Life Goes On

Life Goes On
30 - Menghabiskan Waktu denganmu



Terdengar ayam bersahutan ketika pagi menghampiri. Merylin terbangun, mengusap mata dan wajahnya. Lalu bangun duduk di pinggir ranjang. Di luar masih gelap, tapi sebentar lagi langit akan mulai merah.


Merylin mendekati jendela, membukanya. Membiarkan angin dan udara luar masuk. Dingin menyusup membuat kulitnya merinding. Merylin mengambil mantel dan kembali berdiri di dekat jendela. Sudah lama dia tak menikmati menatap matahari muncul di balik bukit. Sebentar jika sudah lebih terang, dia akan keluar. Karena matahari akan tampak dari arah belakang rumahnya.


Terdengar suara dari dapur, suara ibu sibuk dengan peralatannya. Merylin ke dapur dan membantu ibunya. Pagi mereka hanya sarapan susu dengan kue kering. Jadi tak terlalu repot.


"Ibu, aku mau lihat matahari terbit." kata Merylin.


"Ya... pergilah.." Margareth melihat putrinya sebentar lalu mengaduk lagi minuman yang dia siapkan untuk Albert.


Merylin keluar rumah. Langit mulai terang, oranye, campur biru dan kemerahan. Cantik sekali. Merylin duduk di batu besar tempatnya bertengger jika menikmati keindahan alam di sekitar rumahnya. Batu itu masih basah karena embun, Merylin tak perduli. Karena roknya panjang dan tebal juga ditambah mantel di luar, maka tidak terasa basah di kulitnya.


"Setiap hari matahari tidak bosan menerangi bumi. Bahkan ketika mendung begitu pekat, mata manusia tak bisa melihatnya, dia tetap saja ada di sana." batin Merylin.


"Bumi juga tahu, matahari pasti akan muncul lagi esok hari. Sekalipun tak selalu terlihat, bumi tahu matahari tidak mungkin tidak membuka hari." lanjut hatinya.


"Seperti itu seharusnya kesetiaan. Tidak pernah lelah menanti. Ketika semua nampak abu, tak jelas, tak menentu, tetap melangkah dengan yakin, selalu ada hari baru. Selalu ada harapan." kesimpulan hatinya.


"Clarence... seharusnya aku seperti bumi, yang yakin matahari pasti datang setiap hari, menyapanya meski tak terlihat sinarnya. Dan kamu, akan selalu jadi matahari buatku." Merylin tersenyum.


"Merylin, mau bantu ayah?" Albert muncul dari pintu depan rumahnya.


Merylin menoleh ke ayahnya. Ayah akan memberi makan ternak mereka. Merylin berdiri dan mengikuti ayah ke samping rumah, sedikit ke sebelah belakang. Keduanya sibuk mengurus makanan dan memberi makan ayam, angsa, dan kuda mereka.


"Jam berapa Jesse akan datang?" tanya Albert.


"Aku tidak tahu. Kurasa tidak akan lama lagi. Karena kalau siang dia datang, tidak akan lama kami di telaga nanti." jawab Merylin.


"Jangan lupa bawa makanan dan minuman yang cukup." pesan Albert.


"Iya." ujar Merylin.


Selesai memberi makan ternak, mereka menimba air. Memenuhi semua tampungan air. Mereka akan pakai sampai besok pagi lagi.


"Sekarang bersiaplah. Bersihkan dirimu." kata Albert.


"Baik, Yah." Merylin masuk rumah lewat pintu depan. Dia pergi mandi dengan air hangat karena cuaca cukup dingin.


Masuk ke kamar, Merylin mengambil pakaian di lemarinya. Dia memilih yang simple dan ringan saja, karena akan beraktivitas di luar dengan waktu lama. Ketika sedang mengambil gaun coklat muda, dia tanpa sengaja menarik sekaligus gaun putih hadiah dari Clarence.


Dia taruh dan rentangkan di ranjangnya. Sangat indah. Tak bosan mengagumi gaun cantik itu. Diusapnya kainnya yang halus. Seumur hidup ini akan jadi gaunnya yang paling indah. Meski tidak tahu kapan akan dipakainya.


"Clarence..." bisiknya lembut. "Aku sangat sayang kamu."


Merylin masih mengusap-usap gaun itu. Dia tersenyum. Setidaknya ini kenangan manis dari Clarence buatnya.


Terdengar suara kuda mendekat. Merylin melongok ke luar jendela. Itu Jesse. Merylin segera berpakaian dan mengenakan bedak di wajahnya, menyisir rambutnya. Dia kepang di belakang kepalanya, agar dia lebih leluasa ketika berlarian di tengah rerumputan nanti.


