
"Kamu sudah siap?" Clarence mendekati Merylin yang baru selesai bersiap pagi ini.
"Ya, aku siap." Merylin membalikkan badan, melihat Clarence.
Tiga hari mereka ada di kastil Beauty Star. Clarence dan Merylin menghabiskan waktu berdua saling mengenal lebih dalam, menyatukan jiwa dan raga sebagai pasangan suami istri. Clarence hampir tak membiarkan Merylin meninggalkan dia. Selalu saja menempel dan menggandengnya. Seakan takut mereka akan berjauhan lagi.
Pagi ini mereka akan kembali ke istana dan menyiapkan untuk acara penobatan Clarence menjadi raja besok. Seusai acara itu akan digelar pesta untuk seluruh negri. Pesta penobatan dan pernikahan sekaligus.
Merylin merasa tak karuan membayangkan bagaimana nanti dia akan menghadapi semua orang di istana. Ada rasa kecil hati muncul dan membuat dia kuatir. Sekalipun dia berusaha menenangkan hatinya tetap saja tidak mudah.
"Clarence..." Merylin menoleh memandang Clarence yang menggandeng tangannya keluar dari kastil, menuju kereta yang menunggu mereka.
"Ya..." Clarence melihat Merylin.
"Aku takut..." akhirnya Merylin mengatakannya juga.
Clarence tersenyum. Dia berhenti dan menghadapkan Merylin padanya. "Lihat aku, pegang tanganku.. bisa apa saja terjadi, kau dengar, tapi percayalah padaku.. aku akan terus di sisimu.. Lihat aku, pegang tanganku, janji?" mata indah itu menatap Merylin tajam, tapi memberi keteduhan.
Merylin mengangguk. Clarence mengecup bibir mungil itu lembut, lalu kembali menggandengnya dan berdua meninggalkan kasti indah itu menuju istana yang juga bersiap untuk kedatangan mereka.
lstana terlihat meriah dengan dekorasi yang menarik. Kesan simple tetap terasa, karena Clarence memang tak suka yang berlebihan. Ada banyak bunga putih dipasang di sana sini membuat suasana lebih terasa segar dan teduh.
Merylin melihat ayah dan ibunya ada di sana bercengkrama dengan beberapa orang yang dia tak kenal siapa. Tapi nampak orang tuanya gembira.
"Putriku..." ibu melihat Merylin dan bergegas menghampiri. "Sayang, bagaimana? Kamu baik-baik saja?"
"Iya, Bu.. aku sangat baik." Merylin tersenyum.
"Yang Mulia..." Margareth memberi hormat pada Clarence.
"Ibu..." Clarence tersenyum. "Ayah dan ibu sudah berkenalan dengan keluarga Jendral Donovan?"
"Iya.. juga beberapa yang lain. Mereka baik, Yang Mulia. Kami senang disambut dengan ramah." kata Margareth masih dengan senyum ramah.
"Merylin, ayo aku perkenalkan pada mereka." ajak Clarence.
Clarence menuntun Merylin menghampiri mereka.
"Yang Mulia..." Donovan, Olivia, dan Anastasia memberi hormat pada Clarence dan Merylin.
"Ya.. apa kabar semua... ini Merylin istriku." Kata Clarence.
Merylin sedikit menunduk memberi salam.
"Saya Jendral Donovan, ini istri saya, Olivia. Dan putri saya Anastasia." Donovan memperkenalkan keluarganya.
"Senang berkenalan." Merylin tersenyum.
"Saya siap melayani, Yang Mulia." jendral memberi hormat.
Keluarga Donovan sangat terkejut saat tahu bahwa pangeran ternyata menemukan tambatan hatinya saat perburuan tahun lalu. Awalnya dia mengira ini lelucon atau cinta main-main saja. Tapi setelah Olivia bicara dengan Felicia, semua jadi jelas. Mereka dipertemukan dalam sebuah keajaiban.
"Baiklah.. ayah, ibu, dan semuanya, aku akan ajak Merylin ke dalam. Kami harus menyiapkan banyak hal untuk besok." kata Clarence.
Lalu dia membawa Merylin ke kamar Clarence yang sudah diubah menjadi kamar untuk berdua dengan Merylin.
