Life Goes On

Life Goes On
33 - Berjanji Bersama Selamanya



Pagi datang. Matahari bersinar cerah. Kota kecil Snowpines bergembira dan bersukacita. Calon raja negri ini akan menorehkan satu langkah hidupnya di kota ini. Dia memilih melangsungkan pernikahan bukan di kota raja, tapi di kota cantik, kota kelahiran mempelai wanitanya.


Semua persiapan cukup singkat. Clarence ingin semua sederhana saja, tidak perlu pesta besar. Yang paling penting baginya, dia bisa memulai hidup baru dengan gadis cantik yang luar biasa itu, Merylin.


Jam 9, Merylin hampir selesai berdandan. Dengan gaun putih hadiah dari Clarence, dia menatap dirinya di cermin. Ya ampun... pas sekali di tubuhnya. Mewah, berkelas, namun tidak berlebihan. Dengan riasan yang simple, menonjolkan kepribadian Merylin yang juga sederhana.


"Tidak biasa begini, Nona. Kalau acara pesta anggota keluarga kerajaan, biasanya total. Ini sederhana sekali. Pangeran Clarence memang beda dengan umumnya orang istana." kata pelayan yang merias Merylin.


"Pangeran mengerti aku. Aku tidak biasa dengan hal-hal mewah. Jadi dia mau aku nyaman." jawab Merylin.


"Kalian memang serasi." ujar pelayan itu. "Sudah, siap. Tak lama lagi aku harus memanggil Yang Mulia padamu."


"Aku pasti sulit membiasakan diri.." Merylin tersenyum. "Trimakasih banyak bantuannya."


"Senang membantu, Nona. Saya kenal duluan dengan calon permaisuri. Ini kebanggaan buat saya." ucapnya sambil memberi hormat.


Ya, nanti Merylin harus terbiasa menerima hormat seperti itu. Aneh rasanya...


Terdengar ketukan di pintu. Ibu masuk. "Oh Tuhan... putriku cantiknya..." mata ibu berbinar memandang Merylin naik turun, terpesona.


Merylin kembali tersenyum. "Ibu..."


"Kamu sudah siap?" tanya Margareth.


"Iya, baru selesai." ujar Merylin.


"Ini buket-nya jangan tertinggal." Pelayan itu memberikan rangkaian bunga rumput yang cantik. Tak ketinggalan bunga warna biru keunguan kesukaan Clarence. Merylin tersenyum melihatnya.


"Ini juga pesanan Pangeran Clarence. Dia tak mau bunga taman yang mahal. Dia mau bunga rumput wajib degan yang warna biru keunguan ini." tambah pelayan itu. "Aneh menurutku.. Ini pernikahan calon raja lo..."


"Ya.. ada kenangan kami dengan bunga ini. Makanya dia mau bunga ini ikut hadir di hari istimewa kami." ucap Merylin.


"Ah.. begitu rupanya..." pelayan itu manggut-manggut.


"Ayo, Sayang... mereka sudah menunggu. Kita akan menuju gereja di sebrang balai kota ini." kata Margareth.


"Iya, Bu..." Merylin menarik nafas dalam. Tegang sekali rasanya. Entah bagaimana orang-orang akan melihatnya nanti. Dia tetap harus tenang, mengangkat kepala, dan tersenyum.


Bersama ibu, Merylin turun ke lantai bawah. Ada ayah, Mr. Thompson dan istrinya. Juga Mr. Randall dan istrinya. Mereka ayah minta menjadi pendamping keluarga mereka.


Semua terpana melihat Merylin. Dia sangat berbeda. Karena selama ini dia jarang sekali berdandan. Karena itu sedikit saja wajahnya dipoles dia membuat pangling saja orang di sekitarnya.


"Merl... kamu hebat..." Nyonya Thompson dan Nyonya Randall sampai menitikkan air mata melihat Merylin. Mereka tak menduga ini yang terjadi pada gadis baik hati tetangga mereka.


