Life Goes On

Life Goes On
27 - Hati Jesse



Perlahan salju mulai mencair. Setiap hari ketebalan salju makin terkikis. Dengan sinarnya, mentari menyingkirkan semua jejak salju di atas permukaan bumi, menggantinya dengan kehangatan.


"Musim semi akan segera tiba. Lihat, hari ini cerah. Meski sangat dingin, semua orang kurasa mulai keluar rumah." Margareth memandang hamparan padang di bawah rumah mereka. Selama hampir dua bulan menjadi lautan es. Sekarang perlahan hijau rumput dan gelapnya tanah mulai nampak.


"Iya, Bu.. aku pingin bawa Snowy bermain di padang lagi." ucap Merylin.


"Bukannya minggu depan kamu akan ke sekolah?" tanya Albert.


"Benar, Yah.. guru masuk satu minggu lebih awal untuk menyiapkan kelas. Aku tidak sabar rasanya. Mr. Reynolds memintaku mengajar seni semester ini. Aku akan membantu anak-anak bernyanyi dan menari. Juga menggambar. Meski aku tak terlalu pintar menggambar." jawab Merylin.


Dari jauh nampak seekor kuda berlari pelan ke arah rumah kecil itu. Merylin mendekati jendela dan memperhatikan siapa penunggang kuda itu. Setelah makin dekat, Merylin mulai mengenal penunggangnya. Pemuda itu tersenyum manis, saat dia tahu Merylin memperhatikan dirinya yang memang menuju rumah keluarga Everance.


Merylin membuka pintu rumahnya dan keluar bersiap menemuinya. Dia juga tersenyum menyambutnya.


"Hai, Merl.. lama tak jumpa..." sapanya. Dia melompat turun dari punggung kudanya.


"Hai, Jesse..." balas Merylin. "Salju baru sedikit mencair, kamu sudah keluar dan berkuda ke sini?"


"Ya... hari ini cerah, jadi aku putuskan saja berkeliling. Bosan di dalam rumah terus." ujar Jesse. Dia mengikat tali kuda pada kayu di depan rumah.


"Masuklah.. dingin di luar." ajak Merylin.


"Ya, perlu kehangatan ini." Jesse tersenyum lebar mengikuti Merylin yang sudah kembali ke dalam rumah.


"Selamat pagi, Pak Everance, Ibu Margie." Jesse menyapa orang tua Merylin.


"Halo, Jesse. Senang akhirnya ada yang berkunjung ke rumah." Albert membalas ramah. "Beri dia minuman hangat, Merl." Albert melihat Merylin.


"Ya, Ayah." Merylin mengambilkan minuman hangat untuk Jesse. Coklat yang nikmat.


"Bagaimana kegiatanmu setelah sekolah usai, Jesse?" Margareth bertanya pada Jesse yang mulai menikmati minuman di depannya.


"Membantu ayah mengurus usahanya. Sekarang ayah akan menambah dengan menyediakan pakan ternak." jawab Jesse. Ayahnya terbilang pemilik lahan dan usaha yang berhasil.


"Wah, itu bagus. Aku tak perlu susah jauh ke kota untuk beli pakan ternak. Bisa lewat kamu saja." tandas Albert.


"Siap. Saya akan antar ke sini. Dan akan sering bertemu Merylin lagi." Jesse tersenyum melihat Merylin. Merylin hanya tersenyum simpul.


"Baiklah... kalian bicaralah, aku akan ke belakang rumah. Sudah agak tinggi matahari aku bisa keluar tanpa merasa terlalu kedinginan." Albert berdiri dan masuk ke ruang dalam terus ke belakang rumah.


"Ibu juga mau melanjutkan urusan di dapur." Margareth ikut meninggalkan ruang itu. Tinggal Jesse dan Merylin berdua.


"Ibu guru, siap beraksi minggu depan?" Jesse melihat Merylin.


"Hmmm, kau tahu aku akan masuk minggu depan? Murid-murid masih libur." kata Merylin.


"Keponakanku, dia akan masuk kelas pertama, jadi aku tahu informasi dari sekolah." ujar Jesse.


"Ooh... baiklah.. Aku senang bisa terlibat di sekolah. Kalau hanya tinggal di rumah dan urus ternak atau sesekali ke ladang, lama-lama bisa bosan." Merylin menuang coklat lagi ke gelasnya.


"Ya.. dan tidak akan terus mengenang Clarence." Mata Jesse menatap Merylin.


Merylin yang tadi melihat ke perapian langsung menoleh pada Jesse.


"Aku yakin kamu masih memikirkan dia." lanjut Jesse.


"Ya.. aku tak mungkin bisa lupa. Dia.. selalu ada di hatiku, Jese. Sejak aku memimpikannya."


"Tapi sampai sekarang dia tak memberi kamu kabar apapun. Kamu yakin dia masih memikirkanmu juga, Merl?" Jesse mencoba menyadarkan Merylin dengan kenyataan yang ada di depannya.


"Aku memimpikannya lagi." kata Merylin pelan.


"Karena kamu terlalu memikirkan pemuda itu." tandas Jesse. "Aku.. aku masih suka kamu, Merl."


"Jesse... bagaimana dengan Kathleen?" Merylin memandang Jesse.


