Life Goes On

Life Goes On
16 - Penobatan Raja Baru



Hari sangat panas, padahal belum begitu siang. Clarence berjalan di pasar yang tidak terlalu ramai. Kota ini benar-benar berkabung. Raja Patrick memang sangat dicintai rakyat, karena kebijakan dan kasihnya pada rakyatnya. Seluruh negeri sungguh merasa kehilangan.


Clarence pergi mencari pekerjaan di pasar agar dapat uang untuk membeli makanan. Jambangnya sudah mulai memenuhi wajahnya jadi orang tak begitu mengenal dia. Apalagi seluruh rakyat tahu Clarence sudah meninggal. Dia agak tenang juga orang tak akan mengenalinya.


Tidak semua orang juga bersikap ramah. Ada yang dengan kasar membentak dan mengusirnya. Karena memang Clarence terlihat lusuh. Untungnya ada pedagang keramik yang baik yang mau memberinya pekerjaan. Dia meminta Clarence mengangkat dan menata dagangannya.


Ketika sedang mengangkat keramik ada seseorang yang memanggilnya.


"Clark!"


Clarence langsung menoleh. Betapa terkejutnya Clark melihat pria di depannya itu.


"Jesse??" katanya kaget. "Kau di sini?"


"Benar. Ini aku..." Jesse memeluk Clarence. Senang sekali dia bisa bertemu Clarence.


"Doa Merylin dan Pastor Brown pasti tidak berhenti untukku. Baru tadi pagi aku sampai, sekarang aku bisa bertemu denganmu." kata Jesse.


"Maksudmu?" Clarence menatap Jesse tak paham.


"Aku tahu kamu adalah Pangeran Clarence. Dan aku ke sini menyusulmu. Aku tahu Yang Mulia butuh teman." ucap Jesse. "Tapi, kenapa Yang Mulia tidak ada di istana?"


"Ceritanya panjang, Jesse. Aku harus selesaikan kerjaku, nanti kita bicara." jawab Clarence.


"Baiklah. Aku akan menemui pamanku sebentar nanti aku kembali." kata Jesse.


Dia pergi menemui pamannya dan mengatakan sudah bertemu teman yang dicarinya. Dia pamitan akan pergi dengan temannya itu.


Selesai Clarence bekerja, dia mendapat upah. Dia gunakan untuk membeli makanan dan buah agar bisa makan sampai besok. Begitu Jesse kembali dia mengajak Jesse pergi ke gubuk reot tempatnya istirahat semalam.


Jesse cuma geleng-geleng. Bagaimana pangeran ini justru memilih tinggal di pinggiran kota padahal istana terlihat dari gubuk ini.


"Yang Mulia sama sekali belum ke istana?" tanya Jesse.


"Panggil aku seperti biasa. Aku tidak mau kamu keceplosan bicara, bisa celaka hidupmu." ujar Clarence.


"Maaf, aku tidak berani kurang sopan. Sekarang aku tahu yang sebenarnya jadi.."


"Aku tetap teman kamu, Jesse. Clark. Ingat itu." tegas Clarence.


"Baiklah.." Jesse mengalah.


"Aku sudah ke istana. Lewat pintu rahasia. Dan..." Clarence menceritakan apa yang dialaminya sejak datang di kota raja.


"Wow... luar biasa..." Jesse menatap Clarence. Dia tahu perjuangan berat yang menanti di depan Pangeran ini.


"Clark... ada sesuatu yang aku ingin sampaikan." Jesse mengeluarkan kalung yang Merylin titipkan padanya. Dia berikan pada Clarence.


Clarence menerimanya dan memperhatikan kalung itu. Dia tahu itu milik Merylin.


"Dia katakan, kau harus berjuang demi bangsa ini. Kau yang harus meneruskan apa yang Raja Patrick kerjakan di atas negri yang kuat ini." ucap Jesse.


"Aku akan membantumu, Pangeran." sahut Jesse.


"Jika perlu, nyawa harus diberikan."


"Aku siap mati buat bangsaku. Aku cinta negri ini. Aku tak rela jika negri ini jatuh ke tangan orang yang salah." Jesse mengepalkan tangannya.


"Aku bangga padamu. Trimakasih." kata Clarence. Dia tepuk pundak Jesse.


Clarence kemudian mulai menyusun rencana bagaimana dia akan masuk istana saat penobatan Henry sebagai raja.


🌟🌟🌟


Pagi-pagi sekali Clarence dan Jesse bangun. Mereka menyiapkan diri untuk ikut hadir pada acara penobatan raja yang baru. Mereka mandi di sungai tak jauh dari gubuk itu. Air dingin menusuk tulang tapi membuat segar kepala Clarence yang rasanya panas dan begitu tegang.


Kemudian mereka menuju istana. Acara penobatan dilaksanakan pagi jam 9. Nampak persiapan di sana sini. Para pengawal yang disiagakan. Umbul-umbul penanda adanya acara besar juga dipasang di sekeliling gerbang istana.


