Life Goes On

Life Goes On
29 - Batas Penantian



Pulang dari kota raja, Jesse tidak merasa lega. Clarence lagi-lagi hanya berjanji. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ya, dia harus menunggu. Menunggu sama seperti Merylin. Meski bagi Merylin, menunggu artinya dia ingin Clarence datang memenuhi janjinya. Sedang buat Jesse, menunggu artinya, akhirnya dia akan mundur atau dengan hati gembira memberi cintanya untuk Merylin.


"Merl, aku sudah lakukan yang aku bisa untukmu. Memastikan pangeran itu masih memikirkanmu. Pengakuannya ya.. tapi aku tak bisa yakin. Dan aku juga melakukan ini untuk diriku. Aku sangat ingin kamu kembali ceria, bahagia, tanpa beban. Aku ingin Merylin yang seperti dulu." bisik hati Jesse.


Siang itu dia melewati sekolah ketika melakukan pengiriman barang. Dia mampir di sekolah dan melihat Merylin mengajar. Nampak jelas gadis itu sangat gembira. Matanya bercahaya ketika anak-anak berebut memeluknya. Dari depan, samping, kiri dan kanan, bahkan belakang. Lalu dia mengajari mereka menari. Tarian sederhana tapi sungguh menyenangkan. Suara tawa dan celotehan memenuhi kelas yang tidak begitu besar.


"Merl.. bagaimana aku bisa melepasmu... kamu sangat istimewa." senyum Jesse mengembang, sementara hatinya berbicara.


"Hei... kau mau bantu juga?" Mr. Reynolds menepuk bahu Jesse.


Jesse menoleh. "Mr. Reynolds... saya mampir melihat Jonathan." kata Jesse.


"Jonathan? Atau gurunya Jonathan?" Mr. Reynolds menggoda.


"He.. hee..." Jesse hanya terkekeh.


"Dia memang sangat baik. Bisa jadi istri andalan." bisik Mr. Reynolds.


"Ah.. Mr. Reynolds.." Jesse jadi tersipu.


"Aku pernah muda, Jesse. Aku tahu perasaanmu." Mr. Reynolds tersenyum.


Jesse hanya terasnyum lebar, tidak bisa berkomentar apa-apa. Mr. Reynolds sekali lagi menepuk pundak Jesse lalu melanjutkan langkah menuju ke kelas sebelah.


Anak-anak selesai, mereka bubar dan segera meninggalkan kelas. Setelah merapikan barangnya, Merylin pun hendak pulang.


"Kamu menungguku?" tanya Merylin.


"Hanya mampir." jawab Jesse.


"Aku bawa Snowy hari ini. Aku pulang sendiri. Kamu lanjutkan saja kerjamu." Merylin tahu, Jesse akan mampir dan mengantar dia pulang jika lewat sekolah.


"Ah... ya, tidak apa. Senang juga melihatmu mengajar. Guru hebat." Jesse tersenyum.


"Aku masih belajar." Senyum manis itu mengembang lagi.


Mereka berjalan keluar kelas. Menuju ke kuda masing-masing. Sebelum berpisah Jesse sempat mengajak Merylin pergi jalan-jalan.


"Akhir minggu, aku ingin pergi lagi ke padang dekat telaga. Kamu mau?"


"Ehmmm..." Merylin agak terkejut mendapat ajakan itu. Di sana ada memori juga. Dia dan Clarence bertengkar karena sama-sama cemburu. Tapi sampai kapan ini akan mempengaruhinya?


"Baiklah.. datang saja ke rumah lalu kita akan pergi ke sana." kata Merylin. Ya, hidup terus berjalan, dia akan menapaki dengan hati yang tegar. Tak ada guna meratapi kenangan. Jika satu kali Clarence ingat padanya semua mungkin sudah beda ceritanya.


"Yup! Aku akan datang." wajah Jesse langsung begitu ceria. Ini kesempatan baik, bersenang-senang lagi dengan Merylin.


"Sampai hari Sabtu.. aku pulang.." Merylin melambai, mendekati Snowy, naik di punggung kudanya dan memulai perjalanan pulang.


🌟🌟🌟


"Merl, ayo kita makan malam. Ayah sudah menunggu." Margareth memanggil Merylin yang ada di kamarnya. Dia baru selesai membersihkan dirinya. Sisir masih di tangannya. Rambutnya yang kemerahan dia tarik ke depan dan dirapikan.


"Iya, Bu. Sedikit lagi aku ke sana." jawabnya, menoleh sebentar dan melanjutkan menyisir rambutnya.


Dilihatnya wajahnya di cermin. Tidak banyak berubah. Rambutnya saja yang lebih panjang, karena dia belum memotongnya sejak tahun lalu. Sekarang sudah hampir sampai di pinggang panjangnya.


