
Olivia dan Anastasia masih menunggu Felicia berbicara. Wajahnya yang anggun tak bisa menyembunyikan kepedihannya setelah semua tragedi di istana ini.
"Aku senang kamu menanyakan ini. Aku butuh teman untuk bicara." kata Felicia. Dia tersenyum tipis.
"Kehilangan bertubi-tubi, sungguh berat. Suamiku, pria yang sangat aku cintai. Pria yang sangat mengerti aku. Pergi dengan cara yang menyakitkan. Ah... siapa yang tahu.." Felicia mendesah.
"Benar. Kami juga sangat berduka mengetahui kenyataan yang terjadi. Kami sangat mencintai raja, Yang Mulia." ucap Olivia.
"Yang Mulia, saya turut berdukacita dan menyesalkan apa yang terjadi dengan Raja Patrick dan Pangeran Henry." kali ini Anastasia bicara.
"Hm.. Henry..." Felicia menggeleng. "Masih tak habis pikir, dia bisa melakukan semua itu. Berusaha membunuh Clarence, setuju meracuni raja, karena merasa kami tidak menghargai dia sebagai anak dalam rumah ini. Bagaimana mungkin dia bisa berpikiran seperti itu." Terdengar suaranya masih gundah.
"Namun Tuhan sayang Goldy Star. Dia menyelamatkan Pangeran Clarence." kata Olivia.
"Kau benar. Putraku selamat, itu sebuah keajaiban. Tidak ada cacat tubuh, hanya bekas goresan pedang Henry di lengannya." ucap Felicia.
"Pangeran akan menjadi raja yang hebat." kata Anastasia.
"Hm.. tentu.. itu harapan kita semua." Felicia tersenyum. "Kita akan menata kembali negri ini agar kedamaian mengalir dan sisa kepedihan tragedi ini segera berlalu."
"Jika menjadi raja, apakah Pangeran Clarence tidak segera mencari pendamping, Yang Mulia?" Olivia memberanikan diri bertanya.
Felicia tersenyum. Dia sangat tahu maksud pertanyaan Olivia. Dia melihat wajah merona dari Anastasia saat ibunya menanyakan ini.
"Pasti. Seorang raja harus mempunyai pendamping yang akan mendukung dia jadi pemimpin yang baik." kata Felicia.
"Apakah Yang Mulia sudah memikirkan siapa yang dapat mendampingi Pangeran nanti?" lanjut Olivia.
"Olivia, selama ini putraku itu baik dengan semua orang. Dia bisa dekat dengan siapa saja. Satu sisi aku senang karena dia menghargai orang lain dan menerima mereka apa adanya. Di sisi lain, itu membuat banyak gadis merasa dia punya perhatian lebih pada mereka." Kembali Felicia menyunggingkan senyumnya.
Olivia dan Anastasia memandang Felicia. Mereka ingin penjelasan lebih jauh.
"Bukan aku yang memilih pendamping untuknya. Dia sudah punya pilihan. Seorang gadis yang luar biasa. Aku berharap bisa segera melihat putraku membawa gadis itu ke hadapanku." ujar Felicia.
"Ooh... iya.. begitu..." agak terkejut Olivia mendengar ini.
"Nanti dia akan memanggil gadis itu. Sekarang Clarence masih memikirkan hal lain yang berurusan dengan kerajaan. Dia ingin semua sudah kembali baik saat penobatannya." jelas Felicia.
"Saya mengerti, Yang Mulia." Olivia mengangguk.
Sampai beberapa waktu mereka masih berbicara bersama. Karena angin makin kencang, Felicia memilih masuk ke dalam istana. Olivia dan Anastasia berpamitan.
"Ibu, kira-kira siapa yang dipilih pangeran?" ujar Anastasia sementara mereka menuju rumah. Mereka tinggal masih di lokasi area kerajaan.
"Ibu juga tidak tahu. Selama ini Pangeran Clarence belum pernah dekat hanya dengan satu gadis. Dia ramah kepada semua. Bahkan seperti tidak memikirkan pendamping untuknya. Aku agak terkejut waktu Ratu Felicia berkata dia sudah mempunyai pilihan." jawab Olivia.
"Apa mungkin aku terpilih, Bu?" tanya Anastasia.
"Itu sulit untuk dipastikan, Ana. Tapi kamu masih punya waktu untuk mencuri perhatian Pangeran Clarence. Istana masih masa berduka. Jika kamu menunjukkan simpati dan perhatian yang begitu besar, siapa tahu Pangeran Clarence bisa memandang kamu." jawab Olivia.
"Jika ternyata dia memilih gadis lain?"
"Kita tidak tahu hari esok. Berusaha saja yang terbaik. Buktikan cintamu yang besar padanya." jawab Olivia.
"Iya, Bu." Anastasia mengangguk.
