Life Goes On

Life Goes On
10 - Pertengkaran



Clarence menghentikan Snowy dan melompat turun dari punggung kuda itu. Jesse dan Merylin yang melihat Clarene datang tersenyum ke arah Clarence


"Hai, Clark! Mau bergabung? Seru sekali kami main hari ini." sapa Jesse ramah. Wajahnya terlihat bersemangat.


Clarence tidak menjawab. Wajahnya masam. Dia menarik lengan Merylin. "Kita pulang."


Merylin kaget dengan sikap Clarence. Dia tarik balik tangannya melepaskan genggaman Clarence.


"Tinggalkan aku!" sentak Merylin kesal.


"Sebaiknya kamu pulang, Jesse. Aku ada urusan dengan Merylin, hanya antara kami berdua." Clarence menoleh pada Jesse yang menatap bingung. Kenapa tiba-tiba Clarence datang dan marah?


"Baiklah... sampai jumpa, Merl.. trimakasih makan siangnya ya.." Jesse melambai dan melangkah pergi dari situ. Dia tahu akan ada perang dengan dua temannya itu.


Merylin dan Clarence saling menatap dengan wajah tegang.


"Aku benci kamu, Clarence!" bentak Merylin. Dia berlari meninggalkan Clarence. Clarence mengejarnya, menangkap kedua bahu Merylin, membalikkan gadis itu, menghadap ke arahnya.


"Kau membenci aku?" sentak Clarence. "Lalu kamu? Gadis cantik pergi seorang pemuda tanpa pamit. Tidak tahukah kamu orang tuamu cemas di rumah? Kau pikir kelakuanmu ini pantas?!"


Jelas Clarence geram kepada Merylin. Merylin juga sangat kesal, dia angkat kepala menatap wajah Clarence yang merah karena marah. Dia lepaskan dengan kasar tangan Clarence yang ada di bahunya.


"Pantas katamu?! Kau pikir pantaskah tiap hari bergaul dengan gadis-gadis itu? Kau tak peduli lagi padaku! Yang kau perhatikan hanya gadis-gadis anak orang terpandang itu! Bagimu aku memang tak hidup lagi, kan?!!" balas Merylin. Dia luapkan semua kekesalan hatinya.


"Kau marah karena itu?!" sahut Clarence. "Aku hanya berteman dengan mereka. Aku membantu mereka belajar. Tidak lebih!"


"Aku juga melakukan yang sama dengan Jesse!" Merylin tetap tak mau kalah.


"Kau... kau..." Clarence bingung tidak tahu mau bilang apa. Dia kepalkan tangan menahan panas hatinya.


Melihat itu Merylin makin emosi.


"Kamu mau memukulku?" Merylin menatap Clarence. Wajahnya merah padam karena marah. "Lakukan! Aku cuma gadis desa yang bodoh dan tidak tahu diri. Dan kamu, prajurit utama negri ini, calon raja bangsa ini, kau punya kekuatan untuk berbuat apa saja yang kamu mau."


"Aku bukan Clarence! Pangeran itu sudah mati! Aku Clark! Aku hanya pemuda hilang ingatan, tak tahu asal usulku.. Aku hanya punya Tuhan dan diriku yang entah sampai kapan tak ingat apa-apa... aku.. ah... kepalaku.. ah.." Clarence merasa pusing luar biasa, sakit sekali kepalanya. Kedua tangannya memegangi kepalanya.


"Clark?! Clark?! " Merylin memegang bahu Clarence. Dia nampak sangat kesakitan. "Oh, Tuhan... Kita pulang sekarang."


Merylin berlari ke arah Snowy. Dia tunggangi kuda itu menghampiri Clarence dan membantunya naik di belakang punggungnya. Lalu secepatnya dia memacu Snowy, pulang.


Sampai di rumah, ibu dan ayah menolong Clarence. Dia dibaringkan di ranjangnya. Ibu membuatkan air hangat untuk Clarence.


Merylin duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur. Dia cukup cemas dengan keadaan Clarence.


"Apa yang kalian pertengkarkan? Tidak bisakah bicara baik-baik? Lihat hasilnya.." kata ayah.


