Life Goes On

Life Goes On
31 - Aku Tak Akan Lupa Janjiku



Merylin, terpaku, mematung, tak bergerak, tak bergeming. Bahkan jika mungkin dia tak akan bernafas lagi.


Melihat mata Merylin tak berkedip, mulutnya setengah terbuka, Jesse menoleh ke arah belakangnya.


Jesse sama terperangah. Dia pun tak berkedip.


Perlahan seekor kuda putih mendekat, dengan seorang pria gagah, berjubah indah, meski tanpa mahkota, menghampiri mereka. Begitu dekat, pria gagah dan tampan itu turun dari kuda putihnya.


"Apa kabar, Sobat?" Clarence menepuk pundak Jesse.


"Hai.." gelagapan Jesse menjawab.


Clarence melangkah mendekati Merylin. Senyumnya, matanya, Merylin masih seperti belum menapak bumi melihat apa yang ada di depan matanya.


"Merl... ini bukan mimpi..." Clarence menyentuh pipi Merylin.


Wajah Merylin panas, merona. Dia tak mampu bicara. Mulutnya terasa tercekat dan terkunci.


"Hai..." Clarence memencet hidung Merylin. Gadis itu masih mematung, tapi air mata mulai menggenang di ujung matanya.


"Aku tak akan lupa janjiku." suara lembut itu. Sekarang makin berwibawa terdengar di telinga Merylin.


Clarence meraih tangan Merylin. Tangannya dingin dan sedikit gemetar.


"Setahun lalu kamu pergi mencariku di balai kota. Sekarang aku yang mencarimu. Dan aku disambut teriakan sepenuh hati darimu." Clarence tersenyum.


"Trimakasih masih menjaga hatimu. Aku juga sangat mencintaimu, Merylin." Clarence merengkuh bahu Merylin dan memeluk gadis itu.


Sekarang, di dada Clarence, Merylin menangis. Menangis sekuatnya. Dia benamkan wajahnya di dada Clarence sehingga suaranya tak keras tedengar.


Jesse tersenyum. Dia paham, Clarence mengatakan dia tunggu waktu yang tepat, dia tahu apa yang dia lakukan. Hari ini, tepat setahun pertemuan pertama mereka, Clarence menjemput Merylin.


"Maafkan aku... aku membuatmu ragu dan bimbang. Maafkan aku.. tidak memberi kepastian. Tapi aku tidak sedikitpun beralih pada hati yang lain." Clarence mencium puncak kepala Merylin.


"Maafkan aku... aku hampir putus asa... aku berulang kali ingin melupakanmu... maafkan aku, meragukanmu..." kata Merylin terbata-bata.


"Tapi kita bersama sekarang. Dan tidak ada lagi yang akan memisahkan." Clarence memegang kepala Merylin dengan kedua tangan menangkup di sisi kiri dan kanan.


"Trimakasih..." ucap Merylin pelan.


"Bersiaplah. Ada hal besar yang akan kita lakukan setelah ini." kata Clarence.


"Jesse..." Clarence menoleh pada Jesse. Tangannya menggenggam tangan Merylin erat.


"Ya, Yang Mulia." jawab Jesse.


"Bawa kudaku kembali ke rumah Merylin. Aku ingin berdua bersamanya di sini." kata Clarence.


"Yang Mulia.."


"Aku masih sanggup berjalan setengah jam untuk pulang." potong Clarence. Dia tahu yang Jesse pikirkan.


"Baik, Yang Mulia." jawab Jesse. Dia mendekati kuda putih milik Clarence.


"Jesse... aku masih tetap temanmu, Clark." kata Clarence.


"Ampun, Yang Mulia." Jesse menjawab.


"Aku sungguh-sungguh." tandas Clarence. "Pergilah.."


Jesse melompat ke punggung kuda itu dan memukul pelan punggung kuda itu. Kuda itu melangkahkan kaki meninggalkan Merylin dan Clarence di tepi telaga.


