Life Goes On

Life Goes On
7 - Kabar Duka dari Kota



Pagi tiba. Matahari bersinar cerah. Merylin baru selesai memberi makan unggasnya. Dia masuk dapur. Ibunya sedang menyiapkan bubur dan susu hangat untuk Clarence. Ayah sudah berangkat ke kota, mencari kabar jika ada keluarga yang kehilangan putra mereka.


"Boleh aku bantu, Bu?" kata Merylin.


"Lihat apa Clark sudah bangun. Dan bawakan makanan ini biar dia sarapan." Ibu memberikan nampan berisi mangkuk bubur dan segelas susu.


Merylin membawanya ke kamar. Merylin masuk perlahan ke dalam. Clarence masih tidur. Dia letakkan nampan di meja kecil sebelah tempat tidur.


Merylin membuka gorden dan jendela, agar cahaya dan udara segar masuk ke dalam kamar. Angin berhenbus pelan, dingin terasa mengenai wajah Merylin. Cahaya matahari menerobos masuk menimpa wajah Clarence. Terasa silau, Clarence membuka matanya.


Merylin memandang wajah tampan itu. Bahkan bangun tidur tetap sempurna ketampanannya. Dengan pakaian ayahnya yang biasa saja masih terlihat aura dirinya yang bukan rakyat biasa.


"Selamat pagi, Pangeran Clarence. Bagaimana hari ini?" tanya Merylin. Dia mendekat ke sisi ranjang di dekat meja.


Clarence berusaha duduk. Agak kesulitan. Merylin menolong membetulkan posisi bantal agar Clarence bisa bersandar dengan nyaman. Hati Merylin dag dig dug juga sedekat ini dengan Clarence.


"Kenapa kamu masih memanggilku Pangeran Clarence? Sekarang namaku Clark." kata Clarence.


"Nama kamu yang paling cocok menurutku Clarence." ujar Merylin.


"Aku rasa kamu salah orang jika menganggap aku pangeran. Aku hanya orang yang mirip dengannya." Clarence memandang Merylin.


"Mungkin. Siapa yang tahu?" Merylin mengangkat bahunya. Diambilnya mangkuk bubur, mulai menyuapi Clarence.


Sambil makan, Clarence melihat keluar jendela. Pemandangan di luar sangat cantik. Rumah ini terletak di atas perbukitan, sehingga bisa melihat padang dan lembah terbentang luas di kejauhan. Dengan hutan yang hijau dan cantik.


"Lembah itu cantik sekali." kata Clarence.


"Ya, aku sering bermain di sana." Merylin ikut memandang padang yang luas terhampar dengan bunga-bunga yang warna warni sedang mekar.


"Aku jadi ingin ke sana juga." mata Clarence tetap lurus melihat ke kejauhan.


"Kalau kamu sudah sembuh, kita bisa ke sana, berkuda bersama." Merylin tersenyum tipis.


"Kamu bisa berkuda?" ujar Clarence.


"Ya.. tidak terlalu mahir. Tapi rata-rata semua wanita di sini bisa berkuda." jawab Merylin.


"Kamu tak punya saudara?" Clarence menatap mata Merylin. Bening, coklat terang, tidak lebar dengan bulu mata lentik.


"Tidak. Aku anak tunggal di keluarga ini." Merylin menaruh mangkuk di meja. Bubur sudah habis. "Sempat aku hampir punya seorang adik. Tetapi ibu keguguran waktu mengandung. Sampai sekarang ibu tidak hamil lagi."


Clarence bertanya ini itu tentang kehilangan di sekitar Greenpines. Ternyata cukup menyenangkan. Clarence jadi ingin cepat sehat dan menikmati bagaimana hidup orang-orang di desa ini.


🌟🌟🌟


Jam 4 sore, Albert sampai di rumah. Ke kota sekalian membeli barang untuk keperluan terbaik dan ladang, selain mencari tahu tentang keberadaan Clarence. Merylin ikut membereskan barang dari kereta kuda dan membawanya ke dalam rumah.


"Apa ini, Ayah?" tanya Merylin.


"Beberapa potong pakaian untuk Clark. Dia tak mungkin pakai baju ayah terus. Agak kedodoran di badannya, tapi terlalu pendek celananya." jawab ayah. Mereka masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana kabar di kota? Ada orang yang kehilangan anaknya?" Margareth bertanya.


"Hanya... ada sesuatu yang menyedihkan terjadi..." terdengar suara Albert berubah sendu.


Margareth dan Merylin melihat ke arah Albert. Clarence dari ranjangnya dapat mendengar jelas pembicaraan mereka. Pintu kamarnya terbuka.