"Clark tidak bisa terlalu tegang. Sakit di kepalanya belum sepenuhnya sembuh. Aku malah kuatir kalau begini. Kalian lupa pesan dokter Jonah?" tambah ayah.


"Maafkan aku, Ayah. Aku tak bermaksud membuat Clark sakit lagi." Merylin berkata pelan. Dia mengusap matanya yang masih sesekali basah dengan air mata.


"Sudahlah... Clark sudah tenang sekarang." Ibu mengelus rambut Merylin.


Lalu ayah dan ibu meninggalkan mereka berdua. Merylin mendekati Clarence yang terbaring di tempat tidurnya. Kepalanya masih sedikit pusing. Tapi sudah jauh lebih baik.


"Clark, maafkan aku... aku tidak membencimu. Aku hanya marah padamu." kata Merylin. Dia membalikkan badan hendak keluar kamar.


Clarence menangkap tangan Merylin. "Merl..."


Merylin kembali menghadap Clarence, membiarkan Clarence memegang tangannya.


"Aku juga minta maaf... Aku tak seharusnya marah padamu." kata Clarence pelan.


Merylin mengangguk. Mata mereka beradu. Kali ini tidak ada marah lagi. Hati Merylin lagi-lagi meletup-letup ditatap seperti ini. Mata itu, sama dengan yang ada di mimpinya, sama dengan yang dia lihat di balai kota malam itu. Dia tak pernah bisa lupa hal itu.


"Merl.." melepas tangan Merylin, mencoba duduk. Tidak terlalu pusing lagi.


Dia menarik lagi tangan Merylin, sekarang kedua tangannya. Dia membuat Merylin bergeser maju dua langkah. Sekarang mereka berhadapan sangat dekat. Makin keras detak jantung Merylin, meronta.


"Aku mencintaimu.." bisik Clarence. Mata itu menatap dalam ke mata Merylin. Terlihat dia ucapkan itu dengan sungguh-sungguh. Tanpa bicara lagi mereka terus berpandangan.


Merylin kaget. Wajahnya langsung merona dan merah. Dia lepaskan tangan Clarence dan lari keluar, pergi ke kamarnya. Merylin merasa tak karuan.


"Dia mencintai aku? Ya Tuhan... Dia mencintai aku?" Merylin masih tak percaya mendengar kata-kata Clarence barusan.


Dan Merylin menyusuri perasaannya sendiri. Dia juga mencintai Clarence. Ya, perasaan itu yang dia rasa terhadap Clarence si pangeran, sama dengan pria ini yang dia temukan di hutan, yang sekarang dia panggil Clark. Dia mencintainya.


"Mungkin benar, Clark yang sebenarnya aku impikan.. bukan Clarence.." bisik hati Merylin. Ada rasa bahagia menggelayut di sana.


Tapi jauh di dasar hatinya, dia melihat Clark adalah Clarence.


🌟🌟🌟


Sejak kejadian sore itu, Clarence dan Merylin lebih sering bersama. Merylin mengatakan jujur pada Jesse kalau dia dan Clarence saling menyayangi. Jesse mengerti tentang itu. Mereka tetap berteman baik. Clarence dan Jesse bahkan sekarang juga berteman baik.


Sebaliknya Merylin malah merasa ada rasa kikuk dan malu jika berdua dengan Clarence. Makin berdebar jantungnya jika Clarence menatapnya. Tapi Merylin tak berani mengungkapkan perasaan itu. Dia bersikap setenang mungkin dan berusaha menikmati hari-hari seperti sebelum hari pertengkaran itu.


Siang itu, selesai kebaktian Minggu, Pastor Charles meminta Clarence dan Merylin tinggal di gereja. Dia minta mereka menyiapkan puisi yang akan dibacakan anak-anak pada hari ucapan syukur.


Ruang atas gereja digunakan untuk tempat berlatih, rapat, dan juga belajar. Ada rak buku besar menempel di dinding. Sebagian besar buku pribadi Charles. Melihat rak buku yang besar, Clarence sangat senang. Dia melihat-lihat judul buku di rak itu. Dia memperhatikan baik-baik topik buku yang ada. Entah kenapa dia selalu tertarik membaca buku-buku.