🌟🌟🌟
Rumah kecil itu mulai terllihat temaram. Hari hampir gelap. Lampu di dalam rumah telah menyala. Di luar udara begitu dingin. Kembali angin meniup dengan keras.
"Hhuhhffhh..." Merylin mendesah. "Mencintaiku? Mungkin ketika menjasi Clark, iya. Setelah kamu kembali menjadi pangeran, apa masih mungkin?"
Merylin merapatkan mantelnya. Melihat ke padang, seperti melihat dirinya dan Clarence ada di sana. Berlarian sambil tertawa. Lalu bergulingan di rerumputan. Duduk menikmati cantiknya alam hingga senja datang. Naik ke punggung Snowy berdua, dia menggenggam tangan Merylin sedangkan sebelah tangannya memegang tapi kekang kuda.
"Aku rindu, Clarence. Sangat rindu. Hampir dua bulan kamu pergi. Kamu belum kembali." bisik Merylin.
"Merl... masuk, Nak. Makin dingin di luar." panggil Margareth pada putrinya.
"Ya, Bu." jawab Merylin. Dia membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ibu buatkan teh jahe untuk kamu. Minumlah." Ibu menyodorkan secangkir teh jahe hangat pada Merylin.
"Trimakasih, Bu." jawab Merylin. Dia teguk beberapa kali. Ya, terasa hangat di lehernya.
Merylin duduk di ruang depan, tapi matanya memandang keluar. Langit benar-benar hampir gelap sekarang.
"Bagaimana di sekolah? Tinggal bulan ini dan kamu akan selesai sekolah. Lulus." ujar Margareth.
"Ya, Bu. Dua minggu lagi semua selesai. Aku justru sedih." kata Merylin.
"Hmm... kamu masih ingin sekolah?" tanya Ibunya.
"Ya... aku suka belajar. Banyak hal yang aku dapat dengan belajar. Setelah ini aku akan tinggal di rumah saja. Pasti aku bosan." jawab Merylin.
"Bagaimana kalau kamu membantu Ms. Anderson?" ayah muncul dari kamar, duduk di sebelah Merylin.
"Maksud ayah?" Merylin melihat ayahnya.
"Di pasti senang ada yang menolongnya di sekolah." jawab Albert.
"Kurasa ayah benar." Merylin tersenyum. "Aku akan bicara dengan Ms. Anderson besok."
"Hm... bisa saja kamu diminta bantu kelas yang kecil. Dengan siapa? Ms.. Lawrence?" Margareth melihat Merylin.
"Ya, Bu. Aku akan coba bantu di kelas mana saja. Nanti aku akan putuskan paling suka kelas yang mana." kata Merylin bersemangat.
Albert dan Margareth tersenyum. Mereka sangat mengerti hati Merylin yang rindu kepada pangeran yang dicintainya Tapi sampai hari ini pangeran itu tak memberi kabar apapun. Apa yang bisa dibuatnya? Mereka hanya rakyat jelata. Datang ke istana sama dengan cari mati. Jika bukan pihak istana memanggil siapa yang akan berani menghadap? Hanya mereka yang terlibat dalam pemerintahan dan masih ada di lingkaran istana yang punya hak khusus seperti itu.
"Baiklah. Habiskan rotimu, kamu pasti lapar." kata Margareth. Dia menyodorkan piring dengan roti isi di atasnya.
"Trimakasih, Bu." Merylin mengambil roti dan memakannya. Dia mengalihkan pikirannya pada urusan sekolah.
Ya, daripada hanya terpaku mengenang pangeran yang entah kapan akan mengingatnya, dia lebih baik memikirkan hidupnya sendiri.
"Aku kenyang sekali. Aku mau istirahat sekarang. Selamat malam, Yah, Bu." Merylin memeluk dan mencium kedua orang tuanya.
Kemudian dia masuk ke dalam kamarnya. Dia mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Dia duduk di pinggir ranjang berlutut dan berdoa.
"Tuhan, syukurku penuh di hadapan-Mu. Negeri ini telah Kau jauhkan dari ancaman kejahatan. Kedamaian kembali Kau hadirkan. Pimpin dan tuntun Clarence untuk menjadi raja yang mencintai rakyatnya. Sekalipun dia tak ingat aku lagi, aku tak menyesal pernah hadir dalam hidupnya. Aku tak menyesal pernah mengenal dia. Trimakasih untuk semuanya. Amin."
Merylin merebahkan diri di ranjang. Dia pejamkan mata. Dan senyum yang dia rindukan itu muncul kembali.
"Clarence... aku masih menunggumu.. tapi jika kita tak mungkin bersama... aku harus menata kembali hatiku..." bisiknya.
Bulan di langit hanya nampak samar. Sementara bintang bahkan takut-takut menunjukkan diri. Dan rumah kecil itu tenggelam dalam kelam malam, menanti fajar akan segera mengganti...