Merylin benar-benar takjub dengan apa yang dia lihat. Dia terbengong memandang sekeliling. Selama ini istana dan kehidupan mewah istana hanya berita dan cerita untuknya. Sekarang dia akan tinggal di sana. Dengan suaminya.
"Tidak usah minta dicubit lagi ya." ujar Clarence. Merylin tersenyum. Merasa malu kalau ingat kemarin.
"Sayang... setelah ini, aku harus bertemu beberapa orang untuk persiapan besok. Kamu pergilah menemui Ibu. Lalu kamu boleh berkeliling istana agar tahu situasi ini di sini." kata Clarence.
"Baiklah.. jangan lama-lama perginya." Merylin memandang Clarence.
"Kenapa?" Clarence mendekati Merylin, mereka berhadapan dekat sekali. "Masih ingin terus berdua saja? Ingin di kamar saja?"
"Eh... aku... kalau ada kamu di sisiku, aku lebih nyaman..." tandas Merylin. Wajahnya sudah merona.
Clarence tertawa. "Aku sayang kamu, Merl..."
Dan hari itu, Merylin mulai mengenal seluk beluk istana. Setelah bertemu Felicia, seorang pelayan wanita yang hampir seumur ibunya mengajak Merylin berkeliling sebagian besar istana. Namanya Rosa. Dia ramah dan murah senyum. Rosa menunjukkan ruang-ruang utama. Kamar-kamar, ruang pertemuan. Tempat para pejabat berkumpul dan berapat. Tempat-tempat para pejabat tinggal. Dapur dan gudang.
Di bagian belakang ada halaman luas untuk latihan dengan dilengkapi berbagai peralatan. Lalu istal kuda yang besar. Semua dirawat dengan sangat baik.
"Woww... besar dan sangat luas. Pasti banyak sekali orang yang bekerja di sini." kata Merylin.
"Benar, Yang Mulia." jawab pelayan itu.
"Bagaimana aku bisa hafal semuanya? Perlu waktu lama kurasa." Merylin tersenyum. "Tapi aku tidak akan lupa ibu. Ibu yang memperkenalkan istana ini padaku."
"Panggil nama saya, Yang Mulia. Saya hanya seorang pelayan." kata Rosa.
"Tapi ibu hampir seumuran ibuku." ujar Merylin.
"Mohon ampun, begitu aturannya. Saya bisa ditegur nanti." Rosa menunduk.
"Baiklah, Rosa... ah.. terlalu banyak hal aku harus belajar di sini. Kuharap kamu bisa sabar denganku."
"Tentu, Yang Mulia."
"Ini perpustakaan." kata Rosa.
"Wah, besar sekali. Aku ingin masuk, Rosa." Merylin melangkah menaiki tangga untuk masuk ke dalamnya.
"Rosa... siapa gadis ini?" seorang wanita muda kira-kira beberapa tahun di atas Merylin menanyai Rosa. Di sebelahnya seorang gadis lebih muda.
"Ah, Tuan Putri Catherine. Ini..."
"Aku Merylin dari Snowpines." Merylin mengangguk dan tersenyum.
"Oo... jadi kamu yang menjerat Pangeran Clarence?" kata wanita muda itu.
"Apa? Aku?" Merylin sangat kaget mendengar perkataan putri cantik itu.
"Ya, mana bisa pangeran tergoda oleh gadis desa. Kita lihat saja sampai berapa lama kamu sanggup bertahan di sini." suaranya tajam dan ketus.
"Hah?" Merylin makin kaget dengan kalimat itu. Dia memandang putri cantik itu.
"Aku Sherly... ini kakakku, Catherine.." putri yang lebih muda mencoba bersikap baik. Dia tersenyum.
Merylin mengangguk.
"Tidak perlu berkenalan dengannya, Sherly. Paling bulan depan dia minta pulang ke kampungnya." tatapan Catherine begitu sinis. Jelas sia tak suka dengan Merylin.
"Kak... dia istri pangeran.." bisik Sherly.
"Hmm... dengan ilmu sihir pasti.." ujar Catherine.
"Maaf, Yang Mulia.. mari kita lanjutkan lagi. Sedikit lagi selesai." Rosa menarik tangan Merylin. "Permisi, Tuan Putri." Dia masih sempat memberi hormat.
Merylin sedikit terseret oleh Rosa.
"Rosa... kau dengar perkataan putri itu?" ujar Merylin.
"Jangan dengar yang dia katakan. Itu tidak penting." jawab Rosa.