"Yang Mulia..." Merylin sudah lebih tenang sekarang.


"Ya, Merl.." Clarence menatap Merylin.


"Aku.. aku tidak tahu.. Yang Mulia.. sangat berbeda.." kata Merylin. Dia memperhatikan Clarence dari kepala hingga kakinya.


Ini luar biasa. Melihatnya begitu dekat dengan penampilan seorang pangeran. Benar seperti di balai kota tahun lalu. Tapi malam itu Merylin tak sempat memandangi seperti ini.


"Aku masih Clarence yang sama. Aku masih bisa memanjat pohon, mengumpulkan bunga rumput, mengejarmu di tengah padang rumput hijau itu." ucap Clarence.


"Yang Mulia..." Merylin tersipu malu.


"Aku bisa berteriak lebih keras dari kamu dan Jesse." ujar Clarence.


"Yang Mulia..."


Clarence melangkah beberapa langkah ke tepi telaga. Dia menarik nafas dalam dan mulai berteriak dengan tangan terangkat ke atas.


"Aku..!!! Clarence..!!! Sangat mencintai...!!! Merylin...!!!" dan suaranya bergema ke seluruh penjuru telaga, membuat kembali binatang terkejut dan berhamburan, bersembunyi, mencari tempat lebih aman.


Merylin tersenyum. Clarence balik badan dan mendekati Merylin lagi.


"Jangan panggil aku Yang Mulia. Panggil namaku." kata Clarence.


"Aku.. aneh..." Merylin merasa kikuk.


"Ayolah... kau akan menjadi istriku, kau harus terbiasa memanggil namaku. Seperti ketika otakku masih bermasalah." Clarence tersenyum.


"Ya.. baiklah.." Merylin berusaha bersikap wajar.


"Apa yang kau bawa itu?" Clarence melihat keranjang Merylin. Dia berjalan menuju keranjang, duduk di rerumputan, membuka keranjang.


"Silakan, Yang.."


"Hmm...??" Clarence meliriknya.


"Clarence..." Merylin merasa wajahnya makin memerah saat dia menyebut nama itu. Entahlah, dengan Clarence mengenakan pakaian indahnya, bukan pakaian biasa seperti ayahnya, dia merasa begitu kecil di sisi Clarence.


"Rotinya enak sekali. Aku kangen masakan ibu, kamu tahu?" Clarence menyobek sepotong roti di tangannya dan menyodorkan di depan mulut Merylin.


Merylin hanya menatapnya.


"Buka mulutmu, makanlah.." kata Clarence.


Merylin membuka mulutnya, mulai mengunyah roti itu. Tak dia kira sebegini akward dia dekat Clarence setelah enam bulan berpisah. Dia menyuapi Merylin beberapa kali hingga roti lapis itu habis mereka makan.


"Hei... aku akan membawamu ke balai kota besok." ujar Clarence.


"Balai kota?" tanya Merylin. "Apakah ada acara di sana?"


"Ya, tentu." Clarence menegakkan posisinya, menyilakan kedua kaki. Mengambil botol dan meneguk jus jeruk segar.


"Aku harus hadir?" Merylin masih minta penjelasan.


"Jika kamu tak datang, acara tidak bisa berjalan." kata Clarence.


"Kenapa?" tanya Merylin heran.


"Kita akan menikah di sana." tenang sekali Clarence menjawab.


"Apa?!" Merylin sedikit terlonjak, matanya melotot. Seketika dia dekap dadanya.


Clarence tersenyum lebar. "Sayangku, minggu depan hari penobatanku. Sebelum itu aku akan menikahimu lebih dulu."


"Tapi... tapi..." Merylin begitu gugup. Tangannya kembali dingin dan debaran jantung tak menentu merajai lagi di dadanya.


"Ada yang mengganggumu? Kau tak ingin bersamaku?" sekarang tatapan Clarence lebih serius.


"Tentu saja aku ingin bersamamu. Ini terlalu cepat." sergah Merylin.


