Life Goes On

Life Goes On
28 - Buktikan Atau Kau Akan Menyesal!



"Paman, apa paman akan ke kota raja dalam waktu dekat?" Jesse menemui pamannya, William, yang biasa berdagang ke kota raja.


"Ya, beberapa hari ke depan. Masih akan pastikan kapan berangkat. Persiapan barang masih belum sesuai target." jawab pamannya.


"Aku akan pergi dengan paman." katanya duduk di sebelah pamannya yang sedang memeriksa beberapa barang.


"Pamit ayahmu dulu, dia perlu kamu atau tidak. Memang kamu ada urusan apa ke sana?" William melihat Jesse sekilas dan melanjutkan pekerjaannya.


"Aku pasti pamit. Ini mendesak. Jika memungkinkan aku juga akan melihat-lihat prospek usaha di sana. Apa tidak mungkin ayah langsung ambil barang dari sana atau menjual ke sana." jawab Jesse.


"Otak bisnismu sekarang sudah jalan ya.." William tersenyum lebar.


"Hee.. hee.. setelah tidak mengurus buku sekolah, mulai ikut terlibat bisnis, aku menyukainya." Jesse tersenyum.


"Baguslah.. kakakku pasti bangga padamu." William mengacungkan jempol pada ponakannya itu.


Ya, Jesse sudah merencanakan dia akan pergi menemui Clarence. Dia tidak bisa menunggu lebih lama untuk memastikan nasib Merylin. Dia tidak tega melihat gadis itu diliputi galau, meski sebisa mungkin dia tutupi dengan kesibukannya.


Dan tiga hari kemudian, Jesse sudah ada dalam kereta kuda bersama pamannya dan dua pegawainya yang berangkat berdagang ke kota raja. Jesse mengatur rencana agar pamannya tidak tahu dia akan menemui calon raja negri ini. Sebab itu tidak diperbolehkan. Jika seseorang nekad melakukan itu, dia akan mendapat hukuman dari istana.


"Aku tak peduli. Jika dia nekad mau menghukum berat, aku akan tukar dengan nyawanya yang pernah kuselamatkan. Bukan maksud mau mengungkit jasa, aku tak punya pilihan." pikir Jesse.


Perjalanan kali ini lebih lama dari saat pertama Jesse ke kota raja waktu itu. Karena paman membawa banyak barang. Ya, setelah musim dingin, perdagangan sedikit lambat, masuk musim sekitar semua kembali beraktivitas penuh, maka perdagangan makin lancar.


Tiga hari baru mereka sampai. Paman sudah punya losmen langganan jika dia menginap di kota. Selalu di losmen yang sama. Tempatnya strategis dekat pusat perdagangan kota raja. Jesse langsung mencermati tempat-tempat yang bisa bekerja sama untuk pengembangan usaha ayahnya.


Baru keesokan harinya pagi-pagi dia menuju istana raja. Dengan meminjam kuda pamannya dan membawa sebuah bingkisan, dia melewati jalanan kota yang ramai hingga ke gerbang istana.


Di depan gerbang, prajurit menghentikannya. Prajurit itu menanyai dia apa ada surat khusus yang dia bawa sehingga dia bisa masuk ke istana.


"Maaf, Tuan.. saya tidak membawa surat khusus tanda ijin masuk istana. Tetapi saya membawa sesuatu yang sangat penting untuk Yang Mulia Pangeran Clarence." kata Jesse.


"Jika tidak ada tanda khusus untuk masuk istana, aku tak bisa menginginkan kamu masuk." kata prajurit itu.


"Kalau Tuan tidak memberi ijin saya bertemu pangeran, tuan akan menyesal. Bahkan pangeran akan menyesal." kata Jesse.


"Apa kau bilang? Menyesal? Memangnya kamu siapa?!" prajurit itu mulai marah.


"Apa yang akan kuberikan pada pengeran ini berurusan dengan masa depan Goldy Star." tegas Jesse.


"Kamu ini... dari mana asalmu?!" prajurit itu jengkel dengan Jesse yang ngotot. Tapi cukup kaget dengan nyalinya.


"Dari Greenpines. Aku akan tunggu di sini sampai bisa bertemu Pangeran Clarence. Atau kamu sampaikan saja padanya pria yang menyelamatkan nyawanya dari pedang Jendral Matthew sedang menunggunya." kata Jesse tanpa rasa takut.


"Apa?? Kau jangan asal bicara!!" prajurit itu jadi makin emosi.


"Kalau tidak percaya sampaikan ke Pangeran Clarence. Dan lihat, dia mau menemuiku atau akan menghukum aku. Tindakan apapun yang dia akan ambil aku sudah siap resikonya." Jesse. masih ngotot juga.


"Ada apa ini?" kepala pengawal mendekat. Dari dalam halaman istana dia melihat ada seseorang yang sesuai bersih tegang dengan penjaga.


"Mohon ampun, Perwira. Pemuda ini memaksa ingin masuk bertemu Pangeran Clarence. Dia berasal dari Greenpines. Menurutnya dia yang menyelamatkan Pangeran Clarence." kata prajurit itu.


Perwira, kepala pengawal memperhatikan Jesse. "Berani sekali kamu. Kamu tahu apa yang sedang kamu minta?" tanya kepala pengawal itu.


