
"Merl, Clarence sedang ada di situasi sulit. Aku tak tahu apa dia berani menunjukkan diri kepada Henry. Henry itu licik. Clarence butuh teman yang bisa percaya padanya." kata Jesse.
Charles, Arvella, dan Merylin memandang Jesse.
"Aku akan bisa jadi saksi mengatakan kebenaran buatnya." Jesse berkata tegas.
"Kamu benar, Jesse." sahut Charles. "Kamu yakin akan menemuinya? Tidak mudah menembus gerbang istana. Apalagi situasi seperti sekarang, bisa terjadi pergolakan tiba-tiba karena kekosongan kepemimpinan hingga penobatan raja yang baru."
"Aku tahu ini sulit, Pastor. Tapi aku yakin setiap usaha akan menemukan jalannya." Jesse benar-benar yakin dengan apa yang akan dia lakukan.
"Kapan kamu pergi? Sendirian?" tanya Arvella.
"Besok pagi-pagi sekali aku akan berangkat. aku ikut pamanku yang berdagang ke kota raja." Jawab Jesse.
"Bisakah aku titip sesuatu untuk Clarence?" kata Merylin.
"Dengan senang hati. Apa itu, Merl?" Jesse memandang Merylin.
Merylin melepas kalung emas di lehernya. Dia berikan pada Jesse. "Titip ini buat Clarence... katakan padanya, dia harus berjuang demi bangsa ini. Dia yang harus meneruskan apa yang Raja Patrick kerjakan di atas negri yang kuat ini."
"Aku akan katakan tepat seperti pesanmu." Jesse tersenyum. Dia menyimpan kalung itu dalam sapu tangan kecil dan dia masukkan di saku bajunya.
"Trimakasih, Jesse." ucap Merylin.
"Baiklah, aku harus bersiap-siap sekarang." Jesse berdiri. "Doakan aku, Pastor."
Charles memeluk Jesse. "Berhati-hatilah, Tuhan menyertaimu."
"Trimakasih, sampai jumpa." dengan penuh semangat Jesse meninggalkan ruangan itu.
"Kita berdoa. Tuhan akan melakukan hal besar pada negri ini." kata Charles.
Hari semakin siang. Terik musim panas terasa kering di kulit. Sepanas hati Merylin yang masih saja tidak tenang memikirkan Clarence.
"Apakah dia bertemu Henry? Apakah dia bertemu Ratu Felicia? Lalu, bagaimana istana sekarang? Mungkin semua terkejut dengan kehadirannya? Dan acara pemakaman Raja Patrick akan bagaimana?" banyak pertanyaan bertumpuk, hilir mudik, di pikiran Merylin.
Ah... dia hanya bisa berdoa, memohon Tuhan menyatakan kasih untuk Clarence dan negri ini. Juga menunggu, menunggu kabar baik datang dari istana.
🌟🌟🌟
Clarence mengganti seragam prajuritnya dengan bajunya semula. Hari menjelang sore baru dia keluar melalui lorong rahasia menuju ke taman samping. Dia bersembunyi di antara bunga-bunga dan pohon perdu.
Ada beberapa pohon buah yang tumbuh di sana. Clark mengambil beberapa dan dia makan. Dia benar-benar lapar. Sambil duduk di antara pohon-pohon dia mendengar ada langkah mendekat. Dia kembali bersembunyi di balik perdu dan tanaman rambat di sana.
Clarence memperhatikan siapa yang datang. Seorang laki-laki dan seorang wanita. Ketika makin dekat Clarence bisa melihat lebih jelas. Itu Henry dan Marelina.
"Tentu saja. Kau layak mendapatkannya, Tampan.." Marelina memeluk Henry dengan mesra.
"Ayahmu memang bisa diandalkan. Dokter yang dia kirim sungguh hebat. Perlahan, racunnya membuat lumpuh dan membunuh raja yang malang itu." Henry makin mengeratkan pelukannya di pinggang Marelina.
Clarence tak jadi menggigit buah yang dipegangnya. "Apa? Racun? Ayah diracun?" katanya dalm hati. Hampir tak percaya dia dengar itu.
"Dan aku? Aku akan jadi putri terbesar negri ini, mendampingi kamu. Permaisuri Raja Henry yang perkasa." kata Marelina dengan senangnya.
"Jahanam. Kejam sekali mereka." Clarence mengepalkan tangan karena geram.
Dan, muncul Jendral Matthew. "Selamat Pangeran Henry. Perjuangan kita hampir sampai garis akhir. Tiga hari lagi, hanya tiga hari lagi, pangeran akan menjadi penguasa tunggal negri ini." Matthew memeluk Henry.
