takut malam itu..." dan Merylin menceritakan apa yang terjadi.


"Karena itu ketika aku menemukan Clark di hutan, aku kira dia adalah Clarence." kata Merylin. "Aku sangat kacau ketika dapat kabar Clarence mengalami tragedi mengerikan itu."


"Pemakaman dilaksanakan kemarin."


"Pemakaman?" Merylin tersentak.


"Hanya upacara. Mayat Clarence tak ditemukan. Sang Ratu sakit, Raja shock tapi berusaha tegar. Keluarga istana akan kembali ke istana hari ini, kembali ke kota raja." jelas Charles.


"Aku bisa mengerti apa yang mereka rasakan." ujar Merylin pelan.


"Pesta perburuan batal. Diganti dengan hari berduka buat Kerajaan Goldy Star. Semua orang di kota memasang bendera duka. Mereka tuliskan selamat jalan Pangeran Clarence. Tangis dan sedih ada di mana-mana. Semua orang menyayangi Clarence. Semua tak percaya dia sudah tidak ada lagi." Charles juga nampak sedih mengatakan semua ini.


"Pastor, pria dalam mimpiku... sama dengan Clarence." kata Merylin.


"Benarkah?" Charles melihat Merylin.


"Ya, Pastor. Rambut ikal dan kecoklatan. Matanya, hidung dan bentuk wajahnya. Aku gemetar waktu melihat dia di balai kota. Karena aku sudah bertemu dengannya dalam mimpi." jawab Merylin.


Charles tertegun. Jadi impian itu bukan sekedar mimpi. Semangat Merylin ingin bertemu Clarence bukan suatu yang sia-sia. Tapi sekarang? Clarence tidak ada. Lalu Clark? Charles juga sungguh bingung dengan semua ini.


"Kita kembali, Merylin." Charles mengajak Merylin balik ke rumah.


Tak lama setelah itu Charles meninggalkan rumah Merylin melanjutkan perjalanan menjenguk jemaat yang sakit di desa sebelah.


Dalam hati Merylin entah kenapa, masih yakin Clarence tidak mati.


🌟🌟🌟


Hari-hari terus berjalan.


"Siang itu, Merylin dan Clarence duduk di bawah pohon di pinggir jalan desa tak jauh dari padang luas. Clarence sangat suka menikmati semua ini. Rasanya tidak ada bosannya.


"Mungkin beberapa hari lagi aku akan minta ijin ayah mengajak kamu berkuda di padang." kata Clarence.


"Ya, tapi aku ga mau berkuda dengan orang yang rambutnya panjang. Gondrong dan berantakan." Merylin menggoda Clarence. Rambut Clarence sudah agak panjang dan mengembang tak beraturan seperti tidak terawat.


"Aku juga malas berkuda dengan gadis bawel seperti kamu." sahut Clarence. Merylin tertawa mendengar itu. Senyum Clarence langsung mengembang.


"Ehmmm... tutup matamu." kata Clarence tiba-tiba.


"Hah? Kenapa?" Merylin menatap Clarence.


"Sebentar saja." ujar Clarence.


"Clark.. jangan menggodaku..." Merylin sudah aneh-aneh pikirannya.


"Ayolah.." bujuk Clarence.


"Baiklah..." Merylin mengalah. Dia menutup kedua matanya. Dia lipat tangannya di dada seperti sedang berdoa.


Clarence memetik bunga rumput tak jauh dari tempatnya duduk. Warnanya putih kebiruan berpadu ungu. Cantik sekali. Lalu disodorkannya di depan Merylin.


"Nah.. buka matamu.." ucap Clarence lembut.


Merylin membuka mata. Bunga cantik di depannya.


"Oh... Clarence... cantiknya.. trimakasih.." ujar Merylin. Senyum simpul menghiasi bibirnya yang mungil itu. Diselipkannya bunga itu di telinganya.


"Kembali kasih. Dan.. panggil aku Clark.." bisik Clarence.


Merylin tersenyum. Tetap saja buat Merylin nama Clarence lebih cocok buat pria tampan luar biasa itu. Mereka berjalan kembali ke rumah.


"Aku ingin bekerja membantu Pak Everance di ladang." kata Clarence.


"Oh.. tidak perlu.." sahut Merylin.


"Hei... aku tidak mau menumpang saja di rumahmu. Kalian sangat baik padaku. Menolong aku sampai sembuh, memberi makan, membeli pakaian. Semua kebutuhan buatku. Sudah waktunya aku membalas kebaikan kalian. Tak lama lagi musim panen, kan? Sebelum musim gugur." ucap Clarence tegas.


"Kamu belum sehat betul, Clark.." tandas Merylin.


"Aku laki-laki, Merl. Aku pasti kuat." desak Clarence.


"Nanti kalau sudah benar-benar sehat mau buat apa saja terserah. Tapi tidak sekarang." bantah Merylin.


"Aku akan bicara dengan Pak Everance." sahut Clarence.


Merylin menatap Clarence. Dia terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Ya, sebaiknya kamu bicara dengan ayah dulu." akhirnya Merylin mengalah.


Saat makan malam, Clarence segera mengutarakan keinginannya.


"Tapi kamu belum benar-benar sehat, Clark. Ini akan memperlambat pemulihanmu." ujar Margareth menanggapi permintaan Clarence.


"Tidak apa-apa. Mungkin lebih banyak bergerak dapat menolong aku untuk sembuh lebih cepat." kata Clarence.


"Kurasa aku bisa menyetujui permintaan kamu. Tapi jangan terlalu memaksa, supaya tidak terlalu lelah." Albert melihat kesungguhan Clarence.


"Benarkah, Pak Everance? Aku boleh ikut ke ladang?" Clarence jadi bersemangat.


"Ya.. tapi kamu harus pergi sekolah juga. Aku akan bicara dengan guru di sekolah supaya kamu bisa mulai belajar. Dan minggu depan kamu juga sudah bisa ikut ke gereja." kata Albert.


Wajah Clarence makin gembira. Dia tersenyum lebar. "Trimakasih banyak."


"Ya, sama-sama." sahut Albert. Ditepuknya bahu Clarence dengan senyum cerah.


"Rasanya Merylin seperti punya kakak laki-laki saja." Margareth tersenyum.


Lepas makan malam, rumah itu sepi. Lampu utama dimatikan. Merylin masuk ke kamarnya, begitu juga Clarence. Pun Albert dan Margareth. Letih sudah mendera. Membaringkan tubuh adalah kegiatan paling baik, melepaskan semua penat, dengan tidur menikmati malam yang tenang.