
Menyenangkan juga ternyata menjadi seorang guru. Apalagi membantu anak-anak kecil belajar membaca dan menulis. Mereka lucu dan menggemaskan. Lugu, jujur, apa adanya. Merylin menikmati membantu kelas kecil, kelas pertama dan kedua. Dia langsung menetapkan hati akan membantu Ms. Vivian Andrew, di kelas pertama dan Mr. Jack Reynolds di kelas kedua.
Kedua guru itu juga sangat senang karena Merylin anak yang ramah, ceria, dan cekatan. Dia dengan senang hati melakukan apa saja yang diminta. Membantu menyiapkan bahan untuk peraga anak-anak di kelas, memeriksa tugas mereka, membantu anak-anak berkemas saat akan pulang.
"Hmm.. aku senang sekali kamu mau membantu kelas ini, Merl. Anak-anak makin gembira di kelas. Besok kamu mau mencoba mengajar?" tanya Mr. Reynolds.
"Aku?" Merylin menunjuk dirinya dengan telunjuk.
"Ya.. siapa lagi yang membantu di kelas ini?" Mr. Reynolds tersenyum.
"Wah... ini... apa aku bisa?" Merylin langsung deg degan juga.
"Waktu materi Art saja. Atau jam belajar musik?" Mr. Reynolds memandang Merylin. "Terserah yang kamu rasa siap mengajar apa."
"Mr. Reynolds, akhir semester mereka akan ada ibadah penutupan semester bersama. Bolehkah aku mengajar mereka menyanyi untuk mengisi penampilan di acara itu?" tanya Merylin.
"Ya... itu bagus sekali..." Mr. Reynolds langsung tersenyum lebar. Wajahnya jadi cerah, karena memang dia ada rencana untuk itu tapi belum bisa mengerucutkan akan menyanyi apa dan kapan mulai.
"Baiklah, Mr. Reynolds. Aku akan mulai besok." Merylin tersenyum dengan hati gembira.
Begitulah, Merylin lebih memusatkan perhatian pada kegiatan barunya. Ayah dan ibunya juga senang dengan semangat Merylin. Mereka lega gadis cantik itu tidak terus saja terkenang pangeran yang entah mungkin sudah tak ingat lagi dengan putri mereka.
Sebulan sibuk di sekolah membantu persiapan akhir semester tak terasa. Berlatih menyanyi dan menari bersama anak-anak benar-benar menyenangkan. Dan hasilnya penampilan mereka luar biasa. Orang tua yang datang bertepuk tangan gembira dengan wajah berbinar.
Mr. Reynolds dan Ms. Andrew mengacungkan jempol mereka tanda puas dengan hasil kerja Merylin selama ini.
"Cherish dan Marcell sangat lucu, Bu. Mereka sering sekali berebut barang yang sama. Kalau Cherish ambil kertas, Marcell juga mau kertas itu. Lain kali Marcell ingin duduk di sebelahku, Cherish juga ribut ingin denganku. Hee... heee... gemes sekali dengan mereka." cerita Merylin sambil tersenyum lebar.
"Makanya kamu tak pernah bosan ke sekolah ya.." ujar Margareth ikut tersenyum senang.
"Tapi, waktu mereka tampil di hari terakhir sekolah, manis sekali. Mereka akur. Aku benar-benar senang." Merylin masih membayangkan keseruan hari terakhir dengan anak-anak di sekolah.
Hari itu mereka perjalanan ke gereja. Ayah dan ibu dengan senyum gembira mendengar Merylin bercerita. Sesekali dia tertawa mengingat murid-murid di kelas yang dia bantu.
"Sepertinya kamu cocok jadi guru, Merl." kata Albert menoleh sebentar lalu kembali memperhatikan laju kudanya.
"Ms. Anderson dan Mr. Reynolds juga bilang begitu, Yah. Mereka sarankan aku meneruskan sekolah untuk jadi guru di kota." kata Merylin.
"Hm... kenapa tidak?" sahut Albert.
"Aku belum tahu. Aku belum memikirkan lebih serius. Aku menikmati yang aku lakukan sekarang." kata Merylin.
"Iya, Nak. Kalau kamu mau sekolah di kota, Ibu akan kesepian. Berat melepaskan kamu tinggal jauh, sendirian." ujar Margareth.
"Kita lihat nanti saja, Bu. Sekarang mulai musim dingin. Sekolah mulai libur. Musim semi baru akan kembali masuk." Merylin memegang lengan ibunya.
