Life Goes On

Life Goes On
18 - Kedukaan yang Mendalam



Ratu Felicia masih sedikit gemetar. Tak pernah dia sangka dia akan duduk di dalam penjara yang pengap, seperti penjahat karena putranya. Tak lama Pendeta Bennette juga dimasukkan dalam penjara itu.


"Ampun, Yang Mulia Ratu.. Pendeta, kami hanya menjalankan tugas." prajurit itu memberi hormat dan meninggalkan mereka.


"Ratu, apakah Yang Mulia baik-baik saja?" Bennette bertanya sambil duduk di seberang Felicia.


"Menurutmu bagaimana aku bisa baik-baik dengan semua ini?" Felicia memandang Bennette.


"Saya sungguh tak mengira Goldy Star akan mengalami pengkhianatan seperti ini." ujar Bennette. "Lebih baik saya mati daripada menobatkan seorang pemimpin yang akan mencelakai rakyat."


"Trimakasih untuk kesetiaanmu pada suamiku. Dia pasti sangat menghargai apa yang kau lakukan untuknya dan Goldy Star." ucap Felicia.


"Kami bersahabat sejak kecil. Terlalu banyak hal baik yang kami jalani bersama. Banyak juga kesedihan kami lewati bersama. Dia menunjukkan cintanya yang begitu besar pada bangsa ini. Bagaimana mungkin saya akan berpaling."


"Bennette, putra mahkota belum meninggal." kata Felicia.


"Ya, Yang Mulia?" Bennette memandang Felicia.


"Clarence. Dia masih hidup. Dia datang saat pemakaman Patrick." kata Felicia.


Bennette memandang Felicia tak percaya. "Ratu sedang tidak mengigau, kan?"


"Bennette, aku memang sedih, tapi aku masih waras." sahut Felicia. "Henry menjatuhkannya ke jurang, dan mengira dia mati. Dia mengatakan ke semua orang kalau Clarence diterkam binatang buas, pasti agar tidak perlu kita mencari mayatnya."


Bennette terbelalak. Mulutnya sampai menganga.


"Dia hilang ingatan, dan baru sadar beberapa hari sebelum Patrick meninggal. Dia ditolong sebuah keluarga di desa Greenpines. Aku tahu sekarang dia masih di sekitar istana. Tapi dia memilih seperti ini. Membiarkan orang mengira dia sudah mati dan Henry yang akan menjadi raja. Dia terlalu cinta pada kakaknya itu." jelas Felicia. Nada pilu terdengar jelas saat dia menuturkan cerita ini.


Bennette menarik nafas dalam. "Ya Tuhan... apalagi yang kudengar ini? Semua seperti tak masuk akal."


"Aku masih berharap matanya terbuka. Dia bisa melihat ada bencana besar yang akan terjadi pada negri ini jika dia memilih diam." tandas Felicia.


"Ratu benar. Kita berdoa, Tuhan menggerakkan hatinya dan mau bertindak demi bangsa kita." ujar Bennette.


Keduanya larut dalam pembicaraan tentang nasib bangsa ini. Sesekali diam di antara mereka. Entah mereka juga nanti apakah akan selamat atau akan dihukum mati.


"Yang Mulia..." Dominique muncul. Dia membuka pintu penjara dan melepaskan mereka berdua.


"Ampun, Yang Mulia.. Mari kita kembali." kata Dominique.


"Apa yang terjadi?" Bennette bertanya dengan rasa bingung. "Apa acara sudah selesai?"


"Ratu, putra mahkota datang.. dia masih hidup.." kata Dominique.


Felicia tersenyum. "Putraku... aku tahu... dia pasti datang.. ayo, cepat kita ke sana."


Segera mereka cepat-cepat menuju ke area penobatan. Saat tiba di sana, Felicia melihat Clarence sedang berlutut di halaman dengan seseorang tergeletak di sebelahnya.


Dia berlari mendekati mereka. "Clarence?" panggilnya. Clarence menoleh.


"Ibu.." Clarence berdiri dan memeluk ibunya.


"Henry... Ya Tuhan... apa yang kau lakukan pada kakakmu?" terkejut melihat Henry terkapar tak bernyawa. Felicia berlutut memegang tubuh Henry. Felicia menyayangi Heny. Apapun yang dia telah lakukan, Henry adalah anak baginya. Dia menangis.


"Bagaimana mungkin kau membunuhnya?" tangis Felicia. Hatinya semakin penuh dengan kesedihan. Dukanya karena Patrick kini makin dalam melihat Henry harus tewas.


"Ampun, Yang Mulia... itu bukan kesalahan Pangeran Clarence. Saya bersalah, ampun.." Jesse memberanikan diri berlutut tak jauh di sisi Felicia.


