
Istana mulai tertutup salju. Tetap cantik dan indah, megah dan gagah. Musim salju memang sedikit membatasi pergerakan kehidupan seluruh negri. Namun kebahagiaan karena hari jadi Goldy Star tidak surut. Hiasan di gedung dan rumah penduduk memberi tanda sukaria mereka karena negeri ini tahun ini bukan sekedar tambah usia. Tapi Tuhan meloloskan dari ancaman kehancuran jendral yang jahat.
"Pesta puncak hari jadi negri dilaksanakan besok, Yang Mulia. Semua sudah siap. Dan seluruh acara diselenggarakan di dalam gedung mengingat situasi di luar terus diguyur salju." Frederick, pembantu raja yang bertugas mengatur kota raja menyampaikan laporan kepada Felicia dan Clarence.
"Ya.. tidak masalah. Yang penting semangat kita tidak dingin tertutup salju." Clarence tersenyum.
"Benar, Yang Mulia. Akan banyak hadir putri cantik para pembesar istana. Juga para pangeran yang siap memeriahkan acara." tambah Frederick.
"Bagus. Kerjamu memang selalu bisa diandalkan, Frederick." Clarence nampak puas dengan semua yang Frederick sampaikan.
"Kau boleh kembali. Trimakasih." Clarence meminta Frederick meninggalkan ruangan itu. Frederick memberi hormat dan beranjak keluar ruangan.
"Clarence, ibu didesak beberapa petinggi negara agar kamu cepat memilih calon pendampingmu. Dalam dua bulan terakhir makin ramai saja para putri cantik di sekitar kamu mencari perhatian." kata Felicia yang dari tadi diam memperhatikan putranya bicara dengan pegawai istana.
"Ibu... ibu sudah tahu hatiku dan apa yang akan aku lakukan." jawab Clarence.
"Ya.. tapi semua orang tidak tahu hatimu, Nak. Kamu tidak memberi penjelasan atau petunjuk apa-apa yang membuat mereka tak bertanya dan tak berharap." jelas ibunya.
Clarence tersenyum. "Ibu.. jangan cemas. Aku yang menjalani ini. Ibu jangan pusing dengan yang lain."
"Dan, gadis itu, Merylin. Bagaimana dia sekarang? Kamu yakin dia masih menunggumu? Kamu tidak memberi kabar apa-apa padanya. Bagaimana jika dia ternyata sudah bersama pria yang lain?" tanya Felicia tak sabar.
"Ini ujian hati kami. Apakah kami bisa saling percaya ketika nampaknya tidak ada harapan lagi? Apakah waktu, sekeliling kami, dan juga pikiran kami tetap bisa teguh?" Clarence memandang ibunya.
"Nak, kamu bermain-main dengan hati. Dan ini bisa menjadi jerat buatmu sendiri." tegas Felicia.
"Ibu... percayalah padaku..." Clarence menggenggam tangan ibunya. "Aku akan menemui Dominique sekarang."
Clarence meninggalkan ibunya yang geregetan dengan putranya itu. Sering sekali para istri pembesar istana menanyai dirinya, wanita mana yang akan dia pilih. Anastasia, Vinolia, Catherine, Laurine, dan beberapa lagi. Orang tua gadis-gadis itu berebutan mendapat perhatian dirinya dan Clarence. Tapi Clarence begitu cuek. Ah, putranya ini memang membuat hatinya tak tenang saja.
🌟🌟🌟
Pesta merayakan hari jadi Kerajaan Goldy Star terasa di seluruh negeri meski tak banyak aktivitas dapat dilakukan di luar rumah. Tapi senyum dan sukacita penduduk merebak di mana saja, di seluruh negeri.
Di istana, acara puncak diadakan di ruang pertemuan utama. Semua pembesar kerajaan dan pejabat tinggi datang bersama keluarga. Berbagai atraksi ditampilkan oleh anak-anak pejabat. Musik, lagu, tarian dan lainnya bergantian memeriahkan suasana.