"Terlalu cepat? Bukankah enam bulan sudah begitu lama kita tidak..."


"Maksudku, kita baru bertemu hari ini, di sini.. dan besok..." Merylin masih membulatkan matanya mencerna semua yang dia hadapi sekarang.


Clarence meraih kedua tangan Merylin.


"Apa yang kamu cemaskan?" tanya Clarence.


"Aku menjadi guru bantu di sekolah. Ada rencana yang masih disiapkan. Ayah dan ibu, mereka..."


"Merl... cepat atau lambat, kamu pasti akan aku bawa ke istana. Sekolah berjalan baik selama ini dengan guru-guru luar biasa di Greenpines. Lalu ayah dan ibu, kita akan bawa mereka ke istana." jelas Clarence.


Merylin termenung. Dia menatap mata indah itu. Ya, jika Clarence tujuan hidupnya, pria dalam mimpinya yang dia doakan. Ini waktunya dia menjalani semuanya bersama dengannya.


"Merl..." Clarence mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Merylin. Merylin makin dag dig dug. Tapi dia tidak menolak. Lalu Clarence menurunkan bibirnya dan mulai mendekati bibir Merylin.


"Clarence..." Merylin menahan bibir Clarence dengan kedua jarinya.


"Kenapa?" Clarence memundurkan wajahnya.


"Aku... mau... aku akan ikut semua yang kamu rencanakan..." kata Merylin. "Tapi.. aku takut, aku tidak mengerti..."


"Tenang saja. Aku akan buat semua dengan sederhana. Sambil perlahan kamu akan belajar tentang bagaimana hidup di istana. Ada pelayan yang akan mengajarimu aturan yang harus kamu pahami. Jangan kuatir, aku akan terus mendampingimu." Clarence menarik rambut kemerahan Merylin yang dikepang.


"Rambut kamu sudah sepanjang ini." ujar Clarence.


Merylin tidak menanggapi kata-kata Clarence. Dia lebih fokus dengan bagaimana dia akan menempatkan diri nanti saat bertemu orang-orang di istana.


"Clarence, jika isi kerajaan tahu aku yang kamu bawa ke sana, lalu mereka tak suka denganku.."


"Kenapa kamu pikirkan itu? Aku yang membawamu. Mereka tak punya hak apa-apa. Jangan pikirkan mereka, Merl. Pikirkan kita. Cinta kita, masa depan kita." Clarence lagi-lagi mendekatkan mukanya dan mencoba mencium Merylin.


"Hmm..." Merylin menjauh. "Aku takut, Pangeran."


"Takut padaku?" ucap Clarence.


"Banyak..." Merylin melihat Clarence.


"Ayo kita pulang. Sambil berjalan aku akan bercerita seperti apa istana. Apa saja yang harus kamu pahami dan lakukan. Kamu tidak akan takut, percayalah." Clarence berdiri. "Kurasa kau takut aku menciummu."


Merylin bersemu merah. Itu benar. Dia merapikan bawaannya lalu berdiri. Clarence meraih keranjang dari tangan Merylin. Dia menuntun Merylin dengan tangan yang satu lagi.


Tidak berani menolak, Merylin berjalan di sisi Clarence. Mendengar pangeran itu menceritakan tentang istana. Tidak setegang dan sekaku yang dia bayangkan. Tapi entahlah nanti jika dia sampai di sana.


Hari terasa sejuk, meski sudah lewat tengah hari. Keduanya berjalan dengan senyum ceria, menyusuri jalan kecil itu menuju rumah mungil di atas bukit.


Dari jauh, Margareth dan Albert melihat keduanya berjalan mendekati rumah mereka, bergandeng tangan.


"Ternyata keajaiban itu masih selalu ada, Margie. Kita yang terlalu takut untuk yakin, bahwa Tuhan akan melakukannya bagi kita." bisik Albert. Tangannya merangkul bahu Margareth.


Margareth menghapus air mata yang membasahi pipinya. Kebahagiaan kini menjalar di lubuk hatinya.