Sampai di gereja mereka mengikuti ibadah dengan hati penuh syukur. Saat ibadah berlangsung Pastor Brown berpesan kepada semua jemaat yang hadir untuk tak pernah lelah bersyukur sekalipun menjalani hidup yang tidak selalu mudah. Belajar terus percaya pada tuntutan Tuhan yang tak pernah salah. Merylin menyimpan pesan itu dalam hatinya.
"Tuntunan-Mu, Tuhan... yang aku perlu. Haruskah aku berharap Clarence akan datang, haruskah aku mengakhiri impianku? Apakah mimpi yang Kau beri hanya berakhir saat kami bersama? Apakah sekarang semua sudah selesai?" Doa dan tanya Merylin di hati.
Sebelum tengah hari ibadah selesai. Merylin masih menunggu ingin bicara dengan Arvella dan Charles. Ada Mrs. Bryans sedang bicara juga dengan mereka.
"Benarkah?" Arvella tersenyum mendengar cerita itu. Charles di sampingnya juga mendengar dengan senang.
"Ini aku bawakan oleh-oleh dari sana. Orang-orang mulai menjual makanan dan aksesoris bermacam ragam untuk menyambut hari itu." Mrs. Bryans menyerahkan sebuah bungkusan agak besar pada Arvella.
"Wah, trimakasih. Tidak bisa ke sana tapi menikmati juga kegembiraannya." Arvella makin melebarkan senyumnya.
"Hmm, pasti acara hari jadi Goldy Star juga akan meriah sampai ke kota kecil ini." ujar Charles.
"Pasti, Pastor. Tidak sabar menunggu rasanya." Mrs. Bryans masih semangat bercerita. "Dan, mulai ramai kabar para putri bangsawan berebut perhatian sang pangeran. Karena ada rumor juga dia akan mempersunting seorang wanita untuk mendampingi dia. Ya, raja kan perlu permaisuri."
"Oya?" Charles dan Arvella berkata serentak.
Merylin mundur perlahan mendengar itu. Permaisuri? Pangeran mencari permaisuri? Jadi...
Merylin berbalik arah dan menemui orang tuanya. Mereka baru selesai berbicara dengan beberapa jemaat yang lain dan bersiap ke kereta kuda mereka.
"Merl, kita pulang?" tanya Albert.
"Ya, Ayah." jawab Merylin pendek.
"Sudah bertemu Pastor?" tanya ayahnya lagi.
"Masih ada yang lain yang bicara. Aku tak mau menunggu. Lain kali saja, tidak apa." kata Merylin. Dia naik ke kereta kuda di bagian belakang. Ibu dan ayah di depan.
Kereta kuda perlahan meninggalkan gereja dan menuju pulang. Di tengah jalan salju kecil-kecil mulai turun. Satu satu jatuh di tanah, di dedaunan, rerumputan, di atas atap rumah, di kereta kuda, dan kepala mereka.
"Mulai dingin. Tapi tidak akan makin deras, kita terus saja ya.." kata Albert.
"Ya.. lanjutkan saja." ujar Margareth.
Merylin merapatkan mantelnya, membenarkan posisi topi lebarnya lalu melipat kedua tangannya. Dia menghembus beberapa kali, terlihat uap udara menyembur dari hembusan nafasnya.
"Kamu baik-baik, Merl?" tanya ibunya.
"Ya, Bu. Hanya terasa makin dingin." kata Merylin.
Tidak! Dia tidak baik-baik saja. Dia sangat gundah. Setelah mendengar kata-kata Mrs. Bryans tadi, Merylin merasa pedih mengutik di hatinya.
Banyak putri cantik di sekeliling Clarence. Apa perlu dia menoleh pada gadis kecil ini? Apa dia pantas dibanggakan jika ada di sisi Clarence? Jangan-jangan malah hanya akan membuat dia malu nanti. Ah, ternyata Sarah benar.
"Bangun dari mimpi, Merl. Jangan terlalu lama bermimpi. Cukup sudah." batinnya.
Semakin dekat ke rumah, salju makin banyak turun. Begitu sampai, Merylin melompat turun dari kereta dan berlari masuk ke dalam rumah. Dia buka mantel sepatu boots dan topinya. Lalu dia melompat ke ranjangnya.
Dia menelungkup menghadap ke jendela. Salju makin deras. Salju deras pertama musim dingin ini. Merylin tak henti memandanginya. Udara makin dingin.
"Apakah hatimu sedingin salju ini, Clarence? Sehingga kau tak dengar teriakku setiap hari? Aku menunggumu. Aku rindu. Sangat rindu." bisik hati Merylin.
Dan air mata menetes di ujung matanya.