Life Goes On

Life Goes On
19 - Janji Clarence



"Merylin, gadis yang menemukan aku di hutan. Aku sudah bercerita pada ibu kalau ada gadis yang menolong aku, lalu aku tinggal dengan mereka." Clarence memandang Felicia.


Dia menunjukkan kalung di lehernya. Ibunya memperhatikan kalung mungil itu.


"Dia menitipkan kalung itu kepada Jesse dengan pesan agar aku berjuang demi bangsa ini." kata Clarence.


Felicia memandang putranya, masih menunggu lebih jelas cerita tentang gadis dari Greenpines itu.


"Merylin gadis yang sangat istimewa, Bu. Dia mengenalku sebelum kami bertemu." Clarence memulai kisahnya.


"Siapa yang tidak mengenal kamu di negri ini, Nak?" kata Felicia. Senyum tipis tersungging di bibirnya.


Clarence ikut tersenyum. "Aku tahu itu, Bu. Merylin berbeda. Dia bertemu denganku dalam mimpinya. Jauh sebelum kita pergi ke Snowpines." lanjut Clarence.


"Mimpi?" Felicia melihat Clarence tak paham. Jesse juga menatap Clarence lebih lekat.


"Dia memimpikan aku beberapa kali. Dan dia berdoa agar bisa bertemu denganku. Dia jatuh hati padaku karena berteman denganku dalam mimpinya." Clarence meneruskan, sementara dalam pikirannya muncul wajah Merylin yang cantik dengan senyum manis, rambut ikal kemerahannya yang indah.


"Sungguhkah?" Felicia menyentuh tangan Clarence. "Dan akhrinya kalian bertemu di hutan itu. Dia menjadi penyelamat kamu."


"Kami bertemu di balai kota, Bu. Dia datang bersama dengan Pastor Brown dan istrinya, ke Perjamuan Malam."


"Bukannya kamu justru tidak ikut malam itu?"


"Memang. Tapi dia dengar aku sakit, saat ibu bicara dengan Henry. Dia nekat naik ke atas mencariku. Dan, aku marah padanya malam itu, karena melihat dia tiba-tiba di depan pintu, menjatuhkan vas bunga. Sementara hatiku sedang tidak baik, dan melihat dia di sana, membuat aku kesal ada yang menganggu." ujar Clarence.


"Wow... pertemuan pertama kesannya tentang kamu pasti tidak baik."


"Benar, Bu. Waktu melihat aku terluka di hutan, dan dia memanggiku pangeran, aku bingung dengan itu. Aku menanyainya, dia menjawab sedikit ketus dan kesal." Clarence tersenyum mengingat hari itu.


"Hari berikutnya dia begitu hancur hati ketika mendengar kabar aku tewas diterkam binatang buas. Tapi dia sangat yakin aku adalah Clarence. Meskipun aku diberi nama Clark oleh ayahnya, dia masih sesekali memanggil aku Clarence. Di hati kecilnya dia yakin Clarence tak pernah mati." tutur Clarence.


"Oh Tuhan... ibu penasaran seperti apa Merylin." ucap Felicia. "Tapi apakah kamu yang dalam mimpinya sama dengan dirimu yang sebenarnya?"


Clarence memandang ibunya. "Ya. Dia melihat Clarence putramu ini dalam mimpinya."


Ratu Felicia tak bisa percaya yang dia dengar. Tapi yang dia tahu putranya tak mungkin berdusta. Jesse yang mendengar semua itu ikut takjub. Kisah cinta kedua teman sekolahnya ini sungguh luar biasa.


"Ibu, aku mencintainya." mata tajam itu terus memandang wajah lembut wanita yang sangat dia kagumi. "Aku sungguh mencintainya."


Tatapan itu membuat Felicia tahu putranya benar-benar jatuh cinta pada gadis desa itu.


"Dan, aku berjanji akan kembali untuknya. Dia berdoa buat aku bahkan sebelum kami bertemu. Dia mencintaiku sebelum kami saling mengenal. Aku akan kembali padanya, Bu." ujar Clarence. Dia berharap ibunya akan mengerti hatinya dan bisa menerima Merylin meskipun dia hanya gadis desa biasa.


"Clarence... Kau tahu wanita seperti apa yang tepat untuk mendampingi kamu... Ibu akan mendukung jika kamu yakin dia akan mengasihi kamu sepenuh hatinya dan menolong kamu menjadi pemimpin yang baik untuk negri ini." Felicia menepuk pundak Clarence.


