
"Tolong... aku terluka.. aku di mana?" dia menatap Merylin. Dia mengernyitkan dahi menahan sakit. Ada darah mulai mengering di wajahnya.
"Apa yang terjadi denganmu, Pangeran?" tanya Merylin lagi.
"Aku.. aku..." Pria itu memegangi kepalanya. "Ah.. aku tidak tahu.. aku di mana?"
"Di hutan Greenpines, Yang Mulia." jawab Merylin.
"Kamu mengenalku? Kamu panggil aku pangeran?" dia memandang Merylin.
"Aku tidak mengenal kamu. Aku tidak tahu apa-apa tentang kamu. Aku cuma tahu kamu pangeran negri ini." jawab Merylin.
"Kita bertemu di balai kota seminggu lalu. Yang Mulia pasti tidak mengingat aku." lanjut Merylin.
"Balai kota?" Clarence kelihatan bingung.
"Ya.." Merylin mulai menjawab agak kesal.
"Tapi kenapa aku di hutan ini?"
"Yang mulia sedang ikut perburuan, bukan?" Merylin makin kesal. "Sudahlah... kamu butuh pertolongan sekarang."
Merylin memeriksa kepala Clarence. Masih ada darah mengalir. Merylin dengan kuat merobek roknya bagian bawah. Dia potong jadi dua lagi Satu bagian untuk membersihkan luka, satu bagian lagi untuk membalut luka.
"Apa kamu kenal aku hanya sebagai pangeran?" Clarence yang dari tadi memperhatikan Merylin sekarang bertanya lagi.
"Aku sudah bilang tadi." kata Merylin. "Ayo kita keluar dari hutan ini." Merylin mencoba memapah Clarence. Tapi badannya tinggi dan besar. Tinggi Merylin hanya sampai di pundak Clarence. Dia tak bisa menahan berat badan Clarence. Hanya beberapa meter dia tak mampu lagi. Sementara Clarence begitu lemah.
"Sebaiknya kamu tunggu di sini, aku akan panggil ayahku." Merylin berlari secepatnya menuju tempat ayahnya. Dia memberitahu dia menemukan pria terluka di hutan. Ternyata Foggy sudah bersama ayah. Merylin lega melihat anjing kecil itu.
Ayah kaget Merylin bilang menemukan pria terluka. Segera dia mengajak Merylin masuk ke hutan untuk menolong orang yang Merylin ceritakan. Ayah mengambil kereta kuda, Merylin sudah naik di sebelah ayahnya, dan segera Albert membawa mereka ke dalam hutan.
Kereta berhenti kira-kira 50 meter dari tempat pria tadi. Jalan lebih sempit, kereta tidak bisa masuk lebih jauh. Merylin meloncat dan dengan cepat mendekati Clarence.
"Ayah, dia pingsan!" seru Merylin.
Albert segera mendekati mereka. "Cepat kita bawa dia pulang. Lukanya cukup parah." Ayah mengangkat tubuh Clarence, menaikkannya ke atas kereta dan bergegas mereka menuju rumah.
🌟🌟🌟
Ayah memanggil dokter Jonah untuk memeriksa Clarence. Dengan teliti Jonah memeriksa, mengobati lukanya, menjahit bagian yang robek. Clarence terbangun saat lukanya dibersihkan karena terasa perih. Apalagi waktu dokter menjahit lukanya, dia merintih hampir menjerit menahan sakit. Merylin ngeri juga mendengar suaranya kesakitan.
Selesai dokter membantu merawat Clarence, ibu memberinya makan. Dia makan lahap dan banyak. Nampak dia benar-benar kelaparan. Entah apa yang terjadi dengannya hingga banyak luka begitu. Di tangannya seperti goresan senjata, pedang? Apa dia baru berkelahi? Dan satu hal mengejutkan dari Jonah.
"Albert, bisa kita bicara sebentar?" Jonah berjalan menuju ruang depan. Albert mengikutinya. Merylin berdiri tidak begitu jauh dari ayahnya. Sedang ibu masih di kamar menemani Clarence.
"Ada masalah dengan kepalanya. Dia mengalami benturan keras, aku kuatir dia terkena amnesia." kata Jonah.
"Penyakit apa itu, Dokter?" tanya Albert.
"Dia kehilangan ingatannya." Jawab Jonah. Albert dan Merylin menatap Jonah tak mengerti.
"Hilang ingatan? Seperti pikun?" Albert bertanya.
"Tidak. Ini bukan pikun. Aku akan memastikan perkiraanku benar atau tidak." Jonah kembali masuk ke kamar. Albert dan Merylin berdiri di dekat pintu.
