Life Goes On

Life Goes On
23 - Mimpi Jangan Kejauhan



Hari-hari berikut Merylin menyibukkan diri menyelesaikan sekolahnya yang tinggal menghitung hari lagi akan tuntas. Dia menemui Ms. Anderson menyampaikan keinginannya untuk membantu di sekolah. Tentu saja Ms. Anderson sangat senang.


Ms. Anderson mengajak Merylin menemui kepala sekolah membicarakan rencananya. Mr. Carlson setuju dan menyambut baik keinginan Merylin. Dia bisa mulai begitu ujian kelas teratas selesai, karena murid kelas bawah masih belajar hingga masuk musim dingin.


"Jadi, minggu depan kau akan masuk kelas pertama ya, dengan Ms. Vivian Andrew. Kuharap kamu senang bisa segera mulai, Merylin." kata Ms. Anderson. Senyumnya yang ramah tersungging cantik.


"Tentu, aku sangat berterimakasih diberi kesempatan." Merylin tersenyum.


"Apakah belum ada kabar dari Pangeran Clarence?" Ms. Anderson memandang Merylin sementara mereka berjalan kembali ke kelas mereka.


"Tidak, Ms." senyum Merylin langsung kecut. "Dia pasti sibuk mengatur banyak hal untuk negri ini. Tak ada kesempatan memikirkan yang lainnya."


Berita Clark adalah Pangeran Clarence sudah didengar di seluruh negri. Pangeran itu telah diperdaya kakak angkatnya, terjatuh di jurang dan hilang ingatan. Seorang gadis baik hati dan keluarganya menolongnya hingga dia pulih dan bisa kembali ke istana.


Semua orang membicarakan kejadian itu dengan takjub. Pasti keluarga itu sangat beruntung bisa bersama pangeran sekian lama. Hidup bersama, melihatnya setiap hari. Mereka pasti jadi orang istimewa untuk keluarga kerajaan sekarang. Apalagi gadis itu yang kabarnya sempat dekat dengan pangeran.


"Waktu pangeran masih di sini, aku memang merasa ada sesuatu dengannya. Dia begitu cerdas, semua yang kita pelajari di kelas dia sudah tahu. Aku sangat kagum dengan itu." kata Ms. Anderson.


Merylin mendengarkan, melihat Ms. Anderson lalu melihat langkah kakinya lagi.


"Yang terpikir olehku, Clark pasti bukan sekedar pemuda biasa. Mungkin dia anak pejabat dari satu kota. Atau anak pengusaha besar yang terpisah dengan keluarganya. Ternyata dia Pangeran Clarence. Sama sekali tak aku kira." lanjut Merylin.


"Iya, Ms. Anderson." Merylin tersenyum.


Mereka sampai di kelas. Ms. Anderson melanjutkan mengajar untuk kelas terakhir hari itu. Cuaca di luar makin dingin karena angin makin kencang bertiup. Bunyi derunya sampai terdengar sesekali.


Murid kelas itu berusaha fokus dengan yang mereka kerjakan. Wajah tegang, wajah lelah, nampak di antara mereka. Yang membuat tetap semangat karena Ms. Anderson sangat sabar mendampingi mereka. Dia berjanji akan membuat kue istimewa untuk kelas di hari terakhir sekolah.


Berakhir sudah kelas hari itu. Ms. Anderson meninggalkan kelas. Murid-murid satu persatu juga bersiap akan pulang.


"Putri Greeenpines, apa kabar Pangeran impian kamu?" Sarah mendekati Merylin.


Merylin menoleh tersenyum kecil lalu merapikan lagi bukunya.


"Mimpi makanya jangan kejauhan. Sadar diri, Tuan Putri. Pangeran tak akan ingat kamu. Kamu kira di istana kurang gadis cantik?" sindir Sarah.


"Aku tahu." ujar Merylin jengah. Dia ambil tasnya dan mendekapnya di dada berjalan keluar kelas.


"Dia baik padamu dan begitu sayang waktu itu karena otaknya sedang bermasalah. Sekarang dia kembali ke dunianya. Sudah waktunya kamu bangun dari mimpi." ucapan Sarah membuat hati Merylin tertusuk.


"Apa kamu perlu mengulangnya setiap hari?" Merylin menoleh, menatap tajam pada Sarah.


"Aku hanya kasihan padamu, Merylin." kata Sarah.


"Aku tak perlu dikasihani." tatap Merylin geram. Dia membalikkan badan dan berjalan kesal menjauh dari Sarah.


Sarah memang menyukai Clark. Artinya dia menyukai Pangeran Clarence. Dia geram waktu Clarence ternyata juga suka dengan Merylin kala itu. Dia belum berhasil merebut hatinya ternyata terbongkar siapa Clark sebenarnya.