Saat kecil Merylin sering datang ke rumah mereka, membantu apa saja. Kadang hanya ingin minta kue lalu pulang. Sekarang dia wanita dewasa yang anggun dan sangat menawan. Bahkan mampu menawan pangeran negri mereka.


"Trimakasih.." senyum Merylin mengembang.


Albert menuntun putrinya. Dia merasa sangat bahagia dan penuh haru. Akhirnya hari itu terjadi juga. Dia akan melepas putri tunggalnya menjadi istri seorang pria. Betapa luar biasa jalan Tuhan bagi putrinya, pria itu adalah calon seorang raja.


"Kita berangkat, Sayang..." ucap Albert. Dia ingin mencium Merylin di pipinya tapi takut merusak make up di wajah Merylin.


"Iya, Ayah." Merylin memegang lengan ayahnya.


Mereka keluar balai kota. Kereta kuda yang indah menanti di depan. Mereka naik dan bergerak perlahan menuju gereja yang berjarak hanya kira-kira 500 meter saja.


🌟🌟🌟


Gereja kota Snowpines tidak terlalu besar, tetapi cukup indah dengan bangunan yang khas. Pagi ini menjadi saksi hidup Pangeran Clarence mengucapkan janji setia dengan kekasih hatinya, gadis sederhana dari kota kecil itu.


Dengan senyum bahagia Merylin menyambut uluran tangan Clarence, menggandengnya dan berjalan bersama menuju altar. Pastor Charles menanti mereka dan memimpin upacara pernikahan hari itu.


Di hadapan keluarga, tamu yang hadir, dan di hadapan Tuhan, janji suci diucapkan. Mata Merylin berkaca-kaca. Tangannya begitu dingin dan dadanya berdebar ketika dia mengucapkan janjinya. Sepenuh hati dia berdoa, agar Tuhan akan mampukan dia mendampingi pangeran impiannya itu. Sebab dia sangat sadar berada di sisi seorang raja adalah tugas dan tanggung jawab yang besar. Dia bukan hanya milik Clarence, tapi milik seluruh negri.


Clarence dengan senyum bahagia berjanji akan setia dan mencintai Merylin. Dia ucapkan dengan hatinya. Dia tahu, Merylin masih perlu banyak dukungan, untuk siap di sisinya. Tapi dia yakin, Merylin pasti akan kuat apapun yang akan mereka hadapi.


Jesse, ikut tersenyum lega. Meski cintanya tak terbalas, dia bahagia untuk Merylin. Orang tua Merylin, sang ratu, semua ikut bersyukur hari ini akhirnya terjadi.


Berita pernikahan pangeran langsung tersebar ke seluruh negri. Ke mana orang bepergian semua akan menceritakan peristiwa ini. Pasti rakyat penasaran, apa yang terjadi sehingga sang putra mahkota memilih gadis desa sederhana menjadi pendampingnya. Apalagi para putri di lingkungan istana. Terkejut bukan kepalang. Tidak salahkah pangeran? Ini cinta buta atau apa?


"Secantik apa gadis itu sehingga pangeran memilihnya?"


"Jangan jangan dia pakai ilmu sihir sehingga pangeran bisa tertarik padanya!"


"Pangeran pasti sedang kasmaran sesaat, dan tidak menyadari apa yang dia lakukan.."


"Lihat saja, berapa lama gadis itu sanggup bertahan di istana."


Banyak perkataan dan pikiran yang merebak. Di sisi lain, gadis-gadis sederhana mempunyai harapan yang terbuka untuk hidupnya.


"Jika Merylin bisa menaklukkan pangeran, pasti ada gadis sederhana lainnya yang bisa mendapatkan cinta dari pujaan hatinya meski berbeda derajat."


"Ah, aku pasti bisa mendapatkan hati anak perwira tinggi. Aku punya kesempatan itu."