Hingga pada acara makan malam diselingi acara berdansa. Biasanya para pria yang menyukai seorang gadis akan mengajak gadis yang disukainya untuk berdansa dengannya. Begitu acara dansa dimulai, beberapa gadis yang berharap mendapat perhatian Clarence menatapnya dari tempat masing-masing. Bahkan ketika ada yang mulai mendekati mereka menghindar.
"Pangeran Clarence..." Jendral Donovan mendekati Clarence. Clarence tersenyum ke arahnya.
"Jendral..." sapanya ramah.
"Lihatlah.. para putri itu menanti Pangeran memilih satu dari mereka. Putri-putri yang luar biasa. Yang tepat untuk berada di sisi Yang Mulia." Donovan menunjuk ke beberapa putri yang masih berharap. Mereka belum mau menerima pria manapun yang mengajak berdansa.
"Ya, Jendral benar, mereka putri-putri yang luar biasa." Clarence tersenyum.
"Jadi, Yang Mulia, tentukan pilihan Yang Mulia malam ini..." sedikit mendesak Donovan berkata.
"Jendral, trimakasih perhatianmu." Clarence berdiri.
Semua mata menatap ke arahnya. Hati para putri itu makin berdebaran berharap dirinya yang akan dihampiri dan diminta berdansa dengan calon raja negri ini.
Clarence mulai melangkah turun dari kursi besarnya. Makin tak berkedip mata mereka, mengikuti selangkah demi selangkah pangeran yang bergerak meninggalkan tahtanya.
Dia melewati putri yang paling dekat, Catherine. Dia sekarang akan tiba di putri kedua, Vinolia, Clarence terus saja berjalan. Ah, semakin tegang suasana. Dan Anastasia ada di kursi yang selanjutnya akan dia lewati. Mata gadis itu berbinar hampir yakin pangeran akan berbelok padanya.
"Ibu, berdansalah denganku." Clarence mengulurkan tangan pada ibunya. Felicia memang duduk di sebelah Olivia malam ini.
"Wanita yang sangat aku kagumi, adalah Ibuku. Dia begitu kuat dan tegar menghadapi berbagai rintangan dan badai kehidupan. Ibu?" Clarence masih menunggu ibunya menerima tangannya.
Semua gadis itu kecewa. Pangeran masih belum menentukan siapa yang akan dia pilih untuk jadi pendampingnya. Apakah sesulit itu kriteria pangeran sehingga tak ada yang bisa menarik hatinya dari sekian banyak putri di istana ini?
Felicia akhirnya menerima tangan Clarence. Berdua mereka turun ke lantai dansa dan mulai menari. Keduanya mengikuti alunan musik yang manis dan teduh.
"Clarence, kamu benar-benar ya... lihat wajah-wajah putri itu. Mereka terlihat galau dan kecewa." kata Felicia.
Sementara mereka terus menari mengikuti musik. Di sekeliling mereka juga ada beberapa pasangan yang menari. Tindakan Clarence diikuti beberapa putri dan pangeran mengajak ayah atau ibunya berdansa.
"Ibu, aku tak pernah menjanjikan apa-apa pada mereka. Mereka saja yang terus berharap. Aku tak bisa melarang mereka kan?" Clarence tersenyum.
"Kau ini. Kok ibu jadi punya kesan kamu sekarang sombong." ujar Felicia. Tatapan matanya tidak begitu senang dengan cara putranya itu.
"Ibu.. ayolah... tinggal sedikit lagi maka semua akan jelas." Clarence tersenyum.
"Setidaknya buat para gadis itu tak berharap lagi padamu. Ada banyak pemuda baik yang menunggu mereka. Jika kau mau sampaikan sesuatu, mereka akan berhenti melihatmu dan mulai menoleh pada yang lain." tandas ibunya.
"Ya... baiklah..." Clarence mendesah. Dia sepertinya harus melakukan sesuatu.