"Merl... Jesse sudah menunggu." Margareth masuk kamar Merylin. Matanya langsung tertuju ke gaun di ranjang.


"Ini..." spontan tangannya menyentuh gaun itu.


"Aku tidak sengaja menariknya waktu ambil gaun yang kupakai ini. Nanti saja aku bereskan." kata Merylin.


"Ooh.." ujar Margareth lirih.


"Aku siap, Bu. Aku pergi dulu." Merylin menoleh pada Ibunya dan keluar kamar.


Margareth merasa pilu dan iba. Putrinya bagaimana mungkin akan melupakan pangeran itu. Sedang dia menyimpan gaun maha indah hadiah darinya. Sampai kapanpun setiap melihat gaun ini akan ingat pangeran itu berjanji akan kembali.


"Oh Tuhan..." bisa hati Margareth. "Tunjukkanlah maksud dan kehendak-Mu, biarkan putriku bahagia."


Di ruang depan.


"Hei, sudah siap berpetualang?" Jesse menyapa ramah dan ceria.


"Tentu. Ayo..." Merylin mendahului keluar rumah dengan menenteng keranjang di tangannya. Itu perbekalannya untuk makan siang.


"Kita pakai kudaku saja ya.." kata Jesse.


"Hmm? Aku akan ajak Snowy.." Merylin menolak. Dia lebih senang mengendarai kudanya.


"Bagaimana kalau kita berjalan kaki saja? Jadi kudaku aku tinggal di sini. Perjalanan ke sana hanya setengah jam. Tak masalah kan?" usul Jesse.


"Baiklah... jalan saja. Ayo.." Merylin setuju.


Keduanya melangkah menuruni bukit dan masuk ke lembah menyusuri jalan setapak menuju ke telaga dekat hutan. Sepanjang jalan berbincang dan bercanda. Masih sama seperti dulu, Jesse selalu menyenangkan. Tak ada habisnya dia bercerita tentang apa saja. Merylin hanya sesekali menimpali. Jika Jesse bertanya dia akan menjawab.


"Lihat... bunga itu cantik sekali, biru berpadu ungu.." Jesse menunjuk bunga rumput yang mereka lewati.


"Iya.. sangat cantik." Merylin tersenyum. Bunga rumput yang sama yang pernah Clarence petik dan berikan padanya.


"Kau tak petik bunga?" tanya Jesse.


"Nanti kalau mau pulang. Aku petik sekarang dia layu duluan sebelum kita pulang." jawab Merylin.


"Baiklah..." Jesse tersenyum.


Masih beberapa menit berikutnya mereka menyusuri jalan setapak.


"Akhirnya kita sampai..." Merylin berucap. Dia berhenti kira-kira 15 meter dari telaga.


"Wow... cantiknya..." ujar Jesse. Dia melangkah lebih dulu makin ke tepi telaga. Bunga-bunga mulai mekar di sana. Kuning, merah, putih, hingga, pink.. semua cantik..


"Merl.... ke sini.." Jesse melambai memberi isyarat agar Merylin mendekat.


Merylin melangkah pelan ke arah Jesse.


"Lihat..." bisik Jesse sementara tangannya menunjuk ke cabang pohon tak jauh dari mereka. Persis di tepi telaga. Dua burung cantik berwarna biru berpadu hitam dan kuning, dengan paruh merah, sedang terbang berkitar di dekat dahan. Sepertinya sedang memadu kasih.


"Seperti aku. Bahagia menghabiskan waktu denganmu." Jesse memandang Merylin.


"Jangan mulai lagi.." Merylin berbalik badan. Dia membersihkan dedaunan di bawah pohon lalu duduk di rerumputan di sana. Memandang ke telaga. Menikmati sejuknya udara dengan angin sepoi yang bertiup.


Jesse mendekati dan duduk di sisinya. "Aku akan betah di sini. Teduh dan nyaman rasanya."


"Hmm... kamu benar." ujar Merylin. "Lihat di sana, ada buah yang bisa diambil dan dinikmati." Tangan Merylin menunjuk ke pohon agak jauh dari mereka. Ya, seandainya mereka tidak bawa bekal pun mereka tak akan kelaparan.


"Minggu besok kamu ke gereja?" tanya Jesse.


"Tentu. Musim semi pasti aku gunakan waktu sebanyak mungkin bisa pergi. Karena cuaca selalu cerah." kata Merylin.