Clarence memandang Jonah. Lalu menoleh ke Merylin yang berdiri di sisi ayahnya. Dia terlihat bingung.
"Aku... aku... tidak ingat, Dokter." jawab Clarence. Dia pegangi kepalanya.
"Apa yang terjadi sampai kamu terluka seperti ini? Apa kamu berkelahi dengan seseorang?" tanya Jonah lagi.
"Aku... aku..." Clarence terlihat makin bingung. "Aku.. kenapa aku tidak ingat apapun, Dokter? Ada apa dengan kepalaku?" Clarence terlihat panik. Dia menatap Jonah dengan wajah ketakutan. Dia pegang kepalanya dengan dua tangannya.
"Tenang, Nak... tenanglah.." Jonah memegang tangan Clarence. "Ya, saat ini kamu tak ingat apa-apa. Tapi pelan-pelan nanti kau bisa ingat lagi."
Clarence menarik nafas dalam. Dia berusaha menenangkan dirinya. Dia memilih memejamkan mata dengan tangannya dia tumpangkan di wajahnya.
"Aku pulang, Albert." pamit Jonah. Dia mengangkat tasnya dan berjalan keluar. Albert saja Merylin mengantar ke depan.
"Dokter, benarkah ingatannya akan segera pulih?" tanya Merylin.
"Terus terang, aku tidak tahu. Amnesia yang terjadi pada setiap orang berbeda. Ada yang dalam hitungan hari sudah pulih, ada yang perlu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun." jawab Jonah.
Albert dan Merylin berpandangan.
"Akan baik jika ada sesuatu yang dapat mengingatkan dia tentang dirinya. Peristiwa masa lalu atau orang yang dikenalnya." lanjut Jonah.
"Hmm.. kita tidak kenal dengannya. Ini akan sangat sulit." ujar Albert.
"Kita berdoa saja. Tuhan pasti punya maksud sama pria itu." tandas Jonah. Dia naik ke punggung kudanya dan segera berlalu meningggalkan rumah itu.
"Ya Tuhan, apa yang sebetulnya terjadi? Pria ini Clarence, kan? Aku ga mungkin salah." batin Merylin.
Albert dan Merylin kembali ke dalam rumah. Margareth keluar dari kamar tempat Clarence tidur.
"Albert, apa yang akan kita lakukan dengan pria itu?" tanya Margareth pada suaminya.
"Besok aku akan ke kota mencari keluarga yang kehilangan putranya. Siapa tahu pemuda itu sedang dicari." jawab Albert.
"Lalu kita panggil siapa dia? Dia harus punya nama, Albert." ujar Margareth.
Albert terdiam. Merylin dan Margareth menunggu Albert bicara. "Clark. Kita panggil dia dengan Clark saja. Itu nama kecil ayahku."
Sambil menunduk Merylin tersenyum tipis di ujung bibirnya. "Clark. Clarence, berubah jadi Clark." batinnya.
Margareth masuk lagi ke kamar, menyelimuti tubuh Clarence. "Nak, kami memanggilmu Clark. Kau tak keberatan, kan?"
Clarence menggeleng pelan. Ibu tersenyum. "Istirahatlah.. kau butuh banyak istirahat."
Clarence menutup matanya. Merylin menatapnya cukup lama dari dekat pintu kamar. Hatinya terus penuh tanya. Merylin hampir yakin, pemuda itu adalah Clarence, pangeran impiannya.
Seminggu lalu dia bertemu Clarence di balai kota. Pangeran tampan itu marah padanya. Sekarang, dia ada di sini, di rumahnya, terluka, hilang ingatan. Apa arti semua ini? Merylin rasanya tak sanggup bicara. Air mata terasa menggenang di ujung matanya.
Merylin menutup pintu kamar itu. Dia keluar rumah, menuju batu besar tempat dia biasa duduk dan merenung. Jauh di balik bukit, matahari mulai tenggelam. Langit merah cantik, dengan awan-awan yang juga terbias sinar menjadi merah, indah, bercampur sebagian warna biru langit masih tersisa.
"Kenapa begitu indah langit-Mu? Sedang di bumi banyak hal membingungkan yang aku alami." ucap Merylin lirih. Tak jauh di atasnya deretan burung terbang cepat melintas, mencari rumah untuk mereka tinggal dan bermalam.
"Clarence..." dengan lembut Merylin menyebut nama itu. Rasa hangat menyapa dadanya berubah menjadi debaran yang tak bisa dikendalikannya. Bahkan membayangkan saja hatinya tak karuan.