"Aku berusaha, memaksa hatiku menyukainya.. Aku hampir berhasil.. ya.. kukira aku merasa nyaman dengannya. Tapi... ayahnya menjodohkan dia dengan anak pengusaha dari kota sebelah." sahut Jesse.


"Ooh..." Merylin melihat Jesse dengan rasa iba. "Dia tak menolak?"


"Kasihan juga Kathleen." ucap Merylin.


"Dan.. hatiku kembali berlari padamu. Apakah kamu tak mau memberiku kesempatan, Merl?" Jesse lagi menatap Merylin. Kali ini dia sangat berharap.


Merylin melihat Jesse, menelisik hatinya, lalu menggeleng pelan. "Maaf... aku belum bisa melangkah ke jalan lain. Hatiku masih memilih jalan yang sama."


"Sampai kapan?" tanya Jesse.


"Aku tidak tahu, Jesse. Tapi aku tak ingin melukai orang lain dengan memaksa diri bersamanya sementara hatiku ada pada Clarence." lagi Merylin menggeleng.


"Pangeran itu ternyata tidak sebaik pikiranku." ujar Jesse geram.


"Bukankah kamu yang bilang, ada banyak hal dia harus urus?" kata Merylin.


"Itu benar. Tapi dia punya sekian banyak orang di sekitarnya. Apa dari mereka tidak ada satupun yang bisa ditugaskan ke mari? Aku tak habis pikir." kesal rasanya Jesse memikirkan itu.


"Sudahlah.. jika memang dia melupakan aku, perlahan aku juga pasti akan melupakan dia. Tapi aku belum bisa saat ini." Merylin tersenyum.


"Dan aku siap kapan saja kau datang padaku, Merl." ucap Jesse yakin.


Merylin hanya tersenyum.


🌟🌟🌟


Waktu tak bisa dihentikan atau diminta melambat berjalan. Hari terus bergulir memaksa semua yang menjalani waktu berkejaran dengan apa yang dikerjakannya.


Musim semi makin mendekat, salju makin menguap. Kadang mulai kembali dibuka, sekolah kembali mulai ramai.


Merylin sekarang sibuk di sekolah. Meski hanya empat hari mengajar, dia akan datang ke sekolah hampir tiap hari. Kadang Sabtu juga dia akan ke sekolah. Dia melakukan itu karena suka, juga karena tak mau terus memikirkan rindu yang tak pernah berkurang pada Clarence.


Menapaki jalan ke sekolah kenangan dengan pangeran tampan itu pasti datang. Saat datang ke ladang, atau mengurus unggas, apa saja, kenangan dengan Clarence bisa saja muncul tiba-tiba.


"Ternyata begitu kuat kamu di hatiku, Pangeran. Sedih, tapi aku menikmati rindu ini. Meski sangat sedikit aku masih berharap kamu ingat janjimu." bisik Merylin sambil berjalan menyusuri jalanan yang mereka dulu lalui saat ke sekolah.


"Merl... aku antar pulang ya...!!" Merylin menoleh. Jesse menghampiri dengan kereta kudanya.


Merylin tersenyum. "Darimana?"


"Mengantar pesanan pelanggan.. pas lewat jalan ini.. ayo..." ajak Jesse. Merylin naik ke kereta kuda itu. Jesse melakukan menuju ke rumah Merylin.


"Bagaimana ibu guru? Murid-murid baik di sekolah?" tanya Jesse sementara tetap mengendalikan kudanya.


"Ya.. menyenangkan belajar dengan anak-anak kecil." Merylin tersenyum.


"Apa kabar Jonathan, keponakanku?" lanjut Jesse.


"Wow.. dia sangat tampan dan pintar. Kukira dulu kamu waktu kecil seperti dia, hee.. hee..." Merylin tertawa.


"Wah, baguslah kalau dia tak merepotkanmu.." ucap Jesse dengan senyum ceria.


Pemandangan indah di kiri kanan dengan bukit di kejauhan selalu menyenangkan. Tinggal di Greenpines memang luar biasa. Nyaman, aman, tenang, dan damai dengan penduduk sekitar. Jarang sekali terjadi masalah atau kejahatan di tempat ini. Tak ada rasa kuatir jika meninggalkan rumah meski untuk waktu yang cukup lama.


"Baiklah, Nona Manis. Kita tiba di tujuan." Jesse menghentikan kereta kuda. Mereka sampai di rumah Merylin.


"Terimakasih banyak, Jesse. Apa kamu..."


"Tidak. Hari ini banyak pekerjaanku. Jadi aku tak bisa mampir. Kalau aku turun, bisa sampai gelap aku akan tetap di sini." potong Jesse.


"Ah... baiklah.. sekali lagi trimakasih ya .." Merylin tersenyum.


"Ya, kapan saja, Nona.. aku siap membantu. Bye, Merl!!" lalu kereta kuda itu berlalu meninggalkan rumah kecil cantik di atas bukit.


"Merl... senyummu belum lepas. Kamu masih merindukan pangeran aneh itu. Aku yang akan bertindak. Jika dia memang tak mau peduli lagi padamu, aku yang akan membahagiakan kamu." batin Jesse.


Kereta kudanya terus melaju menuju rumahnya.