
Seminggu berlalu.
Hari ini pengadilan untuk Jendral Matthew, dokter Dixon, dan Marelina akan dilakukan. Sejak pagi Clarence merasakan ketegangan. Dia tahu ini situasi tidak mudah. Jendral Matthew sangat dia kenal baik sejak dia kecil. Seorang jendral yang tegas, berdisiplin tinggi dan sangat disegani. Marelina, adalah teman kecilnya. Ada waktu-waktu mereka bermain bersama, belajar bersama hingga masa remaja. Meskipun dia tidak suka dengan gadis itu, tetap saja berat rasanya melihat kenyataan mereka melakukan kejahatan terhadap pemimpin negara.
Ruang pengadilan telah disiapkan. Ratu Felicia juga sudah bersiap. Dari raut wajahnya nampak rasa sedih bercampur marah dan kecewa. Clarence tahu ini juga saat yang sulit buat ibunya.
Para prajurit disiagakan untuk mengawal jalannya pengadilan. Ratu Felicia lebih dulu berbicara dengan dua penasihat raja dan Jendral Logan yang juga salah satu panglima tertinggi negara. Mereka memasuki ruang pengadilan. Clarence dengan beberapa pembesar kerajaan lainnya duduk menjadi saksi pada pengadilan kali ini.
Kemudian Jendral Matthew, dokter Dixon dan Marelina dihadirkan dalam ruangan itu. Dokter Dixon nampak ketakutan. Marelina juga begitu, wajahnya pucat dan terlihat sangat kuyuh. Pasti dia banyak sekali menangis. Sedang Matthew nampak lebih tegar demi harus mempertanggungjawabkan dengan apa yang telah dia lakukan. Pandangannya lurus, tanpa ekspresi.
"Kita semua telah melihat kekejaman yang luar biasa terjadi dalam negara kita. Seorang Jendral yang penuh pengabdian kepada bangsa ini, tak pernah kita duga dan sangka telah menjadi otak kematian raja, pemimpin utama Kerajaan Goldy Star dan merencanakan penggulingan kekuasaan yang sah." Felicia dengan tegas dan penuh wibawa, namun tidak menghilangkan keanggunannya.
"Jendral Logan, bacakan semua tuduhan yang diajukan pada Jendral Matthew, dokter Dixon dan Putri Marelina." Felicia menoleh pada Jendral Logan.
Jendral Logan berdiri. Dia membacakan semua kejahatan yang didakwakan pada Jendral Matthew.
"Merencanakan pembunuhan dengan memberi racun pada Raja tidak dapat diampuni. Hukum negara menyatakan siapapun yang melakukan tindakan menentang raja hingga mengancam nyawanya akan mendapatkan hukuman mati. Dan siapa yang turut mendukung dan sepakat melakukan hal yang demikian seringan-ringannya akan dihukum dengan dibuang ke Pulau Black Shadow dan seberat-beratnya adalah hukuman mati." Jendral Matthew mengakhiri pembacaannya.
"Sekalipun sudah gamblang di depan mata, di depan seluruh rakyat, Jendral Matthew menunjukkan sikap melawan otoritas tertinggi negara, perkara ini telah diselidki secara seksama, maka sesuai dengan hukum negara, Jendral Matthew dijatuhi hukuman mati." Suara Felicia agak bergetar mengatakan ini.
Jendral Matthew menatap Felicia. Dia tak menyangka wanita lembut itu bisa setegas ini. Sekarang yang dia pikirkan adalah putrinya. Bagaimana nasibnya apakah akan sama dengan dirinya. Marelina sangat pucat dan ketakutan. Dia terus saja menangis. Dokter Dixon terlihat gemetar. Dia bahkan sudah menitikkan air matanya.
"Keputusan sudah diambil. Jendral Matthew dan dokter Dixon dijatuhi hukuman mati. Sedang Putri Marelina akan dibuang ke Pulau Black Shadow hingga waktu yang belum ditentukan." dengan suara sedikit gemetar Felicia mengatakan ini. Dia menatap lurus ke depan, tidak mau memandang Matthew, Dixon, dan Marelina. Jika itu dia lakukan dia pasti menangis.
Matthew jatuh terduduk, tangannya mengepal, menangis dalam diam, sangat sedih bercampur marah. Tapi dia tahu dia tak bisa berbuat apa-apa. Dixon langsung menangis sambil bersujud memohon ampun. Dan Marelina dia menjerit-jerit ketakutan.
"Ratu, mohon ampun... ampuni saya, Ratu... tolong jangan buang saya ke pulau itu.. ampun, Ratu...!!" Marelina berlari ke arah Felicia.
Tapi prajurit dengan sigap menahannya agar dia menjauh dari Ratu Felicia. Lalu Marelina berbalik badan melihat pada Clarence.
"Pangeran Clarence... aku mohon ampuni aku.. kita teman sejak kecil... aku mohon... Pangeran Clarence..!!' teriak Marelina di tengah tangisnya.
Hati Clarence sebenarnya tidak tega. Ada yang sesak menjalar di sana. Dia mengikuti ibunya yang sudah bergegas meninggalkan ruang pengadilan. Segera menuju kereta kuda kembali ke istana.
Di dalam kereta, Felicia menangis. Sampai bahunya berguncang karena rasa sedih yang sangat dalam. Clarence meraih bagi ibunya dan membiarkan wanita pujaannya ini menangis di dadanya hingga lega.