Clarence mengambil satu buku tebal yang terlihat agak tua. Buku itu berjudul "The King Wisdom."


"Aku pernah membaca buku ini..." katanya. Seperti mengingat sesuatu. ".. di ruangan besar.. dan megah..."


"Ya, Clark?" tanya Charles. Karena suara Clarence pelan, dia tak mendengar jelas.


"Ya, aku pernah membaca buku ini." katanya lagi. Lalu dia memandang sekeliling. Ia melihat Merylin yang berdiri di dekat jendela melihat keluar.


"Aku benci Marelina." ucap Clarence. "Aku benci Marelina." matanya tetap menatap ke arah Merylin.


Merylin menoleh, dia mendengar apa yang Clarence katakan. Dia mendekat dan mendongak menatap wajah Clarence. Ada tatapan aneh di sana.


"Kau benci aku?" ujar Merylin. "Aku memang pantas kamu benci. Aku cuma gadis desa yang bodoh. Kau pangeran negri ini. Kau punya jubah indah, mahkota yang berkilau, kuda putih yang gagah, dan kau punya segala kemewahan yang tak pernah aku punya."


Clarence memandang Merylin yang berdiri di depannya. Dia seperti mencoba mengingat sesuatu. "Aku... rasanya dekat dengan hal-hal itu... Jubah.. mahkota... kuda putih.."


"Yang mulia..." kata Merylin. Dia masih memandang wajah Clarence yang gamang.


"Yang mulia..." Clarence mengulang kata-kata Merylin. "Sering kudengar... ah... kepalaku..."


"Clark.. jangan dipaksa.." Charles memegang bahu Clarence. "Sepertinya perlahan kau mulai ingat masa lalumu. Aku rasa siang ini kita berdoa untuk pemulihanmu."


Charles berlutut di sisi kursi. Merylin dan Clarence mengikutinya. Bertiga mereka berdoa dipimipin Charles meminta Tuhan menyentuh kepala Clarence dan membuat dia ingat kembali semua hal tentang dirinya.


Selesai berdoa, mereka akan melanjutkan kegiatannya, dari terdengar lonceng gereja berbunyi dengan keras. Pasti ada pengumuman penting. Mereka mendekat ke jendela melihat keluar. Ada serombongan pasukan kerajaan sedang mengumumkan sesuatu. Mereka tidak bisa mendengar dengan cukup jelas.


"Aku sering melihat mereka berlatih di halaman belakang istana yang luas." Tiba-tiba kata-kata itu meluncur dari mulut Clarence.


"Apa, Clark?" sahut Merylin.


"Ah.. entahlah.." Clarence bingung. Bayangan pasukan, istana, lalu menghilang. Dia bingung.


Muncul seorang anak kira-kira umur 8 tahun ke ruang itu.


"Pastor, ada pengumuman." katanya. Dia menarik lengan Charles. "Raja Patrick sakit keras. Istana meminta seluruh negri berdoa dan puasa satu bulan untuk kesembuhan Raja Patrick."


"Ya, Tuhan.." Charles terkejut dengan kabar ini. "Baiklah.. Trimakasih, Thomas."


Anak itu mengangguk lalu keluar lagi.


Merylin juga sangat terkejut dengan kabar ini. Apakah kehilangan Clarence membuat raja sakit? Apakah dia tak bisa terima kenyataan yang terjadi?


"Ada apa dengan negri ini? Pangeran Clarence mengalami tragedi, lalu sekarang Raja Patrick sakit." gumam Charles.


Dia menoleh pada Clarence dan Merylin. "Clark, Merylin, ambil kertas dan tinta. Aku akan menuliskan pengumuman itu."


Merylin mengambil kertas besar dan tinta. Kemudian Charles menuliskan pengumuman. Setelah itu dipasangnya di papan pengumuman di depan gereja. Hati Merylin sangat tidak enak dengan kabar ini. Seluruh negri Goldy Star juga pasti. Karena Raja Patrick sangat bijak dan dicintai rakyatnya.