"Ampun.. saya sangat sadar. Sekali hampir mati untuk nyawa pangeran, jika terjadi lagi, saya tidak akan menyesal." Jesse menjawab tegas dan percaya diri.


"Baiklah. Coba kita lihat apa yang akan terjadi denganmu." kata kepala pengawal itu.


Dia memanggil seorang pengawal di penjagaan lapisan dalam halaman istana. Dia menyuruh prajurit itu menyampaikan kepada Pangeran Clarence ada pemuda dari Greenpines ingin bertemu dengannya. Segera prajurit itu berlari ke dalam menuju istana.


"Yang Mulia meminta dia masuk dan bertemu pangeran." kata prajurit itu.


Kepala pengawal menatap Jesse. "Aku berkata benar, jadi aku tidak takut. Aku ini kawan pangeran waktu dia tinggal di Greenpines." mulai sedikit sombong.


"Masuklah. Tidak usah berlagak di depanku." ucap Kepala Pengawal.


"Baiklah, trimakasih." kata Jesse. Dia menaiki kudanya lagi dan melaju menuju ke istana. Dia tahu di mana Clarence berada.


Sampai di sana seorang prajurit mengantar Jesse menuju satu ruangan yang besar. Seperti sebuah ruang kerja atau rapat, dengan meja besar dan kursi mengelilingi meja itu. Clarence tidak duduk di kursi dekat meja besar, tapi di kursi di belakang meja yang lebih kecil, dekat jendela.


"Jesse?! Kejutan kamu datang." sambut Clarence. Senyumnya cerah dan ramah.


Terus terang, Clarence kaget sekali Jesse nekat menemuinya. Jesse tidak tersenyum. Dia pasang wajah datar. Dia berjalan mendekati pangeran itu dan duduk di kursi di depan Clarence.


"Apa kabar, Teman?" Clarence masih tersenyum.


"Menurut kamu kabar apa yang aku bawa?" ujar Jesse agak ketus.


"Hei... kita lama tak jumpa, Teman?" Clarence berdiri dan ingin memeluk Clarence.


Jesse menepis tangan Clarence. "Jangan munafik!" Clarence kaget dengan sikap Jesse.


"Aku tak menyangka punya teman seperti kamu, Clark." sentak Jesse. "Kau menikmati kemegahanmu berbulan-bulan di sini. Kau berjanji akan kembali pada Merylin. Tapi kabar pun tak pernah datang. Kau pikir dia tak punya hati?"


"Jesse?" Clarence makin kaget dengan kata-kata Jesse. "Kau pikir aku meninggalkan dia?"


"Apa namanya jika kau tak meninggalkan Merylin? Kau seperti raib begitu saja. Dan dia terus berharap kau datang. Berdoa setiap hari agar kamu baik-baik saja. Justru dia yang tidak baik, Clark."


"Jesse... tenanglah.. aku masih menunggu waktu yang tepat untuk menemuinya." kata Clarence.


"Kamu mau tunggu air matanya kering dan tak bisa nangis lagi? Aku tak paham dengan kamu?" geram Jesse.


"Jesse.. percaya padaku. Aku hanya menyimpan dia di hatiku." Clarence terus berusaha menjawab dengan tenang.


"Kau bisa saja bilang begitu. Tapi sekalipun kamu pergi dengan para gadis di Kerajaan ini, apa aku bisa melarang? Apa kuasa kami? Kamu yang pegang kendali negeri ini bahkan nyawa kami." ucap Jesse. Sekarang suaranya merendah.


"Jesse.. jika aku sebagai pemimpin tak bisa pegang perkataanku, akan jadi apa negeri ini?" ujar Clarence.


"Clark, aku tahu kedatanganku mungkin tak berarti untukmu. Tapi aku datang karena aku masih mencintai Merylin. Aku mencoba mencari hati lain aku tak bisa." kata Jesse.


Clarence memandang Jesse.


"Jika sampai bulan depan masih belum ada kabar darimu, aku akan katakan kalau kau tak perduli padanya. Aku yang akan membahagiakan Merylin. Tidak perlu istana seindah ini untuk membuat dia tersenyum setiap hari." Jesse menatap Clarence.


"Aku sangat mencintai Merylin, Jesse. Aku pasti akan datang. Aku tahu apa yang akan aku lakukan." kali ini Clarence serius dan tegas berkata.


"Buktikan atau kau akan menyesal!" sentak Jesse.


Dia menunjuk bingkisan yang dia bawa. "Itu tanda mata dari rakyat kecil di pinggiran kerajaan ini. Jika kau lihat benda di dalamnya, kau akan tahu, ada hati, cinta dan doa yang menunggumu."


Jesse membalikkan badan, tidak menoleh, tidak mengucapkan salam. Clarence melihatnya hingga hilang di balik pintu. Clarence membuka bingkisan di meja. Isinya adalah patung kayu, pahatan. Kayu asli dari Greenpines yang mahal dan bagus. Dan itu patung diri Merylin.


"Jesse membuatnya?" Clarence menatapnya dengan kekaguman. Jesse ternyata punya keahlian istimewa.


Dipandanginya patung itu yang tingginya kira-kira setengah meter. Cantik. Mirip sekali dengan Merylin yang asli. Clarence tersenyum. Ya, ada hati, cinta dan doa untuknya. Clarence sangat lega. Merylin masih menunggunya.