"Apa salahnya aku anak jendral tapi menyukai putri juru masak istana?"


Riuh, ramai, cerita baik, pikiran tak senang, bercampur jadi satu di tengah rakyat dan kalangan pejabat. Namun, pernikahan telah berlangsung. Sejarah baru Goldy Star, sedang dimulai!


🌟🌟🌟


"Selamat datang di kastil Beauty Star." dengan menggandeng Merylin, Clarence mengajaknya ke teras kastil yang indah itu.


Merylin sungguh terpesona. Tak dia sangka, dia bisa berada di kastil yang sempat beberapa kali dia dengar keindahannya. Di bawah kastil terhampar padang luas dengan warna bunga kuning, putih, dan jingga. Yang dari jauh warnanya nampak keemasan seperti bintang bercahaya. Tepat namanya Kastil Beauty Star.


"Luar biasa cantik, Clarence..." Merylin masih menatap padang luas itu. Greenpines cantik, tapi bukit ini juga mempunyai keindahan yang menakjubkan.


"Ayo masuk. Aku lelah, ingin merebahkan tubuhku." Clarence memijat bahunya.


"Ya, ayo..." Merylin tersenyum.


Para pelayan dan prajurit yang berjaga di kastil itu menyambut mereka. Memberi ucapan selamat datang dan memberi hormat.


"Hanya kita berdua. Ada banyak pelayan dan prajurit di kastil ini. Tapi keluarga yang lain tidak ikut ke mari." kata Clarence. Dia menuntun Merylin naik ke lantai atas, menaiki tangga yang setengah melingkar.


Selangkah demi selangkah mata Merylin menengok ke sana sini, melihat keindahan kastil ini. Dia tak tahu harus bicara apa. Seperti masih bermimpi.


"Ini kamar kita. Mau lihat bunga di padang di luar?" Clarence berjalan ke arah balkon. Dia buka pintu di sana, ada balkon cukup luas, menghadap ke padang indah itu. Makin cantik dilihat dari atas. Dan istana sedikit nampak dari sini, meski sangat kecil.


Merylin makin terbengong. Dia pukul pipinya. Dia mengerjapkan matanya.


"Hei.... kenapa?" Clarence meraih bahu Clarence.


"Cubit aku." katanya pada Clarence.


"Apa, Merl?" Clarence heran dengan kata-kata Merylin.


"Cubit aku." ulangnya.


Clarence mencubit tangan Merylin. "Aaauuhhh..." Merylin berteriak lalu mengusuk tangannya.


"Kau tak bermimpi. Mau yakin ini bukan mimpi?" Clarence menghadapkan Merylin padanya. Dia pegang kedua bahu Merylin.


Merylin mengangkat kepala memandang wajah tampan di depannya. Clarence menciumnya. Kali ini dia tak lagi menahan hasratnya. Merylin sudah menjadi istrinya. Dia tidak mengijinkan Merylin menolak.


Terkejut, Merylin berusaha mendorong Clarence. Tapi tangan Clarence makin menarik Merylin mendekat ke dadanya. Merylin tak bisa bergerak. Dengan hati bergetar, Merylin pasrah. Dia mencoba menikmati ciuman Clarence. Ada rasa takut dan malu. Tapi dia tak menolak lagi.


"Aku cinta kamu... sangat.. kamu milikku sekarang... dan aku milikmu..." bisik Clarence. "Kita akan bersama selamanya, itu janjiku. Bersama saling mencintai, selamanya."


Wajah Merylin merona. Tapi hatinya berbunga. Rasanya banyak kerlip dan bintang bertebaran di atas kepalanya.


Mata mereka kembali beradu. Memandang sampai ke dasar, bukan sekedar memandang, tapi menyelami perasaan dan hasrat satu sama lain. Clarence mengangkat tubuh Merylin, membawanya ke ranjang luas, yang telah ditata begitu cantik, menikmati cinta membara yang memuncak di antara mereka.