"Trimakasih, Jendral. Itu semua karena bimbingan dan pertolonganmu. Kamu yang membukakan mataku bahwa aku tidak bisa dianggap sebagai orang nomor dua. Jika benar aku dianggap anak, maka akulah putra mahkota. Kenapa harus Clarence? Dia jelas jauh lebih muda dariku." kata Henry.
"Ya, seharusnya seperti ini, karena bagaimanapun pangeran adalah putra pertama kerajaan." Matthew tersenyum sinis. "Lalu, apakah tuanku tidak ingin menjenguk ratu Felicia? Saya kira dia perlu dihibur putranya. Putra tunggalnya, calon raja negri ini."
Henry tersenyum lebar. "Ah.. ya... kau benar, Jendral. Sepanjang hari ini dia sendirian. Dia pasti sedang bersedih. Baiklah, aku lihat wanita tua itu dulu." kata Henry. Dia mencium Marelina dan beranjak pergi.
"Lengkap sudah penjahat negri ini." batin Clarence.
"Kasihan pangeran itu." ujar Matthew. "Dia akan tertawa dan merasakan kemewahan serta tahta hanya sehari saja. Begitu dia terbaring karena terlalu bahagia, di atas ranjang besarnya, dia tak akan bangun lagi. Pedang akan menancap didadanya. Lalu akulah yang akan menguasai negri ini."
"Dia pikir aku benar-benar tergila-gila padanya? Siapa yang mau jadi istrinya? Mukanya sudah cacat. Pangeran bodoh." tandas Marelina. "Aku suka Clarence, Ayah. Sebenarnya aku berharap menjadi permaisuri putra mahkota."
"Tapi dia penghalang rencana kita. Dia terlalu naif dan baik pada rakyat. Dia akan merendahkan dirinya sendiri dengan tingkahnya itu. Bagus kalau dia mati diterkam binatang di hutan." Matthew tersenyum.
"Ah... mau bagaimana lagi? Aku masih bisa mengejar pangeran tampan lainnya." timpal Marelina.
"Ayo kita rayakan kemenangan kita." Matthew melangkah meninggalkan taman diikuti Marelina yang menggelayut manja di sebelah ayahnya.
Clarence terduduk lemas. "Oh Tuhan... permainan apa ini? Orang kepercayaan ayahku adalah pengkhianat bangsa ini. Ayah dan Jendral Matthew sangat dekat, teman sejak muda. Bagaimana bisa dia melakukan semua ini pada ayah?"
Clarence menyandarkan kepala di pohon di belakangnya. "Henry.. ternyata dia juga dibodohi. Dia hanya diperalat. Sungguh malang. Jika seperti ini, aku tak bisa tinggal diam. Ibu benar, aku harus berbuat sesuatu. Ini negeriku. Ini tanah tempat bangsa ini mengejar mimpi dan harapan. Semua orang pantas hidup dalam damai. Aku harus melakukan sesuatu."
Hari mulai gelap. Clarence menunggu beberapa saat hingga kemudian dia meninggalkan istana melewati jalan rahasia. Dia ambil Snowy dan menaikinya mencari tempat untuk beristirahat dan berpikir. Dia kenakan jubah dengan topi yang menutupi mukanya, sehingga tidak ada yang mengenalinya. Selain itu, wajah duka yang masih kuat membuat kota raja seperti kota mati.
Clarence pergi ke sebuah gubuk kecil, reot, di pinggiran kota raja. Sepertinya gubuk ini lama tak dipakai. Dia beberapa kali main bersama Heny juga hingga ke tempat ini. Masih terbayang dia berlarian di sekitar gubuk di pinggir sungai dengan Henry. Mencari ikan, main perang-perangan, bermain layangan. Semua begitu indah dan menyenangkan. Dia sangat bangga punya kakak yang hebat. Pemberani dan kuat.
"Huuhhh..." Clarence menghembuskan nafas keras. "Cepat sekali segalanya berubah. Apa yang kau pikirkan, Henry, hingga kau berbuat seperti ini? Aku tidak pernah memilih untuk menjadi putra mahkota. Aku tak bisa menolak ketika aku lahir menjadi anak raja negri ini."
Clarence membaringkan badan. Kayu tempatnya berbaring ini lumayan keras di punggungnya. Tapi apa boleh buat. Kira-kira bagaimana dia bisa menyelesaikan masalah ini? Kepada siapa dia bisa cerita dan meminta pertolongan? Belum mendapatkan jawaban, Clarence terlelap.