"Trimakasih, Bu.. trimakasih." Clarence lega sekali mendengar kata-kata ini.


Begitupun Jesse dia ikut lega. Ratu Felicia ternyata sangat baik hati dan bijaksana, seperti yang dia dengar selama ini.


🌟🌟🌟


Pagi-pagi Jesse sudah bersiap pulang ke Greenpines. Jesse menolak waktu Clarence ingin mengutus pasukan menyertai perjalanannya. Dia lebih senang pergi sendiri, agar tidak menyolok dan menjadi perhatian rakyat sepanjang jalan yang dia lalui. Clarence tidak memaksa, tapi dia memberi cukup banyak hadiah untuk diberikan pada Merylin, Charles dan Arvella, Albert dan Margareth, Jesse dan keluarganya.


"Jesse, selamat jalan." kata Clarence.


"Trimakasih, Yang Mulia." Jesse memberi hormat.


"Tentu. Dengan senang hati, Clark." Jesse tersenyum. Dia lepaskan pelukan Clarence lalu naik ke punggung Snowy. Kuda itu harus kembali kepada keluarga Everance, mereka pasti memerlukannya.


Dua hari perjalanan seperti sangat cepat bagi Jesse. Dengan penuh semangat dia pacu Snowy menuju bukit kecil itu. Di mana di atasnya berdiri rumah mungil dan cantik. Begitu dekat, dengan sepenuh hati dia berteriak girang.


"Merylin!! Merylin!! Dia berhasil!!! Merylin!!!"


Mendengar teriakan itu tentu saja Merylin sangat terkejut. Dia melompat dari kursi dan berlari keluar rumah.


"Jesse!" Merylin menatap Jesse yang turun dari punggung Snowy.


Merylin mendekat dan mengelus kepala kudanya. Dia juga rindu kuda putihnya yang cantik ini.


"Banyak bawaan kamu." Merylin membantu Jesse menurunkan hadiah yang diberikan Clarence untuk mereka.


Orang tua Merylin juga ikut keluar. Mereka tadi ada di belakang rumah. Melihat Jesse begitu gembira mereka juga ikut senang. Tanpa menunggu menit berikut, Jesse segera menceritakan semua yang ia alami bersamaan. Clarence selama di kota raja. Bagaimana akhirnya mereka dapat menggagalkan rencana jahat Jendral Matthew dan Henry juga Marelina. Tak hentinya mereka tercengang, terperangah, mendengar penuturan Jesse.


"Dan ini hadiah untuk keluarga ini. Setiap bingkisan ada namanya." Jesse membagikan hadiah yang ada di meja.


Dengan cepat Merylin membuka hadiahnya. Gaun warna putih yang sangat indah. Gaun dengan model terbaru, dari sutra dengan hiasan berlian di sana sini. Tangan Merylin gemetar memegang gaun itu.


"Cantik sekali." kata Margareth. Dia sentuh gaun itu sangat lembut. Merylin mendekap gaun itu di dadanya.


"Apakah dia bilang akan datang?" tanya Merylin dengan wajah merona. Rindunya kepada Clarence membuncah, membuat debaran jantung tak karuan.


"Iya, dia bilang dia akan datang. Tapi aku tak tahu kapan. Dia pasti akan mengurus banyak hal di istana. Karena banyak kekacauan disebabkan Henry sejak dia ambil alih pimpinan kekuasaan ketika raja sakit." jawab Jesse.


"Dia calon raja, pasti banyak yang harus dia bereskan." kata Albert.


"Dia bercerita tentang dirimu pada Ratu Felicia. Dia mengatakan dia mencintaimu. Dan ratu sama sekali tidak keberatan Clarence memilih kamu." Jesse memandang Merylin.


Merylin tersenyum. Rasanya di atas kepalanya bertebaran bunga-bunga dan kupu-kupu. Hatinya penuh syukur mendengar semua ini.


Albert dan Margareth tersenyum bahagia melihat putrinya gembira. Albert memeluk istrinya sambil menepuk bahunya. Mimpi putrinya menjadi nyata, doanya telah terjawab.


Kemudian Jesse berpamitan pulang. Dia masih ada tugas menemui Pastor Brown dan istrinya. Mereka harus mendengar kabar yang menggembirakan ini.


.


.


.


🌼🌼🌼


I will love the sun for it warms my soul


I will love the rain for it cleanses my spirit


I will love the light, for it shows me the way


But I love you most, for you are my dream come true


🌼🌼🌼