"Keluarga kerajaan berduka. Pangeran Clarence mendapat musibah saat perburuan. Dia pergi bersama Pangeran Henry, dan diterkam binatang buas. Pangeran Henry juga luka-luka karena berusaha menyelamatkan diri. Pangeran Clarence tak bisa ditolong." kata Albert. Dia menurunkan kaki dan menegakkan badan.


Merylin menjatuhkan pakaian untuk Clarence yang dipegangnya.


"Tidak! Itu tidak benar... itu tidak mungkin!! Aku tak percaya... ini pasti salah!!" Merylin berdiri, melihat Clarence yang duduk bersandar di ranjang. Clarence juga memandang ke arah Merylin. Wajah gadis mungil itu berubah sangat sedih, bercampur marah dan bingung.


Lalu Merylin lari keluar rumah, turun ke arah lembah ke padang di bawah bukit.


"Merylin?! Kamu mau ke mana? Ini sudah hampir gelap!!" panggil Margareth dari depan pintu.


Merylin tidak menghiraukannya. Dia terus berlari hingga hilang di tengah rerumputan yang tinggi di padang itu.


"Kenapa dia?" tanya Albert bingung.


Margareth kembali ke kursinya. "Aku tak pernah cerita padamu. Anak kita itu bermimpi tentang Pangeran Clarence. Beberapa kali. Dia merasa dalam mimpinya dia berteman dengan Pangeran Clarence. Pasti ini membuat dia terkejut."


"Hah? Mimpi? Ada-ada saja anak itu." Albert menggeleng tak paham dengan putrinya.


Di tempat tidurnya, Clarence melihat Merylin yang hilang di padang luas itu. Mendengar penuturan Margareth, Clarence juga merasa heran. Gadis itu mengira dia Clarence saat bertemu di hutan. Kenyataan sekarang, Clarence dikabarkan tewas diterkam binatang buas. Dan dia menangis. Padahal dia cuma bertemu lewat mimpi? Ada apa dengan gadis itu?


Merylin lelah berlari. Dia jatuh terduduk dan menangis dengan keras. Menangis sejadi-jadinya sampai puas dan letih. Langit yang memerah dan cantik tak lagi menarik buatnya. Yang dia rasa hatinya hancur.


Mimpi-mimpinya tergambar lagi di kepala Merylin. Wajah tampan itu, di dalam mimpi, yang sama seperti yang dia temui di balai kota. Dan wajah yang sama dengan lelaki terluka yang dia temui di hutan. Yang sekarang sedang terbaring di rumahnya. Lalu? Kenyataan yang terjadi, Clarence meninggal?


"Tuhan... Di mana Engkau? Apa yang sebenarnya terjadi? Clarence tidak mati, kan? Dia di sini. Dia tidak mati. Tuhan... jawab aku.. jawab aku..!!!" Merylin berteriak sekeras-kerasnya sambil menangis.


Dia menatap langit yang makin temaram. Yang dia rasa Tuhan diam. Merylin tak mendengar apapun di hatinya. Merylin terus menangis sampai matanya bengkak. Matahari benar-benar mulai hilang di balik bukit. Merylin berdiri, dengan lunglai kembali ke rumah.


Di depan pintu ibu menunggunya. Melihat ibunya, Merylin berlari dan memeluknya erat. Kembali tangisnya pecah. Rasa nyaman memenuhi dadanya saat ibunya mengelus rambut dan punggungnya.


"Tidak apa-apa, Sayang... Menangislah..." kata Ibu. "Tuhan menganggap cukup waktu Clarence untuk hidup. Dan dia bawa Clark untuk kamu." bisik Ibu.


Merylin tak menjawab. Dalam hati dia berkata, "Ibu mungkin benar. Bahwa Tuhan kirimkan Clark sekarang. Atau justru yang aku mimpikan adalah Clark dan bukan Clarence?"


Namun jauh di dasar hati Merylin dia masih merasa Clark adalah Clarence. Merylin melepas pelukan Margareth, berjalan ke kamar Clark. Pemuda itu menatapnya. Merylin berjalan ke arahnya, menyalami Clark.


"Selamat datang, Clark. Kami adalah keluarga kamu sekarang." kata Merylin. Mata dan pipinya masih basah.


"Maaf, aku tak paham kata-kata kamu. Tapi yang pasti aku bukan pangeran itu, sekalipun aku ingat diriku. Bila boleh, aku berharap aku memang pangeran itu, agar aku bisa membalas segala kebaikan kamu dan keluarga ini." ucap Clarence.


Merylin tersenyum hanya di ujung bibirnya. Dia tinggalkan Clarence dan masuk ke kamarnya. Ia menelungkupkan wajah di atas bantal. Air matanya kembali mengalir. Hatinya masih berseru pada Tuhan.


"Benarkah Clarence sudah mati? Lalu siapa pemuda yang benar-benar mirip Clarence ini? Siapa?" bisik hati Merylin.


Tuhan masih diam.