"Setahun lalu, acara perburuan dilakukan di Snowpines." Jesse melempar batu kecil ke dalam telaga. Membuat riak. Semakin besar, lalu menghilang.


"Setahun?" Merylin melihat Jesse.


"Ya.. benar.. Tidak terasa ya.. waktu cepat sekali berjalan." Lagi Jesse mengambil batu. Kali ini dia berdiri, sehingga lemparannya lebih kuat.


Berarti setahun lalu Merylin ada di balai kota, melihat Clarence pertama kali di atas kuda putihnya yang gagah.


"Merl... ayo... ikut lempar... siapa bisa buat riak paling lebar.." tantang Jesse.


"Siapa takut?" Merylin berdiri. Dia mengambil beberapa batu kecil di sekitarnya dan segera berdiri di sisi Jesse.


"Kamu duluan.." kata Jesse.


"Baiklah, Tuan Jesse. Lihat ya..." Merylin mengerahkan seluruh tenaganya untuk melempar.


Tap!!


"Lumayan, Nona.. tenagamu cukup bisa diandalkan rupanya." Jesse tersenyum.


"Giliranku..." Jesse bersiap. Dia melemparkan batu di tangannya.


Tentu saja, masih jauh lebih kuat meski bukan sepenuh tenaga Jesse melakukannya.


"Ah.. kau jangan sok kuat, Tuan!" lagi Merylin melempar lebih kuat lagi.


"Ya... bagus, Nona..." Jesse tertawa melihat semangat Merylin.


Beberapa kali mereka mengulangi.


"Tanganku sakit." Merylin memijit lengan atasnya. Pegel juga memaksa melempar seperti itu.


Jesse tertawa lagi.


"Hm... Merylin.. aku punya permainan lain. Kamu mau?" ajak Jesse.


"Jangan minta lari atau panjat pohon yaa.." kata Merylin.


Jesse tersenyum. "Tidak. Aku pernah dengar orang bilang, jika ingin melepas penat, pergilah ke tempat sepi, lalu berteriaklah sekerasnya."


"Apa yang diteriakkan?" tanya Merylin.


"Apa yang paling ingin kamu ungkapkan." kata Jesse. "Apa saja.. terserah.."


"Hm..." Merylin berpikir.


"Aku mulai.. setelah itu kamu.." Jesse melihat Merylin.


"Baiklah.. sekuat apa kamu berteriak. Apa bisa memgusir burung yang asyik berduaan tadi?" gurau Merylin.


"Huhhfhh..." Jesse berkacak pinggang. Lalu menarik nafas panjang.


"Aku...!!! Senang....!!! Hari ini...!!! Bersama gadis istimewa dari...!!!! Greenpines..!!!!" Jesse berteriak sekuatnya. Dan suara itu bergema menembus hingga ke hutan, bersahutan di antara pepohonan.


Benar saja beberapa binatang terkejut dan berlarian. Burung juga beterbangan.


Merylin tertawa. "Luar biasa, Tuan..." ujarnya sambil memgacungkan jempol kanannya.


"Giliranmu.." Jesse melihat Merylin.


"Hhmm..." Merylin memandang lurus ke telaga. Dia menarik nafas dalam.


"Jesse..." Merylin menoleh pada Jesse.


"Ya.." Jesse melihat Merylin.


"Tutup telingamu." katanya.


"Hah?" Jesse mengerutkan kening.


"Nanti akan ada petir dan halilintar. Jangan sampai kamu terkejut." ujar Merylin.


"Hm.. baiklah..." Jesse agak mundur dan menutup kedua telinganya.


Setelah yakin Jesse menutup kedua telinganya, Merylin kembali memandang ke seluruh telaga. Dia menaruh kedua tangan di dekat mulutnya.


"Aku...!!!! Mencintaimu....!!!" teriak Merylin.


Tentu saja meski telinga tertutup dengan teriakan sekeras itu, Jesse masih bisa mendengar. Kata-kata itu membuat Jesse tak bisa tidak menoleh. Dia merasa jantungnya berdetak sangat keras. Apa yang Merylin katakan?


"Aku..!!! Sangat mencintaimu...!!!! Clarence...!!!!" lagi teriakan Merylin memecah sunyi yang teduh di telaga itu. Bergema ke seluruh penjuru, membelah hening alam yang indah.


Jesse tertegun. Jadi, kata-kata itu bukan untuk dirinya. Merylin masih sangat kuat mencintai Pangeran Clarence.


Merylin menarik nafas dalam lagi. Menutup mukanya dengan kedua tangan. Lalu mengusap wajahnya. Setelah itu dia membalikkan badan. Dan...