Life Goes On

Life Goes On
13 - Istana



Dengan kecepatan penuh, Clarence memacu Snowy menuju kota raja. Paling tidak perjalanan ditempuh dua hari. Dia rasanya tak mau berhenti sebelum tiba di kota raja. Sekali dua kali Clarence berhenti karena perlu makan dan istirahat, juga memberi Snowy rumput segar dan minum.


Untungnya, Clarence dulu sangat suka menjelajah negeri ini, sehingga dia tahu jalan-jalan pintas yang bisa membawanya lebih cepat tiba di kota raja. Satu tujuannya, dia ingin melihat jenazah ayahnya sebelum disemayamkan di tempat peristirahatan terakhir.


Perjalanan yang jauh dan melelahkan itu tak dirasakannya. Entah berapa sungai dia seberangi, berapa bukit dia daki, berapa banyak lembah dia lewati. Hanya ingin secepatnya tiba di tujuan. Dua hari berikutnya pagi sekali Clarence tiba di kota raja.


Langit merah mulai merekah, memberi tanda kehidupan akan kembali berjalan di kota besar itu. Biasanya kota raja dari pagi ramai orang berlalu lalang, kereta kuda berjalan menyusuri jalanan kota. Orang-orang bersiap ke tempat kerja atau usaha mereka. Tapi pagi ini sunyi. Sangat sepi. Suasana duka begitu terasa, menyelimuti kota yang selalu ramai itu.


Clarence membawa Snowy mendekati istana. Clarence berhenti dan menatap istana di depannya. Masih megah dan cantik. Tapi tak mungkin dia masuk tiba-tiba ke sana. Orang-orang akan sangat terkejut. Bagaimana jika dengan dia muncul Henry akan benar-benar membunuhnya?


Akhirnya Clarence memutar haluan, dia ke bagian belakang istana. Ia tahu lorong rahasia untuk masuk ke istana. Ia menyembunyikan Snowy di semak-semak lalu ia masuk melalui pintu yang tak terlihat. Dari luar nampak dinding dipenuhi daun dan bunga-bunga, tetapi sebenarnya ada pintu di sana.


Lorong itu gelap, pengap, dan kotor. Sedikit sekali cahaya yang masuk. Tapi Clarence masih bisa mengetahui jalan yang dia tempuh. Dulu dia sering bermain dengan Henry hingga di lorong ini. Terakhir kali hampir empat tahun yang lalu. Sekarang tak ada lagi yang peduli lorong ini.


Ujung lorong ini ada di kamar Clarence. Pintu dari kayu di lantai, yang bisa dibuka ke atas. Ternyata tidak terkunci. Clarence masuk kamarnya. Semua barang di kamar ini ditutup dengan kain putih. Jendela tertutup rapat. Bau pengap juga terasa. Kamar ini sudah tidak dipakai lagi. Clarence mencoba membuka pintu, ternyata dikunci dari luar.


"Ah, pisau lipat." kata Clarence lirih.


Dia menuju lemari besar, membuka rak bagian bawah. Dulu dia menyimpan beragam pisau di sana, untuk berlatih melempar dengan jitu. Ternyata masih ada. Clarence mengambil yang kecil dan dengan itu dia mencoba membuka pintu. Cukup lama dia coba, akhirnya, bisa!


Clarence melongok keluar pelan-pelan. Tidak ada siapapun. Walau begitu, tetap tidak aman untuknya. Dia kembali masuk dan menutup pintu. Lalu dia buka lemari pakaian yang sangat besar di sana. Ia mengambil seragam prajurit lengkap miliknya. Itu hadiah ulang tahun dari Dominique, salah satu prajurit yang dekat dengannya. Clarence mengganti pakaiannya dengan seragam itu. Kemudian perlahan dia keluar kamar. Dia menuju ruang besar di tengah istana.


Ya! Peti jenazah Raja Patrick ada di sana. Ada enam prajurit berjaga di sekitarnya. Dan beberapa lagi, berdiri lebih jauh. Clarence tak bisa melihat ke dalam peti itu. Dia memilih menunggu, berharap ada kesempatan untuk bisa mendekati peti ayahnya.


Kira-kira sejam kemudian jam pergantian jaga prajurit. Saat itulah Clarence beringsut masuk dan bergabung dengan para prajurit. Di berbaris tegak bersama prajurit lainnya, lengkap dengan ketopong dan pedangnya. Tak ada yang curiga, semua berjalan baik.


Clarence tepat berdiri dekat di sisi peti kaca itu. Jelas sekarang wajah ayahnya terlihat. Masih tampan dan berwibawa.


