
"Ketopongmu.." kata Ratu Felicia.
Secepatnya Clarence mengambil ketopong dan mengenakannya lagi di kepalanya. Dia berdiri tegak agak jauh dari ranjang.
"Masuk!" kata Felicia. Seorang prajurit masuk ke kamar.
"Hormat, Yang Mulia." prajurit itu memberi hormat. "Jenazah Yang Mulia Raja Patrick akan segera diberangkatkan."
"Trimakasih, Dominique. Aku tidak ikut, aku tidak sanggup rasanya. Aku akan tetap di sini." kata Felicia.
"Baik, Yang Mulia." jawab Dominique.
"Dominique, ini aku.." batin Clarence. Dia juga rindu pada prajurit yang setia ini. Andai keadaannya berbeda, dia pasti sudah berlari memeluk Dominique.
"Biarkan dia menjaga aku di sini. Dan aku tak ingin diganggu." kata Felicia, suaranya masih agak gemetar.
"Baik, Yang Mulia." Dominique memberi hormat lagi, kemudian meninggalkan ruangan itu.
Begitu pintu ditutup Clarence kembali melepas ketopongnya dan duduk di sisi Felicia.
"Ibu, aku sangat merindukan ibu." Kata Clarence. Dia pegang kedua tangan ibunya.
"Air mataku belum kering meratapimu. Sekarang kamu kembali ada di hadapan ibu. Apa yang terjadi padamu?" tanya Felicia.
"Selama ini aku tinggal di Greenpines, di bukit kecil tak jauh dari Snowpines. Aku tinggal dengan keluarga yang sangat baik." jawab Clarence.
"Kenapa kamu tidak pulang? Henry bilang kamu diterkam binatang buas?" Felicia menatap Clarence dengan heran.
"Ibu, kenapa ayah tiba-tiba sakit?" Clarence tidak menjawab.
Felicia menatap Clarence. Dia menarik nafas panjang. "Entahlah... tiba-tiba dia menjadi lemah dan tidak bisa melakukan banyak hal. Dokter menyuruh dia istirahat saja. Dokter berkata ini semacam sakit langka. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa begitu."
Clarence memperhatikan wajah ibunya yang masih sedih dan tidak mengerti apa yang terjadi.
"Sejak itu, Henry mulai menguasai istana. Dia merubah beberapa hal yang dia anggap kurang bagus dan dia atur dengan caranya sendiri. Kota raja jadi mulai berantakan. Bahkan sekarang merebak ke daerah yang lain. Aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Aku terus saja di sisi ayahmu. Dia tak mau aku meninggalkan dia."
Felicia menepuk bahu Clarence. "Kamu harus berbuat sesuatu, Clarence. Apalagi sekarang, dia dekat dengan Marelina. Gadis itu dulu mengejar kamu. Dan setelah kamu tidak ada, dia mendekati Henry. Dia genit dan tidak tahu malu. Ibu tak ingin negri ini dipimpin orang yang tak punya hati buat rakyat."
Clarence menatap ibunya.
"Ibu senang sekali kamu pulang. Kamu masih hidup. Ini artinya kita bisa meluruskan semua yang telah menyimpang karena keputusan Henry."
"Ibu, aku tidak bisa." kata Clarence. "Aku bukan Clarence. Aku Clark sekarang. Aku hanya pemuda biasa dari Greenpines."
"Apa maksumu?" wajah Felicia menatap Clarence dengan bingung. "Apa arti semua ini?"
"Hari itu, saat aku dan Henry pergi berburu... " Clarence akhirnya menceritakan apa yang terjadi dengannya hingga semua orang berpikir dia mati diterkam binatang buas seperti yang Henry katakan.
Empat bulan ini, dia hilang ingatan, sehingga tidak bisa pulang ke istana. Begitu dia ingat dia juga tidak ingin kembali ke istana. Situasinya sangat sulit sekarang.
Ratu Felicia mendekap dadanya kuat. Rasanya semua yang dia dengar semacam dongeng omong kosong.
"Oh Tuhan... Henry.... bagaimana bisa dia sejahat itu?" ratu Felicia sangat hancur hatinya. Dia menyayangi Henry. Dia menganggap Henry adalah putra pertamanya.
"Clarence, kita tak bisa biarkan Henry memimpin negri ini. Dia akan menghancurkan semua yang dibangun nenek moyangmu, yang dijaga ayahmu." kata Felicia.
"Tidak, Bu. Aku tak mau berkelahi dengan Henry. Dia kakakku. Dan, aku adalah Clark." tolak Clarence.
"Bu, aku sayang Henry." bantah Clarence.
"Kamu pikir aku tidak?" balas Felicia cepat. "Aku menggendong dia di tanganku sejak dia bayi. Aku membesarkan dia sama seperti yang kulakukan padamu."