Dia mendengar pangeran itu akan datang menemui Merylin itu membuatnya makin iri. Karena itu dia sengaja membuat Merylin marah dengan mengatakan hal-hal yang menyakitinya. Apalagi sampai sekarang tidak ada kabar apapun dari pangeran itu.


Jesse memperhatikan Merylin dan Sarah dari jarak agak jauh. Dia merasa iba dengan Merylin. Dia juga sebal karena Clarence sama sekali tidak memberi kabar. Jarak dua hari ke Greenpines itu memang cukup jauh, tapi tidak sebegitu jauh jika seseorang menyayangi wanita yang dia cintai.


"Sesibuk apa sih, dia? Apa tidak bisa menyuruh salah satu prajurit datang menyampaikan sesuatu kepada Merylin? Ternyata menyebalkan juga pangeran itu." bisik hati Clarence.


"Merl!!" panggil Jesse. Merylin menoleh, menunggu Jesse mendekat ke arahnya.


"Kamu jadi akan membantu mengajar di sekolah?" tanya Jesse dengan senyum cerah seperti biasa.


"Bagus kalau begitu." ujar Jesse. "Boleh aku ikut kamu pulang?"


"Ya... boleh saja." sahut Merylin.


"Trimakasih." senyum lebar Jesse mengembang.


Berdua mereka berjalan menuju rumah Merylin. Sepanjang jalan seperti biasa mereka berbicara, bercanda, dan menceritakan banyak hal. Tapi kali ini Jesse lebih banyak bicara dibanding Merylin.


"Kamu terpikir yang Sarah katakan tadi?" tanya Jesse.


"Kamu mendengar?" Merylin melihat Jesse, lalu kembali memandang jalanan yang di depannya.


"Tidak. Tapi aku tahu, apa yang dia katakan. Soal pangeran, kan?" tandas Jesse.


Merylin mendesah. Bagaimanapun hatinya jadi gelisah. Semua orang mungkin saja berpikiran seperti Sarah. Pangeran tidak akan ingat lagi gadis kecil dari desa pinggiran kerajaan ini. Apa yang terjadi di antara mereka akan hilang begitu saja.


"Ya... kamu benar. Aku memikirkannya." pelan Merylin berkata. Nampak jelas sekarang dia sedang gundah.


"Merl.. pangeran itu banyak sekali yang harus diurus. Dia mesti mengatur banyak sekali hal apalagi dia akan dinobatkan jadi raja. Bisa saja dia masih mengatur dan mempertimbangkan siapa yang jadi mentrinya kelak, yang akan jadi walikota, jendral, dan yang mengurus ini itu di seluruh negri. Sabar saja ya.. dia tidak akan lupa padamu." hibur Jesse.


"Kuharap juga begitu, Jesse." Kata Merylin.


"Dia masih menyimpan kalungmu. Dia pasti tidak bisa lupa kamu." lagi Jesse menenangkan hati Merylin.


Merylin tersenyum. Benar, pangeran itu masih memiliki kalungnya. Tapi apakah itu berarti sekarang? Di istana berlimpah perhiasan, barang mewah, dan semua yang Merylin hanya bisa membayangkannya saja.


"Tenang saja. Kalau dia melupakanmu, aku akan datang padanya dan menampar wajah tampannya itu." kata Jesse bergurau.


"Mana kamu berani?" ujar Merylin sambil tersenyum di ujung bibirnya.


"Aku ini pahlawan negara. Dia hampir mati di tangan jendral Matthew dan aku yang menyelamatkan dia." Jesse memainkan alisnya.


Sekarang Merylin tersenyum lebar. "Bisa sombong sekarang ya..."


"Hmm.. itu akan jadi cerita yang aku bawa sampai aku tua. Aku akan cerita pada anak cucuku aku pernah menyelamatkan pangeran, raja kerajaan Goldy Star. Hebat, bukan?" kata Jesse sambil berkacak pinggang.


Merylin tertawa melihatnya. "Memang kamu segera menikah?"


"Ya.. tidak dalam waktu dekat juga.. tapi kan itu pasti..." ujar Jesse.


"Dengan Kathleen Huck?" ucap Merylin sambil. merapatkan mantelnya.


Jesse menoleh. "Entahlah... kami baru dekat sekarang. Meski hatiku sebenarnya masih berharap kamu mau melirik aku."


Mata Merylin yang melirik Jesse. Jesse tertawa.


"Bercanda... aku tahu sekalipun kamu tak pernah bertemu dengan Pangeran Clarence, kau juga tak akan melirik aku. Aku bukan pria tipe kamu." kata Jesse.


"Kamu pria yang baik, Jesse. Dan kamu teman yang baik." Merylin tersenyum.


"Ya.. sampai di situ saja kan?" Jesse terkekeh.


Mereka sampai di rumah kecil itu. Yang terlihat agak redup karena cuaca musim gugur.