🌟🌟🌟
"Ibu, sudah lebih baik?" Clarence mendekati ibunya yang duduk di teras samping istana. Dia memandang halaman yang luas.
"Ya.. sedikit lebih baik." ucap ibunya sambil memandang Clarence lalu melihat lagi ke halaman istana yang mulai kering karena musim gugur telah datang. Angin terasa cukup kencang berhembus.
Clarence duduk di sebelah ibunya. Kepedihan ini akan lama berlalu. Kehilangan ayah dan Henry, memberi hukuman untuk orang-orang yang selama ini dekat dengan mereka. Benar-benar bukan hal yang mudah.
"Clarence, masa berkabung kita diberlakukan untuk dua bulan. Selama itu kau harus mulai bersiap menjalankan roda pemerintahan. Selesai masa berkabung, kita akan laksanakan penobatanmu menjadi raja." Felicia memutar posisi duduknya. Sekarang dia menghadap pada Clarence.
"Ibu, boleh aku meminta sesuatu?" ujarnya.
"Apa itu, Nak?" mata yang masih sayu itu menatap Clarence dengan lembut.
"Aku ingin penobatan dilakukan saat musim semi."
"Itu akan lama, Clarence. Hampir setengah tahun. Kenapa harus menunggu selama itu?" Felicia mengerutkan keningnya.
"Ini ada hubungannya dengan Merylin." kata Clarence.
"Jelaskan maksudmu." pinta Felicia.
"Baiklah... ibu sangat paham. Tetapi selama aku yang harus mengurus pemerintahan kamu harus selalu di sisi ibu." tatap Felicia tajam.
"Tentu, Ibu. Aku janji." Clarence menjawab mantap. "Trimakasih. Ibu sungguh mengerti aku."
Felicia menepuk lengan Clarence. Dia bangga melihat putranya tumbuh dengan begitu baik dan rendah hati. Dia akan menjadi pemimpin besar seperti ayahnya.
"Salam, Yang Mulia." dua wanita bangsawan
menghampiri mereka. Di belakangnya ada dua orang pelayan mengiringi mereka.
"Ah... Olivia, Anastasia... mari, duduklah di sini." Felicia menyambut dengan ramah.
"Kami membawakan kudapan dan minuman hangat untuk Paduka Ratu dan Pangeran Clarence. Mohon diterima, persembahan kami." Olivia memberi hormat. Anastasia dan kedua pelayan itu juga memberi hormat.
"Senang sekali kalian memperhatikan aku dan Clarence. Trimakasih." Felicia tersenyum.
Kedua pelayan menaruh makanan dan minuman yang mereka bawa, kemudian meninggalkan tempat itu. Sementara Olivia dan Anastasia duduk di hadapan Felicia dan Clarence.
"Mohon dicoba, Yang Mulia. Anastasia sedang belajar membuat kudapan. Semoga cocok untuk Paduka berdua." kata Olivia.
"Wah, kamu suka memasak, Ana? Semestinya begitu ya, kamu sudah jadi gadis remaja sekarang." Felicia mengambil sepotong kue di atas piring sambil melihat ke Anastasia yang sedikit malu-malu. Dia melirik ke arah Clarence yang mengambil minumannya.
"Iya, Yang Mulia. Saya suka memasak." jawab Anastasia. Dia tersenyum manis.
"Ini lezat, Ana. Kamu sungguh berbakat. Mungkin resep kudapan ini bisa dipakai di dapur istana." Felicia nampak gembira.
"Yang Mulia terlalu memuji." Wajah Anastasia memerah.
"Aku sungguh-sungguh. Clarence, cobalah, kamu pasti suka." Felicia melihat Clarence.
"Baiklah.." Clarence mengambil sepotong dan menggigitnya. Memang lezat. Kress, waktu digigit, manisnya pas, harum dan ada rasa jahe yang menghangatkan tubuh.
"Bagaimana? Ini lezat kan?" Felicia meminta pendapat Clarence.
"Ya.. ini lezat. Kamu pintar, An." Clarence tersenyum memandang Anastasia yang makin merona.
"Trimakasih, Yang Mulia. Jika Pangeran suka dengan senang hati saya akan menyiapkan kudapan untuk Yang Mulia." jawab Anastasia.
Clarence tersenyum. Dia tahu, gadis ini juga menyukainya. Dia putri Jendral Donovan, anak kedua. Kakaknya sudah jadi perwira menengah kerajaan.
"Ibu, aku akan menemui Tuan Raymond dan Tuan Francis. Kami akan membicarakan beberapa hal penting." Clarence menoleh pada ibunya.
"Ah, begitu. Baiklah, Nak.." ujar Felicia.
"Nyonya Olivia, Ana, aku pergi dulu. Permisi." Clarence meninggalkan teras yang makin dingin karena angin terus bertiup.
"Bagaimana kabarmu? Keluarga kamu, Olivia?" tanya Felicia setelah meneguk minumannya.
Olivia mengangguk. "Kami sangat baik, Yang Mulia. Semua berkat kebaikan Yang Mulia. Trimakasih." jawab Olivia.
Felicia tersenyum, "Syukurlah.."
"Semestinya saya yang menanyakan kabar Paduka. Karena apa yang terjadi akhir-akhir ini sangat berat buat kita semua." kata Olivia.
Felicia mendesah. Dia memandang Olivia dan Anastasia.