"Hmm.. apa benar kamu masih mengingatku, Clarence? Wajah ini, apakah masih ada di pikiranmu? Aku bukan gadis yang tahu berdandan, tidak juga punya banyak gaun indah. Jika waktu itu kau katakan mencintaiku, mungkin benar, karena kamu sedang punya masalah dengan kepalamu." katanya pelan.


Jika dia sendirian begini, masih seperti ini. Bergelut dengan pikiran dan hatinya. Mempertanyakan Clarence. Mencoba melihat kenyataan, masih mungkinkah dia dan Clarence akan bersama.


Puas mengungkapkan perasaannya, Merylin menaruh sisir di tempatnya. Berdiri dan keluar kamarnya, menuju dapur.


"Duduklah.. lihat ibu masak sup merah kesukaanmu." Albert tersenyum melihat putrinya.


"Ah, senangnya. Ibu, trimakasih." Merylin tersenyum melihat ke ibunya.


"Ya, Sayang. Kamu sudah bekerja keras di sekolah. Ibu harus membuatmu tetap semangat." Margareth menuangkan sup pada mangkuk, lalu memberikan ke Merylin.


"Kita berdoa ya.." Albert memimpin mereka berdoa sebelum makan. Rasa syukur mengalir di hati. Sampai sejauh ini kehidupan mereka sangat baik. Tentu masih ada hal-hal yang harus dibereskan tapi sebenarnya tidak ada masalah yang begitu besar yang membuat mereka tak bisa mengucapkan syukur.


Selepas doa, mereka mulai menikmati hidangan sederhana namun lezat itu.


"Besok, Jesse akan ke sini. Dia ingin pergi ke telaga menghabiskan akhir pekan sepanjang hari." kata Merylin.


"Ya, bagus itu. Di awal musim semi, bunga di sekitar telaga mulai bermekaran, pasti sangat indah di sana." Albert menimpali sementara dia menuangkan sup lagi ke mangkuknya.


"Merl, Jesse pria yang baik. Dia pekerja keras dan ramah kepada semua orang ya.." ujar Margareth.


"Memang Jesse seperti itu, Bu." Merylin hampir selesai makan. Tinggal beberapa sendok lagi.


"Ibu rasa dia ada hati denganmu." lanjut Margareth.


"Ibu..." Merylin meminta ibunya tak melanjutkan membicarakan ini.


"Sayang, apa kamu masih menunggu Pangeran Clarence?" tanya Margareth.


Merylin tidak menjawab, hanya melihat ibunya sekilas lalu menghabiskan suapan terakhir.


"Sudah hampir enam bulan. Apa yang kamu harapkan?" tanya Margareth lembut. Sebenarnya dia sangat senang mengetahui kenyataan mimpi putrinya jadi nyata. Namun yang terjadi sekarang, semua sepertinya hanya kisah sesaat belaka. Dia tak mau putrinya terluka lebih dalam karena mengharapkan sesuatu yang kosong semata.


"Bu.. sudahlah.." kata Merylin.


"Ibu hanya tak mau kamu larut dengan kenangan tentang pangeran. Memang luar biasa dia pernah di sini. Tapi semua sudah berbeda sekarang, Nak. Dia kembali pada dunianya. Kita masih di dunia kita juga. Anggap saja semua salah satu kisah manis yang pernah hadir di hidupmu." ibunya mencoba membuka mata Merylin melihat kenyataan.


Dalam pikirannya jika Jesse sungguh-sungguh dengan Merylin, dia pasti bisa membahagiakan putrinya.


"Aku tahu, Bu." ucap Merylin. Sedih mulai merambah dadanya.


"Merl... ibumu hanya tidak mau kamu bersedih. Kita serahkan saja pada Tuhan, apa yang terbaik untukmu." Albert ikut bicara.


"Ya, Ayah. Aku sudah selesai. Trimakasih. Selamat malam." Merylin meninggalkan meja dan kembali ke kamar.


"Margie, jangan kau bicara ini lagi dengannya. Biarkan saja. Ada saatnya dia akan menemukan apa yang memang jadi bagian hidupnya." Albert menyentuh lengan istrinya.


"Albert.. aku ingin yang terbaik buat putri kita. Jika yang dekat bisa membuat dia bahagia, kenapa menanti sesuatu yang tak pasti?" ujar Margareth.


"Aku paham. Aku juga sama denganmu, galau dengan semua ini. Apakah salah jika aku juga menunggu keajaiban sekali lagi?" kata Albert.


"Aku tak tahu..." Margareth menatap wajah suaminya. Tampan, sekalipun mulai terlihat letih dengan usia yang makin bertambah.


Di kamarnya, Merylin berbaring sambil meneteskan air mata. Tanpa suara. Matanya terbuka, menatap ke dinding kamar.


Jauh di hatinya muncul bisikan kecil. "Mungkinkah ini batas penantian?"


Di luar, malam makin merajai negeri cantik itu. Bukan muncul ditemani beberapa bintang. Sesekali angin berdesir, membuat burung bersuara memecah kesunyian.