"Ibu, Jesse menyelamatkan aku." Clarence berlutut di sisi ibunya dan menyentuh pundaknya. "Jendral Matthew melemparkan pedang ke arahku. Jika Jesse tidak bergerak, aku yang mati. Dia mendorong aku menghindar pedang Matthew dan pedang itu mengenai Henry."


Felicia menangis di dada Clarence. Hari ini begitu berat untuknya. Hari penyelamatan bagi negri ini tapi juga menjadi hari penuh duka yang teramat dalam. Clarence menuntun ibunya kembali ke kursi besar di panggung.


Suasana menjadi begitu memilukan. Tak seorangpun yang ingin beranjak dari tempat itu. Semua ingin tahu bagaimana kelanjutan tragedi hari itu.


"Pendeta Bennette, atur proses pemakaman kakakku." kata Clarence. Hatinya begitu pedih melihat Henry akhirnya mati di tangan jendral yang telah memperdayainya.


"Baik, Yang Mulia. Segera saya akan siapkan segala keperluan untuk Pangeran Henry."


Clarence berdiri di tengah panggung. Dia menatap ke seluruh rakyat yang datang, juga kepada para pembesar kerajaan yang masih tegang dengan kejadian hari itu.


"Kita bersyukur Tuhan melepaskan negri ini dari ancaman kebatilan dan keserakahan. Tetapi kita berduka karena kehilangan Pangeran Henry. Upacara penobatan dibatalkan. Sampai hari penobatan raja yang baru kepemimpinan negri akan dipegang Ratu Felicia." kata Clarence.


"Clarence, ini tugasmu..." ujar Ratu Felicia.


"Tidak ibu, belum saatku." Clarence melihat ibunya.


"Dan sekarang seluruh rakyat dapat meninggalkan istana. Besok upacara pemakaman akan diselenggarakan, dihadiri keluarga kerajaan." Clarence mengakhiri perkataannya.


Perlahan kerumunan itu membubarkan diri. Kejadian hari itu langsung menjadi cerita yang tak henti dibicarakan di mana-mana.


Para pembesar kerajaan dan prajurit datang mengambil Clarence, mereka memberi hormat atas kembalinya ke istana. Kemudian halaman istana menjadi sepi, semua kembali ke tempatnya masing-masing. Clarence mengajak Jesse ke istana, dia minta Jesse tingal di sana untuk beristirahat.


"Siapa pemuda ini, Clarence?" tanya ratu ketika mereka berada di salah satu ruangan dalam istana.


"Jesse Taylor. Dia sahabatku dari Greenpines, Ibu." jawab Clarence. "Dia menyusul aku kemari karena ingin membantuku berjuang."


"Trimakasih, Jesse. Kau menjaga putraku selama ini." Felicia memandang Jesse dengan tatapan tulus.


"Sudah menjadi tugas saya, Yang Mulia. Keselamatan putra mahkota adalah kesejahteraan bagi seluruh negri. Saya bersyukur bisa berada di sisinya dalam situasi ini." ucap Jesse sepenuh hati.


"Ibu, ibu harus mengadili Jendral Matthew, Marelina dan dokter yang memberi racun pada ayah." kata Clarence.


"Ibu lebih senang jika kau yang melakukannya. Kau sudah siap memimpin negri ini." Felicia memandang putranya dengan rasa bangga.


"Tidak, Ibu. Sampai aku dinobatkan aku tidak berhak melakukannya. Untuk sekarang semua ada di dalam tangan ibu." tegas Clarence.


"Ini bukan sesuatu yang mudah. Bagaimanapun juga Matthew pernah berjasa besar untuk bangsa kita. Lebih separuh hidupnya dia abdikan untuk menjaga kedaulatan negri ini." Felicia mendesah. Namun hukum harus ditegakkan. Dia tak punya pilihan.


"Pengadilan akan kita lakukan satu minggu setelah pemakaman Henry. Saat ini aku ingin hanya berduka atas kepergian ayahmu dan kakakmu."


"Baik, Ibu." Clarence setuju dengan keputusan Felicia.


"Yang Mulia, saya akan segera pulang. Saya harus menyampaikan berita yang terjadi ini kepada Merylin." Jesse menyela pembicaraan ibu dan anak ituitu, berbicara pasa Clarence.


"Ya.. benar. Merylin pasti menunggu kabar dariku. Kapan kau akan kembali ke Greenpines?" tanya Clarence.


"Besok pagi saya akan segera berangkat, Yang Mulia." jawab Jesse.


"Merylin? Siapa itu?" Felicia menatap Clarence dan Jesse bergantian.


Clarence melihat ke wajah teduh ibunya yang meminta penjelasan padanya.