Setelah berdansa dengan ibunya, Clarence kembali ke kursinya. Dia mengambil gelas minumnya dan pelayan mengisinya setengah lalu Clarence minum dari gelasnya itu.
"Yang Mulia, kenapa hanya bermain-main malam ini? Tidak adakah sesuatu yang hendak Tuanku sampaikan?" lagi jendral Donovan penasaran dengan Clarence yang tidak mau memberi jawaban atas keresahan para gadis itu.
"Jendral, kau perhatian sekali dengan mereka? Atau kamu memikirkanku?" Clarence menatap Donovan.
"Mohon ampun, Yang Mulia. Harap dimaklumi karena negri ini sedang menanti perubahan besar. Lahirnya raja baru yang masih muda. Karena pangeran belum punya seseorang yang selama ini terlihat mendampingi Tuanku, sangat wajar para putri cantik ingin mendapat perhatian Tuanku." jelas Donovan.
"Putrimu juga seorang gadis istimewa, Jendral." Clarence tersenyum.
Mendengar itu Donovan agak terkejut. Apakah ini artinya sebenarnya pangeran sedang memperhatikan Anastasia?
"Sama istimewanya dengan putri yang lainnya." lanjut Clarence.
Ah.. pangeran ini paling bisa memberi harapan palsu. Wajah Donovan yang mulai sumringah menciut lagi.
Clarence berdiri dan memberi kode dengan tangan bahwa dia ingin menyampaikan sesuatu. Semua mata memandang ke arahnya. Musik yang mengalun juga berhenti. Clarence memandang seluruh ruangan dan seluruh yang hadir.
"Sungguh malam ini sangat istimewa. Senang bisa hadir menikmati kegembiraan di tahun yang luar biasa untuk negeri kita." Clarence memulai pernyataannya.
Tak ada yang bersuara, tak ada yang bergerak. Mereka menanti apakah ini waktunya Clarence akan menentukan pilihannya?
"Mengalami kejadian tak terduga beberapa waktu lalu, adalah awal aku mengenal dunia lain dari kehidupan istana. Terpisah dari keluarga, menjadi asing bagi diri sendiri rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata dan cerita. Dari pengalaman itu, aku memandang kehidupan sekarang dengan cara berbeda. Begitu juga saat aku melihat ke depan, tahun-tahun yang akan datang, aku melihat dengan pandangan yang lebih luas. "
Para gadis menatap Clarence dengan penuh kekaguman. Para pemuda melihat dia memang seorang pria muda yang berwibawa. Para pembesar berpikir, dengan pengalaman yang tak terduga, Clarence akan sangat berhati-hati menjalankan pemerintahan negeri ini.
"Pengalaman itu yang menuntun aku menemukan seseorang yang akan berada di sisiku, yang akan mendukungku, setia berdoa buatku. Aku belum bisa mengatakan lebih jauh, tapi akan datang waktunya, dia akan berdiri di sampingku." Clarence tersenyum.
Mulai terdengar bisik-bisik dari beberapa yang hadir. Siapa, di mana, apakah ini maksudnya adalah wanita pangeran? Pertanyaan demi pertanyaannya mereka ungkapkan dengan bisikan itu.
"Baiklah, aku ucapkan terimakasih untuk semua yang sudah berjerih lelah untuk acara malam ini. Ini malam yang tak akan kita lupakan. Selamat malam semuanya." Clarence mengakhiri perkatannya lalu turun dari kursinya.
Dia menghampiri ibunya dan mengajaknya kembali ke kamar mereka, di sisi lain dari istana ini. Setelah pangeran dan ratu keluar, makin besar suara mereka membicarakan siapa yang dimaksud pangeran. Apakah wanita di luar istana? Atau masih ada di kisaran keluarga kerajaan tapi pangeran tidak ingin mengungkapkan sekarang?
Ah... musik yang mengalun tak lagi semerdu sebelumnya...