"Aku tidak bisa, Bu. Aku tidak bisa. Dia anak sulung ibu, dia berhak menjadi raja negri ini juga." Clarence menggeleng. "Ibu, Clarence sudah mati."
"Kamu benar." Felicia menatap Clarence dengan marah dan sedih.
"Clarence sudah mati. Kamu memang bukan anakku! Kamu Clark. Dengar baik-baik, aku tidak akan membiarkan negri ini dipegang oleh tangan yang jahat. Aku tak mau rakyatku menderita karena seseorang yang ingin berkuasa hanya karena iri hati dan ambisi. Bahkan nyawaku aku rela serahkan demi rakyat yang aku cintai! Keluar kamu dari sini!" Felicia menatap Clarence dengan air mata yang hampir tak dapat dibendung lagi. Dia turun dari ranjang dan menunjuk ke arah pintu.
"Ibu??" Clarence terperangah. Clarence ikut turun dan berdiri di sisi ranjang yang lain.
"Keluar.. Sekarang.." suara Felicia merendah.
Clarence mengambil ketopongnya, memakainya di kepala, keluar kamar ibunya. Dia masuk ke kamarnya dan menangis di sana. Dia terduduk lemas bersandar pada lemari besar di kamar itu.
Sedang di kamarnya, Felicia menutup dan mengunci pintu. Dia menjtuhkan diri di ranjang. Menangis tanpa suara, tapi hatinya hancur. Tubuhnya terasa lemas dan lunglai meratapi lukanya yang makin dalam.
"Tuhan, kenapa putraku seperti ini? Kenapa dia tak mau berjuang demi negri yang dia cintai? Kenapa?" hatinya menjerit.
"Apa salahku? Mengapa Henry bisa begitu jahat? Aku dan Patrick mencintai dia sepenuh hati seperti pada putra kami sendiri... Sekarang aku harus melawannya... Ya Tuhan..." Felicia hanya bisa menangis memikirkan semua ini.
"Patrick, seandainya kau masih di sini, seandainya kau tidak sakit... seandainya, ah.. semua kebahagiaan itu tercabut begitu cepat..." Felicia menatap dinding kamarnya. Ada lukisan dirinya dan Patrick di sana. Semakin teriris rasa hatinya.
"Tuhan... kuatkan aku.. kuatkan aku menghadapi ini... Aku harus bangun dan berdiri... aku harus kuat.." antara sedih dan kecewa, antara marah dan keinginan untuk berjuang, berputar di kepala Felicia. Dia benar-benar merasa sendiri.
Clarence masih duduk bersandar di dinding lemari di kamarnya. Pedih sekali hatinya. Dia datang untuk melihat ayahnya. Sekarang dia melihat kekacauan besar yang sedang menunggu di ambang pintu perjalanan Goldy Star. Apakah dia harus bertahan di istana? Atau dia akan kembali ke Greenpines?
Dia ingat Merylin. Senyumnya yang membuat dia bahagia dan tenang. Wajahnya yang lembut dan membuatnya merasa teduh. Apa yang akan Merylin katakan jika dia tahu semua ini?
🌟🌟🌟
Merylin berada di balkon rumah Pastor Charles. Dia bertemu Charles dan istrinya seusai ibadah pagi ini. Hatinya masih gundah memikirkan bagaimana keadaan Clarence sekarang.
"Merl, kalau aku tak mengenalmu dengan baik, kalau kau bukan putri bagiku, rasanya tak mungkin aku percaya apa yang kamu ceritakan." Arvella menyentuh lengan Merylin.
"Itu yang sebenarnya, Bu." ucap Merylin.
"Kami percaya padamu, Nak." ujar Charles. Dia tepuk bahu Merylin pelan. "Sejak awal kau ceritakan mimpimu, ada pertanyaan besar di hatiku tentang kamu. Apakah ini hanya luapan emosi semata atau sesuatu yang Tuhan mau kerjakan dalam hidupmu. Saat ini mulai jelas semuanya."
"Pastor percaya padaku?" tanya Merylin.
"Ya, Nak... tentu saja." Charles mengangguk mantap.
"Aku juga percaya." tiba-tiba seseorang muncul di belakang mereka. Mereka menoleh ke arah pintu.
"Jesse?" Merylin terkejut.
Jesse masuk ke ruangan itu dan duduk di sebelah Charles. "Maafkan aku. Aku tak bermaksud menguping. Aku memang ingin bertemu Pastor. Tapi ternyata aku mendengar kabar besar ini. Aku percaya bahwa Clark adalah Pangeran Clarence. Dia ternyata tidak pernah mati diterkam binatang buas."
"Jesse, jangan ceritakan kepada siapapun tentang ini." ujar Merylin.
"Aku tahu. Orang akan menertawakan aku jika aku mengatakannya." Jesse memandang Merylin. "Aku akan mencari Clark ke kota raja."
"Kamu? Untuk apa?" Merylin menatap Jesse tak mengerti.