"Bagaimana dia bisa berkata seperti itu? Dia tidak kenal aku, kan?" Merylin masih merasa heran dan sedikit marah.
"Yang Mulia adalah istri raja. Dia hanya anak pembantu raja urusan kesehatan rakyat. Yang Mulia masih di atasnya. Jika dia berani lakukan itu, dia akan mendapatkan hukuman." kata Rosa.
"Ah.. aku tak habis pikir. Berita dari mana bisa jadi begini. Aku pakai ilmu sihir? Aneh..." ujar Merylin.
"Yang Mulia.. tidak semua orang di istana baik. Tapi Ratu dan Pangeran sangat baik dan tulus. Jadi Yang Mulia jangan perhatikan yang lain-lain."
"Iya... aku mengerti Rosa."
"Putri Catherine salah satu yang berharap bisa menjadi pendamping pangeran. Makanya dia marah karena pangeran memilih gadis biasa untuk menjadi istrinya."
"Oo... begitu... ya, aku mengerti. Dia cemburu..." Merylin mengangguk.
Sekarang dia paham yang Clarence katakan padanya sebelum tiba di istana. "Lihat aku, pegang tanganku."
"Akan ada gangguan yang lain. Mungkin lebih menyakitkan dari sekedar seorang gadis yang cemburu. Aku harus siap." bisik hati Merylin.
"Yang Mulia, saya harap Yang Mulia..."
"Rosa, trimakasih kamu mau baik denganku. Jadilah temanku. Ingatkan aku apa saja yang harus aku mengerti, cara hidup di sini. Aku juga tidak ingin pangeran nanti malu telah membawaku masuk di istana ini. Sebab aku akan dan harus di sisi pangeran sampai maut memisahkan." kata Merylin sungguh-sungguh.
"Ya, Yang Mulia... dengan segala hormat, dengan senang hati saya akan ada di sisi Yang Mulia." Senyum Rosa berkembang manis. Dia lega Merylin bukan gadis yang lemah. Dia tahu bagaimana harus mengambil sikap.
Mereka kembali ke gedung tempat Merylin dan Clarence tinggal. Merylin mengucapkan banyak terimakasih pada Rosa karena mendampingi dia hari itu. Masuk ke kamar, Merylin pergi mandi, berendam air hangat. Rasanya menyenangkan. Dia menyandarkan tubuhnya di bak besar itu, sambil memejamkan mata.
Mengurut kembali semua kejadian yang luar biasa yang memutarbalikkan dunianya ini. Sudah hampir hilang harapan, Clarence tiba-tiba muncul menjemputnya. Sehari kemudian menikahinya. Lalu langsung membawanya ke kastil cantik, dan sekarang berakhir di istana megah ini. Ah.. seperti bukan kejadian nyata. Dia masih belum menapak bumi rasanya.
Tiba-tiba ada yang mengecup puncak kepalanya. Merylin kaget dan membuka mata.
"Clarence..." spontan dia membenamkan badan, hanya menyembulkan kepala.
Clarence sudah kembali. Dia mencari Merylin di seluruh ruangan ternyata dia sedang berendam.
Clarence tersenyum. "Istriku.. aku juga ingin menyegarkan tubuhku. Minggir sedikit, aku mau masuk." Dan Clarence membuka pakaiannya. Merylin memalingkan muka. Masih ada rasa malu.
Clarence hanya tersenyum dan menyusul Merylin berendam. Akhirnya mereka menikmati hari yang menjelang senja dengan menghilangkan penat di dalam air.
Merylin menatap wajah tampan pangeran itu. Dia harus layak dan pantas ada di sisinya. Apapun yang dia dengar dan lihat, tidak boleh membuatnya mundur.
"Apa aku terlalu tampan? Kau tak berkedip melihat wajahku." kata Clarence.
"Aku akan melihat padamu saja, dan akan memegang tanganmu kuat-kuat. Aku janji." Merylin berkata sungguh-sungguh.
"Hei... ada apa, Sayang?" Clarence tahu, pasti Merylin mengalami sesuatu.
"Hanya hal kecil. Asal aku bersamamu, semua akan bisa kujalani." Tatap Merylin.
Membuat Clarence tak bisa menahan diri. Dia makin merapatkan diri dan mencumbu Merylin dengan hasrat dan cinta.