"Ayah..." bisik hati Clarence. Air matanya meneteskan di balik ketopong yang dia kenakan. Hatinya sungguh pilu, melihat ayahnya yang sangat gagah dan punya kharisma, kini berbaring tak berdaya, tanpa nafas.


"Maafkan aku, Ayah.. Aku bukan anak yang berbakti. Aku tidak ada di sisimu saat kau membutuhkan aku. Aku tak bisa mengucapkan selamat jalan pada ayah. Tapi aku yakin ayah tahu, aku sangat sayang pada ayah. Aku bangga menjadi putramu." ucap hati Clarence.


Beberapa waktu kemudian terompet tanda upacara mulai dibunyikan. Dari ruang atas, keluarga kerajaan turun ke ruang besar. Clarence melihat Henry menuntun Ratu Felicia. Ada bekas luka di wajah Henry. Itu pasti karena goresan pedang Clarence. Sedang sang ratu, tergambar jelas kesedihannya. Wajahnya pucat, matanya sedikit bengkak. Pasti terlalu banyak dia menangis.


"Ibu... Aku sangat rindu padamu." bisik Clarence. Ingin rasanya dia lari dan memeluk ibunya. Tapi tak mungkin dia lakukan sekarang.


Henry dan ibu duduk di kursi kebesaran kerajaan. Upacara dimulai. Pendeta Bennett, yang memimpin upacara. Para jenderal dan pembantu raja, keluarga kerajaan, para bangsawan, semua hadir. Termasuk Jendral Matthew dan putrinya, Marelina. Tak nampak kesedihan di wajah mereka. Clarence geram sekali melihat mereka. Tapi yang bisa dia lakukan sekarang hanya diam.


"Patrick, suamiku, raja kebanggaanku... selamat jalan..." ucap Felicia. Suaranya hampir tak terdengar.


"Aku tahu, kamu sudah bebas dari sakit sekarang. Kamu pasti berjumpa putra kita, Clarence. Sampaikan salamku untuknya. Aku akan terus berjuang untuk negri ini. Aku sayang kalian berdua." dengan air mata mengalir Felicia mengatakan semua ini.


Tiba-tiba tubuh Felicia limbung. Secepat kilat Clarence menangkapnya. Ratu pingsan. Henry membantu mengangkat tubuh Felicia.


"Ke ruang atas." kata Henry. Berdua dengan Clarence, dia mengangkat tubuh ibunya. Mereka bawa ke kamar dan dibaringkan di sana.


"Kamu jaga ratu di sini." kata Henry pada prajurit itu, yang tak lain adalah Clarence.


"Siap, Yang Mulia." Clarence menghormat. Henry keluar kamar dan menutup pintu.


Clarence menarik nafas lega. Dia melepas ketopong di kepalanya, dia mendekati ibunya. Sang ratu terlihat tak tenang dalam tidurnya. Clarence tahu betapa sedih dan hancur hati mengalami semua ini. Ingin sekali dia memeluk ibunya erat, melepas semua sakit dan kepedihannya. Dia tak berani melakukan itu. Ia hanya menatap wajah ibunya dengan air mata mengalir di pipinya. Dia terduduk di sisi ranjang, dengan kepala disandarkan pada pinggir ranjang, sementara tangan kanannya memegang ujung tangan kiri ibunya.


Sang ratu tersadar. Ia membuka mata, merasa ada yang menyentuh tangannya. Dia melihat ke sisi ranjang. Siapa dia? Rasanya dia tahu orang ini. Rambut ikal, coklat.


"Clarence..." ucapnya seperti tak sadar meluncur begitu saja dari mulutnya.


Clarence mengangkat wajahnya. "Ibu..." katanya lirih.


Bagai disambar petir, Ratu Felicia terkejut luar biasa. Dia berusaha bangun.


Clarence berdiri dan mendekati ibunya. "Sstt... ibu jangan bicara apapun.... Aku Clarence, aku masih hidup..."


Ratu Felicia menyentuh pipi Clarence. "Anakku..." Ratu memeluk Clarence dengan erat.


Dia lepaskan semua rindu dan pedih yang terpendam begitu dalam. Sekian bulan dia menangis, meratapi putranya. Masih rasa tak percaya dengan kematiannya yang mengerikan. Sekarang putranya datang kepadanya. Bahagia bercampur sedih meluluhlantakkan hatinya.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan putranya? Kenapa baru sekarang dia datang? Apakah benar dia tersesat? Kenapa Henry yakin dia mati diterkam binatang buas? Di kepalanya penuh pertanyaan.


"Di mana kau selama ini, Nak? Ayahmu sakit, dan.."


Tok! Tok! Tok! Pintu diketuk dari luar.


Felicia dan Clarence menoleh ke pintu!!