"Ayah baru tiga hari meninggal, tapi penobatan tetap dilangsungkan. Henry benar-benar tak punya hati." batin Clarence.


Acara akan dilakukan di halaman istana. Rakyat diberi kesempatan melihat acara ini dengan penjagaan ketat dan jarak yang diatur agar tidak mengganggu jalannya upacara. Bersama rakyat yang lain, Clarence dan Jesse bergerak menuju gerbang istana. Tak seorangpun mengenal Clarence. Karena model rambutnya yang berbeda dan dia mengenakan pakaian biasa. Apalagi rakyat tahu pangeran Clarence telah tiada. Juga Clarence mengenakan jubah yang menutup hingga kepalanya.


Jam setengah 9 gerbang utama istana dibuka. Rakyat berbondong-bondong masuk ke halaman istana yang luas. Pasukan yang bersiaga di dalam lebih banyak. Nampak Jendral Matthew dan Jendral lainnya memberi arahan pada kepala pasukan di beberapa titik sekitar halaman. Kemudian mereka mengambil posisi masing-masing.


Di kamarnya Henry dengan bangga mengenakan jubah kebesarannya. Di kamar lain, Marelina sibuk dengan gaun terbaiknya. Dan Ratu Felicia, berlutut di sisi ranjang, berdoa memohon Tuhan menolong negri dan bangsa ini. Dia meminta keajaiban agar tangan jahat akan disingkirkan dari Kerajaan Goldy Star.


Jam 9 tepat, terompet pertanda upacara mulai dibunyikan dengan lantang. Henry berjalan dengan gagah menuju panggung kebesaran. Diikuti merelina yang bersidi agak di belakangnya. Ratu Felicia juga berjalan mengikuti. Marelina mengambil tempat di sebelah ayahnya. Felicia dan Henry di kursi utama.


"Kenapa ibu mengenakan pakaian itu?" Henry memandang ibunya yang datang dengan pakaian berwarna hitam, tanda perkabungan.


"Ayahmu baru tiga hari meninggalkan kita. Aku ingin menghormatinya, Henry." jawab Felicia dengan tetap menatap lurus ke depan. Meski raut wajahnya berduka, keanggunannya tidak hilang. Henry mengepalkan tangan geram.


Pendeta Benette, memimpin upacara. Sorot wajahnya juga jelas masih berduka. Tapi dia adalah pelayan kerajaan. Perintah adalah perintah. Jauh di dasar hati dia sangat bersedih atas kepergian Raja Patrick. Patrick adalah sahabat kecilnya. Benette anak salah satu jendral tetapi memilih hidup menjadi pelayan Tuhan dengan mengabdi menjadi pendeta dan Patrick memintanya menjadi rohaniawan di istana.


Upacara berjalan dengan baik, khidmat, semua lancar. Hingga sebelum penobatan disahkan, Ratu Felicia diberi kesempatan untuk berbicara. Biasanya raja yang digantikan yang akan bicara menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada raja yang baru. Karena Patrick tiada, maka ratu yang mewakilinya.


Dengan wajah yang tegas dan anggun, Felicia berdiri di tengah panggung. Dia memandang ke seluruh rakyat dan pembesar kerajaan yang hadir. Hatinya begitu gundah. Dia mencintai orang-orang ini. Mereka rakyat yang setia kepada raja. Sekarang di hadapan mereka akan dilantik seorang raja baru yang hatinya bukan pada bagaimana membawa kesejahteraan bagi rakyat, namun bagaimana memegang kekuasaan. Rasanya tak sanggup melihat itu akan terjadi.


"Hari ini, aku berdiri di hadapan seluruh rakyat Goldy Star yang setia dan mencintai bangsa ini. Aku sungguh masih merasakan duka kalian atas kepergian Raja Patrick. Namun, aku juga berdiri di sini, melihat sukacita di wajah seorang anak atas kematian ayahnya. Dan bagiku ini adalah hari kemalangan bagi Goldy Star. Karena itu aku tidak menerima engkau Henry, menjadi raja atas negri ini." Ratu Felicia menatap lurus ke arah Henry.


Semua yang hadir sangat terkejut. Suara berisik mulai menggema di seluruh halaman istana yang penuh rakyat dan pembesar kerajaan.


Henry apalagi. Seketika wajahnya merah karena marah. Jendral Matthew dan Marelina juga sangat terkejut. Di titik akhir rencana mereka tak disangka, ratu yang selama ini lembut dan lebih memilih diam justru menyerang mereka.


Henry berdiri dengan emosi tak dapat dibendung. Dia mengangkat wajah dengan tangan terkepal.


"Ibu, tidak seorangpun dapat menghalangi aku menjadi raja. Jendral Matthew, bereskan wanita itu." sentak Henry.


Semakin riuh suasana. Rakyat terkejut dengan sikap Henry yang tiba-tiba berani melawan ibunya.